Being The Second

Being The Second
Episode 29 - Aku Tidak Pantas Untuk Itu



Lissa dan Erros akhirnya meninggalkan ruang perawatan Tuan Hilton setelah dokter mengatakan jika Tuan Hilton harus beristirahat kembali. Lissa sengaja berjalan terlebih dahulu dan segera meninggalkan Erros, namun cekalan tanggan Erros berhasil menghentikan langkah kakinya.


" Lissa.. " panggil Erros lirih merasa ragu, ia pun tak tahu mengapa ia malah memanggil Lissa dan menahan kepergiannya, dia hanya masih ingin bersama dengan Lissa. Rasanya tidak etis membiarkan Lissa pergi begitu saja tanpa berbicara apapun.


Lissa hanya diam menatap Erros membuat suasana menjadi hening, namun Erros sepertinya sangat enggan untuk membuka mulutnya. " Apa kau sudah membuat keputusanmu? " tanya Lissa dingin, sedingin tatapan matanya.


Sebenarnya ia tak pernah ingin menanyakan hal ini, tapi karena Erros menahannya dan hanya diam tak mengatakan apapun jadi terpaksa ia menanyakannya. Lagi pula ia memang butuh kejelasan agar semuanya gamblang dan ia jadi mengerti harus bagaimana bersikap pada Erros.


Erros terdiam, dia tak tahu harus menjawab apa, susunan kalimat yang kemarin ia pikirkan berulang kali mendadak hilang entak kemana. Erros menganggukan kepalanya pelan. " Maafkan aku, aku yang akan mengatakannya sendiri pada Paman Louis." ucap Erros menatap mata Lissa.


Tekatnya sudah bulat, Erros sangat mencintai Arresha dan hanya ingin menikah dengan gadis itu. Angan hidup bersama dengan Arresha dan anak-anak mereka yang lucu selalu menghiasi mimpi indahnya, membuat hatinya langsung tenang saat sekelebat bayangan Arresha dan anak-anaknya yang lucu menyambutnya sepulang dari kantor dengan senyuman merekah. Sungguh hatinya dan juga jiwanya serasa di ledakkan oleh luapan kebahagiaan yang tiada tara jika itu benar-benar terjadi dalam hidupnya.


Lissa terperangah mendengar jawaban Erros. Benarkah itu?! Pernikahan yang selalu ia impikan ternyata hancur begitu saja, semudah itukah?! Hatinya serasa langsung di tikam ribuan belati, perih menusuk hingga bagian terdalamnya, rasa sakit yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


Sebisa mungkin Lissa menarik paksa senyum di bibirnya, matanya yang mulai berkaca sebisa mungkin ia tahan agar bulirnya tidak jatuh begitu saja. Ia tak ingin terlihat lemah dan malah membuat Erros merasa kasihan kepadanya, dia memang sudah tahu pasti Erros akan lebih memilih gadis itu ketimbang dirinya. Tapi entah mengapa hatinya tak pernah siap menerimanya.


Lissa menghela nafasnya dalam. " Baiklah. Aku harus pergi sekarang." jawab Lissa menarik lengan tangannya. Air mata yang sekuat tenaga ia tahan langsung jatuh di detik pertama ia membalikkan badannya.


Lissa terus berjalan dan tak ingin berbalik, dia takut jika dia berbalik yang ada malah dia akan semakin menangis dan semakin terlihat menyedihkan. Setelah lift khusus di lantai D itu terbuka Lissa buru-buru masuk dan menekan tombol close agar ia bisa secepatnya menjauh dari pandangan mata Erros.


Tubuhnya langsung lemas dan hampir saja terjatuh di dalam lift itu, beruntung dinding lift tak jauh dari punggungnya, sehingga ia bisa menyenderkan punggungnya pada dinding kaca lift itu.


Lissa meremas dadanya yang terus berdetak dengan cepat, rasanya sangat menyiksa dan menyakitkan seperti membunuhnya secara perlahan. Secercah harapan yang timbul setelah ia menemui Arresha kemarin langsung pupus. Dia pikir pernikahannya masih bisa di selamatkan tapi ternyata malah Erros sendirilah yang mengakhiri semuanya.


.................................


°° Rumah Arresha °°


Ponsel Arresha yang terus saja berdering membuatnya berdecak kesal, perutnya terasa sangat kekenyangan karena terlalu banyak makan dan dia sedang malas untuk mengambil ponselnya yang berada di kamar.


