COLD BOY - NEW VERSION

COLD BOY - NEW VERSION
BAB 28 - Penolakan



Sejak tiba di sekolah, Agatha tidak berhenti tersenyum. Bahkan ketika sampai di kelas, gadis itu tak sedikitpun menghilangkan senyumnya. Chacha merasa heran melihat sahabatnya yang bertingkah sangat aneh. Wajah Agatha terlihat bersinar, membuat Chacha semakin bingung. Apa yang terjadi pada gadis itu? Kemarin kemarin saja dia terlihat sangat tidak bersemangat karena patah hati.


"Lo kenapa sih dari tadi senyum-senyum gak jelas?" tanya Chacha yang sudah tidak tahan memendam rasa penasarannya.


Senyum Agatha semakin lebar ketika menoleh menatap Chacha yang duduk di sebelahnya.


"Gue lagi bahagia."


"Ada apa nih? Bagi-bagi dong kalau bahagia," ujar Chacha penasaran.


"Tebak dong!" Agatha tersenyum sembari menaik-turunkan alisnya.


"Gue gak suka main tebak-tebakan, cepetan jawab!" ujar Chacha tidak sabar.


"Ah, gak asyik," gerutu Agatha meski setelahnya dia kembali tersenyum lebar.


"Gue kemarin pulang bareng Elvano."


"APA? Gue gak salah denger? Gak mungkin lah," ujar Chacha dengan terkejut. Dia yakin Agatha pasti sedang mengkhayal. Pulang bersama Elvano? Itu adalah hal yang mustahil, bukankah Elvano tidak menyukai Agatha?


Agatha berdecak kesal sembari menatap Chacha malas.


"Kenapa gak mungkin? Beneran tau! Kemarin dia nganterin gue pulang!" ujar Agatha menggebu-gebu.


Chacha masih tidak yakin, menurutnya itu adalah hal yang luar biasa, jika memang benar terjadi. Chacha hendak mengatakan sesuatu ketika matanya menatap sepasang remaja yang sedang berjalan beriringan di koridor.


"Eh, bentar. Lihat tuh, Tha!" Chacha menunjuk pintu kelas yang terbuka lebar dengan tangannya.


Di sana ada Elvano dan Elisa yang berjalan beriringan di koridor dan baru saja melewati kelas mereka. Elvano sama sekali tidak menoleh, padahal tahu bahwa kelas yang dia lewati adalah kelas Agatha.


Agatha terdiam, otaknya mulai mengingat kepingan puzzle yang sempat terlupakan.


Deg


"Gue hampir lupa," ujar Agatha dengan suara lirih. Ya, dia lupa kalau Elvano dan Elisa mempunyai hubungan yang dekat.


Chacha tidak tega melihat Agatha yang sedang menahan air matanya. Gadis itu segera memeluk sahabatnya dengan erat. Berusaha menjadi sandaran untuk Agatha.


"Udah ya, jangan dipikirin," ujar Chacha menenangkan.


Pikiran Agatha kembali melayang ke kejadian kemarin ketika Elvano bersikap sangat manis padanya. Bahkan pemuda itu mengantarnya pulang. Meski mereka tidak mengobrol banyak hal, tetapi rasa-rasanya kemarin adalah hal yang sangat berharga bagi Agatha.


"Kenapa El bersikap seolah-olah dia peduli sama gue kemarin? Tapi, tapi kenapa sekarang--?" Agatha tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Dia menangis terisak.


"Sssttt, udah ya," ujar Chacha pelan. Hatinya sakit melihat Agatha yang kesakitan.


"Sikap dia bikin gue berharap lagi, Cha. Ujung-ujungnya gue juga yang sakit hati," ujar Agatha ditengah tangisnya.


Agatha terus berbicara dalam pelukan Chacha. Menumpahkan segala rasa sakitnya.


"Lupain dia, ya?"


