
Elvano membawa Agatha menuju sebuah kursi panjang yang terletak di bawah pohon. Tempat ini cukup sepi karena terletak di belakang bangunan sekolah. Suasana yang sejuk membuat siapapun yang berada di tempat ini merasa nyaman.
"Duduk sini." Elvano menarik lengan Agatha agar duduk di sampingnya.
"Kita ngapain di sini?" tanya Agatha heran, dia tidak menyangka Elvano akan mengajaknya ke tempat ini.
"Gak papa."
Agatha tidak membalas, gadis itu diam sembari menyandarkan kepalanya pada pundak Elvano. Lama mereka saling diam, keduanya sama-sama menikmati semilir angin yang terasa menenangkan.
Sejujurnya Agatha sedang bingung. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Elvano sendiri memang tidak terlalu banyak bicara. Agatha heran, bagaimana pemuda itu sangat betah berdiam diri.
"Van."
"Hm?"
Lihatlah, rasanya Agatha ingin berteriak kesal karena jawaban Elvano yang selalu singkat. Tetapi gadis itu mencoba untuk menahan diri, bersama Elvano memang harus lebih bersabar.
"Pulang sekolah, jalan yuk."
"Kemana?"
"Terserah."
Elvano menatap Agatha dengan heran. Ternyata perempuan memang sedikit rumit. Sekarang, pemuda itu tengah berpikir akan membawa Agatha pergi kemana.
"Kamu maunya kemana?" tanya Elvano.
"Kemana aja, yang penting sama kamu," jawab Agatha sembari tersenyum lebar.
Elvano tersenyum tipis, secara reflek bibirnya mengecup puncak kepala Agatha dengan sayang.
"Ke rumah, mau?"
"Rumah siapa?" tanya Agatha terkejut. Gadis itu sampai menegakkan tubuhnya dan menatap Elvano penasaran.
"Rumah aku."
"Mauuu lah," ujar Agatha dengan semangat. Kapan lagi kan bisa pergi ke rumah Elvano?
Elvano tersenyum sembari mengusap kepala Agatha. Sepertinya ini akan menjadi hobi barunya.
"Di rumah ada siapa?" tanya Agatha. Sedikit gugup karena ini pertama kalinya dia akan mengunjungi rumah Elvano. Tentu saja pasti akan bertemu orang tuanya juga.
"Mama sama adek."
"Adek kamu cewek, kan? Kelas berapa?"
"3 SMP. Kamu tau?" tanya Elvano bingung karena Agatha tahu tentang adiknya. Selama ini, dia belum pernah bercerita tentang keluarganya pada Agatha.
"Tau dong," ujar Agatha sembari mengibaskan rambutnya yang panjang. Semilir angin membuat rambutnya yang tergerai tertiup menutupi matanya.
"Siapa namanya?" lanjut Agatha.
"Angel." Elvano meraih rambut Agatha dan merapikannya.
"Pasti dia cantik, secantik namanya."
"Hm."
Agatha kembali menyandarkan kepalanya di bahu Elvano. Rasanya sangat nyaman. Gadis itu tidak ingin waktu berlalu dengan cepat.
Elvano hanya diam membiarkan gadisnya melakukan apapun yang dia suka. Tangan Elvano terangkat untuk mengusap kepala Agatha.
"Jadi nanti aku bakalan ketemu sama mama mertua?" tanya Agatha menatap mata Elvano.
Elvano hanya mengangguk. Pemuda itu memang sangat kaku. Tetapi tidak dipungkiri, perlakuan Elvano terasa sangat manis bagi Agatha.
"Kenapa kamu suka aku?" tanya Agatha tiba-tiba. Dia bingung harus bertanya apa lagi. Salahkan saja Elvano yang terus menjawabnya dengan singkat.
"Kamu cerewet," ujar Elvano dengan santai. Sedangkan Agatha, melotot tak percaya dengan jawaban pemuda itu. Dia pikir, Elvano akan menjawabnya dengan jawaban yang manis dan romantis, ternyata tidak sama sekali.
"Ihhh, aku enggak cerewet ya."
"Iya." Elvano mencubit pelan hidung Agatha karena gemas.
