Being The Second

Being The Second
Episode 32 - Bertemu Arvin



Tak menyerah dengan penolakan Arresha, Jofan semakin memperdalam pertautan bibirnya, ********** dengan penuh perasaan dan setengah pemaksaan. Hingga akhirnya Arresha tak mampu lagi menolaknya dan bersikap pasrah, Jofan mulai bisa menikmati setiap ******* yang ia berikan pada bibir Arresha.


Arresha yang awalnya menolak akhirnya mulai menikmati ciuman itu, ia-pun membalas ******* Erros dengan lembut. Entah mengapa kini hatinya tak lagi menolak hal gila itu. Ini gila, dia benar-benar gila karena menerima dan malah membalas ******* Jofan, dia juga menikmatinya.


Jofan akhirnya melepaskan pertautan bibirnya dari bibir Arresha yang terlihat membengkak dan memerah karena perbuatannya, matanya menatap Arresha yang kini juga membalas tatapan matanya tak kalah tajam.


" Aku tak suka dia menciummu Arresha! Aku cemburu!!" geram Jofan, matanya kembali berkilat saat sekelebat ingatan Erros mencium Arresha kembali di ingatnya.


" Cemburu? Apa maksudmu?!" tanya Arresha bingung.


" Aku mencintaimu Arresha!! Aku jatuh cinta padamu!!" Jofan mendengus kesal karena Arresha yang benar-benar bodoh dan tak juga menyadari hal itu.


Mendengar pernyataan cinta dari Jofan tentu membuat Arresha membulatkan matanya seketika, tak ingin percaya dengan hal gila yang di ucapkan oleh Jofan.


Cukup lama Arresha hanya bisa terpaku. " Kkaauu... " baru saja Arresha berniat membuka mulutnya dan bertanya, namun ketukan pintu kamar membuatnya kembali teringat jika di rumah ini tak hanya ada dirinya dan juga Jofan.


" Arresha? Apa kau masih lama baby? " suara Erros terdengar di balik pintu membuat Arresha semakin panik.


" Ssee..sebentarr.. Sebentar lagi aku keluar...kau tunggu saja di luar!! " sahut Arresha cepat terdengar gelisah membuat Erros mengerutkan dahi karena suaranya yang tak seperti biasanya.


" Apa kau baik-baik saja Arresha?" tanya Erros memastikan, kenapa dia jadi merasa Arresha seperti menyembunyikan sesuatu darinya.


" Ii..iya aku baik-baik saja, sebentar lagi aku keluar." jawabnya gugup.


" Bolehkah aku masuk?" suara Erros kembali terdengar, membuat tubuh Arresha menegang sempurna. Dia langsung menoleh ke arah Jofan yang masih saja bergeming dan terus menatapnya tajam.


" Biarkan dia masuk!" suara Jofan dingin, biar saja kekasih Arresha itu tahu, memangnya apa masalahnya.


Lagi pula hubungan mereka saat ini juga tidak terlalu baik, dari pada nanti Arresha hanya di cap sebagai wanita perebut tunangan orang lebih baik Arresha bersamanya saja, toh dia pria free, tidak sedang menjalin hubungan dengan siapapun.


" Kau mau mati atau bagaimana?!" bisik Arresha. " Kau diam dan jangan bersuara lagi!" imbuh Arresha geram.


" Arresha?" suara Erros kembali terdengar dari balik pintu.


" Sebentar.... Aku sedang ganti baju, kau tungu saja di depan." sahut Arresha, dia hanya berdoa agar Erros tak lagi memaksa masuk ke dalam kamarnya.


" Oke, aku tunggu di depan ya." jawab Erros yang awalnya merasa sedikit curiga namun dia akhirnya dia memilih untuk membuang jauh pikiran negatifnya. Tidak mungkin Arresha akan menyembunyikan sesuatu darinya, dia kenal betul bagaimana gadis mungilnya itu.


Jofan masih bergeming tanpa memgalihkan tatapannya dari wajah Arresha. " Aku mencintaimu Arresha!!" desisnya pelan.


