
Mendengar pertanyaan Arvin tentu saja membuat Erros merasa sungkan, kebingungan menyusun kalimat yang tepat untuk dia jadikan jawabann.
Arresha yang mendengar pria itu menanyakan Lissa menjadi merasa semakin tak nyaman, pria itu benar. Saat ini Erros masih berstatus sebagai calon suami Lissa, bagaimana mungkin Erros malah pergi makan malam di restaurant mewah seperti ini dengannya, yang bisa di bilang sebagai wanita simpanannya atau mungkin selingkuhannya, bahkan juga mungkin dia bisa di sebut perebut milik orang lain. Entahlah apa itu namanya, intinya Arresha merasa tak benar dia malah makan malam dengan enak disini bersama Erros.
" Lissa...tidak ikut." jawab Erros akhirnya, matanya menangkap wajah Arresha yang kini tertunduk, dia pasti merasa tak nyaman karena ini.
Arvin yang mendapat jawaban seperti itu tentu saja semakin di buat heran.
" Tidak ikut? " tanya Arvin memastikan, kerutan di dahinya semakin dalam saat melihat gadis yang duduk di hadapan Erros saat ini tengah tertunduk.
" Iya...dia tidak ada disini, dia tidak ikut." Erros menegaskan sekali lagi.
Arvin yang sebenarnya ingin bertanya lagi akhirnya memilih diam setelah melihat wajah Erros yang tak nyaman dengan kehadirannya disana. Dia hanya memilih untuk berfikir positif, mungkin saja Lissa memiliki urusan yang lain dan pasti Lissa mengetahui jika Erros saat ini tengah bersama gadis lain. Bisa jadi gadis ini adalah rekan bisnisnya. Arvin mencoba untuk berfikir se-realistis mungkin.
" Ehmmmm.... Ya sudah, aku harus segera pergi sekarang, nikmati makan malammu Erros, selamat malam." pamit Arvin sebelum pergi meninggalkan Arresha dan juga Erros.
Setelah kepergian Arvin, Arresha baru berani untuk mengangkat wajahnya dan menatap Erros. Dia merasa malu sekarang, benar-benar malu. Kenapa tadi dia tidak memikirkan hal ini terlebih dahulu sebelum menyetujui ajakan Erros. Harusnya dia berfikir pasti akan ada yang mengenali siapa Erros ketika sedang bersamanya.
Arresha menatap punggung pria bertubuh jangkung itu, perasaannya kini berkecambuk, ia menatapnya nanar hingga pria itu menghilang dari pandangannya.
" Tidak usah di pikirkan baby, mereka pasti akan mengerti." Erros mengelus punggung tangan Arresha dan menatap Arresha yang kini berwajah sendu.
Arresha yang hanya diam membuat suasana menjadi hening, hatinya melesak mencari pembenaran akan posisinya yang memang rumit, tapi tak di temukan sebuah katapun yang bisa membenarkannya.
" Bagaimana jika aku adalah Lissa?" tanya Arresha matanya meredup, seredup hatinya sekarang.
" Apa maksudmu sayang?" tanya Erros bingung, tak mengerti maksud ucapan Arresha padanya.
" Jika aku adalah Lissa aku pasti merasa sangat hancur sekarang, tunanganku sedang asyik makan malam dengan wanita yang merebut tunangannya, dan aku...terlalu sibuk mengais puing-puing yang mungkin saja masih tersisa setelah kau hancurkan." lirih Arresha, matanya menatap sendu pada Erros yang hanya diam mendengarkannya berbicara.
" Please...kita sudah membicarakan masalah ini sebelumnya. Dan aku tidak akan merubah keputusanku Arresha, aku tidak akan bisa menikah dengan Lissa." ucap Erros tegas, dia tak ingin membahas masalah ini sekarang, ini adalah makan malamnya bersama Arresha setelah hubungannya cukup membaik.
Arresha hanya bisa tersenyum kecut mendengar jawaban Erros, rasanya berbicarapun juga percuma, dia kenal Erros dengan segala tekadnya. Jika dia memang sudah memutuskannya dan bertekad, dia bisa apa?
..............................
Arvin masih duduk di belakang kemudi mobilnya, mengusap pelipisnya yang tak terasa gatal sama sekali, dia merasa bimbang, apakah benar jika dia menanyakannya pada Lissa ataukah dia harus menceritakan tentang apa yang di lihatnya tadi.
