Being The Second

Being The Second
Episode 9 - Pria Aneh



Ternyata masih seperti dulu, senyummu masih saja menjadi candu yang membuat rinduku selalu menggebu


•••••••••••••}


Hari ini sudah satu minggu semenjak terakhir kali Erros datang ke caffe menemui Arresha. Sebenarnya dia masih begitu merindukan Erros, tapi Arresha tidak mungkin begitu egois memaksa Erros untuk datang.


Dia hanya mencoba mengerti keadaan, mungkin saja Erros begitu sibuk hingga belum bisa datang dan menemuinya lagi. Lagi pula kemarin Erros juga menelfon bahwa dia sedang sangat sibuk mengurus pembukaan beberapa anak cabang dari perusahan raksasa milik orang tuanya, dan dia meminta maaf karena belum bisa menemui Arresha lagi.


Dan setelah telefon Erros saat itu mereka tidak berkomunikasi lagi. Bukannya tidak ingin, dia sangat ingin menelfon dan menanyakan kabarnya. Apakah sudah makan atau belum ataukah sudah istirahat atau belum? Tapi Arresha merasa sangat canggung sekarang, dia hanya takut malah mengganggu dan mengacaukan pekerjaan Erros.


" Arresha, tolong antarkan ini ke meja nomor 17 ya! " ucap Atha salah satu rekan kerjanya.


" Oke, " jawab Arresha, mengambil nampan yang tadi di letakkan oleh Atha kemudian mengantarkannya menuju meja nomor 17, sesuai dengan perintah Atha.


Arresha bekerja seperti biasanya, penuh semangat dan juga ramah pada setiap pengunjung. Bukankah pembeli adalah raja, jadi dia berusaha melayani rajanya dengan sebaik mungkin.


" Arrehsa, tolong bawakan buku menu ke meja nomor 13 ya! " ucap Luna rekan kerjanya, yang hanya di jawab isyarat tangan 'OK' oleh Arresha.


Dia sedang semangat bekerja hari ini, besok hari liburnya, dan Arresha sudah berencana untuk bermalas-malasan dengan rebahan cantik di kasur miliknya sampai tulang-tulangnya memohon untuk di gerakkan karena terlalu lama tidur.


Arresha melangkahkan kakinya ke meja nomor 13 dengan membawa buku menu, terlihat seorang pria bertopi mengenakan kacamata hitam dan wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutup masker berwana hitam juga.


Arresha merasa sedikit mengenali punggungnya, namun dia tak ingin terlalu banyak berpikir, kalau dugaanya salah malah dia yang akan malu sendiri nantinya. Jadi Arresha bersikap biasa saja, lagian di kota sebesar ini yang mempunyai punggung seperti itu bukan hanya kenalannya saja.


" Selamat siang, silahkan menunya Tuan, " salam Arresha begitu ramah.


" Bawakan aku makanan terenak dan termahal disini, dan kau ingat harus makanan yang aku sukai!!! " jawab orang itu tanpa melihat terlebih dahulu menu yang tertulis di buku menu, bahkan dia tidak menyentuhnya sama sekali.


" Maaf sebelumnya, tapi kami tidak tau selera Tuan, takutnya nanti makanan yang kami hidangkan tidak sesuai dengan selera anda, " kata Arresha berusaha seramah mungkin, takut jika ucapannya itu membuat sang pelanggan tersinggung atau marah.


" Kalau begitu tanyakan saja pada pacarku, dia tau apa saja kesukaanku dan yang tidak aku sukai! " kata pria itu lagi, benar-benar menguji kesabaran Arresha, untung saat ini dia sedang dalam mood yang bagus.


" Tapi kami bahkan tidak tau siapa pacar anda Tuan...." aneh, batin Arresha sedikit mencebikkan bibir.


" Masa kau tidak tau. Pacarku yang cantik, wajahnya seperti malaikat, kau tau dia sangat cerewet, mirip bebek, untung saja aku cinta padanya. " jawab Erros.


" Aku tidak ingin mendengar pernyataan cintamu Tuan," batin Arresha yang mulai merasa kesal.


" Kalau begitu tolong telfonkan pacar anda Tuan, biar saya tanyakan apa saja makanan kesukaan anda, " kata Arresha lagi, sungguh kesabarannya tinggal seujung rambut di ubun-ubun.