Jofan dan teman-temannya sudah pulang dari rumah Arresha, bahkan dengan tak tahu malunya Byun dan Chan berkata akan berkunjung lagi ke rumah Arresha, membuat Jofan mendengus kesal. Jika bukan Jofan yang memaksa mereka untuk pulang pasti mereka masih membuat kerusuhan di rumah Arresha.


Dengan malas Arresha menyeret kaki menuju kamarnya. Nama Erros terpampang pada display ponsel Arresha yang terletak di atas kasur. Arresha membisu, dia tidak ingin mengangkat telfon dari Erros. Arresha langsung mematikan ponselnya, dan membanting tubuhnya di kasurnya yang empuk.


" Untuk apa dia menelfonku lagi?! Mau berbohong apa lagi?! " Arresha mendengus kesal. Suasana hatinya yang tadi sedikit membaik kembali berubah menjadi kelam. Rasa sedih dan juga kecewa kembali menyusup masuk dalam hatinya.


Arresha melepaskan kalung dan gelang pemberian Erros dulu, dia memutuskan untuk mengembalikannya pada Erros. Arresha cukup sadar diri, Erros memang bukanlah di takdirkan untuk dirinya. Bukannya ia ingin menyerah begitu saja pada takdir. Jika saja Erros belum bertunangan dan akan menikah pasti ia akan berjuang untuk cintanya, tapi keadaannya berbeda.


Hatinya mungkin sakit tapi hati Lissa pasti jauh lebih sakit dari pada dirinya. Arresha memang sangat mencintai Erros tapi cinta Lissa pasti jauh lebih besar dari pada dirinya. Arresha merasa belum tentu dia bisa bersikap seperti Lissa yang mau berbesar hati merelakan Erros pergi dan membatalkan pernikahan yang tinggal menunggu hitungan hari itu.


Arresha memutuskan untuk kembali membenamkan tubuh mungilnya di bawah balutan selimut, lebih baik ia memaksakan diri untuk tidur agar bisa melupakan perasaan sakit hatinya.


........................


Ding dongggggg........


Suara bel yang terus saja berbunyi membuat Arresha berdecak kesal. Ia masih betah dengan tidurnya dan sedang tidak ingin di ganggu oleh siapapun saat ini. Dengan malas Arresha berjalan meninggalkan kamarnya menuju pintu utama rumahnya.


Erros langsung tersenyum hangat setelah Arresha membuka lebar pintu rumahnya. Berulang kali ia mencoba menghubungi Arresha namun panggilannya selalu di alihkan, maka dari itu Erros memutuskan untuk menemui Arresha langsung ke rumahnya.


" Masuklah. " kata Arresha berjalan mendahului Erros, langkahnya menuntun Eros menuju ruang tamunya.


Keheningan Arresha membuat Erros menjadi bertanya-tanya dengan hal apa yang terjadi pada kekasihnya itu. Arresha benar-benar kecewa pada Erros. Pria yang selalu ia percayai sepenuh hatinya, pria yang dia yakin tak akan pernah menyakitinya itu justru adalah pria yang membuat hatinya hancur berkeping-keping.


Arresha meminta Erros menunggu sejenak, dia berjalan menuju kamarnya untuk mengambil kalung dan gelang yang tadi di lepaskannya kemudian mengembalikannya pada Erros, membuat Erros semakin bingung dengan tingkahnya.


" Aku tidak pantas untuk itu, calon istrimu lah yang lebih pantas menerimanya. " ucap Arresha memandang Erros yang hanya bisa terdiam menatapnya.


" Nona Lissa sudah menceritakan semuanya kepadaku, tiga bulan lagi kalian akan menikah. Aku tidak menyangka kau menyembunyikan kebohongan yang begitu besar dariku. " imbuh Arresha, suara dan sorotan matanya penuh dengan kekecewaan.


Lissa datang menemui Arresha?!


" Tidak Arresha, aku sudah mengatakannya dari awal. Aku hanya akan menikah denganmu, aku akan membatalkan pernikahanku dengan Lissa. " jawab Erros, suaranya berat seberat hatinya sekarang.


" Dari awal aku juga sudah mengatakannya padamu Erros, aku paling benci di bohongi. Lupakan aku dan menikahlah dengannya, dia adalah wanita yang paling tepat untukmu." kata Arresha lirih namun tegas.


