
Tak menjawab Arresha hanya menganggukkan kepalanya, ekspresinya berubah muram saat tanpa sengaja ekor matanya melihat sepasang kekasih yang asyik bercengkeramah di bawah pepohonan rindang sambil menikmati se-muncung es krim di tangannya.
Seolah semesta ini hanya milik mereka saja.
Dulu ia dan Erros sering menghabiskan waktunya hanya untuk hal-hal remeh seperti itu, berkeliling Osaka tanpa arah tujuan, berjalan ke sana kemari dengan kedua tangan yang penuh camilan sambil bersenda gurau yang di penuhi gelak tawa, walau tak jarang pula di akhiri dengan perdebatan kecil yang terasa sangat lucu jika di bayangkan kembali.
Berlarian bersama di bawah rintik hujan yang seakan tak tahu waktu menjatuhkan rintiknya saat mereka tengah asyik berkencan di akhir pekan yang selalu dia tunggu-tunggu.
Setelah puas berkeliling barulah mereka pulang ke rumah membawa sekantong makanan yang di belikan Erros khusus untuk mendiang ayahnya yang telah berbaik hati mengizinkan mereka menghabiskan waktu bersama hingga malam hampir larut.
Bibir Arresha menipis, senyum penuh ironi tergambar jelas di wajahnya, di susul oleh tenggorokannya yang kembali serasa tercekik.
Dia merindukannya, namun dia pula sadar semua itu tak mungkin bisa terulang kembali. Sekarang dia yang harus mengalah, melepaskan Erros yang memang bukan di takdirkan untuknya.
Perubahan ekspresi Arresha tentu tak luput dari pengawasan Jofan yang sedari tadi masih mencuri pandang ke arahnya, mata Jofan mengikuti kemana ekor mata Arresha mengarah saat ini.
Di bawah pohon rindang dengan hamparan rumput yang menghijau di sekitarnya ada sepasang kekasih yang tengah berbahagia bersama, menikmati se-muncung es krim yang di habiskan berdua di iringi gelak tawa yang membuat siapapun yang melihatnya pasti merasa iri akan ke romantisannya.
Tanpa di sadari Arresha, Jofan beranjak dari duduknya melangkah menuju penjual es krim keliling yang tak jauh dari kursi taman yang dia duduki tadi.
" Ini.." Jofan menyodorkan sebungkus es krim rasa coklat tepat di depan mata Arresha, membuat perhatian Arresha langsung mengarah padanya.
Kening Arresha berkerut dalam, namun tak urung dia tetap menerima sebungkus es krim itu.
" Kalau mau es krim bilang saja, aku pasti akan membelikannya untukmu, bahkan dengan gerobaknya kalau kau mau. Jangan terus melihat orang yang makan es krim seperti itu!" cibir Jofan yang seakan mencela Arresha, membuat gadis itu mendengus kesal.
Arresha hanya membuang mukanya, tak ingin menanggapi Jofan kali ini. Dia hanya menjaga dirinya, takut malah akhirnya membuat Jofan menjadi sasaran empuk yang menjadikannya pelampiasan emosinya saat ini.
Tangan Arresha bergerak membuka plastik pembungkus es krim itu, kemudian mulai mengecapnya dalam hening. Menyadari matanya yang mulai berkaca-kaca dengan segera Arresha menundukkan kepalanya, membuat buliran itu langsung terjatuh dengan sendirinya.
" Arresha..." Jofan memberi jeda sejenak pada kalimatnya sebelum kemudian menyambung kembali. " Aku lebih suka melihatmu yang bersikap menantang dan tak mau kalah dari pada seperti ini." ujar Jofan prihatin.
Jofan mendesah kecewa saat Arresha tak kunjung membuka mulutnya. Ia pun memutuskan duduk memunggungi Arresha, menutupi Arresha dari pandangan orang-orang yang melintas di sekitarnya dengan punggungnya yang lebar.
" Menangislah... Aku akan menutupimu dengan punggungku yang lebar ini. Aku jamin tidak akan ada yang melihatmu." ucap Jofan.