Sekali lagi meledek aku tenggelamkan sekalian, batin Arresha.


" Kau mau aku menelfonnya? Tapi aku tidak yakin dia akan mengangkatnya. Dia sibuk sekarang, dia sedang bekerja, " kata pria itu lagi, melirik sekilas pada Arresha yang wajahnya sudah merah padam karena menahan amarah, dia tersenyum di balik masker yang menutupi wajahnya.


Sabar...sabarr...ada yang jual sabar tidak sih aku ingin pesan yang banyak..sangat banyak!!! batin Arresha, dia merasa benar-benar di permainkan.


" Ahhh..baiklah aku akan menelfonnya, siap tahu dia mau mengangkat telfonku, " imbuhnya lagi.


Tangannya meraih slingbag yang dari tadi bertengger di dadanya, mengeluarkan sebuah handphone, tangannya terlihat mencari sebuah kontak sebelum memencet tanda 'call'.


Tutttttt...tuuutttttt...


" Aku sungguh tidak yakin dia mau mengangkatnya, " ucapnya lagi, nada suaranya sungguh terdengar menjengkelkan bagi Arresha, kalau saja tidak di caffe dan dia tidak sedang bekerja pasti Arresha sudah memukul kepalanya.


Arresha hanya diam saja menatap pada pria aneh itu, dia tidak ingin menjawab apapun sekarang.


" Tuh kan kau lihat, dia tidak mengangkatnya, dia sedang bekerja! " kata pria itu lagi. Arresha sungguh merasa ingin pergi saja dari pada melayani pria gila seperti itu.


" Aku coba sekali lagi yaaaaa...... Semoga dia mau mengangkatnya, " kata pria itu lagi, sekali lagi jarinya memencet tanda 'call'' pada handphone nya.


Tuuuuttttt...


Tuuutttttt....


" Doakan ya dia mau mengangkatnya, " kata pria itu lagi.


Sedangkan Arresha memilih diam memperhatikan, dia sudah memutuskan kalau pacar pria aneh itu tidak mengangkat telfonya lagi dia akan langsung pergi saja, masih banyak pekerjaan lain yang menunggunya.


" Maaf tuan, handphone saya berdering dari tadi, mungkin ada sesuatu yang sangat mendesak, saya permisi mengangkatnya sebentar, " kata Arresha, dia menjauh sekitar tiga langkah dari pria aneh itu sebelum mengangkat telfonnya.


" Hallo, kalau tidak penting aku bersumpah akan membunuhmu, " kata Arresha cepat, bahkan tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang menelfonnya, dia merasa kesabarannya benar-benar di uji sekarang.


" Tega sekali kau mau membunuhku Arresha, apa kau sudah tidak mencintaiku lagi hmm? " kata seseorang di sebrang telefon membuat kening Arresha berkerut heran, langsung menatap layar ponselnya, " Erros".


" Ada apa? Aku sedang bekerja, nanti saja telfonnya! " kata Arresha, dari suaranya terdengar bahwa dia sangat kesal.


" Mengapa suaramu terdengar begitu kesal? Apa yang membuatmu sampai kesal seperti itu? " tanya Erros, suaranya terdengar begitu perhatian hingga membuai Arresha yang saat ini sedang begitu kesal.


" Aku sedang melayani pelanggan gila! "


" Gila?! " tanya Erros heran.


" Iya pria gila, sudah jangan telfon dulu nanti kalau tidak sibuk aku akan mengirim pesan kepadamu! " kata Arresha.


" Tunggu dulu, jangan di matikan, ada yang mau bicara denganmu, sebentar saja! " kata Erros lagi sebelum Arresha mematikan panggilannya.


" Berbicara denganku? Siapa? " tanya Arresha heran.


" Pelayan caffe, dia bilang dia ingin bertanya pada pacarku apa saja makanan kesukaanku, itu seperti triknya untuk menggodaku, memang kau tidak takut aku tergoda?! " jawab Erros cepat.


Mendengar ucapan Erros barusan membuat Arresha bingung sesaat sebelum akhirnya menyadari jika dia memang di permainkan.


