Being The Second

Being The Second
Episode 8 - Tebak Berhadiah



***Penyair Arab pernah berkata :


" Betapa banyak tempat yang pernah di singgahi oleh seorang pemuda,


Tapi kerinduaanya selalu kepada tempat yang sama"


~ Pendar Terang***


••••••••••••••••••


Erros pergi meninggalkan caffe dengan wajah yang terlihat jauh lebih baik dari pada saat ia datang. Memang benar, bebek mungilnya selalu bisa membuat emosinya langsung lenyap tak bersisa seperti sekarang ini.


Apa Tuan Erros kerasukan? Kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri sih? Aku jadi merinding, batin Assisten Jo sekali lagi mengintip tuannya dari kaca spion.


Assisten Jo sedari tadi sebenarnya mengintip Tuannya itu melalui kaca spion dalam mobil, ingin bertanya tapi takut merubah suasana hati tuannya yang sekarang membaik dan lebih enak di pandang. Lebih baik sekarang dia diam dari pada jadi masalah nantinya.


" Assisten Jo, gadis tadi bagaimana menurutmu? " tanya Erros akhirnya.


Dia tidak bisa menyimpannya sendiri, dia ingin mendengar pendapat orang lain tentang Arresha-nya.


Arresha-nya, menyebut nama itu malah membuatnya semakin terlihat gila karena selalu tersenyum tidak jelas.


" Ehh, i.. Iya Tuan. Diaaa..sangat cantik, bahkan terlihat seperti malaikat tanpa sayap, " jawab Assisten Jo, membayangkan wajah ayu Arresha membuatnya selalu terbayang-bayang.


Plakkkk......


Erros memukul kepala Assisten Jo karena dengan beraninya membayangkan wajah cantik Arresha.


Tidak, tidak ada yang boleh membayangkan Arresha selain dirinya. Assisten Jo mengaduh tapi dia tak berani menjawab apalagi membalas, jadi dia hanya diam dan mengelus kepalanya yang lumayan sakit karena pukulan Erros.


" Kenapa kau malah membayangkannya?! Aku bertanya kau tak usah membayangkannya!! " ucap Erros yang merasa kesal.


Ciiihhh, tadi bertanya, kalau begitu lebih baik jangan bertanya. Kau kira kepalaku ini apa Tuan?! Seenaknya saja kau memukulku seperti itu, batin Assisten Jo yang kesal. Lagian kan dia benar, bagaimana mau menjawab kalau tidak membayangkan wajahnya, kan dia belum mengenal siapa gadis itu.


" Menurutmu dia cantik tidak? " tanya Erros lagi setelah mereka diam cukup lama. Sedangkan Assisten Jo hanya diam saja, tak berani atau malah tidak berniat untuk menjawab lagi.


" Heii, aku bertanya padamu, kenapa kau diam saja, apa kau tuli?! " kata Erros yang kesal karena tak kunjung mendapat jawaban dari Assisten Jo.


" Saya tidak berani membayangkan wajahnya Tuan! " ucap Assisten Jo singkat, padat, dan sangat berisi. Sebenarnya dia sedikit menyindir tuannya kali ini.


" Ciiihh, kau benar. Berani membayangkan apalagi memimpikannya nyawamu yang jadi taruhannya, " kata Erros yang terkekeh tak menyangka kalau Assisten Jo akan mebalikkan ucapannya.


Assisten Jo hanya diam, tak berniat menjawab lagi, dia tidak ingin kepalanya yang malah menjadi korban, dia masih sangat menyayangi nyawanya.


Sebenarnya siapa sih perempuan tadi, kenapa Tuan Erros terlihat seperti orang yang sedang kasmaran seperti itu? tanya Assisten Jo dan tentu saja di dalam hati. Mana mungkin dia berani untuk menanyakannya langsung.


...........................


