Being The Second

Being The Second
Episode 21 - Aku Tidak Nyaman



Untuk masalah cinta jangan pernah mencari pembenaran di akal, karena kita tak akan pernah menemukannya.


Khusus untuk masalah cinta carilah jawabannya di hati.


••••••••••••••


Setelah menunggu cukup lama akhirnya jam kerja Arresha telah selesai. Kini Arresha tengah bersiap di ruang khusus karyawan untuk berganti baju serta merapikan loker miliknya.


Arresha merogoh saku kemudian mengambil ponsel dan hendak menghubungi Sehun dan mengabarkan jika dirinya akan pulang bersama Erros.


" Yah ponselku mati, kenapa aku bisa lupa mengisi dayanya " ucap Arresha setelah melihat ponsel miliknya mati akibat kehabisan daya baterai.


Arresha berniat meminta tolong pada Theo untuk menghubungi Sehun agar tidak perlu menjemputnya, namun sayangnya Theo tidak ada di caffe saat ini. Jadi dia terpaksa mengirim pesan kepada Sehun menggunakam ponsel milik Yoona.


Jofan ini aku Arresha. Aku ingin memberi tahu, kalau kau tidak usah ke caffe. Aku pulang bersama pacarku. Ponselku mati jadi tidak bisa menelfonmu. Jangan lupa makan malam 😉😉( Arresha )


........................


" Jadi kau mau mengajakku kemana Tuan? " tanya Arresha yang kini berjalan menyusuri lahan parkir Caffe Horizon, tempatnya bekerja.


Erris berjalan di samping Arresha dengan tenang, salah satu tangannya di masukkan pada saku celana. Banyak pasang mata yang memperhatikannya, tapi dia tetap cuek karena sudah terbiasa dengan hal tersebut.


Erris merasa sangat senang karena ini adalah kali keduanya dia bertemu dengan Arresha dan ini adalah kali pertamanya berhasil mengajak Arresha pergi bersamanya.


" Kita ke istanaku, ayo! " ucap Erris mengulurkan tangannya yang langsung di balas oleh Arresha, dan hal itu berhasil membuatnya tersenyum saat Arresha membalas uluran tanggannya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan Erris terus saja menggenggam erat tangan Arresha hingga sampai di depan mobilnya.


Sang sopir langsung siaga saat melihat Tuannya berjalan mendekat ke arahnya, dengan cekatan ia membukakan pintu mobil untuk sang majikan.


Melihat mobil Erros yang berbeda dengan yang terakhir kali di lihatnya membuat Arresha sedikit heran. Apa ini mobil barunya lagi?, pikir Arresha.


Erros kan orang kaya wajar saja jika dia selalu ganti-ganti mobil mewah seperti ini, batinnya.


" Ada apa Arresha? " tanya Erris yang melihat wajah Arresha sedikit berbeda.


" Sopirmu ganti juga? Yang waktu malam itu kemana? " tanya Arresha akhirnya, dia terlalu penasaran untuk tidak bertanya. Sopir yang waktu malam itu menjemputnya bersama Assisten Jo berbeda dengan sopir yang saat ini bersama Erros, membuat Arresha semakin merasa penasaran.


Erris terdiam " Aku menyuruhnya stand by di kantor bersama Assisten Jo " jawabnya membuat Arresha menggangguk paham.


Arresha kembali membuang pandangannya ke luar kaca mobil, memperhatikan deretan pepohonan yang menghiasi trotoar. Senja sukses menampakkan sinar dan ke agungannya, langit berwarna orange ke emasan di hiasi oleh gumpalan awan nampak begitu memukau di mata Arresha, tapi bukan hal itu yang sekarang ada di pikirannya.


Entah mengapa berdua di dalam mobil seperti ini membuat Arresha merasa tidak nyaman. Padahal ia tak pernah seperti ini sebelumnya, ia selalu merasa nyaman dan menikmati setiap detik waktunya saat bersama Erros.


Tak kurang dari satu jam akhirnya mobil itu sampai di mansion mewah milik Erris, beberapa penjaga yang selalu siaga langsung membuka pintu gerbang utama mansion saat melihat mobil sang majikan telah kembali.


Ini dimana? Aku kira Erros mengajakku ke penthousenya yang waktu itu, batin Arresha yang terus memperhatikan bangunan mewah di depannya, ini kali pertamanya melihat sebuah rumah yang menyerupai istana. Dia juga baru tahu ada istana semegah ini di kota ini.


Pantas tadi dia bilang ke istana. Ternyata benar-benar istana, batinnya lagi.