Erros terpaku menatap Arresha, otaknya sudah berhasil mencerna ucapan Arresha dengan baik, tapi berbeda dengan hatinya yang masih tak percaya. Dia sudah berjuang selama ini agar bisa berada di puncak, jalannya hanya tinggal beberapa langkah lagi. Tinggal beberapa langkah lagi agar dia bisa mewujudkan mimpinya untuk menikah dengan Arresha, gadis mungil yang sangat dia cintai.


" Menikah dengan Lissa?! " tanya Erros tak percaya Arresha malah menyuruhnya untuk menikah dengan Lissa.


Ketika Arresha tak mampu menjawab pertanyaan Erros, lelaki itu memilih bangkit dari kursinya dan mendekat pada Arresha. Kaki Erros bertumpu pada lantai kemudian mensejajarkan tubuhnya dengan Arresha yang masih bergeming, duduk di kursinya.


Suara Erros terdengar menuntut, tatapannya tajam menghunus jantung Arresha, dan Arresha tak bisa menghindar lagi. Pelupuk mata Arresha mulai di penuhi cairan bening yang siap meluncur jatuh membasahi pipinya.


" Menikahlah dengannya dan lupakan saja aku! " sekali lagi Arresha mengulang kalimatnya dengan perlahan agar Erros dapat mendengar dan mencernanya dengan baik.


Arresha merasakan isak yang menjalar dan menyiksa di tenggorokannya mulai merambat naik, menciptakan rasa panas yang membakar matanya dan membuat nuansa panas mengambang, mengalir dari sudut matanya dan membasahi permukaan kulit di pipinya yang mulus.


Erros sendiri tengah berusaha memadamkan kobaran amarah yang menumpuk di jiwanya, kilatan matanya tak berpaling barang seinchi-pun. Namun emosinya langsung lenyap ketika melihat air mata Arresha yang menetes seakan turut membasahi hatinya.


" Aku sudah membatalkan pernikahannku dengannya, dan kau tidak akan bisa memaksaku. Jika ada wanita yang akan aku nikahi nanti, itu hanya kau Arresha! " kata Erros lembut namun suaranya berat. Dia ingin meyakinkan Arresha bahwa semuanya akan baik-baik saja dan Arresha tak perlu lagi menyuruhnya menikah dengan Lissa.


" Tapi aku tidak akan bisa menikah denganmu Erros. Kau harus sadar itu, duniaku dan duniamu sangat jauh berbeda. Aku hanyalah seorang pelayan caffe biasa dan kau adalah pemilik dari puluhan perusahaan terbesar yang ada di negara ini Erros. Aku bukanlah wanita yang tepat untukmu! "


" Aku bahkan tidak peduli kau adalah wanita yang tepat ataukah bukan karena yang aku mau hanya kau, hanya kau Arresha! " jawab Erros menggebu.


Untuk apa dia bersusah payah mendapatkan semuanya jika akhirnya Arresha tak bisa menjadi miliknya. Erros bahkan rela melepaskan semuanya dan hidup sederhana tanpa gelimang harta hanya demi Arresha. Cinta benar-benar membutakan mata Erros, membuatnya tunduk patuh sepenuhnya pada sebuah kata bernama Cinta.


" Aku sudah membatalkan pernikahanku dengan Lissa, sekeras apapun kau memaksaku itu hanya akan menjadi hal yang sia-sia. Aku akui, aku memang bersalah. Seharusnya aku membatalkan perjodohan itu semenjak aku kembali dari Osaka hingga semua tak berakhir rumit seperti ini." ucap Erros lantang, kedua telapak tangannya menangkup wajah Arresha agar terus menatapnya, tak membiarkan Arresha berpaling barang sedetikpun.


" Maafkan aku yang telah berbohong dan membuatmu kecewa padaku. Aku berjanji, aku tak akan pernah membuatmu kecewa Arresha. Aku mencintaimu. " sambungnya lagi langsung memeluk erat tubuh Arresha yang hanya bisa pasrah menerima pelukannya.


Mendengar ucapan Erros benar-benar membuat Arresha semakin dilanda kebingungan yang sangat luar biasa. Di satu sisi dia merasa senang karena itu berarti Erros tidak akan menikah dengan Lissa, tapi di sisi lain dia merasa telah menjadi orang yang sangat jahat bahkan mungkin paling jahat dalam hidup Lissa.


Bolehkah saat ini dia merasa senang di atas penderitaan orang lain?! Tapi tidak! Dia tak sejahat itu, bagaimana dia bisa berbahagia setelah membuat hati wanita lain hancur berkeping-keping.