Sore harinya setelah jam kerjanya habis, Arresha kembali ke ruangan khusus karyawan tentu saja masih dengan Jofan yang begitu setia mengekor di belakangnya.


Tentu saja tadi Jofan memberondongnya dengan banyak pertanyaan setelah Arresha keluar dari VIP Room. Jangan salahkan dirinya yang khawatir dan berfikir macam-macam, karena pria tadi memang sangat aneh, melihatnya saja seperti ingin menelan manusia hidup-hidup.


Dan Arresha lebih memilih untuk tidak menceritakan bagaimana hubungan mereka sebenarnya setelah saat ini menyadari jaraknya yang begitu jauh dengan Erros.


" Kau ku antarkan pulang ya Arresha?! " kata Jofan.


" Aku bisa pulang sendiri Jofan, lagian kakiku hanya terkilir bukan cacat besok juga pasti sembuh, " jawab Arresha, sebenarnya dia sungguh tidak enak jika menyusahkan Jofan terus menerus.


" Ya sudah, aku akan menemanimu naik bus kalau kau tidak mau aku antar! " kata Jofan yang keras kepala, dia hanya mengkhawatirkan keadaan Arresha, mana mungkin dia tega membiakan gadis yang telah memenangkan hatinya pulang sendiri dengan kaki yang seperti itu.


" Astaga Jofan, apa ibumu dulu saat hamil dirimu beliau mengidam batu sih? Kenapa kau keras kepala sekali! " ucap Arresha membuka loker miliknya dan mengambil tasnya setelah berganti pakaian.


" Kau tau ibuku dulu bukan mengidam batu, tapi anak ayam, makanya sekarang aku jadi seimut ini, " kata Jofan terkekeh geli dengan ucapannya barusan, memang benar kan para penggemarnya saja selalu menyebutnya anak ayam.


" Anak ayam tidak ada yang sebesar dirimu! "


" Tapi anak ayam itu seimut diriku kan?! " kata Jofan lagi menggoda Arresha, mengedipkan sebelah matanya.


" Terserah kau saja, terserah!!! " kata Arresha.


Mereka kini berjalan bersama meninggalkan caffe menuju tempat parkir dimana Jofan memarkirkan mobil miliknya. Akhirnya merekapun meninggalkan caffe menyusuri jalanan ibukota yang selalu saja ramai.


Arresha sibuk memilih lagu kesukaannya kemudian menyanyikannya tanpa sungkan, dia sudah berteman cukup lama dengan Jofan, pastinya Jofan sudah hafal betul segala tingkah laku Arresha dan dia hanya menurut saja saat Arresha memilih lagu kesukaannya kemudian mereka menyanyikan lagu itu bersama.


" Arresha, bagaimana kalau kita jalan-jalan? " tanya Jofan, menurutnya ini masih terlalu sore untuk pulang kerumah, dia masih ingin menghabiskan harinya dengan Arresha.


" Kau mau kakiku patah atau bagaimana?! "


" Katanya kakimu hanya terkilir jadi tidak akan patah, kau tenang saja, kalau patah aku akan menyambungnya lagi! "


" Kau kira kakiku terbuat dari kayu?! "


" Memangnya kau mau mengajakku kemana? Apa kau tidak lelah bekerja seharian? " tanya Arresha, dia juga sebenarnya merasa masih belum ingin pulang.


" Enaknya kemana yaa? " kata Jofan berpikir sejenak.


" Bagaimana kalau kita karaoke saja, kau tidak usah jalan terlalu lama kalau seperti itu, " imbuhnya lagi.


" Oke siapa takut?! " jawab Arresha senang. Begitu senangnya karena malam ini dia mendapat hiburan dan bisa melupakan sedikit kesusahan dalam hidupnya.


