Being The Second

Being The Second
Episode 38 - Pusara Ny. Maria



Mengapa Erros membawanya ke pemakaman? Dan ke makam siapa? pikir Arresha bingung.


" Ayo Arresha?!" Erris mengulurkan tangan kanannya, sementara tangannya yang lain memegang se-baquet bunga lily putih yang entah dari mana asalnya pun Arresha tak tahu, mungkin karena tadi dia terlalu fokus dengan jalanan yang ia lalui.


Erris menuntun langkah Arresha melewati deretan makam yang tertata sangat rapi dengan nisan yang terbuat dari batu marmer berwarna hitam. Paving block yang di tapaki Arresha di sisi kanan kirinya sengaja di tanami berbagai jenis bunga berwarna-warni serta coklatnya tanah yang tertutupi oleh hijaunya rerumputan membuat tempat pemakaman itu menjadi sejuk di pandang mata.


Pemandangannya yang indah di lereng perbukitan, dengan banyaknya pohon-pohon besar khas pegunungan benar-benar membuatnya tak terlihat seperti makam pada umumnya.


" Hati-hati!" Erris membelokkan langkahnya menuntun Arresha menaiki beberapa anak tangga menuju sebuah makam yang terletak di area atas.


Makam itu terpisah dari makam-makam lain yang berada di area bawah, terletak di bagian atas bukit dengan bentuk makam yang terlihat seperti gundukan tanah yang membundar dan di pagari oleh batu marmer berwarna putih. Terdapat beberapa makam di bagian atas bukit itu, dan seluruh makam itu di batasi oleh blok-blok yang terbuat dari marmer putih pula dengan bentuk yang hampir serupa.


Nuansa sejuk langsung menyambut Arresha dan Erris begitu mereka menapakkan kakinya melewati dinding pembatas makam itu. Mungkin karena adanya sebuah pohon kamboja yang cukup besar di samping area makam itu, di tambah beberapa bunga yang sengaja di tanam dengan indah di sana yang membuatnya terlihat lebih teduh dan sejuk.


Maria Smith Aether


Kening Arresha kembali berkerut saat melihat sebuah batu nisan yang terbuat dari marmer berwarna hitam dengan gurat ke emasan, serta foto yang di tanam di bagian atasnya. Seorang wanita yang sangat cantik dan terlihat begitu anggun, sorot matanya nampak sendu dan senyumnya terlihat begitu teduh. Aura ke ibuan terpancar langsung dari sorot mata serta senyumannya itu.


Apakah itu mendiang ibu Erros? batin Arresha menerka-nerka.


Erris melepaskan genggamannya, kemudian membungkuk meletakkan baquet bunga lily tadi dengan lembut. Arresha hanya diam, bergeming menatap wajah Erris yang berubah sendu semenjak memasuki area makam itu.


Bagaimana kabarmu Ma? Apa kau bahagia disana? Apa kau tak pernah merindukanku hingga kau tak ingin menemuiku walau dalam mimpiku? Ma.. Apa kau tahu mimpi itu masih saja menghantuiku, membuatku begitu ketakutan. Aku sangat merindukanmu Ma. batin Erris matanya menatap lurus pada foto ibunya yang bagitu ayu.


Mimpi buruk itu masih saja menghantuinya, bayangan ketika ibunya yang di tembak tepat di depan matanya, tubuh ibunya yang ambruk bersimbah darah, hingga mata ibunya yang mulai menutup untuk selamanya selalu saja menghantuinya.


Erris kecil yang saat itu baru berusia 12 tahun bersembunyi dalam kabin mobil area depan yang terjepit ketika kejadian naas yang merenggut nyawa ibu kandungnya itu. Mungkin para penjahat laknat itu mengira dirinya sudah mati mengenaskan terjepit badan mobil hingga mereka mengabaikannya begitu saja.


Erris menghela nafasnya dalam-dalam, menetralkan perasaan haru selalu saja merayapi hatinya ketika mengunjungi makam ibunya. Perasaan takut, sedih, kehilangan, serta kerinduan yang seakan melenyapkan seluruh keberaniannya. Hampir setiap bulan ia tak pernah absen dan selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi makam ibunya itu.


" Aku mengajaknya kesini Ma, kau pasti ingin melihatnya." ucap Erris lembut kembali menggenggam tangan Arresha, mengangsurkannya mendekat.


Setiap datang mengunjungi makam ibunya, Erris selalu menceritakan segala perasaannya, segalanya yang terjadi dan segala keluh kesahnya layaknya anak kecil yang bercerita betapa beratnya hari yang dia lalui di pangkuan ibunya.


" Erros?" tanya Arresha dengan nada hati-hati, banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya, namun hanya kata itulah yang mampu ia ucapkan dari bibirnya.