" Katakan saja pada pelayan itu kau menyukai racun tikus! " jawab Arresha langsung mematikan telfonnya. Dia sudah siap menyerang Erros sekarang, dia siap meledakkan amarahnya.


Arresha berbalik badan dan langsung menatap wajah Erros yang kini tengah tersenyum begitu lebar karena berhasil membuat kekasihnya begitu kesal.


Sudah sangat lama dia merindukan wajah kekasihnya yang sangat imut ketika sedang kesal dan marah seperti sekarang ini.


Arresha dengen cepat melangkahkan kakinya mendekat pada Erros yang beraninya mengerjai dirinya seperti itu.


" Kau awas saja!! " kata Arresha mendekat dan langsung menjewer telinga Erros, dia tidak peduli Erros yang terus mengaduh kesakitan karena telinganya yang hampir putus. Yang ada Arresha benar-benar kesal dan ingin melampiaskanya.


Beberapa orang pengunjung dan karyawan terlihat memperhatikan Arresha, saat ini dia tengah menjadi pusat perhatian karena dengan beraninya menjewer telinga sang pelanggan.


" Mungkin pria itu sudah bersikap tidak sopan makannya di jewer seperti itu! " ucap salah seorang pelanggan yang memperhatikan Arresha dan Erros.


" Mungkin saja, biarkan saja dia biar tau rasa!! " kata salah seorang lagi.


" Aaa...aaaa sakit Arresha, sudah aku mohon, telingaku bisa putus, kalau putus aku tidak bisa lagi mendengar suaramu yang seperti bebek, " kata Erros yang mengaduh kesakitan.


Mendengar ucapan Erros bukannya membuat Arresha melepaskan jewerannya malah semakin keras ia menjewer, biar saja sampai putus.


" Kau mau mengulanginya lagi atau tidak?! "


" Tidak, aku tidak akan mengulanginya lagi, aku masih menyayangi telingaku, " kata Erros memelas, telinganya benar-benar sakit. Arresha melepaskan tangannya dari telinga Erros, dan Erros langsung mengelus telinganya yang terasa panas pegal.


" Jadi kau mau pesan apa?! " tanya Arresha yang masih berdiri di samping Erros.


" Tadi pacarku bilang aku suka racun tikus dia memang kejam, untung saja aku cinta padanya! " ucap Erros yang masih saja meledek membuat Arresha menghembuskan nafasnya kesal.


" Kau tunggu disini!!! "


" Kau mau kemana? " tanya Erros


" Mengambilkanmu racun!!! " kata Arresha langsung beranjak pergi meninggalkan Erros yang malah jadi senyum-senyum sendiri, membuat beberapa orang memandangnya aneh.


Arresha melangkahkan kakinya menuju meja kasir, disana terlihat Theo yang mungkin langsung keluar setelah mendengar suara ribut-ribut tadi, di sampingnya juga ada Jofan yang mungkin saja baru datang. Mereka menatap Arresha dengan bingung.


" Apa dia menggodamu Arresha? " tanya Jofan saat Arresha sudah berapa dua langkah di depannya.


Jofan sungguh terkejut saat memasuki caffe tadi ia malah melihat Arresha yang menjewer telinga pelanggan, dia ingin mendekat dan bertanya ' ada apa? ' tapi Theo melarangnya. Theo menyuruhnya melihat terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi.


" Dia pesan racun tikus!! " jawab Arresha asal malah membuat Sehun dan Theo semakin bingung. Tapi mereka memilih untuk tidak bertanya lagi pada Arresha, lebih baik diam dari pada kena semprot.


Erros tersenyum melihat Arresha yang kembali berjalan ke arahnya membawakan nampan yang sudah pasti berisi berbagai makanan kesukaannya. Senyumnya lebih merekah saat melihat wajah Arresha yang masih terlihat kesal, sungguh menggemaskan di mata Erros.


" Silahkan pesanan anda Tuan menyebalkan! " ucap Arresha penuh penekanan pada setiap kalimatnya, tak lupa pula matanya yang masih melirik tajam pada Erros yang hanya terus tersenyum sedari tadi.


" Apa aku sebegitu menyebalkannya sampai kau dari tadi terus melirikku sangat tajam hmmm?! " goda Erros wajahnya yang terlihat matang sengaja ia buat seimut mungkin, dia masih sangat hafal bagaimana cara merayu kekasihnya ini jika sedang marah.