Akhirnya mereka sampai juga, di tempat karaoke di sebuah mall di kota itu. Jofan dengan sabar berjalan lebih pelan dari biasanya, kakinya yang jenjang tentu membuat langkah kakinya menjadi lebih lebar sedangkan Arresha yang mungil pastilah langkahnya lebih pendek. Jadi Jofan memperlambat langkah kakinya, dengan sabar menuntun Arresha berjalan dan menyusuri kerumunan manusia di mall itu sambil menggandeng tangan Arresha agar tak terpisah. Untung saja dia memakai masker dan juga topi saat ini jadi tidak ada yang bisa mengenalinya.


Saat ini mereka sudah berada di ruang karaoke, beberapa camilan dan minuman tersedia di meja yang sengaja mereka beli sebelum masuk ke ruangan karaoke. Arresha dan juga Jofan sudah menyianyikan beberapa lagu dan tentu saja berduet bersama.


" Tebak lagu? Memangnya kau berani melawanku?! " tanya Arresha


" Bilang saja kau takut! " jawab Jofan


" Siapa yang takut?! Oke ayo kita bertanding, aku yang pertama, kalau kalah kau harus mentraktir ku makan sepuaasnya!! "


" Kalau kau yang kalah kau harus membuat video yang mengatakan kau sangat mengagumi diriku, kau adalah fans beratku, bagaimana? " kata Jofan menantang Arresha.


" Mana bisa? Hukumanku terasa aneh sekali, aku sama sekali bukan fans mu kenapa kau memintaku mengakui itu?! "


" Kalau tidak mau ya sudah, aku juga tidak memaksa, " jawab Jofan enteng mengangkat kedua bahunya.


" Ya sudah oke, siapa takut lagian juga kau yang pasti kalah! " ucap Arresha yang tak mau kalah.


" Aku yang mulai duluan kau yang harus melanjutkan liriknya! " ucap Arresha lagi, mengambil mic nya dan mulai bernyanyi.


" Di depan orang tuamu kau malukan diriku, kau bandingkan aku dengan..... " dengan antusias Arresha menyanyikan lagu yang ia pilih, berharap Jofan akan salah menebaknya.


" Mantanmu!!! " ucap Jofan yang awalnya begitu percaya diri tapi seketika merasa aneh dengan lirik yang ia lanjutkan, membuat wajahnya langsung pias.


Arresha langsung tertawa terbahak-bahak, tepat dugaannya Jofan benar-benar tidak tahu lagu itu jadi sudah pasti dia kalah dan mendapatkan hukuman.


" Kau salah Tuan artis! hahaha liriknya bukan seperti itu, hahaha, " Arresha masih terus tertawa karena dia jadi terbayang-bayang wajah Jofan yang awalnya begitu percaya diri langsung berubah pias dan terlihat aneh.


" Memang seharusnya bagaimana? "


" Harusnya itu dirinya, bukan mantanmu! hahaha, kau harus di hukum! " kata Arresha langsung mengeluarkan lipstik dari dalam tasnya, membuat Jofan langsung waspada.


" I..itu lipstik untuk apa? " tanya Jofan tak bisa mengalihkan pandangannya dari lipstik yang di pegang oleh Arresha.


" Tentu saja untuk menghukummu, untuk apalagi?! " jawab Arresha membuka lipstiknya dan siap mencoreng wajah Jofan yang masih membeku.


" Kan di perjanjiannya tadi tidak seperti itu, kau tidak bisa se enaknya begitu dong! " kata Jofan yang berusaha menghindar dan mengelak.


" Kalau tidak seperti ini bagaimana bisa tahu siapa yang menang dan siapa yang kalah, sudah kau diam saja, kemarikan wajahmu!! " kata Arresha langsung menarik Jofan mendekat dan membuat lingkaran besar berwarna merah di hidung Jofan, melihat hasil karyanya Arresha kembali tertawa hingga perutnya terasa kram karena tertawa.


" Sekarang giliranku, " kata Jofan mengambil mic miliknya dan mulai bernyanyi.


