COLD BOY - NEW VERSION

COLD BOY - NEW VERSION
BAB 33 - Nikah, Yuk!



Malam ini hujan lebat, cuaca sedikit lebih dingin dari biasanya. Agatha berbaring menyamping sembari memainkan ponselnya dengan tubuh yang tertutupi oleh selimut.


Agatha merindukan Elvano. Yah, cinta memang aneh. Padahal baru tadi sore mereka berpisah, tetapi anehnya Agatha merasa sangat rindu pada pemuda itu.


Sebenarnya Agatha masih bingung dengan semua ini. Bolehkah dia berharap bahwa Elvano juga mencintainya? Sikap Elvano akhir-akhir ini memang menunjukkan bahwa dia juga memiliki perasaan yang sama seperti yang Agatha rasakan. Tetapi tetap saja Agatha merasa ragu sebelum mendengar pernyataan langsung dari mulut Elvano tentang apa hubungan mereka.


Agatha hanya tidak ingin kembali berharap dan merasakan kekecewaan yang mendalam.


Agatha segera membuka room chat-nya dengan Elvano. Gadis itu tidak bisa menahan rindu lebih lama lagi, lagi pula ada yang harus ia tanyakan pada Elvano.


^^^Hai.^^^


Hm?


Balasan itu datang tidak lama kemudian.


^^^Ciee, langsung dibales.^^^


Agatha terkekeh geli membayangkan eskpresi datar milik Elvano.


Kenapa?


Ah, sangat tidak asyik. Elvano terlalu serius untuk diajak bercanda.


^^^Kangen.^^^


Oh, ya?


Agatha mendengus, hanya seperti itu? Balasan macam apa itu?


^^^Kamu gak kangen sama aku?^^^


Gak.


Secepat balasan itu ia terima, secepat itu juga rasa kecewanya muncul. Ternyata dia terlalu berharap.


^^^Oh.^^^


Agatha menutup ponselnya dan menenggelamkan wajahnya di dalam bantal. Dia kesal. Suara getaran ponsel sengaja Agatha abaikan. Gadis itu sedang sibuk menenangkan dirinya sendiri. Sepuluh menit kemudian Agatha mengambil ponselnya kembali, mengecek pesan balasan dari Elvano. Seketika senyumnya merekah sempurna.


Haha, becanda sayang.


Hah, sayang? Mendadak Agatha membayangkan suara Elvano ketika memanggilnya dengan panggilan sayang. Pasti terdengar sangat manis.


^^^Kenapa manggil sayang?^^^


Gak boleh?


Elvano hobi sekali bertanya seperti itu. Jelas Agatha tidak akan bisa menolak. Gadis itu tersenyum, mendapat ide untuk menanyakan hubungan mereka secara tidak langsung.


^^^Emangnya kita ini apa?^^^


Lama sekali Agatha menunggu balasan dari Elvano. Terlihat di kontak pemuda itu sedang mengetik, entah apa yang dia ketik sampai terasa begitu lama.


Satu notifikasi pesan muncul.


Manusia.


Agatha mendengus melihat balasan Elvano yang tidak sesuai dengan ekspektasinya. Apakah pemuda itu sedang bercanda? Sama sekali tidak lucu.


^^^Bukan gitu, ihh.^^^


Apa?


^^^Status kita apa?^^^


Pelajar.


^^^BUKAN ITU MAKSUDNYA.^^^


Sudahlah, Agatha sangat kesal. Dia menutup ponselnya dan membantingnya ke atas kasur. Apakah Elvano berniat mempermainkannya? Apa-apaan pemuda itu?


Suara getaran ponsel kembali terdengar, tetapi Agatha mengabaikannya. Biarkan saja, Agatha sudah malas membicarakan hal ini.


Deringan telpon terdengar, membuat Agatha menoleh menatap ponselnya. Elvano yang menelpon. Agatha ingin mengabaikannya, tapi apa daya, dia terlalu lemah. Gadis itu tidak bisa marah pada Elvano. Pada deringan ke tiga, Agatha memutuskan untuk mengangkatnya.


Suara kekehan terdengar di seberang. Elvano pasti sedang menertawakannya.


"Ngeselin," ujar Agatha kesal.


Tawa di seberang telepon lenyap. Hening beberapa detik sampai terdengar suara Elvano yang membuat jantung Agatha kembali berdebar.


"Kamu marah?"


Agatha mendengus, masih saja bertanya. Jelas-jelas Agatha sangat kesal. Gadis mana yang senang ketika tidak diberi kepastian?


"Maunya apa, hm?"


Suara lembut itu berhasil menggetarkan hati Agatha. Gadis itu bingung mengapa dia sangat lemah ketika bersama Elvano.


"Nanti ya."  Elvano menjawabnya dengan yakin.


"Kapan?" tanya Agatha geli, tidak menyangka Elvano menanggapi ajakan spontannya.


"Tunggu aku sukses dulu."


"Aku siap nunggu kamu sampai seribu tahun sekalipun," goda Agatha.


"Sekarang aku belum punya apa-apa buat bahagiain kamu."


"Cukup kamu selalu ada di samping aku aja, aku udah bahagia." Benar apa yang Agatha ucapkan, gadis itu tidak meminta apapun dari Elvano selain kesetiaannya.


"Hm, belajar gombal dari mana kamu?"


Agatha berdecak kesal, "Aku jujur tau!"


"Ohh."


Hening kembali menyapa, keduanya sama-sama tidak tahu harus mengatakan apalagi. Meski begitu, keduanya enggan untuk memutuskan sambungan telepon.


"El," panggil Agatha.


"Hm?"


"Laper," ujar Agatha. Biasanya ketika perempuan mengatakan lapar, itu artinya dia sedang mengkode pacarnya agar membelikannya makanan.


"Makan."


"Gak ada makanan."


"Masak sana."


Lagi-lagi Agatha dikecewakan oleh ekspektasinya sendiri. Mana mungkin Elvano akan membelikannya makanan malam-malam seperti ini. Pemuda itu kan tidak peka sama sekali.


"Gak bisa masak," jawab Agatha malas.


"Tadi ngajak nikah, tapi kok gak bisa masak, hm?"


Sialan, Elvano meledeknya.


Agatha mendengus kesal, "Kamu mah gak peka."


"Apa? Aku gak bisa baca pikiran kamu."


"Gak jadi, tau ah."


"Ngambek?"


"El," panggil Agatha lagi.


"Hm?"


"Ini serius."


"Apa?"


"Kita pacaran?"


"Gak."


Agatha kecewa. Lalu apa maksud perlakuan Elvano selama ini? Dia jahat sekali karena telah mempermainkan perasaannya.


"Kok enggak sih?"


"Haha." Terdengar suara Elvano yang tertawa pelan di seberang.


"Kita beneran gak pacaran?"


"Enggak."


"Oh, oke." Agatha bersiap untuk menutup telpon ketika suara Elvano kembali terdengar.


"Cukup kamu tau aja, kalau aku sayang sama kamu. Pacaran atau enggak, sama aja. Aku gak mau ada kata putus kalau kita pacaran. Lebih baik enggak sama sekali. Karena kamu tetep milik aku."


Agatha menutup wajahnya dengan bantal. Elvano itu benar-benar tahu bagaimana cara membuatnya terbang.


"Sayang banget sama Elvano," ujar Agatha sembari tersenyum lebar.


"Makasih ya, El," lanjut Agatha. Gadis itu benar-benar merasa beruntung bisa bertemu dengan sosok seperti Elvano.


"Buat apa?"


"Semuanya."


...***...


HTS WKWKWKWK. Ada yang pernah ngalamin?