
Aku mengira hanya diriku yang kau perhatikan, hanya diriku yang kau sanjung hingga perasaanku larut dan jatuh.
Ternyata aku salah, ternyata ada orang lain yang kau perlakukan serupa seperti caramu memperhatikanku selama ini.
~Andini RS
•••••••••••••••••••
Setelah membaca pesan dari Arresha, Jofan benar-benar tidak bisa fokus berlatih. Dia berulang kali melakukan kesalahan yang malah membuatnya emosi, dia marah tapi dia pun tak tau kenapa dia bisa marah. Detik, menit dan jam yang terus bergulir seakan benar-benar menguji batas kesabaran yang masih tersisa dalan hatinya.
Tepat saat jam berlatihnya habis Jofan bergegas keluar meninggalkan studio dance, dia ingin pergi ke rumah Arresha sekarang. Jofan hanya ingin melihat dan memastikannya secara langsung apakah kekasih Arresha sudah mengantarnya pulang dengan selamat dan tanpa kurang satu apapun.
Jofan mengemudikan mobilnya dengan cepat, dia merasa gelisah dan tak bisa tenang sekarang. Dengan beralasan mengantarkan sekotak pizza kesukaan Arresha, Jofan melangkahkan kakinya melewati pagar rumah kemudian mengetuk pintu rumah Arresha. Tapi setelah menunggu selama hampir dua jam lamanya dia tak mendapati tanda-tanda jika Arresha sudah pulang ke rumah. Dan itu malah membuatnya semakin frustasi.
Akhirnya Jofan memlih untuk pergi meninggalkan rumah Arresha. Mobil Jofan menuju ke sebuah bar yang letaknya tak jauh dari studio dance tempatnya biasa berlatih dance. Jofan memesan enam botol wine sekaligus, dia tidak tahu, dia hanya ingin mabuk sekarang.
Baru beberapa dia kali minum ada seorang pria yang menepuk bahunya, membuatnya reflek menoleh dan ternyata itu adalah Kai, member satu grupnya. Sebenarnya saat ini dia sedang tidak ingin di ganggu siapapun, termasuk Kai. Perasaannya kacau dan dia tidak berminat untuk say hello ataupun berbicara dengan siapapun.
" Ada masalah apa? " tanya Kai kemudian menarik sebuah kursi bar dan duduk di samping Jofan. Kai bisa melihat dengan jelas jika saat ini Jofan benar-benar sedang kacau.
Kai memperhatikan Jofan yang tidak fokus saat berlatih, Jofan berulang kali melakukan kesalahan dan juga terlihat beberapa kali emosi, akhirnya Kai memutuskan untuk mengikuti Jofan setelah melihat Jofan yang buru-buru pergi meninggalkan dance studio, dan ternyata dugaannya benar.
Jofan bukanlah tipikal orang yang suka menghabiskan waktunya di bar seperti sekarang ini, setahunya selama beberapa bulan terakhir ini Jofan selalu pergi ke Caffe Horizon jika memiliki waktu luang. Kai tidak mengetahui jika Jofan menyukai seseorang di caffe itu yang membuatnya selalu menyempatkan waktu untuk datang berkunjung ke caffe itu. Di tambah lagi ketika Kai melihat Jofan yang memesan enam botol wine sekaligus membuatnya semakin yakin jika Jofan memang dalam kondisi yang buruk saat ini.
" Tidak ada, hanya ingin minum" jawab Jofan menengguk kembali wine yang ia tuang dalam slokinya (sloki adalah gelas kecil untuk minum alkohol). Jofan tidak berniat untuk membuka mulutnya dan meceritakan alasan mengapa dia menjadi seperti ini, dia tidak ingin ada orang yang mengetahui permasalahannya saat ini, apalagi jika masalahnya itu menyangkut perempuan.
" Bolehkah aku bergabung? " tanya Kai lagi membuat Jofan mengangguk tangannya memainkan sloki berisi wine miliknya mengangkat sejajar dengan matanya kemudian memutarnya pelan seolah mengamati tiap bagian sloki itu.
