Being The Second

Being The Second
Episode 44 - Kabar Kehamilan



...°° Seoul °°...


Jofan menghentikan mobilnya di sebuah kedai ramen yang namanya sudah cukup terkenal di kota itu.


" Kata orang makan pedas bisa di jadikan sebagai pelampiasan kalau orang sedang kesal ataupun marah." ucap Jofan yang sibuk mencari tempat parkir yang di anggapnya cukup strategis.


Arresha mencebikkan bibirnya kasar mendengar penuturan Jofan sementara tangannya masih saja sibuk menghapus air matanya yang sesekali masih menetes di pipinya.


Jofan menghela nafasnya saat Arresha masih saja menangis, susah payah ia mencoba menghiburnya tapi gadis itu masih saja murung dan tak mau bercerita apapun kepadanya.


Sesungguhnya Jofan paham betul siapa yang bisa membuat gadis seceria Arresha menjadi penuh duka seperti ini. Siapa lagi kalau bukan kekasihnya yang sialan itu?!


Tapi Jofan merasa penasaran karena terakhir kali Arresha bercerita jika dia ingin berusaha menerima dan memaafkan kekasihnya itu, lalu mengapa sekarang dia malah sedih seperti ini?!


Lebih baik tidak usah bertemu lagi kalau hanya bisa memberi luka dan membuat air mata! pikir Jofan kesal.


" Sekarang hapus air matamu dulu Arresha. Kalau kau turun dengan wajah seperti itu pasti aku di kira telah menyakitimu." bujuk Jofan memberikan sekotak tissue basah yang di ambilnya dari dalam dashboard.


Arresha bergeming tak berniat mengambil tissue basah yang di sodorkan kepadanya. Dengan sengaja membuang wajahnya ke arah jendela.


Jofan menipiskan bibirnya, menarik lagi kesabaran di hatinya. Sadar saat ini bukan waktunya untuk mengkonfrontasi Arresha.


Di ambilnya beberapa lembar tissue itu, sementara tangannya yang lain meraih dagu Arresha dengan lembut, membuat gadis itu menghadap kepadanya. Dengan sabar Jofan membersihkan wajah cantik Arresha, menghapus air matanya dan mengelap kelopak mata Arresha yang terlihat sembab.


" Stttt.... Jangan menangis lagi." Jofan menarik tubuh Arresha kemudian mendekapnya. " Aku disini.. Sudah jangan menangis." ujarnya penuh perhatian.


" Jofan...." suara Arresha terdengar parau. " Terimakasih selalu ada untukku." ucapnya penuh ketulusan.


Jofan mengulas senyum. " Aku akan selalu ada untukmu." Jofan mengeratkan pelukannya sembari mengelus punggung Arresha dengan lembut. " Sudah sekarang kita turun mari makan ramen kau juga bisa memesan soju sampai kau puas. Aku yang akan mentraktirmu."


Tak membantah Arresha hanya diam saat Jofan membukakan pintu mobil untuknya. Walaupun dia sama sekali tidak merasa lapar namun setidaknya dia harus menghormati kebaikan Jofan.


Sebenarnya bukanlah semangkuk ramen pedas dengan uap mengepul yang membuat Arresha bersedia turun tapi karena soju yang sepertinya sangat dia butuhkan saat ini, setidaknya untuk melupakan rasa sakit di hatinya.


................................


...°° Jeju Island °°...


Perlahan Lissa membuka matanya yang masih saja terasa sangat berat, rasa sakit di kepalanya seakan menusuk-nusuk dari dalam membuat matanya semakin rapat memejam berharap rasa nyeri itu segera pergi saja.


" Nona. Anda sudah sadar?" sebuah suara yang terdengar asing di telinganya berhasil membuat Lissa mengumpulkan sedikit saja kekuatannya untuk membuka mata.


Cahaya lampu yang menyala terang langsung menyilaukan matanya, butuh beberapa detik bagi Lissa bisa mengerjapkan matanya agar matanya yang sedari tadi menutup bisa menyesuaikan terangnya cahaya ruangan itu.


Lissa perlahan membuka matanya yang indah, mengamati sekelilingnya yang terasa asing. Berbeda dari kamar hotelnya tadi yang di dominasi oleh cat berwarna krem, tempat ini keseluruhan dindingnya berwarna putih terang.


