
" Katanya cinta itu gila, tapi kenapa setiap di dekatmu aku jadi waras? "
•••••••••••••••••••••
Akhirnya Arresha menyelesaikan makanannya sampai tandas tak bersisa, awalnya memang dia tidak ingin makan tapi dia merasa tidak enak jika menolak niat baik Jofan, jadi dia menurut saja ketika Jofan menyuapinya hingga selesai.
Selesai makan Jofan memberikan segelas air putih dan tak lupa pula mengelap sudut bibir Arresha, setelah di pastikan semua selesai barulah dia kembali duduk di kursinya.
" Kau tidurlah lagi, besok pagi setelah pemeriksaan kita akan melihatnya lagi, " ucap Jofan.
" Kau tidak tidur? "
" Aku tidur nanti kalau kau sudah tidur. Sekarang tidurlah! " Jofan menarik kembali selimut yang tadi tersingkap secara tidak sengaja saat menyuapi Arresha.
" Kau tidur dimana nanti? " tanya Arresha., dia hanya melihat sebuah sofa kecil dan meja di ruangan itu. Sofa itu tentu saja tidak lebih panjang dari tubuh Jofan, jadi bisa di pastikan jika Jofan tidak akan bisa tidur dengan nyaman.
" Di sini kalau tidak di sofa, " kata Jofan menunjuk kursi yang sedari tadi dia duduki.
" Tidurlah disini bersamaku, sofanya sangat sempit, pasti badanmu akan sakit semua, aku tahu kau sangat lelah apalagi kemarin kau habis berlatih, " ujar Arresha.
Mana mungkin dia tega membiarkan Jofan tidur di sofa yang sempit seperti itu, apalagi wajah Jofan yang terlihat sangat kelelahan karena menolong dan menjaga Arresha semalaman. Lagipula ranjangnya cukup lebar jika hanya untuk tidur sendiri.
" Memangnya boleh? " tanya Jofan yang merasa ragu.
" Hmmm, asal kau menjaga tanganmu! Awas saja kalau macam-macam akan aku potong langsung sampai ke pangkalnya! " ancam Arresha yang membuat Jofan terkekeh. Tanpa menunggu lagi Jofan langsung naik ke atas ranjang milik Arresha dan merebahkan tubuhnya disana.
Ahhh, nyaman sekaliiiiiii, batin Jofan.
" Ya aku kan tidak tau tanganku bagaimana kalau tidur, " jawab Jofan memposisikan tidurnya agar lebih nyaman.
" Awas saja berani macam-macam! Kau akan aku tendang!! " jawab Arresha bernada ancaman tapi tak membuat Jofan takut malah dia merasa lucu.
" Iya iyaa....kau tidurlah jangan berbicara terus, dasar cerewet! "
" Walaupun cerewet aku ini menggemaskan tau! "
" Hmmm..menggemaskan sampai aku ingin memakanmu! "
" Jofannnnn!!!! Kau mau aku tendang atau bagaimana? "
" Iya iya tidak, sudahlah aku mau tidur jangan berbicara terus! "
Arresha tidak berniat untuk menjawab lagi, dia ingin memejamkan kembali matanya tapi rasanya malah matanya tidak bisa tepejam sama sekali.
Jofan langsung merasa nyaman ketika punggung lebarnya dengan sempurna terlentang di ranjang rumah sakit itu, sebenarnya dia juga sangat lelah karena sehari kemarin dia benar-benar sibuk. Jofan perlahan memejamkan matanya. Tapi dia tak bisa tidur, bahkan matanya tidak mau terpejam sekarang.
Krikkk
Kriiikkkk
Krriiiiikkkkkk..............
" Arresha? "
" Hmmm? "
" Kau belum tidur? "
" Hmmmm "
Jofan kembali diam, dia bingung mau bertanya apa lagi. Kenapa dia jadi tidak bisa tidur sih?!
Kriikkk
Kriikkk
Kriiikkkkkk...........
" Jofan? "
" Hmmmm "
Kriikkk
Kriikkkkkk.......
" Jofan? "
" Hmmmmm "
" Kau belum tidur? "
" Hmmmm "
" Katanya kau lelah? "
" Hmmmm "
Plakk...
Arresha memukul bahu Jofan karena terus menjawab 'Hmmm hmmm' .
" Aduhhhh, kenapa kau malah memukulku sih? "
" Aku bertanya kau malah hmmm hmmm hmmm terus! "
" Katanya kau tadi menyuruhku tidur! "
" Hmmm. Ya sudah tidurlah! " jawab Arresha lalu berbalik badan memunggungi Jofan.
