Being The Second

Being The Second
Episode 47 - In Another Life



Tangan Arresha terulur menyentuh lengan besar yang mendekap pinggulnya dengan posesif, perlahan Arresha berusaha mengerjapkan matanya guna mengumpulkan kesadarannya.


Mata indah yang tadinya samar kini mulai menajam seiring ingatannya yang mulai berkilas satu-persatu, kemudian mengawasi lengan kokoh yang mendekapnya erat itu.


" Erros?" ucap Arresha terkejut.


Dengan cepat Arresha kembali beringsut dan berusaha duduk, namun lengan kokoh Erros semakin erat mendekapnya. Membuat tubuh Arresha yang mungil semakin dalam tenggelam dalam pelukannya.


Karena pergerakannya yang tiba-tiba itulah yang akhirnya membuat kepala Arresha terasa sangat sakit, dia bukanlah peminum yang baik, minum alkohol sedikit saja sudah membuat kepalanya pusing serasa melayang tanpa kendali.


Apalagi kemarin dia sengaja minum begitu banyak soju, dan sekarang dia menerima akibat dari perbuatannya sendiri. Kepalanya terasa sangat nyeri hingga seolah-olah berdentum ria dengan intensitas yang mengerikan di dalam sana.


Sayangnya hangeover-nya kali ini berkali-kali lipat dari terakhir kali dia minum di depan mini market waktu itu. Beruntung kamar itu di penuhi nuansa remang karena tirainya yang masih menutup walupun di bagian tepinya tak tertutup sempurna, hingga membuat cahaya matahari bisa menerobos masuk serta menyilaukan mata Arresha yang kali ini terasa sangat sensitif terhadap cahaya.


Sengaja Erros semakin mempererat dekapannya, di hirupnya aroma menyenangkan nan menenangkan yang menguar dari tubuh kekasihnya itu.


Aroma itu seperti sengaja menempelkan partikelnya tanpa permisi di indera penciuman Erros yang tajam, membuat aroma itu layaknya candu yang selalu saja memabukkannya.


" Stttt... Jangan bangun, aku sangat merindukanmu." bisik Erros tepat di telinga Arresha, membuat Arresha terjingkat karenanya. Seluruh bulu halus di tubuhnya serasa meremang karena perlakuan Erros.


Erros tetap terjaga sepanjang malam, tetap mendekap erat tubuh Arresha, seakan takut jika gadis itu bangun dia akan langsung pergi dari sisinya.


Arresha hanya bisa terdiam, keningnya berkerut semakin dalam saat ingatannya yang masih berkabut mulai menampakkan dengan gamblang hal apa saja yang dia lewati kemarin.


" Bagaimana bisa aku disini bersamamu? Aku masih ingat kemarin aku bersama Jofan?" tanya Arresha yang mulai mengingatnya, kemarin dia makan ramen dan minum banyak soju bersama Jofan, lantas kenapa sekarang dia malah bersama Erros.


Lalu kemana Jofan?


" Aku menjemputmu semalam, kau mabuk hingga tak sadarkan diri." desahan penuh kekecewaan akhirnya terhembus dari bibir Erros.


" Mengapa sekarang kau suka minum-minum seperti itu? Padahal dulu kau tak pernah minum saat bersamaku?" tanya Erros yang menyerukan kata-katanya dengan nada getir tanpa melonggarkan sedikitpun dekapannya pada tubuh mungil yang kini seperti tenggelam dalam dekapannya.


Dia sadar, dialah yang membuat Arresha kesakitan seperti ini hingga memilih untuk minum-minuman beralkohol hingga mabuk. Mungkin saja di pikiran Arresha dengan mabuk dia bisa melupakan sedikit saja rasa sakit yang menggerogoti hatinya.


Rasa sakit yang tanpa sengaja di torehkan olehnya.


Tapi Erros pun tak dapat menutupi rasa bersalahnya dan juga kekecewaannya saat mengetahui gadisnya itu memilih untuk melampiaskan rasa sakitnya pada minuman beralkohol yang memabukkan, tak tahukah dia jika minuman beralkohol itulah yang nantinya akan merusak tubuhnya sendiri, menggerogotinya dari dalam dan membuatnya sebagai seorang pecandu berat yang akan susah untuk di sembuhkan.