" Dia ibuku. Sangat cantik bukan?" jawab Erris singkat.


Arresha tertegun, dia tak menjawab atapun bertanya lagi, tetapi ekspresinya menunjukkan bahwa kata-kata Erris benar adanya.


Beliau memang sangat cantik, batin Arresha yang kembali memperhatikan lekat-lekat foto mendiang ibu Erros dan juga Erris itu.


Bentuk wajahnya memang tak terlalu mirip dengan Erros, mungkin karena perpaduan antara ibunya dan juga ayahnya. Namun bentuk hidungnya yang mancung dan bibirnya yang sedikit berisi benar-benar menurun sempurna dari genetik ibunya. Selain itu senyumnya-pun benar-benar sangat mirip dengan Erros.


" Beliau sangat cantik. Sangat mirip denganmu" simpul Arresha jujur tanpa bisa menyembunyikan kekagumannya yang tergambar jelas dari ekspresinya yang berbinar ketika menatap foto mendiang Nyonya Maria.


" Dia adalah wanita paling cantik nomor satu di hidupku." terang Erris tanpa menyembunyikan nada pongah dalam nada bicaranya. " Kau tahu siapa yang nomor dua?" imbuhnya lagi menyunggingkan seulas senyuman di wajahya yang tampan.


Arresha tak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya perlahan karena terlalu fokus memperhatikan foto Nonya Maria.


" Nomor duanya itu gadis cantik yang sekarang berdiri di sampingku." goda Erris membuat Arresha langsung menolehkan kepala ke arahnya.


" Gombal!!!" seru Arresha terkekeh. " Ibu, lihatlah putramu ini sangat pandai menggombal!" imbuhnya lagi seolah mengadu ngerecutkan bibirnya yang ranum, membuat Erris juga terkekeh karenanya.


Ucapan spontan yang keluar dari mulut Arresha itu berhasil membuat hati Erris yang selalu merasa berat nan sedih ketika mengunjungi makam ibunya menjadi berubah, untuk pertama kalinya ia tersenyum di depan pusara ibunya itu dan itu hanyalah dari sebuah kata-kata candaan yang keluar dari mulut Arresha.


" Asal kau tau, aku menggombal seperti ini hanya kepadamu saja!" ucap Erris terkekeh.


" Jelas saja, yang di sini hanya ada aku memangnya siapa lagi yang mau kau gombali? Hantu?!" cibir Arresha.


" Ahh Ma, lihatlah! Calon menantumu ini sangat menggemaskan bukan?!" canda Erris merasa gemas melihat tawa Arresha.


Senyum di wajah cantik Arresha perlahan memudar saat mendengar kata calon menantu yang keluar dari mulut Erris. Entah mengapa dia merasa tak nyaman mendengarnya. Ada segeluntung perasaan bersalah yang kini menggelayuti hatinya, seolah mengikat kencang tanpa bisa untuk di longgarkan sedikitpun.


Benarkah ini?! Apakah seperti ini rasanya menjadi seorang wanita yang merebut kebahagiaan wanita lain. Selalu di dera rasa bersalah yang mengganjal hatinya, dan bayangan kebahagiaan yang nyatanya semu itulah yang akhirnya terus menghantuinya.


Ibu, aku memang tak mengenalmu tetapi aku tahu kau adalah wanita yang baik. Ibu... aku sangat mencintai putramu, tapi jika memang dia bukan di takdirkan untukku bantu aku merelakannya. batin Arresha matanya berubah sayu ketika menatap foto mendiang Nyonya Maria.


.....................


Mengetahui kekasih Arresha ternyata adalah seorang CEO dari ACG membuat Jofan merasa kalah sebelum berperang. Pria muda, kaya raya, dengan ketampanan di atas rata-rata, wanita mana yang tak jatuh cinta kepadanya.


Apalah aku jika di bandingkan dengannya?!, batin Jofan tertunduk lesu.


Kenapa ia sama sekali tak mengenalinya, padahal wajahnya-pun sering muncul di televisi. Sering mengisi berbagai acara talk show ataupun berita bisnis yang di siarkan baik di televisi, maupun surat kabar serta majalah bisnis.


Apakah ternyata Arresha sama dengan gadis-gadis yang lain? Yang mengukur seseorang berdasarkan materinya kemudian dengan suka rela memberikan hatinya? Bahkan Arresha rela menunggunya bertahun-tahun, wanita gila manakah yang akan melepaskan begitu saja ikan besar dari jaringnya. pikir Jofan berperang dengan hatinya.


Otak Jofan serasa berputar-putar tak tentu arah. seribu pertanyaan yang terlintas di benaknya sama sekali tak ia temukan jawabannya. Karena Arresha yang di kenalnya selama ini bukanlah tipe wanita seperti yang ada dalam benaknya saat ini.


