Being The Second

Being The Second
Episode 39 - Satu Hari



Malam menjelang pagi ketika Lissa masih saja terjaga dan tak bisa menutup matanya sama sekali, dia tak bisa mengistirahatkan tubuhnya yang sesungguhnya terasa sangat lelah dan menagih jam istirahatnya. Matanya terasa panas pegal karena terlalu lama menangis, bahkan air matanya tak ingin berhenti mengalir terus saja menyiksanya.


Empat jam lagi Erros akan datang menjemputnya, lalu menghabiskan waktu satu hari penuh bersamanya. Setelah nanti dia menghabiskan waktunya bersama Erros, semuanya benar-benar akan berakhir. Dan dia harus merelakan Erros bersama gadis itu.


Perasaannya bergejolak sepanjang malam, bukan karena terlalu bahagia karena ia akan menghabiskan waktunya bersama Erros. Bukan juga bahagia karena ternyata Erros masih memikirkan perasaannya dan mengabulkan permintaannya.


Rasa sakit, pedih, perih, terkhianati dan segala macam perasaan menyesakkan lainnya seakan merayapi dari dada kemudian berkumpul menjadi satu di tenggorokannya, mencekiknya disana dan memaksa Lissa menghela nafasnya berkali-kali untuk menenangkan diri.


Jika bisa Lissa malah tak ingin waktu berlalu, biar saja dia di gantungkan dalam sebuah hubungan yang tak jelas dari pada harus menghadapi keyataannya untuk berpisah dengan Erros, pria yang hampir seumur hidup dia cintai itu.


" Aku memang baru tahu ternyata patah hati sesakit ini, tapi tak apa. Mungkin ini hanya sebuah rasa nyeri yang lambat laun akan menghilang dengan sendirinya." Senyum ironis yang malah terlihat begitu menyedihkan terulas di bibirnya yang nampak pucat. Tangannya terulur menghapus buliran air mata yang masih saja membasahi pipinya yang mulus.


.................



...


Erros berdiri di depan wastafel dalam kamar mandinya, menatap pantulan dirinya di cermin besar itu. Handuk putih besar masih melilit dengan kencang di pinggangnya, sementara sebelah tangannya bertumpu pada piringan wastafel itu.


Ekspresinya suram matanya menyala oleh amarahnya pada dirinya sendiri, gerahamnya mengetat sementara tangannya mengepal kencang hingga membuat ujung jarinya memutih.


" Adakah yang lebih jahat dan lebih kejam dari diriku?! Adakah yang lebih brengsek dari diriku?!" Erros mendesiskan amarahnya.


Sekali lagi Erros membasuh wajahnya dengan kucuran air dingin yang mengalir di wastafel itu guna mengembalikan keseimbangan diri dan pikirannya. Sedari kemarin dia terus terbayang-bayang senyum di wajah Lissa yang ternyata begitu mengusik hatinya.


Seulas senyum yang menyimpan luka kepedihan di baliknya, matanya yang menyala redup menatapnya. Dan wajahnya-pun yang terlihat sedikit pucat, tak seperti biasanya yang selalu cantik sekaligus anggun dengan rona yang menghiasi.


Maafkan aku Lissa, gumam Erros yang menyadari betapa dia telah menyakiti hati Lissa dengan parah. Demi ke egoisannya sendiri dia menumbalkan perasaan Lissa dan memilih bersama dengan Arresha.


Tak ingin terlalu lama dan membuat Lissa menunggunya akhirnya Erros melangkahkan kakinya menuju walk in closset yang terhubung langsung dengan bathroom-nya. Memilah pakaian apa yang sekiranya cocok di kenakannya untuk hari ini.


Erros memutuskan pilihannya pada kemeja polos berwarna putih yang dia padu-padankan dengan celana jenis khaki berwarna krem. Sepatu sneakers berwarna coklat-pun membalut kakinya dengan sempurna.


Tak lupa pula sebuah jam tangan keluaran Richard Mille seri RM 002 dengan bazel melengkung dan tampilan yang khas berbahankan titanium hitam dengan aksen ornamen terbuat dari emas bertengger di lengan tangannya yang kokoh menyempurnakan kesan maskulin dalam penampilannya kali ini.


Hari ini Erros berniat untuk mengemudikan mobilnya sendiri, dengan bijak ia memutuskan untuk mengendarai mobil sport mewahnya yang hanya memiliki dua kursi penumpang di dalamnya.