Seketika itu pula Arresha kembali teringat pertemuannya dengan pria yang bernama Arvin. Pria yang bertemu dengannya dan Erros di restaurant malam itu adalah saudara sepupu Lissa, tunangan Erros. Dan pria itu bahkan rela merendahkan dirinya serta memohon kepadanya agar dia berbesar hati dan melepaskan Erros.


Demi Lissa. Lissa yang sangat mencintai Erros melebihi dirinya sendiri, melebihi segala yang dia miliki. Yang hampir seumur hidupnya bahkan dia habiskan untuk terus mencintai Erros, tanpa pamrih.


Tak tahukah mereka bahwa Arresha pun sama kesakitannya seperti Lissa? Bukan hanya Lissa saja yang sangat mencintai Erros, Arresha-pun sama, dia juga sangat mencintai Erros sepenuh hatinya. Dan sekarang dia harus mengalah melepaskan Erros?


Bagaimana caranya melepaskan saat Erros sendiri begitu kuat mengikat hatinya?


" Erros....." bisik Arresha parau, seolah menahan tangis. " Bagaimana jika aku tak bisa mencintaimu lagi?"


Tanpa sadar tubuh Erros menegang mendengar penuturan Arresha.


" Apa maksudmu?" dengan cepat Erros langsung membalik tubuh Arresha menghadap ke arahnya, kemudian menahannya agar gadis itu tak berpaling saat ia meminta penjelasannya, matanya yang tajam langsung menatap kedalaman mata Arresha.


Arresha menghela nafasnya dalam, di tatap seperti itu selalu saja membuat hatinya seolah ingin meledak karena debaran jantungnya yang begitu kuat tanpa kendali.


Apakah itu berarti perasaanya masih sama?


" Bagaimana jika ternyata perasaanku berubah? Bagaimana jika ternyata aku tidak bisa mencintaimu lagi seperti dulu?"


Erros langsung berubah muram, tak suka dengan pertanyaan Arresha yang menurutnya tak akan mungkin terjadi pada hubungan mereka berdua. Dia begitu mencintai gadis itu, sepenuh hatinya, segenap jiwanya, dan Erros yakin Arresha pun merasakan hal yang sama dengan dirinya.


" Aku mencintaimu dan kau juga mencintaiku. Kita sama, saling mencintai dan aku yakin tak mungkin ada yang berubah dengan hubungan kita nantinya." jawab Erros lirih namun di penuhi keyakinan yang nyata pada ucapannya.


" Bagaimana kau bisa begitu yakin setelah apa yang kau lakukan padaku dan juga pada Nona Lissa? Bagaimana kau bisa begitu yakin kalau aku tak akan berubah dan akan tetap mencintaimu seperti dulu?" tanya Arresha.


Arresha benar, bagaimana dia bisa begitu yakin jika Arresha masih sama, masih Arresha-nya yang dulu yang selalu menyambut kedatangannya dengan tangan terbuka dan mata berbinar penuh cinta dalam setiap ulasan senyumannya.


Namun bukankah selama ini Arresha masih setia menunggunya, tetap menunggu bahkan walaupun tak ada kabar ataupun kepastian apapun dari dirinya. Bukankah itu cukup untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa perasaan Arresha masih sama untuknya?!


Ketika Erros tak jua membuka mulutnya, Arresha memutuskan untuk kembali mengutarakan apa yang ada dalam hati dan pikirannya saat ini.


" Mungkin kau melupakan sesuatu Erros, aku adalah wanita sama seperti Nona Delissa dan aku paham betul bagaimana kesakitannya dia saat ini melepaskanmu, yang katanya demi kebahagiaanmu."


Ekspresi Erros tentu berubah semakin muram saat dia mampu mencerna setiap ucapan yang keluar dari bibir Arresha.


" Tapi aku tak seperti Nona Lissa, aku hanya ingin menjaga hatiku agar tak terjatuh semakin dalam nantinya. Aku tak ingin jika suatu saat nanti aku akan merasakan kesakitan seperti apa yang Nona Lissa rasakan saat ini. Jadi lebih baik aku memilih untuk pergi saat ini, sebelum hubungan kita semakin jauh melangkah."


Erros biasanya berhasil menjaga emosinya agar tak terlihat dan terbaca oleh lawan bicaranya, tetapi kali ini keterkejutan tampak begitu jelas di matanya yang menatap tajam pupil Arresha yang menatapnya dengan sayu.


" Kau akan pergi?" tanya Erros tak percaya.