Bahkan selama mengenalnya, Arresha tak pernah meminta hal apapun darinya selain di temani di saat dia merasa benar-benar kesepian dan membutuhkan sandaran. Bahkan saat masa-masa tersulitnya yang kekurangan uang dengan senang hati Jofan berniat membantu masalah keuangannya itu, tetapi Arresha selalu saja menolaknya.


Terangnya matahari telah berganti dengan gelapnya malam, nampaknya sang bulan enggan menampakkan keindahannya dan memilih bersembunyi di balik gumpalan awan yang berwarna hitam.


Saat ini Jofan berada di dalam mobilnya, memarkirkan mobilnya di pinggir jalan dan menunggu berjam-jam,seperti orang yang tak memiliki kesibukan sama sekali.


" Hallo, Arresha kau dimana?" Jofan menyandarkan punggungnya pada sandaran jok mobilnya, setelah kembali dari caffe dan sampai di drome-nya Jofan benar-benar merasa gelisah memikirkan nasib cintanya.


" Aku di jalan, ada apa?" terdengar shara Arresha menyahuti di seberang telefon.


" Kau pulang atau tidak?" tanya Jofan ragu.


" Iya aku pulang, ada apa?"


" Tidak apa, aku hanya bertanya saja." Jofan menghembuskan nafasnya lega mengetahui Arresha pulang kembali ke rumahnya. " Baiklah aku tutup ya telfonnya." salam Jofan sebelum mematikan sambungan telefonnya.


.....................


" Siapa?" tanya Erris. Samar-samar ia mendengar suara pria yang berbicara dengan Arresha di seberang telefon, membuatnya begitu penasaran.


Saat ini mereka tengah berada dalam perjalanan pulang, berulang kali ia mencoba membujuk Arresha agar mau menginap di mansionnya, tapi gadis itu bersikukuh ingin pulang saja.


" Yang waktu itu ingin kau cincang hidup-hidup." jawab Arresha tersenyum, membuat kening Erris berkerut dalam.


Yang waktu itu ingin kau cincang hidup-hidup? batin Erris bingung, dan tentu saja ia tak mengerti maksud Arresha karena dia bukanlah Erros.


Ada masalah apa hingga Erros ingin mencincangnya? Apakah Erros serius ingin mencincangnya ataukah hanya gurauan yang tak berarti. pikirnya lagi.


Erris hanya tersenyum, tak mungkin dia bertanya kepada Arresha. Tangan Erris bergerak menyentuh helaian rambut di pelipis Arresha, menyelipkan sulurnya ke belakang telinga dengan lembut.


" Setelah pulang nanti, kau harus beristirahat. Jangan tidur terlalu malam karena itu tidak baik untuk kesehatanmu!" ucapnya seperti memberikan sebuah wejangan pada anak kecil.


Arresha menganggukkan kepala, matanya mengawasi Erris yang kini tersenyum lembut kepadanya dan keningnya kembali berkerut.


Entah apa yang salah, mengapa terasa berbeda...tetapi nampaknya Erros terasa berbeda dari biasanya. Entah itu senyumannya, atau nada bicaranya, ataukah tatapan matanya. Mengapa terasa berbeda? pikir Arresha bingung.


Arresha mencoba untuk mempelajari lelaki itu, namun tak di temukannya jawaban apa yang membuatnya merasa berbeda dari Erros yang biasanya.


Mungkinkah itu hanya perasaan tak nyaman karena beban rasa bersalahku pada Nona Lissa? Karena bayangan Nona Lissa dan Erros yang bersama hingga membuatnya terasa berbeda, batinya lagi.


Setelah menempuh perjalanan cukup jauh akhirnya mobil Erris-pun sampai di depan rumah kontrakan milik Arresha. Namun Erris belum melepaskan pertautan tangannya dari jemari Arresha, seolah tak mengizinkan gadis itu melangkah keluar dari dalam mobilnya.


" Ehmmm... Aku turun ya..." Arresha melirik tangannya yang masih di genggam Erris dengan erat.


Menyadari tatapan mata Arresha yang mengarah pada tangannya membuat Erris reflek melepaskan genggamannya, kemudian dengan cepat menarik tangannya, menjauhkannya dari tangan mungil Arresha.


Ehhmmmm...... Erris berdehem guna menetralisirkan perasaannya yang menjadi canggung.


" Oh...ya." Erris bergumam perlahan.


Supir Erris bergerak cepat setelah mobil itu beehenti, dengan cekatan dia turun dari dalam mobil. Memutar langkahnya menuju pintu mobil bagian belakang tempat Arresha duduk di dalamnya. Setelah mobil itu terbuka Arresha beranjak dari duduknya kemudian melangkah keluar dari dalam mobil itu.


...Arresha...



...Jofan...