" Oya Arresha, kau kan belum cerita, bagaimana kau bisa bertemu pria itu? " tanya Jofan yang penasaran.
" Aku melihatnya di belakang halte, saat aku mendekatinya dia malah hampir jatuh dan aku tak sengaja melihat orang-orang berbaju hitam, aku takut jadi aku bersembunyi bersamanya, " membalikkan badannya menghdap Jofan.
" Aku juga dengar orang-orang itu mengatakan kalau mereka akan membunuhnya, aku sangat takut, aku takut tertangkap dan di bunuh juga, " kata Arresha yang mencoba mengingat kejadian semalam, saat mengingatnya Arresha malah bergidik ngeri.
" Sssttt....jangan takut aku kan sudah disini, kau tenang saja, pasti kau aman, " ucap Jofan
" Padahal kalau kau tidak mengangkat telfonku semalam aku bersumpah akan memukul kepalamu, "
" Kan aku datang, berarti aku harus dapat hadiah dong! " ucap Jofan menggoda Arresha.
" Oohhh.. Jadi kau tidak ikhlas menolongku? "
" Ikhlas lah, tapikan di dunia ini tidak ada yang gratis Arresha, " kata Jofan yang langsung tersenyum penuh misteri membuat Arresha mengerutkan keningnya.
" Ya sudah besok aku traktir sushi dan kimchi sampai kau puas, "
" Uangku banyak Arresha, aku bahkan bisa membeli restorannya itu kalau aku mau, " jawab Jofan mengedipkan sebelah matanya.
" Terus? "
" Aku mau kau menemani dan melayani aku seharian penuh sampai tengah malam, bagaimana? "
" Tapikan aku bekerja berarti tidak bisa dong, "
" Aku yang akan bilang pada Theo, kau tenang saja aku yang mengaturnya, kau hanya tinggal menepati janjimu, oke?! " kata Jofan, masalah Arresha yang bekerja bukanlah masalah yang berarti baginya.
" Ya sudah! " jawab Arresha cuek.
" Ya sudah apanya?! "
" Ya sudah kau atur saja, aku mau tidur, kau geseran sedikit dong aku sempit!! " kata Arresha, benar saja tadinya mereka berada dalam jarak yang aman mengapa sekarang bahkan kulit mereka bersentuhan tanpa pembatas sama sekali.
Cupppp....
Arresha terbelalak kaget saat Jofan malah mencuri sebuah ciuman dari bibirnya. Tidak lama hanya sebuah ciuman singkat, namun membuatnya benar-benar terkejut dengan ulah Jofan.
" Kk..kau menciumku!!! " ucap Arresha setelah sekian detik baru tersadar dan kembali ke dunia.
Duggghhhh!!!!!!!!!
Arresha langsung menendang Jofan sampai terjatuh dari atas ranjang, membuat Jofan mengaduh sambil memegangi pantatnya yang sakit.
" Kenapa kau menendangku sih?! Sakit tau, kau pikir ranjangnya tidak tinggi?! " kata Jofan.
" Kau menciumku! Salahkan bibirmu jangan kakiku!!! "
" Astaga Arresha.. Kan itu hadiah untukku..sudahlah geser aku mau tidur, punggungku rasanya mau patah! " jawab Jofan lalu memaksa Arresha menggeser badannya agar dia bisa tidur kembali.
Akhirnya mereka tidur setelah perdebatan singkat akibat insiden Jofan yang mencium Arresha.
.............................................
Jam menunjukkan pukul sembilan pagi ketika dokter dan perawat masuk ke ruang rawat Arresha.
Saat masuk mereka malah kikuk dan senyum-senyum sendiri melihat pemandangan di depannya. Arresha dan Jofan tanpa sadar tidur saling berpelukan satu sama lain, bahkan ketika dokter memberikan salam mereka sama sekali tak terusik dari tidurnya.
" Lebih baik kita kembali nanti saja, dunia ini memang milik mereka saja, kita hanya mengontrak!!! " kata sang dokter membuat si perawat tertawa mendengarnya.
" Astaga, saya tidak habis pikir dengan anak muda jaman sekarang, bahkan di rumah sakit saja mereka masih sempat-sempatnya bermesraan seperti itu, " imbuh sang dokter lagi.
Mendengar suara samar-samar akhirnya membuat Arresha membuka matanya, dia sebenarnya ingin bangun dari tadi tapi dia merasa ada yang memeluknya erat, sangat nyaman jadi dia melanjutkan saja tidurnya lagi.