Setelah keluar dari area bassement akhirnya mobil sport milik Erros itupun melaju dengan gagahnya menyusuri jalanan ibukota.


..............


Dengan cepat Lissa melangkahkan kakinya setengah berlari menuju pintu utamanya, sejenak dia menarik nafasnya dalam kemudian menghelanya perlahan sebelum membuka pintu itu.


Erros tercenung melihat penampilan Lissa hari ini, berbeda dari biasanya yang selalu mengenakan gaun ataupun dress mewah keluaran brand ternama yang selalu membalut tubuhnya yang indah.


Penampilan Lissa hari ini nampak lebih sederhana dari biasanya, hanya mengenakan celana khaki berwarna hitam dan juga sweater rajut berwarna krem berlengan panjang nampak begitu cantik membalut tubuhnya yang semampai. Serta riasan wajahnya yang natural ternyata berhasil menutupi bekas sembab di matanya menjadi tak terlalu jelas terlihat.


" Masuklah dulu, aku membuatkan sarapan kesukaanmu. Aku tahu kau pasti melewatkan sarapanmu kan?" tanpa menunggu jawaban Erros, Lissa meraih lengan Erros dengan lembut menghelanya masuk ke dalam penthouse-nya.


Erros memandang deretan piring yang berjajar dengan rapi di atas meja makan. Sesuai ucapan Lissa tadi, dia benar-benar memasak semua makanan kesukaannya.


" Kau benar-benar memasak semuanya?" tanya Erros tanpa bisa menyembunyikan senyumannya.


Lissa tersenyum mendengar pertanyaan Erros. " Aku bangun terlalu pagi dan tidak bisa tidur lagi, jadi aku memutuskan untuk memasak semua ini." dustanya. Tidak mungkin Lissa berkata jika ia tak bisa tidur semalam dan terlalu sibuk menangisi dirinya.


Erros menarik kursinya dengan semangat, Lissa menyiapkan piring kemudian mengisinya dengan berbagai menu kesukaan Erros yang di masaknya. " Kau harus makan yang banyak." ucapnya meletakkan piring itu di hadapan Erros.


Melihat besarnya porsi yang di ambilkan Lissa membuat Erros membulatkan matanya tak percaya. " Astaga, ini terlalu banyak. Aku tidak akan kuat menghabiskannya!" protes Erros.


" Kau berjanji akan menuruti aku selama satu hari penuh Tuan Erros!" seru Lissa setengah menuntut membuat Erros terkekeh mendengarnya.


" Baiklah-baiklah, jangan salahkan aku kalau nanti ketika kita kencan aku harus bolak-balik ke toilet karena kekenyangan! Okey?!" Erros meraih sendok dan garpunya kemudian memulai suapan pertamanya.


" Kau tenang saja Tuan Erros, aku akan dengan sabar menunggumu di depan toilet nanti." jawab Lissa tersenyum kemudian menarik kursinya, mengambil piringnya dan memulai sarapannya.


Sesekali Lissa mencuri pandang pada Erros yang kini tengah memakan masakannya dengan lahap, ada kebahagiaan tersendiri saat dia masih bisa melihat dan menikmati ke indahan wajah pria yang di cintainya itu.


Tak apa walaupun satu hari yang indah denganmu, aku akan selalu mengingatnya Erros. batin Lissa terenyuh.



..................


" Sudah lama sekali aku ingin ke Pulau Jeju bersamamu, sebagai orang biasa dan tak ada satupun yang mengenali kita disana." ucap Lissa berbinar. " Bagaimana?"


Erros tak langsung menjawab dan nampak berfikir. " Kalau ke Pulau Jeju berarti kita harus naik pesawat agar mempersingkat perjalanan. Bagaiamana?"


" Naik apapun yang terpenting hari ini kita ke Pulau Jeju." jawab Lissa antusias.


" Baiklah, hari ini kita ke Pulau Jeju." jawab Erros yang langsung membuat Lissa tersenyum bahagia.


Erros menggeser layar digital yang terpasang pada bagian depan kabin mobilnya, dengan menggunakan teknologi headunit yang terkoneksi dengan ponsel pintar miliknya, Erros menelfon Assisten Jo dan menginstrusikan untuk segera menyiapkan pesawat pribadinya.