"Gak semudah itu, Cha. Setelah seharian kemarin gue coba untuk cuekin Elvano. Tiba-tiba pas pulang sekolah dia nyamperin gue, ngajak gue pulang bareng. Maksudnya apa coba? Sedangkan dia juga deket sama Elisa. Dia mau mainin gue?"


"Nangis aja, keluarin semuanya biar lo bisa tenang. Gue ada di sini buat lo." Chacha mengeratkan pelukannya, tangannya mengusap punggung Agatha pelan, mencoba menyalurkan kehangatan.


"Gini banget ya nasip gue, haha." Agatha tertawa pelan, sarat akan luka.


...***...


15.10


Sama seperti kemarin, Agatha sedang berdiri di depan gerbang menunggu Keenan menjemputnya.


Lagi, Elvano datang beberapa menit setelahnya. Pemuda itu menghentikan motornya di depan Agatha, berniat mengajak Agatha pulang bersamanya lagi seperti kemarin.


"Pulang bareng gue mau?" tanya Elvano lembut dengan wajah datar andalannya.


Agatha menoleh ke arah lain, menolak untuk menatap wajah Elvano. Hatinya sakit, mati-matian dia menahan air mata yang memaksa untuk keluar.


Bayangan tentang Elvano dan Elisa yang bergandengan tangan terus berputar di kepalanya. Semakin menambah rasa sakit yang Agatha rasakan.


"Gak usah," jawab Agatha singkat tanpa menatap Elvano.


"Kenapa?" tanya Elvano, suaranya terdengar kecewa karena penolakan Agatha.


"Gue bisa pulang sendiri, mending lo pergi aja," ujar Agatha dingin, kali ini dia menatap mata Elvano dengan tatapan dingin. Persis seperti yang Elvano lakukan padanya dulu.


Elvano mengerutkan keningnya bingung. Ada apa dengan Agatha? Kenapa gadis itu mendadak bersikap dingin padanya? Apa dirinya membuat kesalahan sampai-sampai Agatha marah?


"Kenapa? Lo menghindar dari gue?" tanya Elvano. Seharian ini mereka memang tidak bertemu. Elvano pikir, mungkin Agatha sedang sibuk. Bahkan gadis itu tidak datang ke kantin. Atau memang benar Agatha sedang menghindarinya?


"Gak, bukan urusan lo," ujar Agatha, dia mengerjapkan matanya beberapa kali agar air matanya tidak jatuh.


Elvano menghela napas, wajahnya terlihat lelah, "Gue ada salah?"


"Gak ada." Setelah itu, Agatha berlari menghampiri mobil hitam milik Keenan yang berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri. Gadis itu pergi tanpa peduli pada Elvano yang memanggilnya.


"Agatha!" panggil Elvano sebelum Agatha masuk ke dalam mobil. Tetapi percuma, Agatha benar-benar mengabaikannya kali ini.


Elvano menghela napas panjang. Dadanya sesak saat Agatha bersikap dingin padanya. Padahal kemarin, mereka masih baik-baik saja. Lalu, apa yang salah?


Elvano rela pulang sedikit terlambat demi bisa mengantar Agatha pulang sampai rumah dengan selamat.


Kemarin, Elvano hanya berniat mengawasi Agatha dari jauh tanpa mendekat. Tetap, melihat Agatha yang kepanasan, Elvano tidak tega. Dan berakhirlah dengan mereka pulang bersama. Elvano berharap itu adalah awal yang baik untuk mereka, tetapi mengapa ujung-ujungnya seperti ini.


Elvano yakin Agatha masih mencintainya. Tetapi melihat sikap gadis itu tadi, membuat rasa percaya diri Elvano meluap. Pemuda itu hanya bisa pasrah tanpa berniat untuk kembali berjuang.


Mungkin sekarang, Agatha membencinya.


...***...


Kasian si El di tolak. Biarin dah, biar tau rasa.


/tersenyum miring