
Beberapa jam sebelumnya...
"Ma, Elvano pamit."
Elvano menghampiri Hana yang sedang berada di dapur. Pemuda itu mencium punggung tangan wanita tercintanya.
"Ke mana?" tanya Hana sembari menyiapkan makan malam.
"Ulang tahun, Agatha."
"Agatha ulang tahun? Kok kamu gak bilang sih," ujar Hana sedikit kesal.
"Ini bilang."
Wanita paruh baya itu berdecak kesal mendengar jawaban singkat dari putranya. Ditambah wajah datar Elvano membuat Hana menggelengkan kepalanya heran.
"Yaudah, salam buat Agatha. Kadonya nyusul."
"Oke."
...***...
Di tengah-tengah perjalanan, ada beberapa orang yang menghadang Elvano. Kebetulan pemuda itu melewati jalan pintas yang terlihat sepi. Niatnya ingin cepat sampai di cafe rembulan--tempat di mana acara ulang tahun Agatha dilaksanakan--tetapi malah dihadang oleh orang-orang yang sama sekali tidak Elvano kenal.
Elvano turun dari motornya dengan tenang menatap tiga orang lelaki yang sudah berdiri beberapa meter di depannya. Salah satu dari mereka menutupi wajahnya dengan kain hitam, membuat Elvano sama sekali tidak bisa mengenali wajahnya. Dia sendiri bingung, ada apa dengan orang-orang itu? Elvano merasa tidak pernah membuat masalah apapun dengan mereka.
"Mau apa kalian?" tanya Elvano dingin.
Seseorang yang berdiri ditengah-tengah itu tertawa mendengar pertanyaan Elvano.
"Kita? Kita mau nyawa lo," jawab pemuda itu sembari tersenyum miring, tentunya tidak ada yang melihat karena setengah dari wajahnya tertutupi oleh kain hitam.
Dahi Elvano mengernyitkan bingung. Sebenarnya siapa mereka? Jika dilihat dari penampilannya, sepertinya umur mereka tidak jauh berbeda dengannya.
"Gue gak ada urusan sama kalian."
"Tapi gue ada urusan sama lo!" Pemuda itu membalas pertanyaan Elvano dengan nada tinggi. Terlihat jelas aura permusuhan yang ia perlihatkan.
"Apa maksud lo?"
"Lo udah rebut sesuatu yang seharusnya jadi milik gue," ujar pemuda itu tajam. Tangannya terkepal, tidak sabar ingin melayangkan pukulannya pada Elvano.
"Gak jelas lo," balas Elvano kesal.
"Gak usah banyak omong."
Sosok pemuda itu melangkah maju ke arah Elvano dan langsung melayangkan pukulannya ke rahang Elvano.
"Lemah," ujar pemuda itu mengejek.
Elvano berdiri, dia mulai emosi karena pemuda tidak jelas itu. Langsung saja dia memukul pemuda itu dengan membabi buta.
Bugh
Bugh
Brak
Awalnya Elvano pikir dia akan menang karena berhasil menumbangkan pemuda itu. Tetapi dia salah, dua orang lainnya maju secara bersamaan untuk menahan kedua tangannya. Sedangkan pemuda misterius itu kembali berdiri, tanpa ampun memukuli tubuh Elvano sampai babak belur.
Elvano meringis karena seluruh tubuhnya terasa remuk. Dia tidak bisa kembali melawan karena dua orang yang mengunci pergerakannya.
Setelah puas memukuli Elvano, pemuda itu melepaskannya hingga Elvano jatuh terkapar di jalanan. Wajahnya penuh dengan luka lebam, begitupun dengan tubuhnya. Dia benar-benar tidak sanggup untuk bangkit. Bahkan sekedar mengerakkan tubuhnya saja terasa sangat sakit. Sialan.
Pemuda misterius itu tertawa kencang, merasa kemenangan telah ia dapatkan.
"Hey, ada satu hadiah lagi buat lo." Pemuda itu berjongkok di sebelah tubuh Elvano. Dia menyeringai sebelum mengeluarkan sesuatu dari dalam jaketnya.
"Lo tau ini apa? Iya, pisau. Lo bakal ngerasain gimana nikmatnya pisau ini nusuk ke tubuh lo. Tenang, gak akan sakit kok."
Tubuh Elvano menegang mendengar perkataan pemuda itu, tidak dipungkiri dia merasa takut saat melihat benda tajam itu.
"Apa ada kata-kata terakhir? Buat pacar lo, mungkin?" Pemuda itu terkekeh melihat Elvano yang menatapnya tajam. Ingin sekali Elvano menghajarnya, tetapi apa daya. Dia sama sekali tidak memiliki tenaga. Ia sendirian, sedangkan lawannya tiga orang.
"Gimana? Gak ada kata-kata terakhir? Oke, kita mulai, tenang rasanya nikmat." Pemuda itu menyeringai bak predator yang akan memakan mangsanya.
Gila, psikopat, gak waras.
Elvano mengumpat dalam hati, tubuhnya semakin menegang ketika melihat pisau itu sudah siap menancap di tubuhnya.
Dalam hitungan detik, pemuda misterius itu mengangkat tinggi-tinggi pisau itu dan menancapkannya ke perut Elvano. Darah segar mengalir begitu deras. Tubuh Elvano menegang, matanya menyipit menahan sakit. Dia harus menahan kesadarannya agar tidak pingsan.
Beberapa detik kemudian, pemuda itu mencabut pisau itu dari perut Elvano. Darah mengalir semakin deras dari perut Elvano. Hal tersebut tidak membuat pemuda itu merasa simpati, justru dia merasa senang karena begitu banyak darah. Ia menyukai bau darah.
"Selamat tinggal, Elvano."
Pemuda itu pergi begitu saja diikuti dua orang lainnya. Meninggalkan Elvano yang mulai sulit bernafas. Elvano mencoba untuk tetap bertahan, tetapi terasa sulit. Perlahan semuanya menjadi buram. Elvano menyerah.
Tuhan, tolong jaga Agatha.
...***...
Selamat tinggal Elvano ಥ‿ಥ