Setelah mematikan sambungan telfonnya, Erros kemudian melajukan mobilnya menuju bandara.


.....................


Pagi ini Arresha menerima sebuah pesan dari seorang pria yang mengajanknya bertemu di sebuah restaurant yang terletak tak jauh dari kediamannya.


Meskipun awalnya Arresha ingin mengabaikan saja pesan itu, tetapi ketika pria itu mengatakan ingin membicarakan sesuatu yang penting dengannya, yang berhubungan dengan Erros. Akhirnya Arresha mengubah keputusannya, dan memutuskan untuk datang menemui pria misterius itu.


Dan disinilah dia sekarang, berdiri di depan restaurant tempat pria itu membuat janji temu dengannya. Dengan ragu dan segudang rasa penasaran di jiwanya akhirnya Arresha melangkahkan kakinya memasuki restaurant itu.


Arresha memindai seluruh bagian yang ada dalam Soigne Restaurant yang mengusung tema Korean Kontemporer itu. Dengan memperoleh dua bintang michelin tentu saja restaurant itu termasuk ke dalam restaurant kelas atas yang berada di Seoul.


Siapa sebenarnya yang mengirim pesan kepadaku? batin Arresha.


" Arresha." ucap Arresha setelah salah seorang menghampirinya dengan sopan, kemudian mengarahkannya menuju sebuah ruangan yang bertuliskan VIP Room di daun pintunya.


Arvin tengah menikmati secangkir torabican coffe yang masih mengepulkan uap panasnya ketika pintu ruangan itu di ketuk perlahan. Setelah ia mengizinkan tamunya masuk barulah pintu itu di buka dan menampilkan sesosok gadis yang sedari tadi di tunggunya.


Wajahnya datar, matanya menyala dingin menatap gadis itu seolah mengamati dengan cermat kemudian membandingkannya dengan Lissa.


Jika di lihat seperti ini, bahkan gadis ini tak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan Lissa. Penampilannya terlalu sederhana yang di balut pakaian biasa pula, berbeda dengan Lissa yang penampilannya bahkan dari ujung rambut hingga ujung kakinya mengenakan brand kenamaan dunia.


Meskipun wajahnya yang cantik natural itu memang memancarkan auranya tersendiri, dengan kelopak mata yang indah di hiasi oleh bulu mata lentiknya dan matanya yang berbinar seolah menampilkan kehidupan yang indah dalam pancarannya.


Tapi bagi Arvin gadis ini tak sebanding dengan Lissa yang anggun dan berkelas. Gadis di depannya ini lebih terlihat seperti seorang mahasiswi di usia awal 20-an.


Apakah memang selera Erros berubah menjadi gadis abg yang masih ranum seperti ini. pikir Arvin.


" Silahkan duduk Nona..??"


" Arresha." jawab Arresha sungkan.


" Ahh ya.. Silahkan duduk Nona Arresha." sekali lagi Arvin mengulang kalimatnya.


Arresha hanya mengangguk pelan, kemudian menarik sebuah sofa kecil yang terlihat empuk itu. Dengan canggung ia memutuskan duduk di depan pria ini.


Bukankah dia pria yang waktu itu di restaurant? batin Arresha kembali mengingat pria di depannya itu.


" Saya tidak tahu apa makanan yang anda sukai dan yang tidak anda sukai Nona, jadi silahkan anda bisa memesan makanan anda sendiri." ucap Arvin dengan sopan.


Tak mungkin jika dia langsung menghakimi gadis di depannya ini, akan lebih bijaksana jika dia mengajaknya berbicara dengan kepala dingin dan berusaha mendengarkan penjelasannya.


" Tidak perlu Tuan...saya sudah sarapan tadi." tolak Arresha halus, tak ingin membuat pria di depannya ini tersinggung. " Tapi maaf..ada hal apa yang ingin anda bicarakan dengan saya."


Mendengar penolakan Arresha sama sekali tak membuat Arvin merasa tersinggung, toh dia disini bukan untuk menikmati sarapan bersama gadis yang merebut tunangan adiknya itu


" Anda tentu masih mengingatku bukan Nona Arresha?" tanya Arvin sedikit menegapkan punggungnya dari sandaran sofa empuk itu.


" Bukankah anda yang waktu itu di restaurant Tuan?" tanya Arresha dengan nada hati-hati.


" Panggil saja Arvin."