" Untunglah anda segera sadar Nona." suara itu kembali menyahut membuat perhatian Lissa langsung teralih pada sosok wanita separuh baya yang kini berdiri di sampingnya.


" Dokter?!" tanya Lissa memastikan.


" Anda di rumah sakit Nona, tadi anda pingsan." jawab dokter itu tersenyum.


" Seharusnya anda bisa menjaga diri anda lebih baik karena biasanya kehamilan trimester pertama membuat beberapa orang mengalami morning sickness dan anda juga harus lebih banyak beristirahat, jangan terlalu banyak pikiran karena itu dapat mempengaruhi kondisi janin anda." jelasnya lagi.


Telinga Lissa seakan kehilangan fungsinya saat dokter wanita itu menerangkan panjang lebar mengenai kondisinya. Hanya kata kehamilan trismester pertama serta janin anda -lah yang terus terngiang-ngiang di telinganya.


" Hamil?!" ucap Lissa terperangah mendengar kata yang keluar dari mulutnya sendiri.


Sementara dokter itu hanya mengangguk dan menatapnya heran.


" Saya hamil dokter?!" tanya Lissa lagi, jantungnya langsung berdebar kencang saat dokter itu sekali lagi menganggukkan kepalanya dengan sangat yakin dengan hasil pemeriksaannya.


" Kehamilan anda memasuki usia 7 minggu Nona." jelas dokter itu dengan senyum khas ke ibuannya.


Wajah Lissa semakin memucat, jantungnya semakin kencang memburu.


Mengapa dia malah hamil, jika saja pernikahannya berhasil di langsungkan dia pasti akan penuh suka cita mengetahui kabar kehamilannya.


Tapi sekarang? Apa yang harus dia lakukan?!


" Ehmmmm... Erros dimana dokter?" tanya Lissa yang masih tak bisa menutupi rasa terkejutnya.


" Suami anda masih di luar Nona. Apa perlu saya panggilkan?"jawab dokter itu yang langsung merujuk pada pria yang tadi membawa Lissa ke rumah sakit itu


Dengan cepat Lissa menggelengkan kepalanya. " Apa dia sudah mengetahui kabar kehamilan saya dokter?"


" Saya belum memberitahukannya Nona.."


" Baiklah..saya akan mengabarkan jika anda sudah sadar Nona." ujar si dokter itu menyetujui.


Mendung langsung merayapi wajah Lissa, dia menghela nafasnya sebelum menjawab. " Terimakasih dokter."


Dokter itupun tersenyum tulus. " Baiklah saya permisi dulu Nona." pamitnya undur diri sebelum meninggalkan ruangan itu.


..................... ...


" Apa kau yakin kita akan kembali malam ini? Kita bisa tinggal untuk sementara sampai keadaanmu benar-benar sehat." tanya Erros perlahan, matanya menatap ke arah Lissa yang kini tengah duduk menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang perawatan itu.


Bibir Lissa mengurai sebuah senyuman untuk menenangkan wajah Erros yang terlihat ketat karena mengkhawatirkan keadaannya.


" Aku hanya masuk angin biasa, kau tak perlu khawatir seperti itu." jawabnya dengan nada meyakinkan.


" Tapi tetap saja Lissa, kau sakit. Bahkan kau harus di infus seperti itu. Akan lebih baik jika kita menunggu sampai kau benar-benar sehat." ujar Erros menasehati.


Mata tajam Erros melirik pada selang infus yang terpasang di tangan Lissa.


" Aku tahu banyak sekali pekerjaan yang kau tinggalkan hanya untuk menemaniku hari ini. Jadi lebih baik kita pulang malam ini, dan kau bisa beristirahat nanti malam supaya badanmu terasa segar di esok hari." Lissa berucap perlahan pada Erros yang terus saja mengawasinya dengan seksama.


" Pekerjaanku bisa di wakilkan oleh Assisten Jo, kau tidak perlu mengkhawatirkan masalah itu..."


" Tapi aku juga punya beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan Erros." potong Lissa.