" Ayo! " ucap Erris setelah pintu mobilnya di buka oleh seorang penjaga, dia mengulurkan tangannya untuk menjemput Arresha turun dari dalam mobil.


Mau tak mau akhirnya Arresha menyambut uluran tangan Erris. Perasaan canggung dan tak nyaman terlihat jelas di wajahnya, apalagi melihat beberapa pelayan dan body guard yang berjejer rapi di samping kanan dan kirinya.


Erris terus menggenggam tangan Arresha memasuki mansion mewahnya. Mata Arresha masih saja awas menatap mansion mewah itu. Langkah kaki Erris menuntun Arresha untuk menaiki sebuah tangga menuju lantai dua, tempat dimana ia telah menyiapkan sebuah kamar mewah untuk Arresha


" Erros...ini? " tanya Arresha akhirnya, rasa penasaran benar-benar mengganggu pikirannya.


" Ini adalah istanaku, dan kelak akan menjadi istanamu juga " jawab Erris tersenyum. Jemarinya terus menuntun Arresha untuk mengikuti langkahnya.


Arresha melihat dua orang pelayan berjejer rapi di sebelah pintu kamar, Erris terus menuntunnya mendekat kepada para pelayan itu.


" Bersiaplah, mereka yang akan membantumu " ucap Erris setelah sampai di depan kamar milik Arresha.


" Bersiap? Memangnya kita mau kemana? " tanya Arresha bingung, karena Erris memang tak mengatakan apapun mengenai hal ini.


" Aku ingin makan malam berdua bersamamu " jawabnya singkat.


Arresha baru ingin bertanya lagi namun dia langsung mengurungkan niatnya saat salah seorang pelayan memberikan salam kepadanya.


Arresha semakin tak nyaman karena ini, dia hanyalah seorang pelayan sama seperti mereka. Jadi wajar jika Arresha merasa tak nyaman dengan situasi seperti ini.


" Selamat malam Nona, kami yang akan membantu anda bersiap " ucap salah seorang pelayan sopan.


" Ehh? " mata Arresha menatap Erris yang dia kira Erros. Namun Erris bergeming, dan hanya tersenyum tipis kepadanya kemudian mengangguk pada Arresha.


Biasanya Erros akan langsung paham, jika Arresha merasa tak nyaman dia tak akan memaksanya seperti ini. Tapi mengapa dia malah diam dan hanya tersenyum seperti itu.


" Mari nona, bathroomnya berada di sebelah sini " ujar pelayan itu mengarahkan Arresha menuju pintu bathroom yang berada di bagian kiri dari kamar itu.


Benar-benar istana, bahkan kamar mandinya saja semewah ini, batin Arresha


" Ehmmmm...bisakah kalian keluar saja. Aku akan membersihkan tubuhku sendiri " ucap Arresha ragu karena kedua pelayan itu terus saja mengekor langkahnya hingga memasuki bathroom.


" Baiklah Nona " jawab salah seorang pelayan tersenyum ramah. Mereka paham jika Arresha merasa tak nyaman.


" Saya akan menunggu anda di walk in closset Nona, pintunya di sebelah sini " ujar salah seorang lagi menjelaskan. Dia melangkah menuju sebuah pintu di dalam bathroom yang menghubungkannya menuju walk in closset. Arresha hanya mengangguk patuh, dia tak ingin bertanya apapun lagi.


Arresha menanggalkan pakaian yang di kenakannya, ia lebih memilih untuk membersihkan tubuhnya di bawah guyuran shower daripada berendam dalam bathup. Selesai mandi ia mengambil handuk model jubah berwarna putih yang tersedia di towel rack (rak handuk).


Setelah itu barulah Arresha melangkahkan kakinya menuju sebuah pintu yang tadi di tunjukkan oleh pelayan, dengan ragu tangannya meraih handle pintu dan membukanya perlahan.


" Mereka kaku sekali " gumam Arresha saat melihat kedua pelayan itu hanya diam tak mengeluarkan suara apapun bahkan sampai Arresha selesai mandi.


" Mari Nona " ucap seorang pelayan menuntun Arresha menuju meja rias yang berada di dalam walk in closset itu. Berbagai jenis make up tersedia disana, semuanya lengkap. Begitu juga dengan deretan parfum mahal dari berbagai brand terkenal.


" Bisakah kalian tak sekaku itu, aku jadi merasa takut melihat kalian " ucap Arresha jujur membuat kedua pelayan itu saling melempar pandangan bingung.


" Maafkan kami Nona, kami hanya menjalankan perintah saja " jawab mereka kompak membuat Arresha menghembuskan nafasnya kasar.