Agatha yang tidak puas dengan jawaban Elvano, kembali mengulang pertanyaannya.
"Jawab jujur. Kenapa bisa suka sama aku? Bukannya dari dulu kamu benci sama aku?"
Elvano terdiam beberapa saat. Pertanyaan Agatha membuatnya teringat akan sikapnya yang selalu dingin pada gadis itu. Bagaimana kasarnya dia pada Agatha, begitu juga perkataan yang keluar dari mulutnya. Pasti terasa menyakitkan bagi Agatha.
"Cinta gak butuh alasan. Aku sendiri gak tau kenapa bisa suka sama kamu," jawab Elvano lembut. Matanya menatap Agatha seakan menunjukkan rasa cintanya lewat tatapan itu.
Agatha tersenyum tanpa menjawab perkataan Elvano. Memang benar, kita tidak akan pernah tahu kemana hati kita berlabuh. Cinta datang tanpa permisi, sekeras apapun kita menolaknya, ketika cinta itu datang, kita hanya bisa menerima dan berusaha untuk menikmatinya.
...***...
Agatha berdiri di sebelah motor Elvano yang terparkir rapi di halaman rumahnya. Gadis itu sedang menunggu Elvano yang masih membuka helmnya. Mendadak Agatha merasa gelisah. Dia sangat gugup bertemu dengan orang tua Elvano. Tangannya dingin sejak menginjakkan kaki di halaman depan rumah Elvano. Bagaimana jika keluarganya tidak mau menerima kehadirannya? Bagaimana jika mama Elvano tidak merestui hubungan mereka?
"Kamu ngelamun," ujar Elvano sembari menyentuh pundak Agatha, berusaha menyadarkan gadis itu dari lamunannya.
"Eh? Kenapa?" tanya Agatha terkejut.
"Ayo masuk," ajak Elvano. Pemuda itu mengusap dahi Agatha yang berkeringat. Ah, bahkan Agatha tidak menyadari sejak kapan dahinya berkeringat. Mungkin dia terlalu gugup.
"Ta-tapi ...."
"Kenapa, hm?" tanya Elvano menaikkan sebelah alisnya. Sebenarnya dia tahu gadisnya sedang gugup. Tetapi dia tidak ingin menenangkannya, biarkan saja Agatha seperti itu. Terlihat lucu di mata Elvano.
"Galak," ujar Elvano sembari terkekeh geli.
"Pulang aja deh kalau gitu," ujar Agatha dengan wajah memelas. Dia belum siap. Gadis itu semakin panik ketika mendengar jawaban dari Elvano.
"Jangan, ayo masuk." Elvano menggandeng tangan Agatha, menuntunnya untuk masuk ke dalam rumah sederhana tempatnya tinggal.
Agatha menghela napas gugup. Gadis itu hanya bisa pasrah dan berjalan di belakang Elvano. Dia sengaja bersembunyi di belakang tubuh tegap Elvano untuk mengurangi sedikit rasa cemasnya. Semoga saja keluarga Elvano bisa menerima kehadirannya.
"Abaaang!" Teriakan seorang gadis yang berlari menuruni tangga membuat Agatha menoleh. Adik Elvano terlihat sangat manis dengan rambut yang di kepang dua.
"Kenapa teriak-teriak?" tanya Elvano datar. Kebiasaan adiknya itu suka sekali berteriak tidak kenal tempat.
Tanpa sadar, Agatha tertawa pelan. Perasaan gugupnya menguap digantikan dengan perasaan hangat.
"Eh, ada kakak cantik," sapa Angel dengan senyum ceria. Gadis itu berjalan menghampiri Agatha dengan semangat.
"Hai," balas Agatha, gadis itu sedikit canggung.
"Pacarnya Bang El, ya? Kok mau sih sama dia? Abang kan jelek banget," ujar Angel dengan santai, tidak mempedulikan Elvano yang sudah menatapnya tajam.
Agatha tertawa geli mendengar pertanyaan Angel. Ternyata gadis itu sangat ramah dan sedikit bawel. Berbeda jauh dengan kakaknya yang dingin dan cuek. Sepertinya dia harus berterimakasih pada Angel karena sudah meredakan kegugupannya.