" Kau tau jika patah hati aku juga sepertimu " kata Kai namun Jofan tak ingin menjawab, kali ini dia memang hanya ingin minum, minum sebanyak mungkin sampai dia benar-benar mabuk.
" Wanita memang seperti itu, suka memberi harapan namun setelah itu mencampakan dan berkata kita yang terlalu berharap " imbuhnya lagi. Kai berbicara seperti itu tentu saja karena dia tahu jika Jofan tidak memiliki kekasih saat ini.
" Dia tak pernah memberikan harapan, hanya aku yang terlalu berharap! " jawab Jofan akhirnya dan dia kembali menengguk winenya.
" Apa dia sudah menolakmu? " tanya Kai lagi mencoba memancing Sehun agar mau menceritakan masalahnya.
" Dia bahkan tak pernah tahu kalau aku mencintainya " jawab Jofan tersenyum kecut pandangannya menunduk menatap sloki kosong yang baru saja dia tengguk isinya.
" Kalau dia tak tahu kenapa kau tak memberi tahunya, wanita itu bukan cuma menginginkan tindakan tapi mereka juga membutuhkan sebuah ungkapan! " kata Kai seolah-olah dia memang paham betul mengenai wanita.
" Aku bahkan berulang kali memintanya untuk menjadi kekasihku, tapi dia selalu menganggap itu sebuah lelucon " jawan Jofan tersenyum kecut, dia ingat sudah berulang kali meminta Arresha menjadi kekasihnya, tapi Arresha selalu menganggap ucapannya itu hanyalah sebuah lelucon. Padahal untuk masalah hati dan status Jofan tidak pernah berfikir untuk menganggap itu sebuah lelucon.
" Memintanya menjadi kekasihmu dan mengatakan kau mencintainya itu dua hal yang berbeda brother " kata Kai membuat Jofan terdiam.
" Hahhhh... Entahlah aku pusing " ucap Jofan, dia tak bisa berfikir jernih sekarang. Jofan hanya ingin minum sebanyak mungkin sampai dia mabuk dan melupakan sedikit saja rasa sakit di hatinya.
Dalam kisah ini akupun tidak tahu apakah aku berhak atas kecemburuanku atau tidak. Yang jelas saat ini aku tidak bisa menjelaskan tentang perasaan yang mengikat jantungku dengan erat. Sesak itu membuat oksigen tidak bisa masuk dan aku terkunci dalam perasaan yang aku sebut cemburu tanpa tahu bagaimana menghilangkannya. Padahal aku hanya teman yang tidak berhak dengan perasaanku ini, batin Jofan.
Jofan kembali menuangkan wine ke dalam slokinya dan kemudian menenggaknya hingga habis. Kai merasa kasihan melihat Jofan yang seperti itu tapi dia tak mungkin untuk ikut campur dalam masalah pribadi Jofan.
..........................................
°° Penthouse Erros °°
Fajar menyingsing saat Arresha membuka matanya, dia melihat langit-langit kamat tempatnya bermalam. Tirai yang menutupi bagian jendela masih tertutup rapat seakan tak membiarkan cahaya matahari menembus ke dalaman ruangan kamarnya dan mengusik tidurnya.
Senyuman terus terlukis di wajah ayu Arresha saat mengingat dia benar-benar menikmati kebersamaannya dengan Erros. Tubuh Arresha berguling-guling di atas springbed hingga terbungkus oleh selimut tebal yang memberikannya kehangatan, sehangat hatinya saat ini.
" Arresha...kau sudah bangun baby? " tanya Erros mengetuk pintu kamar membuat senyum Arresha semakin merekah sempurna.
" Tunggu sebentar! " jawab Arresha riang.
Tak lama Arresha pun membuka pintu kamarnya, paginya di sambut senyuman hangat dari pria yang paling dia cintai. Tak ada yang lebih indah dari ini semua, pikir Arresha.
" Astaga muka bantalmu sangat menyeramkan Arresha! " ucap Erros menarik Arresha ke dalam pelukannya.