" Janji tidak ada yang melihatku?!" ucap Arresha parau.
" Iya aku janji, kalau sampai ada yang melihatnya akan langsung aku hipnotis biar lupa." ujar Jofan dengan kalimat meyakinkan tapi sungguh Arresha tahu itu hanyalah bualan Jofan saja, membuat hatinya sedikit menghangat di tengah kedukaannya.
..............................
°° Jeju Island °°
Lift yang membawa Lissa dan Erros akhirnya berdenting dengan nyaring saat sampai di lantai 17 dan tak menunggu lama lift itu pun langsung terbuka lebar.
Lantai 17 hotel itu benar-benar nampak mewah, karpet tebal berwarna abu muda dan dinding yang di cat dengan warna senada membuatnya terlihat luas sekaligus elegan.
Berbagai lukisan beraliran ekspresionisme nampak menghiasi beberapa sisi dinding lorong hotel mewah itu, membuatnya terkesan hidup dan sukses memberikan warnanya tersendiri.
Setelah sampai tepat di depan kamar hotelnya, Lissa menempelkan cardlock nya pada alat sensor yang terletak di bagian atas gagang pintu. Seketika lampu sensor itupun berhasil men-scan dengan sempurna ketika lampu sensornya berubah warna menjadi hijau.
Lissa segera membuka pintu itu dan melangkahkan kakinya memasuki kamar hotel bertipe president suite yang tadi di pesannya.
" Mandilah dulu." ucap Erros yang mengekor di belakang Lissa. Bajunya pun sama basah kuyupnya seperti Lissa, namun dengan bijaksana Erros menyarankan agar Lissa-lah yang membersihkan dirinya terlebih dahulu.
" Tapi...kau?"
" Aku tidak apa-apa. Kau mandilah dulu, aku ingin menelfon Arresha sebentar, dari tadi dia tidak membalas pesanku." ujar Erros membalikkan tubuhnya kemudian merogoh ponsel yang tersimpan dalam slingbag miliknya.
Lissa hanya bisa menatap punggung Erros yang berjalan menjauh darinya, sesungguhnya ia merasa cemburu karena menyadari betapa Erros memperhatikan gadis itu. Perlahan ia menghela nafasnya yang tiba-tiba memberat itu.
Tak ingin terlalu larut akhirnya Lissa memutuskan untuk segera masuk ke dalam bathroom, membersihkan tubuhnya dengan air hangat yang mengucur deras dari shower.
Uap panas yang menguap membuat dinding kaca dalam bathroom itu menjadi berembun saat kucuran ai itu terus mengalir tanpa henti. Dengan cepat Lissa menyelesaikan mandinya, sadar Erros pun harus segera membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian jika tak ingin sakit.
Lissa melangkah keluar dari dalam bathroom itu menuju kasur hotel berukuran king size room untuk mengambil tasnya tadi dia letakkan di atas kasur itu. Bathrobe dengan panjang mencapai paha bagian atas itu menutupi tubuhnya dengan sempurna.
Setelah berulang kali mencoba menghubungi Arresha dan tak kunjung mendapat jawaban akhirnya Erros mengakhiri panggilannya dan mengistruksikan pada Assisten Jo untuk mencari tahu dimana Arresha saat ini.
Dengan cepat Erros membuka kemeja basah kuyup yang sedari tadi masih membalut tubuhnya, menampilkan tubuhnya yang besar dan di penuhi otot yang nampak sangat kekar membalut tulang-tulangnya yang juga tak kalah kokoh.
Erros melangkah masuk ke dalam kamar utama hotel itu, karena mengira Lissa telah menyelesaikan mandinya, namun langkahnya terpaku saat melihat Lissa berdiri di sebelah ranjang besar itu dan hanya mengenakan sepotong bathrobe tebal berwarna putih.
Keduanya nampak terkejut dengan kehadiran masing-masing yang di luar perkiraannya.