Dia melihatnya dari saat pertama kali Erros memasuki restaurant itu, dia memperhatikan saat Erros menggenggam erat tangan gadis itu, tidak mungkin sebenarnya jika itu adalah rekan bisnisnya, terlalu sensitive rasanya.
Gadis itu bahkan terlihat jauh lebih muda dari Erros, tatapan matanya pada gadis itu bahkan jauh lebih teduh dari tatapannya pada Lissa. Dan setahu Arvin selama ini Erros tidaklah mempunyai seorang sepupu ataupun sejenisnya.
Mungkinkah Erros tega mengkhianati Lissa?! Tapi sejauh yang aku tahu selama ini hubungannya dengan Lissa tak pernah ada masalah, bahkan mereka selalu tampak mesra dan kompak dalam segala hal, pikir Arvin bingung.
Lissa adalah saudara sepupu yang paling baik yang dia punya, yang paling dekat dengan dirinya. Jika ada sesuatu hal Lissa pasti menceritakan kepadanya, begitu pula dengan dirinya. Barangkali Lissa tak mengetahui hal ini hingga tak bercerita kepadanya.
Arvin merogoh saku celananya, meraih ponsel miliknya. Dengan lincah jemarinya menggeser layar untuk mencari kontak Lissa yang tersimpan dalam ponsel pintarnya. Setelah mendapat jawaban dari Lissa, akhirnya Arvin memutuskan untuk menemui Lissa di penthouse-nya.
........................
Suara bel yang terus berbunyi akhirnya memaksa Lissa untuk menggulung selimutnya, tak menyangka jika Arvin akan datang secepat ini.
Seharian ini dia terlalu malas untuk beraktifitas dan lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar. Bahkan sudah satu minggu lebih dia tak pergi ke kantornya, sangat sulit untuk memfokuskan diri dengan tumpukan berkas yang menggunung jika suasana hatinya sedang kacau seperti sekarang ini.
Dengan malas Lissa menyeret kakinya yang jenjang bak porselen untuk membuka pintu.
Lissa memencet sandi penthouse-nya sebelum kemudian pintu itu terbuka, menampakkan saudara sepupunya yang berwajah tampan bak selebriti kenamaan.
" Tumben sekali kesini? Sedang di kejar wanita yang mana lagi? " tanya Lissa penuh hardik, tangannya besedekap, menyenderkan punggungnya yang mulus pada daun pintu.
Setelah terakhir kali Arvin datang ke penthouse-nya hanya untuk bersembunyi dari kejaran wanita-wanita yang ia campakan, dan sekarang ia datang lagi tentu saja Lissa menaruh curiga pada sepupunya itu.
Arvin menipiskan bibirnya, terkekeh mendengar sindiran Lissa padanya. " Ohh ayolah sepupuku sayang, aku tidak sejahat itu sampai kesini jika hanya membutuhkanmu saja." jawabnya tertawa.
Arvin menerobos masuk ke dalam penthouse sepupunya itu, tak peduli si pemilik masih setia bersedekap memperhatikan dirinya di ambang pintu dan menatapnya penuh kritik.
" Cihhh...lalu mau apa kau datang kemari, biasanya datang kalau ada maunya saja?! " cibir Lissa, berjalan memasuki penthouse-nya.
Lissa hanya memperhatikannya sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah saudaranya itu. Walaupun kadang menjengkelkan tapi Arvin adalah saudara yang selalu ada saat dia susah ataupun senang.
" Aku hanya merindukan sepupuku yang sangat cantik ini. Ohh ayolah Lissa, apa kau tidak merindukan saudaramu yang paling tampan ini?!" Arvin bersender pada bantalan sofa memperhatikan Lissa yang berjalan melewatinya kemudian duduk di sofa, tak jauh darinya.
Lissa mencebik mendengar pujian Arvin pada dirinya sendiri, pantas saja banyak wanita yang di buatnya patah hati dengan sikapnya itu. Selain wajahnya yang tampan dan uangnya yang tak akan pernah habis, dia masih punya satu keunggulan lagi yaitu mulutnya yang sangat manis dan mengandung racun.