" Aaaaaa......... " Arresha berteriak kencang hingga membuat Jofan langsung tersentak kaget, langsung terduduk, nyawanya masih belum terkumpul semua.
Sang dokter dan perawat yang tadi berniat keluar dari kamar rawat Arresha pun kaget, dan mereka langsung kembali.
" Kau ini apa-apaan sih?! Kenapa berteriak seperti itu?! " tanya Jofan. Dia memegang kepalanya yang pusing karena terkejut dan langsung bangun tadi.
" Kenapa kau memelukku?! Aku beri hati kau malah minta jantung!! Dasar pria mesum!! " ucap Arresha kesal.
" Aku tidak memelukmu, kau yang memelukku duluan. Lagian mana ku tahu?! Aku kan tidur! " jawab Jofan.
" Astaga... kalian berdua saling berpelukan sangat erat, bahkan aku bangunkan saja kalian malah semakim erat berpelukan! " kata sang dokter setelah kembali mendekat.
" Do...dokter?! " seru Arresha dan Jofan kompak.
" Iya saya dokter, kalian pikir saya apa?! Tukang sampah?! " jawab sang dokter senyum-senyum sendiri.
" Do..dokter sedang apa disini?! " tanya Jofan.
" Astaga apa kalian masih bermimpi atau bagaimana?! Ini sudah jam 9, jadwal saya melalukan visit pagi, "
" Baiklah karena sekarang kalian sudah bangun, bisakah saya memulai pemeriksaannya? Kalau kondisinya sudah benar-benar membaik maka anda bisa pulang siang ini Nona, " imbuh sang dokter lagi.
Dokter pun akhirnya mulai memeriksa Arresha, setelah di nyatakan kondisinya sudah cukup baik akhirnya Arresha bisa kembali melakukan aktifitas seperti biasanya.
..........................................
Hal pertama yang ingin Arresha lakukan setelah keluar adalah melihat lagi kondisi pria yang dia tolong semalam. Walaupun Jofan mengatakan dia selamat tapi dia ingin memastikannya sendiri.
Arresha dan Jofan berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangan ICU tempat dimana pria itu masih di rawat.
Namun saat mereka hampir sampai, Arresha dan Jofan melihat dokter dan juga perawat keluar dari ruang ICU mendorong ranjang rawat milik pria itu. Seorang wanita dan pria berjalan di belakangnya, di ikuti beberapa pengawal yang mengawal langkah mereka.
Arresha mencoba mendekat, namun salah seorang pengawal itu menghadang jalannya.
" Maaf Nona, apa yang anda lakukan?! " tanya pria itu waspada, menatap penuh curiga pada Jofan dan Arresha.
" Maaf Tuan, kami yang membawanya ke rumah sakit semalam. Kalau boleh tau Tuan itu akan di bawa kemana?! " jawab Arresha.
" Tuan kami akan di bawa ke rumah sakit pribadi miliknya. Oh ya, Nona Lissa dan Tuan Erros menitipkan ini untuk anda, terima kasih karena sudah menyelamatkan Tuan kami, " ucap pria itu menyerahkan sebuah amplop tebal kepada Arresha dan langsung berlalu begitu saja tanpa menunggu reaksi ataupun jawaban dari Arresha.
Arresha masih terdiam melihat amplop di tangannya, saat ingin bertanya lagi pria itu sudah pergi, dia ingin mengejar dan mengembalikan amplop itu namun Jofan mencegahnya.
" Ternyata dia bukan orang sembarangan Arresha, sudahlah tidak usah mengejarnya! " ucap Jofan memegang lengan Arresha.
" Kau dengar tadi siapa nama Tuan yang dia sebutkan?! " tanya Arresha memastikan, takut dia salah dengar.
" Tuan Erros dan Nona Lissa? Ada apa memangnya? Kau mengenal mereka? "
" Mungkin orang yang berbeda. Ya sudahlah biarkan saja. Oh ya, amplop. Ini apa isinya ya? " kata Arresha melihat kembali amplop yang pria itu berikan.
"Coba bukalah! " kata Jofan yang penasaran. Arresha membuka amplop itu dia juga penasaran.
" Uang?! " kata Arresha dan Jofan kompak, mata mereka membulat sempurna saat melihat isi dari amplop itu.
Tiga bundel uang dollar dengan pecahan 100 dollar?! Mereka bahkan tidak bisa memperkirakan jumlahnya jika di konversikan dalam mata uang won.
" Banyak sekali uangnya?! " kata Jofan.
