COLD BOY - NEW VERSION

COLD BOY - NEW VERSION
BAB 54 - Jangan Pergi



Agatha dan yang lainnya sudah berada di rumah sakit. Mereka menunggu Elvano di depan ruang IGD. Tidak ada yang tahu bagaimana keadaan pemuda itu di dalam sana. Membuat Hana semakin khawatir dengan keadaan putranya.


Seorang pria paruh baya berjalan menghampiri Hana yang duduk di bangku depan ruang IGD. Pria itu menyodorkan ponsel milik Elvano pada Hana yang ia yakini sebagai orang tua dari pemuda bernama Elvano.


"Maaf, ini ponselnya Mas Elvano."


"Oh, terima kasih, Pak." Hana tersenyum tipis kepada pria bernama Andi tersebut. Pria itulah yang menemukan Elvano tergeletak tak berdaya dengan bersimbah darah di jalanan satu jam yang lalu.


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi." Andi mengangguk kecil sebelum pergi meninggalkan rumah sakit. Pria itu pikir urusannya sudah selesai.


"Ma, Bang El kenapa?" tanya Angel dengan mata berkaca-kaca, sedari tadi gadis itu berusaha untuk menahan tangisnya, tetapi pada akhirnya tidak bisa. Air matanya luruh membasahi pipinya.


"Abang baik-baik aja," jawab Hana sembari mengeratkan pelukannya pada Angel. "Kita berdoa ya buat Abang."


Angel memeluk Hana semakin erat seiring dengan air matanya yang semakin deras. Dia sangat menyayangi Elvano walaupun mereka sering kali bertengkar. Elvano adalah satu-satunya saudara yang dia miliki. Angel tidak ingin kehilangan abangnya.


Hana berkali-kali menyeka air matanya. Dia tidak ingin terus menangis. Bagaimana pun juga dia harus kuat. Ia tidak ingin terlihat rapuh meskipun hatinya begitu hancur. Masih ada Angel yang harus Hana jaga.


"Elvano," gumam Agatha lirih. Air matanya tidak berhenti menetes. Gadis itu sama khawatirnya pada Elvano.


Keenan tidak berhenti mengusap kepala Agatha yang sedang berada dalam pelukannya.


"Ssstt, semua akan baik-baik saja," ujar Keenan sembari mengecup puncak kepala Agatha.


"Dia kenapa, Bang? Kenapa bisa kayak gini?" tanya Agatha pelan.


"Tenang, oke?" Keenan berusaha untuk menenangkan Agatha yang terus menangis.


Elisa dan yang lainnya juga sama khawatirnya. Bedanya, mereka masih bisa mengontrol diri untuk tidak menangis.


Beberapa menit kemudian, seorang pria dengan seragam dokternya keluar dari ruang IGD.


"Keluarga pasien?"


"Luka tusuk di perutnya cukup dalam, karena itu kita harus segera melakukan operasi," ujar dokter bernama Pandu sembari menatap Hana.


Semua yang mendengar perkataan dokter tersebut merasa sangat syok.


"Lu-luka tusuk? Sebenarnya ada apa dengan anak saya?" tanya Hana dengan nada tinggi.


"Pasien terkena luka tusukan yang cukup dalam. Anak ibu juga kehilangan banyak darah. Sepertinya, pasien sudah terluka sejak beberapa jam yang lalu dan tidak langsung dibawa ke rumah sakit. Kita harus segera melakukan operasi. Saya ingin meminta persetujuan keluarga," jelas dokter Pandu.


Tubuh Hana melemas, untung saja Lucky dengan sigap menopang tubuh wanita itu sebelum terjatuh.


"Lakukan apapun yang bisa


menyelematkan anak saya, dok," jawab Hana dengan air mata yang terus mengalir.


"Baik terima kasih. Operasi akan segera di lakukan. Suster, tolong siapkan ruang operasi." Dokter Pandu meminta tolong pada seorang suster yang akan menemaninya dalam operasi.


Agatha menangis sesenggukan dalam pelukan Keenan.


"Elvano kenapa? Siapa yang berani ngelukain dia, Bang?"


"Tenang, Agatha. Kita berdoa buat Elvano, semoga dia baik-baik aja." Keenan merasa sedih melihat adiknya seperti ini. Pemuda itu tidak berhenti berdoa dalam hati untuk keselamatan Elvano.


"Dia pasti kesakitan," gumam Agatha. Membayangkannya saja Agatha merasa sakit. Apalagi Elvano yang sedang berjuang antara hidup dan mati.


Jangan tinggalin aku, El.


...***...


Dor, kaget ga?