Arresha terdiam, menghembuskan nafasnya kasar. Pria ini salah makan atau salah minum obat?! Kenapa malah bilang jatuh cinta kepadanya dan bersikap aneh seperti ini?


" Aku harus pergi sekarang, kita bicarakan ini nanti. Kau pulanglah aku tidak akan mengunci pintunya." Arresha meraih handle pintu kamarnya kemudian keluar meninggalkan Jofan yang masih bergeming di tempatnya.


.........................


Mobil Erros mewah berjenis Maserati Ghilbi milik Erros melaju meninggalkan rumah kontrakan milik Arresha, malam ini Erros berniat untuk mengajak Arresha makan malam di sebuah restaurant mewah yang terletak di pusat kota.


Lampu-lampu jalan telah sepenuhnya menyala, menghasilkan cahaya terang yang mengiasi sekaligus menerangi seluruh sisi kota, mobil yang berlalu lalang dengan padat membuat mobil milik Erros hanya bisa melaju dengan kecepatan sedang.


Arresha menyandarkan punggungnya pada jok penumpang mobil. Pikirannya kacau, dia terus mengingat perlakuan Jofan padanya. Bagaimana bisa Jofan malah menciumnya seperti itu, dan kenapa dia juga malah menerima dan bahkan menikmatinya.


Tadi juga Jofan berkata mencintainya, apa pria itu sudah kehilangan kewarasan atau bagaimana sih?! pikir Arresha bingung


Ini gila, Arresha merasa dia sudah kehilangan kewarasannya. Jofan adalah sahabat yang dia kenal dengan sangat baik, bagaimana bisa Jofan mengatakan kalau dia jatuh cinta pada Arresha.


" Kau memikirkan apa hmm?" tangan Erros mengelus lembut pipi Arresha yang terasa sangat halus ketika ia menyentuh permukaan kulitnya.


Arresha kembali tersadar saat tangan hangat nan kokoh milik Erros melingkupi pipnya, dia menggeleng pelan. " Tidak ada." jawabnya tersenyum.


" Kenapa dari tadi melamun terus hmm? " Erros mengalihkan wajahnya dan menatap Arresha dengan lembut. Dia paham gadisnya yang sangat cerewet ini tidak biasanya diam, kalau dia berubah menjadi diam pasti ada sesuatu yang kini mengganggu pikirannya.


" Tidak apa.." jawab Arresha tersenyum, jemarinya meraih tangan Erros yang masih saja mengelus pipinya dengan lembut, perasaannya menghangat, sudah lama mereka tidak seperti ini.


Akhirnya mobil itupun sampai di sebuah restaurant mewah bergaya Eropa, restaurant yang biasanya hanya di datangi oleh kaum jetset ataupun kalangan selebriti terkenal.


Dengan sigap Assisten Jo segera turun dan memutari mobil mewah itu menuju pintu bagian belakang kemudi, tempat dimana Erros masih duduk di dalamnya.


" Ehmm...kita..makan disini? " tanya Arresha ragu, dia kira mereka akan makan di restaurant biasa, bukan restaurant semewah ini. Matanya yang tadi terus memperhatikan sekeliling restaurant itu beralih menatap Erros yang kini masih menggenggam hangat jemari tangannya.


Dia pernah melihat restaurant ini ketika berkeliling ibukota dan dia tahu restaurant ini adalah restaurant mewah untuk kalangan atas yang biasa menghambur-hamburkan uangnya hanya untuk makanan dengan porsi yang sedikit tapi di banderol dengan harga yang selangit.


" Tentu saja, ayo baby." jawab Erros.


" Emmm..bisakah kita makan malam di restaurant biasa saja?" tanya Arresha ragu, dia hanya memakai sebuah dress biasa, tahu di dalam sana pasti para tamunya akan memakai pakaian yang tak kalah mewah keluaran dari rumah mode ternama.


" Tak apa, di mataku kau cantik bahkan jauh lebih cantik dari seluruh wanita yang ada di dunia ini. Walaupun dengan kaos yang kedodoran kau selalu terlihat cantik di mataku." kata Erros menenangkan, membuat hati Arresha semakin menghangat karenanya.