" Apa dia salah memberikan amplopnya?! " tanya Arresha, dia tidak bisa menutupi keterkejutannya.
" Mana mungkin salah? Jelas-jelas dia bilang itu titipan dari Tuannya, anggap saja itu keberuntunganmu karena sudah membantu orang kaya Arresha, " ucap Sehun.
" Tapi aku menolongnya ikhlas, " ucap Arresha.
" Anggap saja itu keberuntunganmu Arresha "
" Tapi uang ini terlalu banyak! "
" Kau bisa membeli rumah yang nyaman dengan uang itu Arresha! "
" Aku akan menyimpannya saja, kalau benar-benar membutuhkan aku akan memakainya, " kata Arresha, dia memasukkan uang itu ke dalam tasnya.
" Ya sudah, kau bekerja bukan? Aku akan mengantarmu ke rumah dulu dan menunggumu bersiap-siap setelah itu kita ke caffe," ucap Jofan.
Saat ini Jofan dan Arresha berada di dalam perjalanan menuju rumah Arresha. Berulang kali Arresha melihat ponsel miliknya, mengecek apakah ada telfon atau pesan dari Erros. Tapi nihil, bahkan Erros tidak mengirim pesan lagi kepadanya setelah kemarin siang mereka saling bertukar kabar lewat telfon.
Apa Erros sebegitu sibuknya sampai tidak mengirimiku pesan sama sekali. Dia yang sekarang terlihat berbeda dengan dia yang dulu selalu ada, atau mungkin hanya perasaanku saja, batin Arresha.
Arresha sangat ingin menelfon Erros sekarang ini, tapi di urungkannya karena dia takut mengganggu Erros yang mungkin saja sedang bekerja. Padahal dia sangat ingin tahu kabarnya ataupun mendengar suaranya saja sudah cukup dan membuatnya tenang.
Setelah sekali lagi mengecek ponselnya Arresha memutuskan untuk memasukkan kembali ke dalam tasnya. Arresha ingin mengalihkan perhatiaanya saat ini, tapi tiba-tiba dia teringat ucapan pria yang memberikan amplop padanya tadi.
Nona Lissa dan Tuan Erros?! batin Arresha
Mungkinkah itu Erros yang sama ? Dia tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria yang mereka sebut sebagai Tuan Erros karena terhalang tubuh para pengawal yang mengawal langkah Tuan mereka.
Dia hanya melihat ketika beberapa perawat dan dokter melangkah keluar mendorong ranjang rawat itu, di ikuti seorang wanita yang memegang lengan si pria, dan beberapa pengawal di depan dan belakangnya seolah memandu jalan dan menjaga keamanan Tuannya dari segala ancaman bahaya yang mungkin saja bisa terjadi.
" Arresha? Kau memikirkan apa? " tanya Jofan, rupanya sedari tadi dia memperhatikan Arresha yang hanya diam dan berulang kali melihat ponselnya.
" Tidak ada. Oh ya, apa kau tidak ada pekerjaan hari ini? " tanya Arresha menatap Jofan yang sedang fokus mengemudi.
" Sebenarnya aku hari ini ada jadwal latihan lagi untuk lagu yang baru, tapi aku ingin mengantarmu dulu, aku masih khawatir padamu, " kata Jofan
" Aku sudah tidak apa-apa, kau tak usah khawatir, nanti aku berangkat sendiri saja ya ke caffe, kau bisa langsung pulang dan berangkat latihan, " jawab Arresha. Dia merasa tidak enak karena sudah terlalu merepotkan Jofan. Padahal Jofan adalah orang yang sangat sibuk dengan segudang jadwal setiap harinya.
" Aku tidak akan bisa tenang kalau tidak memastikannya sendiri, nanti malam aku juga akan menjemput dan mengantarmu pulang!! " ucap Jofan tak ingin di bantah.
" Jangan menjawab dan jangan cerewet!!! " kata Jofan lagi membuat Arresha menghela nafas.
" Cih, kau seperti pacarku saja! " ucap Arresha terkekeh.
" Aku bisa menjadi pacarmu kalau kau mau, bagaimana? " tanya Jofan langsung membuat Arresha menolehkan kepala ke arahnya.
" Kalau orang lain yang kau tanya seperti ini pasti mereka akan mengira kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu! " jawab Arresha tersenyum.
" Jadi?! "
" Jadi 2000 dapat 3 ya bang. Sambalnya yang banyak, " jawab Arresha tertawa membuat Jofan tertawa kecut mendengarnya. Padahal dia bersungguh-sungguh ketika mengatakan ingin menjadi kekasih Arresha.