" Hahaha iya-iyaa....terserah kau saja yang penting kau bahagia." jawab Lissa akhirnya.
Arvin menegapkan punggungnya kemudian menatap Lissa yang kini beranjak berdiri, melangkah menuju aquarium kesayangannya.
" Kemarin aku mampir ke kantormu, tapi sekertarismu bilang kau sedang sakit, memangnya kau sakit apa?" tanya Arvin menelisik.
" Aku hanya merasa kurang enak badan saja, dan ingin beristirahat." Lissa berdalih, mengalihkan pandangannya pada aquarium besar yang menghiasi ruang tamunya, berisi berbagai ikan yang mungil dan lucu.
Arvin memperhatikan ekpresi Lissa yang berubah muram, paham pasti ada yang di sembunyikan oleh adik sepupunya itu. Tapi dia tak ingin bertanya lebih jauh, biar saja Lissa yang akan menceritakan sendiri padanya jika ia merasa sudah siap.
Arvin beranjak berdiri meninggalkan Lissa, kaki jenjangnya melangkah menunu pantry yang terletak tak jauh dari ruang tamu itu.
" Oh ya, inikan malam minggu, kau tidak kencan bersama Erros?" tanya Arvin kembali membawa dua kaleng minuman bersoda yang di ambilnya dari kulkas tadi.
" Ehmmm... Erros sangat sibuk akhir-akhir ini. Tadi aku baru saja menelfonnya." jawab Lissa berusaha tersenyum, tidak mungkin dia menjawab Erros sudah memutuskan hubungan dengannya.
" Menelfon?" ulang Arvin heran, mendapat respon berupa anggukan kepala dari Lissa. Arvin menaruh minuman kaleng itu di atas meja, kemudian membuka satu untuknya dan meminumnya.
" Dia masih lembur di kantor."
Lissa melangkah meninggalkan Arvin yang kini tengah duduk dan memperhatikannya terus-menerus. Jemarinya yang lentik meraih sebuah remote yang terletak di atas nakas di samping jendela besar yang mengarah ke area balkon, ia menekan tombol pengatur agar jendela besar itu terbuka.
Semilir angin malam yang dingin langsung menyambutnya begitu Lissa melangkahkan kaki keluar menuju area balkon. Arvin yang tadi hanya diam memperhatikan Lissa akhirnya memutuskan untuk menyeret langkahnya mengikuti Lissa yang kini tengah berdiri di samping pagar pembatas, kedua tangannya bertumpu pada pagar pembatas itu.
Lissa memperhatikan pemandangan ibukota yang nampak memukau jika di lihat dari atas balkon ini, gedung-gedung yang menjulang tinggi mencakar langit nampak berjejer rapi, lampu-lampu gedung yang tampak bersinar dan berkelap-kerlip dengan indah, dan deretan mobil di jalanan yang terlihat sangat kecil jika di lihatnya dari atas balkon seperti ini.
Dan sepertinya langitpun tak ingin ketinggalan eksistensinya, gemerlap ribuan bintang yang menghiasi langit hitam menambah cantik pemandangan kota Seoul malam itu. Berbading terbalik dengan hati Lissa yang terus saja mendung dan menggelap akhir-akhir ini.
" Lembur?! Di kantor?! " gumam Arvin, bibirnya menipis kesal. Jelas-jelas tadi dia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Erros sedang asyik bersama seorang gadis di restaurant, kenapa Erros malah berbohong pada Lissa dengan mengatakan hal demikian.
" Aku rasa dia memang workaholic hingga akhir pekan seperti ini lebih memilih untuk lembur di kantor dari pada pergi berkencan atau datang bertemu calon istrinya." Arvin mendesis kesal. Tak menyangka jika Erros yamg selama ini di kenalnya dengan baik tak jauh berbeda dengan pria-pria di luaran sana yang suka bermain wanita.
Susah payah Lissa berusaha mengurai senyuman mendengar kalimat penuh sindiran yang di lontarkan Arvin, jika dugaannya benar makan Arvin telah mengetahui masalahnya dengan Erros saat ini.
" Mungkin ada sesuatu yang penting yang harus segera dia selesaikan." tutur Lissa, ekspresinya berubah muram, ia memilih untuk membuang mukanya,menahan butiran air mata yang siap untuk kembali merangsek, menerobos batasnya.