
Setelah sarapan, Agatha bergegas untuk mandi dan bersiap-siap. Setelah rapi, gadis itu mengecek ponselnya. Barangkali ada pesan penting yang masuk. Tetapi nihil, tidak ada satu pun pesan yang masuk. Agatha termenung menatap layar ponselnya. Apa tidak ada yang mengingat hari ulang tahunnya?
Ekspektasinya adalah ketika membuka mata, orang yang pertama kali memberinya selamat adalah Keenan. Tetapi ternyata abangnya itu tidak ingat. Lalu, Chacha sahabatnya juga sama sekali tidak memberikan selamat padanya meskipun lewat chat. Elvano juga, bahkan mereka belum sempat bertemu setelah ujian selesai. Terakhir kali mereka bertemu adalah dua hari sebelum ujian dilaksanakan. Dan itu artinya mereka tidak bertemu selama kurang-lebih satu minggu.
Kesal, Agatha membanting ponselnya di atas kasur. Dia menatap pantulan dirinya di cermin dengan bibir yang mengerucut.
Kata orang sweet seventeen adalah momen paling spesial. Tapi sekarang apa? Tidak ada spesial-spesialnya sama sekali.
Sudahlah, lebih baik pergi ke rumah Chacha langsung. Kita lihat, apakah sahabatnya itu mengingat hari ulang tahunnya atau tidak.
...***...
"Assalamu'alaikum, yuhuu. Ada orang di dalem? Chachaaa."
Agatha memasuki rumah Chacha dengan santai seolah sedang berada di rumahnya sendiri. Lagi pula dia sudah terbiasa berteriak di rumah besar Chacha.
"Apasih teriak-teriak? Untung bokap nyokap gue gak ada di rumah." Chacha muncul dari dapur dengan membawa secangkir kopi. Sepertinya gadis itu baru saja bangun tidur, dilihat dari penampilannya. Rambut acak-acakan dan masih mengenakan piyama tidurnya.
"Kalau ada orang salam tuh di jawab," balas Agatha kesal.
"Wa'alaikumussalam, Agatha." Chacha tersenyum lebar yang terkesan dipaksakan.
"Ngapain kesini?" ketus Chacha. Gadis itu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Agatha dengan segera mengikutinya dari belakang.
"Gak boleh ya? Jahat banget sih lo! Gue bosen di rumah." Bukannya bahagia, Agatha semakin kesal rasanya setelah bertemu Chacha.
"Sorry, gue sibuk, Tha." Chacha meletakkan gelas miliknya di atas meja belajar. Gadis itu berdiri di tengah-tengah ruangan dengan berkacak pinggang menatap Agatha yang seenaknya berbaring di kasurnya.
"Sok sibuk lo!" sinis Agatha.
"Lo mending pulang aja, ya? Gue mau bersih-bersih rumah, habis itu mau belanja bulanan di supermarket. Terus mau ke rumah sepupu gue. Dia pengen jalan-jalan katanya sama gue," jelas Chacha yang pastinya adalah kebohongan. Di suruh membersihkan kamar saja terkadang malas. Apalagi bersih-bersih rumah sebesar ini. Bodohnya Agatha percaya begitu saja.
Agatha cemberut, niatnya ingin menghabiskan hari ulang tahunnya bersama sahabat, malah tidak bisa.
"Gue tungguin deh sampai selesai bersih-bersih. Kalau perlu gue ikut jalan-jalan sama Ara sekalian."
Chacha menggeleng dengan tegas.
"Gue bakalan lama, lagi pula Ara gak akan mau. Dia kan gak kenal sama lo. Dia itu selalu gak nyaman sama orang asing."
"Gue pulang nanti kalau lo mau berangkat aja deh." Agatha masih kekeh ingin tinggal di rumah Chacha.
Chacha menatap Agatha dengan gemas. Alasan apa lagi yang akan dia berikan agar Agatha mau pergi dari rumahnya.