Ya Tuhan, aku jadi takut melihat wajah mereka. batin Arresha berusaha mencuri pandang ke arah kedua pelayan yang tengah sibuk memoleskan make up dan menata rambutnya.


" Ehmmmm,, namaku Arresha. Kalian siapa? " tanya Arresha yang tak menyerah, dia ingin mencairkan suasana ini. Dia bisa mati gaya kalau seperti ini terus.


" Saya Tina " jawab pelayan yang kini tengah memoleskan make up ke wajahnya.


" Saya Vivi Nona " jawab pelayan yang menata rambutnya.


Mereka hanya menjawab singkat pertanyaan Arresha, membuat Arresha mulai berpikir lagi pertanyaan apa yang akan dia tanyakan lagi.


" Kalian sudah lama bekerja disini? " tanya Arresha penasaran.


" Tuan Erris hanya mengundang kami jika ada pekerjaan Nona " jawab pelayan yang bernama Vivi membuat Arresha bingung.


" Erris? " tanya Arresha memastikan.


" Ma..maksud sa..saya Tuan Muda Erros Nona " jawab pelayan itu gugup. Bagaimana dia bisa keceplosan menyebut nama tuannya, tadi mereka sudah sangat di wanti-wanti mengenai hal ini.


" Selesai Bona, mari saya akan membantu anda untuk berganti baju " ujar pelayan yang bernama Tina berhasil membuat perhatian Arresha teralihkan.


..............................


Erris mengetuk pintu kamar dimana Arresha berada, setelah Arresha menjawab salamnya barulah ia masuk ke dalam.


Matanya langsung terhipnotis dengan kecantikan Arresha yang mengenakan gaun dengan model bodycon dress berlengan sabrina warna hitam yang nampak begitu sempurna. Rambutnya yang berwarna coklat sengaja di gerai dan berhasil menunjukkan kesan sexy dan sangat menggoda.


Erris tak dapat mengalihkan matanya dari pemandangan indah yang ada di depannya saat ini. Benar-benar terpukau dengan kecantikan Arresha dan bentuk tubuhnya yang sangat menggoda di matanya Pilihannya tepat, gaun yang dia pilih sangat sempurna melekat pada tubuh Arresha.


" Erros, aku merasa tak nyaman memakai ini " ucap Arresha setelah melihat mata Erris yang tak mengalihkan pandangannya sedetikpun dari tubuh Arresha.


Ehmmmm.....Erris berdehem untuk menetralkan perasaannya yang kini tengah bergelora dengan hasrat.


" Kau sempurna sayang, nanti kau akan nyaman " ucap Erris mendekat ke arah Arresha yang kini berdiri di samping kaca. Tangannya meraih tubuh Arresha dan memeluknya dari belakang. Erris menghirup wangi tubuh Arresha yang berhasil membangkitkan gairah lelakinya.


" Bisakah aku ganti saja? Baju ini terlalu ketat menurutku " ucap Arresha, jemarinya meraih tangan Erris yang kini mendekapnya begitu erat, berusaha melepaskannya perlahan agar tak membuat Erris tersinggung.


" Kau cantik sayang " jawab Erris.


Jantung Arresha terus berdebar semenjak saat Erris tak mengalihkan pandangan matanya, melihat tatapan mata Erris entah mengapa ia malah jadi merasa takut.


Erris melepaskan pelukannya, tangannya kini memutar tubuh Arresha agar menghadap ke arahnya. Erris tersenyum tipis saat jemarinya menyusuri wajah mulus Arresha, perlahan tangan Erris menyusuri leher mulus Arrrsha dan menahan tengkuknya. Erris menatap mata Arresha, tatapan mata yang tak Arresha kenali sebelumnya.


Hembusan nafas Erris kian lama semakin terasa mengenai wajah Arresha saat bibirnya mulai mendekat pada bibir Arresha. Menyadari hal itu entah mengapa membuat Arresha langsung memalingkan wajahnya, beruntung Erris tak terlalu kencang menahan tengkuknya.


" Ehmmmmm... Katanya kau mau mengajakku makan malam? " tanya Arresha membuat Erris tersenyum.


Sikap Arresha yang berusaha menghindar membuat Erris tersenyum, dia menjadi semakin penasaran karenanya. Selama ini tak pernah ada yang menolak sentuhannya, malah para wanita itu yang secara sukarela memberikan tubuh mereka untuk Erris nikmati.


" Baiklah, ayo... " jawab Erris kemudian meraih jemari Arresha dan menuntunnya keluar berjalan menuju halaman belakang mansionnya