" Biar saja, biar tikus-tikus disini kabur ketakutan karena melihat wajahku! " jawab Arresha manja membuat Erros tersenyum.
" Lebik baik kau cuci muka dulu, setelah itu kita membuat sarapan bersama " ucap Erros melepaskan pelukannya dan mendorong tubuh Arresha ke dalam kamar mandi.
Bel berbunyi saat Arresha dan Erros tengah memasak bersama, membuat Erros mengerutkan keningnya heran siapa yang datang sepagi ini. Tidak mungkin itu Assisten Jo karena dia sudah mengatakan akan berangkat sendiri menuju kantor setelah kembali dari rumah sakit.
" Arresha tunggu sebentar, ada tamu! " ucap Erros yang hanya di balas anggukan oleh Arresha.
Sekali lagi bell itu berbunyi, membuat Erros segera melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.
" Iya sebentar... " ucap Erros meraih handle pintu kemudian menariknya, namun saat melihat siapa yang datang membuat Erros benar-benar terkejut.
" Li.. Lissa?! " ucap Erros tercekat, dia tak menyangka jika Lissa akan datang ke penthouses-nya sepagi ini terlebih lagi Lissa tak mengirimkan kabar terlebih dahulu mengenai kedatangannya.
" Selamat pagi sayang, aku sengaja datang karena ingin mengajakmu berangkat bersama ke rumah sakit " ucap Lissa memeluk Erros kemudian mencium pipinya.
Erros masih terpaku di tempatnya, otaknya serasa berhenti membuatnya membeku dan kebingungan untuk melakukan apa. Di dalam ada Arresha, dan disini ada Lissa, pikirnya bingung.
" Tumben sekali kau sudah bangun sepagi ini, biasanya aku datang kau masih nyenyak tidur! " kata Lissa tersenyum suaranya terdengat lembut ketika di dengar.
Lissa melenggang masuk ke dalam setelah indera penciumannya berhasil menangkap bau masakan dari arah dapur, membuatnya segera melangkahkan kakinya menuju dapur.
" Kau memasak sayang? " tanya Lissa namun sebelum sampai di dapur langkahnya terhenti saat melihat seorang perempuan dengan apron melekat di tubuhnya dan tangannya sibuk mengolah masakan hingga tak menyadari kedatangan Lissa.
Perhatian Lissa langsung tertuju pada pakaian yang di kenakan oleh Arresha, karena Arresha memakai kemeja milik Erros yang terlihat begitu kebesaran di tubuhnya yang mungil.
Siapa perempuan itu? Mengapa ia memakai kemeja milik Erros, ucap Lissa dalam hati.
Erros dengan cepat melangkahkan kakinya untuk mengejar langkah Lissa namun terlambat, Lissa lebih dulu sampai di dapur. Dia semakin bingung ketika mendapati Lissa yang tengah terpaku di ambang pintu saat melihat Arresha yang sedang asyik memasak.
Oh **** !!! batin Erros.
" Erros...siapa? " tanya Arresha melihat seorang perempuan berdiri tak jauh darinya tengah terdiam dan terus menatapnya, membuatnya bingung. Sedari tadi Arresha terlalu fokus memasak hingga tak mendengarkan dengan jelas siapa yang datang.
" Lissa " jawab Lissa, dengan cepat dia berhasil menguasai diri. Sesungguhnya Lissa menunggu Erros membuka mulut dan memperkenalkannya sebagai seorang tunangannya, namun setelah menunggu dia tak kunjung mendapati Erros membuka mulutnya sama sekali.
" Wahh, ada tamu, untung tadi aku memasak cukup banyak, jadi kita bisa sarapan bersama " ucap Arresha tersenyum ramah.
" Tee.. Terimakasih " jawab Lissa.
" Aa....Arresha Lissa! " ucap Erros tercekat.
" Erros tolong bantu aku membawanya ke meja ya?! " ucap Arresha
Namanya Arresha, batin Lissa.
" Ii.. Iya " jawab Erros yang masih linglung jadi dia hanya menurut saja ketika Arresha meminta pertolongannya dan langsung membawa beberapa piring berisikan lauk-pauk menuju meja makan yang tak jauh dari pantry dapur itu.