"Nanti lo bosen kalau di sini sendirian. Gue masih harus cuci piring, cuci baju, bajunya Bang Luc noh banyak banget belum di cuci sejak dua minggu. Belum lagi nyapu, ngepel. Lo tau kan rumah ini segede apa? Pasti lama. Itu juga mobil di garasi belum di cuci sejak berbulan-bulan." Chacha ingin mual rasanya mendengar perkataannya sendiri. Boro-boro melakukan semua itu, dia lebih memilih rebahan di kamarnya. Beruntungnya Agatha percaya dengan semua perkataannya. Maklum, selama ini Chacha memang sedikit lebih rajin jika di bandingkan dengan Agatha. Ingat, hanya sedikit.
"Jadi, lo ngusir gue?" ujar Agatha kesal. Meski begitu, dia tetap berdiri, bersiap untuk pergi.
"Gak ngusir kok. Cuma hari ini gue emang lagi sibuk banget. Jadi gak bisa nemenin lo. Maaf ya?" Chacha berlagak seperti tengah menyesal dan merasa bersalah karena tidak bisa menghabiskan waktu bersama Agatha.
"Yaudah, gak papa. Gue pulang dulu."
...***...
Agatha tidak langsung pulang melainkan pergi ke rumah Elvano. Karena Chacha tidak mau diganggu, maka dia akan menghabiskan hari ini bersama Elvano.
Sampai di depan rumah minimalis yang terlihat sangat nyaman itu, Agatha lantas mengetuk pintu beberapa kali.
Tok tok
"Assalamu'alaikum."
Sahutan dari dalam terdengar beberapa detik kemudian.
"Wa'alaikumussalam."
"Eh, ada Kak Atha. Masuk, yuk."
"Hai, Angel. Abang kamu ada?" tanya Agatha sembari berjalan mengekori Angel.
"Abang baru aja pergi, kak."
"O-oh, ke mana?"
Angel mengedikkan bahunya tanda bahwa dia tidak tahu menahu kemana abangnya pergi.
"Aku kira pergi sama Kakak, loh."
"Enggak," Agatha menggelengkan kepalanya dengan lesu. Gadis itu mengambil ponselnya yang berada di dalam sling bag.
Mencoba menelpon Elvano tetapi tidak ada jawaban, Agatha memilih untuk mengirim chat agar pemuda itu bisa membacanya nanti.
^^^El.^^^
^^^Kamu di mana?^^^
^^^Lagi sibuk ya?^^^
Beberapa menit kemudian balasan dari Elvano muncul.
Iya, di rumah Farhan.
^^^Kangen.^^^
Maaf, hari ini aku gak bisa ketemu kamu.
Nanti mau pergi sama Farhan, Lucky.
^^^Oh, oke.^^^
Gpp, kan?
^^^Iya.^^^
Ngambek?
^^^Enggak.^^^
Beneran?
^^^Iyaaaaa.^^^
Ok.
Sebenarnya Agatha tidak marah, dia paham Elvano juga perlu menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Tidak selalu harus dengannya. Tetapi tetap saja--di hari ulang tahunnya--Agatha sangat berharap bisa menghabiskan waktu bersama Elvano, orang yang dicintainya.
Agatha berdecak kesal. Kenapa semua orang sibuk hari ini? Keenan bekerja, Chacha menghabiskan waktu bersama sepupunya. Elvano sedang bersenang-senang bersama Farhan dan Lucky. Tidak ada satupun dari mereka yang ingat hari ulang tahunnya. Mungkin ini masalah sepele bagi orang lain. Agatha juga tidak berharap banyak, dia hanya ingin orang-orang terdekatnya ada untuknya di hari yang spesial ini. Karena ini adalah hari di mana dia lahir ke dunia. Ingin rasanya dia mengamuk sekarang. Sebelum hal itu terjadi, Agatha lebih memilih untuk pamit pada Angel.
Sesampainya di rumah, Agatha mengurung diri dalam kamar. Gadis itu berbaring sembari menatap foto orang tuanya. Mendadak, dia sangat merindukan mereka. Dulu waktu kecil, orang tuanya tidak pernah melewatkan hari ulang tahun Agatha. Ibunya akan menjadi orang paling heboh jika menyangkut putri kesayangannya.
Sayangnya, sekarang mereka sudah tidak ada.
Tuhan, bisa gak kalau aku pengen ketemu sama Mama Papa? Di mimpi aja gak papa deh.
...***...
Happy Sweet Seventeen Aga :3
Maap telat update ಥ‿ಥ