Ekspresi Erros nampak menimbang-nimbang tetapi akhirnya dia memutuskan untuk berkata. " Baiklah kita akan kembali malam ini."


Lissa hanya diam, tak mampu membuka mulutnya lagi. Pikirannya benar-benar kacau. Kabar kehamilan itu benar-benar membuatnya merasa frustasi. Padahal dia sudah bersusah payah merelakan Erros tapi kehadiran janin dalam kandungannya malah membuat semua usahanya menjadi sia-sia.


Kerelaan itu seakan langsung lenyap tak bersisa ketika dia mengetahui ada sesosok makhluk mungil yang tengah berkembang dalam rahimnya.


Apakah mungkin kehadiran anaknya kali ini bisa mengubah keputusan Erros untuk tetap melangsungkan pernikahannya?


Dering ponsel Erros berhasil memecah keheningan yang menyelimuti ruang rawat itu, setelah meminta izin Lissa untuk mengangkat telfonya barulah Erros berjalan keluar dari ruang rawat itu tak lupa menutup pintunya perlahan.


" Selamat malam Tuan." salam Assisten Jo langsung saat sambungan teleponnya mendapatkan jawaban.


" Ada informasi apa mengenai Arresha?" Erros bertanya dengan nada tak sabar.


" Menurut informan kita pagi ini Nona Arresha pergi menemui Tuan Arvin di restaurant Dokgo Tuan."


Kening Erros berkerut dalam. " Arresha bertemu Arvin?" tanya Erros seolah tak percaya.


" Iya Tuan." Assisten Jo memberi jeda sejenak pada kalimatnya, setelah yakin Tuannya itu kembali memperhatikan ucapannya dengan seksama barulah ia menyambung informasinya.


" Nona Arresha bertemu Tuan Arvin sekitar setengah jam di ruang VIP, lalu setelah itu dia keluar seorang diri." sambung Assisten Jo.


Rahang Erros mengetat, tangannya mengepal kuat, dia langsung paham maksud Arvin bertemu dengan Arresha.


Apalagi maksud Arvin bertemu Arresha kalau bukan membicarakan masalah dirinya dan juga Lissa?! Entah hal apa saja yang di bicarakan Arvin pada Arresha!


" Tuan.." suara Assisten Jo kembali terdengar, terselip nada keraguan dalam ucapannya.


" Maaf tapi saya rasa saya harus memberitahukan masalah ini kepada anda."


" Ada apa?" tanya Erros dingin, sebenarnya dia tak ingin terlalu menanggapinya karena pikirannya kini berpusat pada ranah pembicaraan Arresha dan Arvin. Tapi Assisten Jo tidak mungkin mengatakannya kalau hal itu tidak benar-benar penting dan harus dia ketahui.


" Beberapa hari yang lalu Tuan Erris menemui Nona Arresha dan mengajaknya ke makam Nyonya Maria. Dan menurut informan juga ternyata selama ini Tuan Erris sering datang menemui Nona Arresha dengan menyamar sebagai anda."


Mata Erros membulat sempurna, tak menyangka jika Erris benar-benar serius dengan ucapannya saat itu. Erros langsung mematikan sambungan telfonnya, tidak ingin mendengar kabar apapun lagi, masalah Arresha saja sudah membuat otaknya seakan membeku.


Dia harus pulang malam ini dan menemui Arresha, dan harus membicarakan masalah ini dengan gadis itu.


Setelah berhasil menguasai emosinya barulah Erros membuka kembali pintu perawatan Lissa dengan perlahan, di lihatnya Lissa tengah berbaring menghadap ke arah dinding.


" Lissa.." panggil Erros lirih, tahu Lissa tidak tidur.


Dengan cepat Lissa menghapus air matanya, kemudian berbalik menatap Erros yang kini tengah berdiri di samping ranjangnya.


" Ya?"


" Pesawat kita akan berangkat pukul 9 malam nanti. Apa kau benar-benar sehat dan bisa kembali malam ini?" tanya Erros sekali lagi, mungkin jika Lissa menjawab tak sanggup kembali malam ini dia akan mempertimbangkannya demi kesehatan Lissa.


Lissa menghela nafasnya, mata sayunya menatap Erros dalam. " Bolehkah aku bertanya?" tanyanya lirih.