Elvano menyentil kening Angel dengan pelan. Adiknya itu memang sangat sering mengejeknya.
"Apasih, Bang. Sakit tau, dasar nyebelin." Angel mengusap keningnya sembari mengerucutkan bibirnya kesal.
"El, jangan kasar, ihh." Agatha menegur Elvano saat melihat Angel yang kesakitan. Tidak tahu saja dia, gadis itu hanya berpura-pura kesakitan.
"Tuh dengerin, Abang ngeselin," ujar Angel tersenyum mengejek, merasa mendapat dukungan dari Agatha.
"Kamu yang ngeselin," ujar Elvano mendengus kesal.
"Ada apa ini rame-rame?"
Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat muda itu berjalan menghampiri mereka. Tatapannya tertuju pada Agatha yang berdiri tegang di sebelah Elvano. Bibirnya tersenyum menyambut kedatangan gadis itu.
Agatha tersenyum kaku, mendadak kembali gugup melihat wanita paruh baya yang dia yakini sebagai mama Elvano.
"Abang tuh, Ma, ngeselin banget," ujar Angel mengadu.
Hana mengabaikan perkataan Angel. Wanita itu lebih tertarik menyapa Agatha saat ini.
"Ada tamu, ya?" ujar Hana dengan ramah. Senyuman khas seorang ibu tidak luntur dari wajahnya.
"Hallo, Tante." Agatha maju, mencium punggung tangan Hana.
"Hallo, kamu pacarnya Elvano ya pasti?" tembak Hana tanpa aba-aba, membuat Agatha semakin gugup.
"Aku... temennya kok, Tante." Pipi Agatha terasa panas, wajahnya memerah karena malu.
Hana terkekeh geli, "Udah gak usah malu-malu. Ayo duduk, kenapa malah pada berdiri di depan pintu gini? Kamu juga El, ada tamu kok gak bilang-bilang ke Mama," omel Hana sembari menarik Agatha untuk duduk di sofa ruang tengah.
Agatha hanya pasrah mengikuti tarikan Hana, disusul Elvano dan Angel di belakangnya.
"Namanya siapa?" tanya Hana ketika mereka sudah duduk di sofa.
"Agatha, Tante." Agatha tersenyum sopan. Mama Elvano ternyata sangat cantik meskipun usianya tidak lagi muda.
"Kamu punya pacar kok gak bilang Mama?" Kali ini wanita itu menatap Elvano dengan pandangan menyelidik.
"Enggak pacaran, Ma," jawab Elvano.
"Halah, boong tuh, Ma," sahut Angel tak mau kalah.
"Anak kecil diem." Elvano mengusap wajah Angel dengan pelan, membuat adiknya itu menjerit kesal.
"Udah-udah, kalian ini berantem terus. Gak malu ya sama Agatha?" Hana menggelengkan kepalanya heran. Anak-anaknya itu selalu berdebat ketika bersama.
Agatha tersenyum sendu.
Gue kangen mama.
Mata Agatha berkaca-kaca, dengan segera gadis itu menunduk, menyembunyikan matanya dari semua orang. Dia merindukan kehadiran mamanya, juga kehangatan keluarganya.
"Oh iya, Agatha udah makan?"
Agatha mendongak menatap Hana. Sebisa mungkin gadis itu tersenyum, tidak ingin mereka tahu apa yang kini hatinya rasakan, terutama Hana.
"Belum Tante. Agatha laper banget," ujar Agatha tanpa malu.
"Kebetulan, kita makan siang sama-sama ya? Tadi Tante buat nasi goreng."
"Yes!" ujar Angel dengan girang, gadis itu memang sangat menyukai nasi goreng, terutama buatan Hana.
"Buat Agatha, bukan kamu," ujar Elvano menggoda Angel.
"Dih, kalau gitu, punya Abang aku yang makan." Angel menjulurkan lidahnya ke arah Elvano. Pemuda itu mendengus kesal.
Hana tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Ayo kita makan."
Agatha tersenyum tipis. Satu rahasia yang terungkap siang Indonesia. Sikap Elvano berbeda ketika berada di tengah-tengah keluarganya.
...***...
Hai, gimana kabarnya hari ini?