COLD BOY - NEW VERSION

COLD BOY - NEW VERSION
BAB 59 - Mantan



"Hai, mantan."


Sandi datang dan langsung merangkul bahu Melati. Gadis itu menegang, tidak menduga pemuda itu menghampirinya setelah apa yang ia perbuat pada dirinya.


"Ngapain?" tanya Melati menahan kegugupannya. Dibanding merasa senang, ia lebih merasa takut pada Sandi yang sekarang tengah tersenyum lebar. Senyuman itu terlihat begitu menyeramkan dimatanya.


"Ternyata lo udah move on ya dari gue?" tanya Sandi dengan senyum miring. Pemuda itu menatap objek yang sedari tadi Melati amati. Elvano.


Melati menelan ludahnya susah payah. Teringat kembali perlakuan biadab yang Sandi lakukan padanya ketika mereka berpacaran beberapa bulan yang lalu. Pemuda itu dengan teganya menjadikan dirinya sebagai alat pemuas nafsu binatangnya. Melati ingin sekali menangis meratapi kebodohannya saat itu.


Dengan pelan, Melati menyingkirkan tangan Sandi yang masih bertengger di pundaknya.


"Gue mau ke kelas."


Ketika Melati hendak pergi meninggalkan lapangan sekolah, Sandi segera mencekal lengannya erat. Sedari tadi, gadis itu memang sedang memperhatikan Elvano yang membaca buku di bawah pohon tak jauh dari tempatnya berdiri. Tak disangka Sandi datang dan mengusiknya.


"Urusan kira belum selesai," ujar Sandi sembari tersenyum miring.


"Kita udah gak ada urusan apapun lagi sejak saat itu!" jawab Melati tajam dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia benar-benar muak melihat wajah tak berdosa yang Sandi tampakkan.


Sandi tidak peduli, ia sama sekali tidak pernah peduli pada perasaan Melati. Yang pemuda itu pedulikan adalah apa yang ia inginkan harus bisa didapatkan. Sekalipun dengan cara kotor.


"Lo suka Elvano kan? Gue mau Agatha. Tugas lo adalah bikin mereka putus. Kalau lo gak mau, gue bakalan sebarin aib lo sampai lo dikeluarin dari sekolah!" ancam Sandi dengan tatapan tajam.


Ketakutan terlihat jelas di mata Melati. Meskipun begitu, ia tidak ingin terlihat lemah di depan lelaki brengsek seperti Sandi.


"Gue gak peduli. Dan gak akan pernah peduli." Sandi mengusap air mata di pipi Melati sembari menampilkan senyum tak bersalahnya.


Melati benci senyum itu, karena senyum itulah yang membuatnya terjerat. Iblis seperti Sandi memang benar-benar pandai menipu.


"Sekarang yang harus lo lakuin adalah nurut sama gue, atau lo sendiri tau akibatnya!" Senyum Sandi luntur digantikan dengan tatapan tajam.


Melati hanya bisa pasrah mengikuti semua yang Sandi perintahkan. Demi harga dirinya. Menolak pun tidak bisa. Dia hanya akan semakin membuat dirinya hancur.


Sialan, Sandi.


Sandi berlalu begitu saja dari hadapan Melati setelah mengecup bibir gadis itu. Ia sama sekali tidak peduli pada Melati yang menangis akibat ulahnya.


Brengsek, biadab.


Rasa-rasanya, semua umpatan tidak cukup untuk mendeskripsikan pemuda itu. Melati lelah, ia tidak ingin terus berurusan dengan Sandi. Tapi bagaimana caranya jika pemuda itu selalu tau apa kelemahannya. Ingin sekali ia membunuhnya, tetapi ia tidak seberani itu. Melati akui, ia memang pengecut.


Menghela napas panjang, Melati mengusap air matanya dengan kasar kemudian berlari menuju toilet. Ia tidak mau teman-temannya bertanya macam-macam ketika melihat ia menangis.


...***...


Melati juga korban ygy :)


Jahat banget gak sih si Sandi ini?