Lissa hanya terdiam menyaksikan adegan manis yang terpampang jelas di depan matanya itu. Bahkan Erros sama sekali tak memperkenalkan siapa dirinya, membuatnya langsung menyadari jika wanita yang ada di depannya saat ini mempunyai tempat spesial di hati tunangannya, Erros.
Tapi jika memang ada hati yang harus di jaga bukankah seharusnya itu hatinya, yang sudah jelas adalah tunangannya, calon istrinya. Lantas mengapa sekarang malah dia yang merasa seperti seorang selingkuhan yang menutupi hubungannya dengan Erros.
" Nona Lissa mari makan bersama " ucap Arresha ramah, dari suaranya saja Lissa bisa menilai jika Arresha adalah sosok gadis ramah dan juga yang ceria.
Erros semakin merasa bersalah saat melihat Lissa hanya diam dan tak mengeluarkan suara apapun untuk meluapkan emosinya. Erros tentu tahu jika Lissa adalah orang yang paling sabar yang pernah dia kenal, melihat Lissa yang hanya diam dan menerima membuat hatinya semakin di penuhi perasaan bersalah.
Lissa tersenyum mendekat ke arahnya dan juga Arresha yang sama sekali tak menyadari situasi penuh kecanggungan yang saat ini terpampang nyata di sekitarnya. Mungkin memang benar cinta bisa membuatmu buta hingga membutakan mata Arresha dan membutakan perasaannya yang terlalu percaya pada Erros.
" Wah masakanmu sepertinya enak sekali Nona Arresha, " ucap Lissa setelah melihat beberapa piring berisikan masakan yang di buat oleh Arresha. Lissa kembali memalingkan tatapan matanya pada Erros yang berdiri di samping Arresha.
" Silahkan di cicipi dulu Nona Lissa, kalau suka aku akan memberikan resep rahasianya kepadamu, " jawab Arresha tersenyum lebar. Arresha selalu senang ketika ada orang lain yang memuji masakannya.
Erros menarikkan kursi untuk Arresha duduki, sekali lagi itu membuat perasaan Lissa semakin kacau. Kemudian Erros melangkah mendekat ke arah Lissa dan menarikkan kursi untuknya duduk. Itu sudah menjadi kebiasaanya ketika makan bersama Lissa ataupun Arresha.
Tatapan mata Lissa masih tak berpindah mengikuti setiap gerak-gerik Erros, padahal Lissa masih menunggu Erros memperkenalkan dirinya yang sebenarnya pada Arresha, tapi sampai Erros duduk dan mulai makan dia sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata apapun.
" Apakah anda menginap disini Nona Arresha? " tanya Lissa lembut, akhirnya dia sudah tidak bisa menyembunyikan lagi rasa penasaran yang sedari tadi mengusik hatinya.
" Ehmmm iya Nona Lissa " jawab Arresha canggung.
" Pantas saja kau memakai kemeja milik Erros, ternyata kau menginap disini! " ucap Lissa lagi membuat Arresha mengerutkan keningnya.
Bagaimana Nona Lissa bisa tahu kalau ini adalah kemeja milik Erros, batin Arresha.
" Ehhmm aku kemarin tidak membawa pakaian ganti jadi terpaksa memakai kemeja milik Erros... Emmm.. Apa ada masalah Nona? " tanya Arresha heran karena merasa pertanyaan Lissa terlalu sensitif.
" Tidak Nona, saya hanya penasaran saja! " jawab Lissa tersenyum lalu melanjutkan kembali sarapannya yang sempat terhenti.
Erros tertegun saat Lissa hanya diam dan tak mengeluarkan emosinya sama sekali. Padahal Lissa tahu Arresha benar-benar menginap di penthouse-nya, selama ini Lissa juga tahu tidak pernah ada seorang wanitapun selain dirinya yang di izinkan Erros memasuki penthouse miliknya. Itu berarti sudah jelas kalau Lissa langsung bisa menebak siapa Arresha ini.