Arresha merasa malu mendengar pujian Erros, di dalam mobil ini masih ada supirnya, kalau dia mendengar pasti dia akan merasa mual mendengarkan pujian Erros untuknya tadi. Arresha merasa dirinya tak secantik itu hingga di puji sebagai wanita tercantik di dunia.


" Gombal!!" senyum Arresha mengembang sempurna membuat Erros tertular karena melihat senyuman manis itu kembali tersungging di wajah cantik gadisnya itu.


Setelah pintu mobil di buka dengan sempurna, Erros menjejakkan kaki pertamanya dan berdiri dengan sempurna di samping mobilnya, dengan sigap ia menjulurkan tangannya guna menyambut gadisnya, gadis yang selalu saja bisa menghipnotis dan mengalihkan dunianya.


Dengan sedikit perasaan ragu akhirnya Arresha keluar dari mobil itu, Erros melonggarkan lengannya agar Arresha bisa menggandeng lengannya yang kekar itu. Kemudian mereka berjalan memasuki restaurant itu, tampak dua orang doorman dengan pakaian yang rapi dengan sigap membukakan pintu untuk Erros dan Arresha.


Begitu melihat Tuan Muda dari Aether Company's Group memasuki restaurant, seorang manager nampak berjalan tergopoh-gopoh menghampirinya.


" Selamat malam Tuan Nyx Erros Aether." salam sang manager sopan sedikit membungkukkan tubuhnya berusaha berbicara dan bersikap sesopan mungkin. " Senang sekali anda berkenan menyempatkan diri untuk mengunjungi restaurant kami ini." imbuhnya lagi.


Erros hanya sedikit mengangguk dan tak menjawab apapun membuat sang manager langsung sadar jika Erros tak ingin berbasa-basi dengannya.


" Mari Tuan saya akan mengantar anda." ujarnya sopan menuntun jalan Erros menuju meja yang sudah di pesankan sebelumnya oleh Assisten Jo.


Erros terus menggenggam erat tangan Arresha, tak ingin gadis itu berjarak terlalu jauh dengannya. Arresha yang terus di genggam seperti itu jadi merasa sangat canggung karena banyak pasang mata yang memperhatikan dirinya dan Erros.


Mereka berjalan melewati deretan meja yang berjejer sangat rapi, sang manager tadi mengarahkan mereka menuju sebuah ruangan yang terdapat dinding kaca sebagai pembatasnya dengan area dalam restaurant tadi.


Dengan sikapnya yang manis Erros langsung menarik sebuah kursi untuk Arresha duduki, setelah itu barulah ia duduk di kursinya, tepat di depan Arresha.


" Tak apa, nanti juga akan terbiasa." ucap Erros lembut penuh perhatian, mengelus tangan Arresha lembut.


Sang manager tadi merekomendasikan menu andalan dari restaurant itu dan Arresha yang tak paham dengan menu-menu yang tertulis di dalamnya jadi dia hanya menurut saja.


Tak lama akhirnya makanan mereka pun datang, baru saja Erros dan Arresha mulai memegang sendok untuk suapan pertamanya, seseorang menghampiri mereka dengan senyumannya yang ramah nan menawan.


" Erros? Aku tak menyangka bertemu denganmu disini." ucap pria itu hangat, membuat Arresha ikut menoleh dan memperhatikan pria yang kini berada di depannya itu.


" Arvin?! " ucap Erros yang cukup terkejut, tak menyangka akan bertemu dengan Arvin yang tak lain adalah sepupu dari tunangannya, Lissa. " Ah..ya senang sekali bisa bertemu denganmu." imbuh Erros yang dengan cepat bisa menguasai keterkejutannya.


Arvin menoleh memperhatikan gadis yang kini tengah bersama Erros, dia baru melihatnya, sedari tadi dia memperhatikan Erros dari jauh dia langsung tahu jika gadis yang bersama Erros saat ini bukanlah Lissa, saudara sepupunya.


" Ehmmm.... Aku kira tadi kau bersama Lissa, dimana dia? " tanya Arvin mengedarkan pandangannya, mungkin saja Lissa masih tertinggal atau sedang pergi ke toilet.