
"Dek, bangun."
Semalam, setelah kejadian ada yang mengirimkan teror bunga beserta surat, Agatha lebih memilih untuk pulang ke rumah. Ia tidak ingin membuat Hana khawatir melihatnya seperti itu.
Agatha menggeliat ketika Keenan menyibak gorden jendela kamarnya. Cahaya matahari masuk melalui celah-celahnya, membuat Agatha harus menyipitkan matanya karena silau.
"Bangun, udah jam sembilan. Sarapan dulu gih," perintah Keenan saat duduk di tepi kasur.
Agatha mengangguk pelan, masih berusaha untuk mengumpulkan nyawanya.
"Abang libur?" tanya Agatha saat menyadari jam menunjukkan pukul sembilan tetapi Keenan masih berada di rumah.
"Iya, gantinya hari Minggu kemarin kan Abang masuk."
"Nanti anterin ke rumah sakit ya, Bang."
"Iya, tapi sarapan dulu."
...***...
"Makan yang banyak. Akhir-akhir ini kamu dikit banget kalau makan."
Keenan menatap Agatha dengan sendu. Adiknya itu selalu murung, tidak pernah lagi terlihat ceria.
"Gak napsu."
Keenan menghela napas panjang, dia hanya tidak ingin Agatha sakit karena mengabaikan pola makannya.
"Gimana keadaan Elvano?"
"Masih sama, belum bangun." Agatha menunduk menatap piring. Ia ingin menangis, tetapi ia tahan.
"Selalu doain dia ya."
"Pasti, Bang."
"Besok kamu harus sekolah. Kamu terlalu lama gak masuk, udah seminggu lebih juga. Apalagi sebentar lagi ada ujian kenaikan, kan?"
"Iya, Abang," ujar Agatha menurut.
Selesai sarapan, Agatha membaringkan tubuhnya di sofa. Tangannya memegang ponsel, melihat foto-foto dirinya yang sedang bersama Elvano. Melihat itu, Agatha kembali merasa sedih.
"Kapan kita bisa jalan-jalan bareng lagi? Aku kangen, El."
Panggilan masuk dari Chacha berhasil mengalihkan kesedihan Agatha. Dengan segera gadis itu mengangkat panggilannya.
"Agatha, Agatha! Kita udah tau siapa pelakunya!"
Agatha terduduk dengan cepat, "Serius? Siapa?" tanyanya dengan jantung yang berdegup kencang. Gadis itu memang sangat ingin mengetahui dalang dibalik semua kejadian ini.
"Sandi."
"Hah? Sandi? Kak Sandi? Kak Sandi yang itu kan?" tanya Agatha tidak percaya. Merasa syok karena tidak menyangka bahwa Sandi sekejam itu. Pemuda yang ia pikir-pikir adalah pemuda baik-baik, ternyata hanyalah topeng.
"Iya, sekarang dia udah ada di kantor polisi. Semalem kita semua berhasil nemuin bukti, ternyata Melati juga terlibat. Gue gak langsung ngasih tau lo, karena gue pengen lo istirahat. Gue tau lo capek."
Agatha menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Kepalanya pusing memikirkan ini semua. Rasa kecewa lebih dominan karena selama ini ia menganggap Sandi sebagai temannya.
"Gue gak nyangka, Cha."
"Apalagi gue. Orang yang kelihatan baik, belum tentu baik. Makanya sekarang kita harus hati-hati. Jangan gampang percaya sama orang lain."
"Iya."
"Mau liat Sandi di penjara?"
Agatha berpikir sejenak sebelum mengiyakan. Ada yang ingin dia bicarakan pada Sandi. Ia butuh penjelasan.
"Gue jemput."
...***...
"Kak Sandi," panggil Agatha pelan.
Sandi yang mendengar suara Agatha segera mendongak. Pemuda itu terkejut melihat kehadiran Agatha. Ia pikir, gadis itu tidak akan sudi melihatnya setelah semua yang ia lakukan.
Sandi berdiri, berjalan mendekati Agatha. Mencoba mengikis jarak diantara mereka. Pemuda itu berdiri tepat di depan Agatha, terhalang oleh jeruji besi. Senyuman manis tersungging di bibirnya. Merasa senang dengan kehadiran Agatha.
"Kenapa, Kak?" Agatha menatap Sandi dengan tatapan menuntut. "Kenapa lo tega? Kenapa lo berniat buat bunuh, El?" Meskipun ia tahu alasannya, tetapi Agatha ingin mendengarnya langsung dari mulut Sandi. Pemuda itu mengernyitkan keningnya tak suka mendengar pertanyaan Agatha.
"Gue sayang sama lo, Tha," jawab Sandi setelah lama terdiam dan hanya menatap mata Agatha intens.