Arresha menipiskan bibirnya, menghela nafas sengan sedih.


" Aku tidak bisa bersamamu lagi, setelah segalanya yang kau perbuat Erros." tanpa bisa di tahannya lagi suara bergetar itu terdengar dengan jelas di telinga Erros yang tajam.


" Bagaimana aku bisa percaya setelah aku melihat sendiri apa yang telah kau perbuat pada Nona Lissa? Bagaimana jika nanti aku merasakan sedikit saja penyesalan? Andai perasaan itu tumbuh lantas aku selalu menyalahkan dan membencimu? Bisakah kau menanggungnya?"


Erros langsung membeku, sementara ekspresinya begitu rapuh, seakan dirinya adalah sebuah cermin yang menanti waktu sekejap saja untuk retak kemudian hancur berkeping-keping.


" Jadi ku mohon, kembalilah pada Nona Lissa. Karena dia yang akan selalu menyambutmu penuh dengan cinta dan kasih sayang bahkan sampai di kehidupanmu yang lain nantinya."


Arresha memejamkan matanya ketika segulir bening lolos tanpa bisa di tahan mengalir dari matanya yang indah.


" Menikahlah dengan Nona Lissa dan lupakan aku." bisiknya serak menahan kepedihan yang terasa semakin menyayat di tengah ruangan hening berpadu dengan helaan nafanya yang kian memberat.


" Kau tahu Arresha. Kau adalah segalanya bagiku." Erros menyerukan kata-katanya dengan nada getir.


" Maafkan aku, tapi perasaanku tak lagi sama."


Arresha menarik tubuhnya dan berusaha untuk bangkit meskipun kepalanya langsung terasa sangat sakit kemudian berputar-putar. Sekuat tenaga dia melawan rasa sakit itu, meninggalkan Erros yang langsung terduduk saat melihatnya melangkah semakin jauh keluar dari kamar Erros yang mewah nan luas itu.


Tetapi sakit di kepalanya masih belum seberapa di bandingkan rasa sakit di hatinya saat ini. Rasanya sangat sakit bahkan membuatnya kesulitan bernafas, sesak nan perih berpadu menjadi satu.


Satu hal yang baru Arresha ketahui saat ini, ternyata membohongi dirinya sendiri lebih sulit dari pada yang ia bayangkan. Arresha pikir rasanya tak akan semenyakitkan ini, tapi ternyata dia salah.


Sakitnya bahkan berpuluh-puluh kali lipat dari pada yang ia bayangkan.


Arresha menyeret langkahnya melewati ruangan utama luas dan saat matanya tanpa sengaja melihat tas miliknya yang terletak di atas sofa, dia berjalan mendekat kemudian mengambil tas miliknya.


Erros langsung turun dari ranjangnya ketika menyadari Arresha telah jauh melangkah meninggalkannya, dengan secepat kilat ia berlari menuruni tangga untuk menyusul Arresha yang menurutnya kini hampir mencapai pintu utama penthouse-nya.


Pengakuan Arresha yang mengatakan jika perasaanya berubah seolah membuat dunianya terbalik seketika. Dia hampir mencapai puncak, tinggal selangkah lagi dia akan mencapai puncaknya dan sekarang gadis yang menjadi penyemangat terbesarnya untuk berjuang memilih untuk pergi, meninggalkannya.


Hatinya masih di penuhi ketidak percayaan atas pengakuan Arresha, dan dia tidak akan mungkin mempercayainya begitu saja. Atau mungkin dia tidak akan bisa menerimanya.


Lalu untuk apa selama ini dia berjuang jika yang ia perjuangkan memilih untuk pergi?


Erros kembali mendekap erat tubuh Arresha yang kini hampir mencapai pintu utama, sangat erat dan dia tak akan melepaskannya.


" Jangan tinggalkan aku, Arresha." bahu Erros bergetar hebat, terlihat sangat jelas jika saat ini ia benar-benar rapuh. Bak anak kecil yang begitu ketakutan di tinggal oleh ibunya seorang diri.


" Untuk apa aku berjuang selama ini jika pada akhirnya kau meninggalkanku seperti ini?! Aku tidak akan kembali kepada Lissa karena pernikahanku dengannya sudah aku batalkan."


" Hanya kau Arresha...hanya kau yang aku inginkan di dunia ini. Bahkan di kehidupanku yang lain aku tetap hanya menginginkan dirimu disisiku."