" Ehmmm.... Maaf aku kira kau sudah selesai." ucap Erros yang langsung merasa salah tingkah, wajah canggungnya sangat jelas terlihat.
Ekspresi Lissa tentu tak jauh berbeda dari Erros. " Ak..aku berganti pakaian dulu, setelah selesai aku akan memberitahumu." jawab Lissa segera menyambar baju yang tadi sudah di pilihnya dan dengan langkah cepat segera masuk kembali ke dalam bathroom.
..................
" Duduklah, aku sudah menyiapkan makan malam dan juga secangkir kopi untukmu."
Lissa menyambut Erros yang kini berjalan keluar dari dalam kamar hotel mengenakan celana pendek model boxer dan juga kaos berwarna hitam. Rambutnya yang masih basah terlihat masih acak-acakan, membuat penampilannya terlihat segar dengan aroma maskukin yang langsung menyeruak membagikan partikelnya saat ia keluar dari dalam kamar.
Berbeda dengan Lissa yang memilih mengenakan pakaian serba panjang dan tebal untuk membalut tubuhnya.
Erros mendorong langkahnya mendekat pada Lissa yang kini tengah duduk di sofa dengan meja rendah berlapis kaca yang berada di ruang tengah hotel itu.
" Di luar masih hujan lebat, aku akan menelfon pihak penerbangan untuk menanyakan apakah kita bisa kembali ke Seoul malam ini atau tidak."
Erros menyandarkan punggungnya pada sofa empuk tadi, kakinya sengaja ia luruskan ke bawah karena merasa pegal setelah berjalan seharian bersama Lissa.
" Apa kau baik-baik saja?" Erros bertanya cemas, matanya nampak menelusuri diri Lissa. " Kau terlihat sangat pucat." sambungnya lagi dengan nada khawatir yang begitu kentara.
" Aku baik-baik saja, mungkin hanya masuk angin karena tadi kita kehujanan." Lissa menjawab dengan nada meyakinkan.
Tak merasa percaya begitu saja, Erros merangsek maju, lebih mendekat pada Lissa kemudian mencoba menempelkan tangannya pada kening Lissa.
" Kau demam. Tubuhmu panas sekali." tangan Erros beralih meraba pipi dan juga telapak tangan Lissa yang terasa panas menyengat.
Lissa berusaha mengalihkan Erros dari tubuhnya, senyum manis sengaja dia sunggingkan dari bibirnya yang memang memucat dari warna aslinya, matanya pun nampak sayu seolah benar-benar lelah dan terus memaksa untuk sesegera mungkin dia pejamkan.
" Aku baik-baik saja, nanti setelah makan dan tidur sebentar aku pasti akan sembuh lagi." ucap Lissa dengan nada meyakinkan.
Tingggg... Tongggggg....
Suara bell hotel menggema, membuat perhatian mereka sejenak teralihkan saat suara seorang pelayan Room Service mengucapkan salamnya.
" Duduklah, biar aku yang membukanya." ujar Lissa langsung memaksa tubuhnya berdiri.
Seketika itu juga mata Lissa tampak berkabut dan hampir kehilangan kesadarannya yang perlahan merenghutnya masuk dalam kegelapan.
Melihat tubuh Lissa yang langsung ambruk membuat diri Erros di penuhi kecemasan yang teramat sangat, di cengkramnya tangan Lissa yang terasa langsung menyengat permukaan kulitnya, seakan menyalurkan panas itu ke tubuhnya secara langsung. Di guncangnya tubuh Lissa yang lunglai itu dengan putus asa, mencoba meneriakkan nama perempuan itu agar tetap tersadar.
" Lissa.. Lissa!!!! " teriak Erros.
Sayangnya usahanya itu tiada gunanya, karena suara Erros yang begitu keras menggema di ruangan itu hanya terdengar samar di telinga Lissa yang berdenging sebelum kemudian kegelapan itu benar-benar berhasil merenggut kesadarannya, merangkulnya erat dan menyeretnya hingga ke dasar kegelapan yang paling dalam.