"Gue udah bilang sebelumnya. Gue punya Elvano." Agatha menghela napas lelah. Hanya karena perasaannya, Sandi melakukan hal nekat seperti ini. Apa pemuda itu tidak berpikir akan resiko yang harus ia tanggung?
"Ternyata selama ini gue salah menilai lo, Kak. Gue pikir lo orang yang baik. Gue salah udah nganggep lo sebagai temen gue. Gue kecewa," lanjut Agatha.
"Tha, dengerin gue!" Sandi menggenggam jeruji besi dengan kedua tangannya. Wajahnya terlihat putus asa setelah mendengar perkataan Agatha. Ia sama sekali tidak berniat untuk menyakiti gadis itu. Ia benar-benar jatuh cinta padanya. "Gue ngelakuin ini semua karena gue cinta sama lo."
Agatha marah. Ia tidak mengerti lagi dengan jalan pikiran Sandi.
"Gue gak peduli. Jangan coba-coba lagi untuk misahin kita berdua. Gue pikir, mendekam di penjara adalah hukuman yang setimpal buat lo, Kak," ujar Agatha dengan tajam. Setelahnya, gadis itu pergi dari hadapan Sandi. Hukuman penjara memang sudah ditetapkan untuk Sandi karena telah melakukan percobaan pembunuhan juga pelecehan seksual terhadap Melati. Ya, Melati akhirnya berani melaporkan Sandi atas apa yang telah pemuda itu lakukan padanya.
Sandi mengepalkan kedua tangannya erat. Merasa emosi karena Agatha meninggalkannya begitu saja.
"SIALAN! KELUARIN GUE DARI SINI!"
...***...
"Ma, Abang kapan bangun, sih? Kok betah banget tidurnya." Angel bertanya pada Hana yang duduk di sofa. Sedangkan gadis itu duduk di kursi sebelah ranjang milik Elvano. Sedari tadi yang ia lakukan hanyalah menatap Elvano. Jari telunjuknya ia gunakan untuk menusuk-nusuk pipi kakaknya yang masih tenang dengan mata terpejam. Sama sekali tidak terganggu oleh perlakuan Angel.
Hana tersenyum sendu mendengar pertanyaan putrinya. Ia sendiri tidak tahu sampai kapan Elvano bertahan dalam tidurnya.
"Sabar ya, sayang. Abang pasti bangun sebentar lagi. Sekarang dia lagi istirahat."
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian dua perempuan berbeda usia tersebut. Agatha dan Chacha berjalan beriringan memasuki ruang rawat Elvano. Mereka baru saja pulang dari sekolah dan langsung menuju rumah sakit.
"Assalamu'alaikum," ujar keduanya dengan serempak.
"Wa'alaikumussalam, sini duduk." Hana tersenyum menyambut kedatangan gadis-gadis itu. Chacha mengambil tempat di sebelah kiri Hana. Sedangkan Agatha memilih untuk berdiri di dekat Elvano.
Agatha menatap Elvano dengan senyum tipis. Perlahan ia mendekatkan wajahnya pada pemuda itu. Agatha mengecup kening Elvano lama. Seakan menyalurkan rasa rindunya yang selama ini ia bendung.
Hana yang melihatnya hanya bisa tersenyum sendu. Ia bisa melihat betapa besar cinta yang Agatha miliki pada Elvano.
Tidak ingin menganggu, Hana lebih memilih untuk pamit keluar sebentar.
"Kebetulan kalian udah di sini. Tante mau cari makan dulu ya." Hana berdiri, bersiap untuk pergi.
"Ikut, Ma." Angel pun memutuskan untuk ikut ke mana Hana pergi.
"Iya, Tante. Biar Agatha yang jagain Elvano," sahut Agatha. Setelahnya, Hana dan Angel pergi meninggalkan ruangan.
"Tha, gue juga laper nih," ujar Chacha ikut-ikutan berdiri. Gadis itu memang benar-benar merasa lapar karena belum makan siang.
"Yaudah sana pergi," usir Agatha.
Chacha mendengus kecil, "Mau gue beliin sesuatu?"
"Gak usah, gue masih kenyang."
"Oke."
Setelah Chacha meninggalkan ruangan, keadaan berubah hening. Agatha terus menatap wajah Elvano. Berharap mata itu akan terbuka kembali. Ia memeluk Elvano dengan pelan. Menyandarkan kepalanya di sisi kepala Elvano. Mencoba memejamkan matanya sejenak karena rasa lelah yang ia rasakan.
Ayo bangun, El.
...***...
Kalau kayak gitu berarti Sandi ini bakalan di hukum penjara berapa tahun ya? Serius nanya, karena aku sendiri gatau ðŸ˜