" Hiya wa siya hu wono yu weni...... " lirik yang Jofan nyanyikan sungguh malah terasa aneh, apa benar liriknya seperti itu. Dia jadi ragu sendiri, dia hanya ingat kalau dia pernah mendengarnya dari salah satu grup lawak.


Arresha tampak berfikir, dia memang merasa liriknya tadi sungguh aneh, jadi dia memutuskan untuk mengulang lirik yang di nyanyikan Jofan tadi.


" Hiya wa siya yu wono yu weni??? " nyanyian Arresha terhenti sejenak, dia kembali mengingatnya, samar-samar namun terasa sangat familiar. Sedangkan Jofan sendiri sudah merasa di atas awan, dia yakin Arresha tidak bisa menebaknya.


" Yang baju merah jangan sampe lolos. Nyanyian kode, nyanyian kode..." lanjutnya lagi setelah berhasil mengingatnya dengan benar.


" Kau kalah lagi Tuan artis! hahaha, " imbuh Arresha lalu mengambil lagi lipstik yang tadi dia letakkan di atas meja, bersiap mencoret muka Jofan lagi.


" Kau mau apa lagi?! Letakkan lipstiknya Arresha!! " kata Jofan lagi terkejut karena Arresha dengan cepat membuka lipstik dan siap mencoret wajahnya lagi.


" Aku menang dan kau kalah Tuan artis, hahaa, sini kemarikan wajahmu! " kata Arresha langsung memcoret lagi wajah Jofan membuatnya tertawa sampai sakit perut lagi.


Mereka terus bermain tebak lagu sampai keduanya benar-benar lelah dan tak sanggup untuk tertawa lagi. Arresha yang memenangkan permainan itu, walaupun wajahnya juga tak luput dari coretan lipstik berwarna merah. Sebelum menghapus wajahnya Jofan mengajak Arresha untuk berfoto bersama, tentu dia tak akan melewatkan momen ini begitu saja.


" Aku ada pertanyaan bonus, kalau kau kalah kau yang harus menerima hukuman? Bagaimana?! " kata Jofan. Dia masih tidak terima kalau di kalahkan begitu saja.


" Tidak!! Aku tidak mau!! Kau yang kalah, mana bisa seperti itu?! "


" Kalau aku yang kalah kau aku traktir selama satu minggu? Oke?! " ucap Jofan membuat Arresha berfikir dua kali untuk menolaknya.


" Kalau aku yang kalah? " tanya Arresha, dia masih belum percaya begitu saja.


" Kalau kau yang kalah kau hanya perlu membuat video yang tadi? Bagaimana?! "


" Ya sudah oke. Siapa takut?! " jawab Arresha.


" Dengarkan ya?! Kenapa batu kalau di masukkan ke dalam air selalu tenggelam? " tanya Jofan membuat Arresha langsung berfikir.


" Ini pasti pertanyaan jebakan, tunggu dulu... " ucap Arresha yang tampak berfikir.


" Silahkan Nona, " jawab Jofan santai, tangannya meraih minuman kaleng di atas meja kemudian meminumnya.


" Aku tau! Kenapa batu kalau di masukkan ke dalam air selalu tenggelam ya karena dia kan tidak bisa berenang. Benar kan?! Ya jelas benar dong, hahaha " ucap Arresha bangga


Jofan membelalakan matanya, kenapa Arresha bisa tahu jawabannya, padahal itu kan pertanyaan lama.


" Yaaahhhh.. Kenapa kau bisa tahu sih jawabannya? Aku malas ah bermain tebak-tebakan denganmu! " kata Jofan mendengus kesal.


" Kau tidak akan menang melawanku Tuan Artis, hahahha... "


Sesuai kesepakatan di awal tadi akhirnya Jofan mentraktir Arresha makan sampai dia benar-benar kenyang sebelum mengantarkannya pulang.


Hari ini walaupun sangat melelahkan tapi begitu membuat hati Jofan merasa senang, bisa bekerja dan bersama Arresha.


Jofan



Arresha