" Aku sungguh membenci wajah sok imutmu itu! " ucap Arresha mengusap kasar wajah Erros dengan telapak tangannya.


" Tapi kau jatuh cinta pada orangnya kan?! "


" Siapa bilang?! " saut Arresha cepat.


" Kau lah siapa lagi! " ting ting. Erros mengedipkan kedua matanya, mode sok imut bab 2.


" Maaf Tuan, saya sedang sibuk bekerja, tolong jangan mengganggu !! "


Merasa gemas Erros pun memencet hidung Arresha, menariknya lalu menggoyang-goyangkannya.


" Aawwww..kau ini apa-apaan sih?! Aku sedang bekerja, jangan mengajakku berpacaran!!! " Arresha pun memutuskan pergi meninggalkan Erros, sudah cukup dia jadi pusat perhatian dari tadi, lebih baik dia kembali bekerja dari pada nanti kena tegur atasannya.


Arresha kembali ke meja kasir, terlihat ada Jofan dan juga Theo yang memandangya penuh dengan tanda tanya besar pada tatapan matanya.


" Kenapa melihatku terus!! " kata Arresha langsung yang malah membuat Jofan dan Theo saling berpandangan heran.


" Kau mengenalnya Arresha? " tanya Jofan, dia merasa seperti pernah melihatnya dimana, tapi lupa.


" Hmmm. Sudahlah aku kerja dulu! " kata Arresha langsung meninggalkan Theo dan Jofan.


Setelah Arresha melanjutkan pekerjaannya Jofan lebih memilih untuk membuka meja nya sendiri, hari ini dia mempunyai waktu yang cukup luang karena itu dia memutuskan untuk ke caffe.


Rasanya ingin selalu melihat wajah gadis pujaannya itu, walau dia masih belum terlalu percaya diri untuk mengungkapkan, tapi tak apalah dia tak terlihat yang penting dia akan selalu ada, pikir Sehun yang hanya memperhatikan Arresha sedari tadi.


Dari sudut ruangan, tepatnya meja nomor 13 Erros masih terus memperhatikan Arresha, dia berniat menunggu Arresha sampai selesai bekerja lalu setelah itu mengajaknya berkeliling kota bersama.


Hari ini dia menyerahkan pekerjaannya pada Assisten Jo karena menurutnya tidak ada yang terlalu penting, dia sudah menyelesaikan pembukaan beberapa anak cabang jadi dia bisa sedikit bersantai.


Jam menunjukkan pukul 4 sore yang berarti saatnya pergantian shift. Arresha berjalan menuju meja Erros yang terus setia menunggunya sampai jam pulang.


" Ayo... " kata Erros tersenyum setelah melihat Arresha mendekat ke arahnya.


Mendengar ucapan Erros membuat Arresha tersenyum, ini adalah kencan pertama mereka setelah 3 tahun terpisah.


Dengan mengenakan boyfriend jeans, atasan model sabrina dengan motif bunga-bunga, serta sepatu sneakers berwarna putih membuat penampilannya terkesan santai namun tetap saja terlihat cantik seperti biasanya. Rambutnya yang berwarna coklat sengaja ia biarkan tergerai menutupi lehernya yang jenjang, dan justru malah membuatnya terlihat semakin manis.


" Arreess... " ucap Jofan tercekat saat ia melihat Arresha membelokkan langkah kakinya menghampiri seorang pria.


Jofan memperhatikan Arresha sedari tadi, sengaja menunggu Arresha pulang sebenarnya dia berniat menculik Arresha, dia ingin memberikan surprise tapi yang ada malah Arresha menghampiri pria yang tadi duduk beberapa meja darinya.


Jofan masih mencoba mengingat-ingat lagi, menggali ingatannya tentang pria yang saat ini sedang bersama Arresha, dan akhirnya dia berhasil mengingatnya.


Dia adalah pria yang waktu itu memelototiku terus, tapi bagaimana bisa dia bersama Arresha, pikir Jofan. Akhirnya Jofan memutuskan untuk mengikuti Arresha, dia benar-benar penasaran.


Erros



Arresha