Being The Second

Being The Second
Episode 46 - Pertikaian



" Jangan memancing emosiku. Dimana Arresha?!" ujar Erros kemudian dengan mata menyiratkan peringatan.


Sayangnya Jofan sama sekali tak terusik dengan tatapan tajam Erros yang di hunuskan padanya. Bibirnya menyeringai sebuah senyuman tipis.


" Aku yakin meskipun saat ini Arresha tengah mabuk dia akan tetap menolak untuk ikut bersamamu." desisnya dengan sinis.


Erros membelalakan matanya. " Kau membuatnya mabuk?!" sahutnya dengan nada terkejut.


Selama bersamanya Arresha tak pernah sekalipun minum-minuman beralkohol apalagi sampai mabuk seperti itu. Tapi sekarang Arresha malah mabuk hingga tak sadarkan diri dan tidur dengan tenangnya di rumah pria lain.


Emosi Erros tersulut seketika, dengan cepat tangannya mencekal kerah baju Jofan, tanganya yang sebelah bakhan sudah mengepal, siap untuk memukul Jofan. Membuat Jofan yang tak siap langsung terhuyung maju karena tarikan tangan Erros.


Namun Jofan sama sekali tak merasa gentar, tatapan dingin dan senyum penuh ironis menghiasi bibirnya yang malah membuat Erros merasa terusik karenanya.


" Bukan aku yang membuatnya mabuk. Tapi luka yang kau berikan kepadanya yang membuat Arresha memilih melupakan rasa sakitnya dengan banyak minum hingga mabuk."


Tubuh Erros menegang. " Apa maksudmu?!" tanya Erros tak sabar, semenit lagi pria di depannya ini mempermainkannya dia akan menghajarnya hingga babak belur.


" Tanyakan pada dirimu sendiri." jawab Jofan sambil melemparkan tatapan mata penuh arti. " Apa yang sudah kau perbuat hingga mengubah gadis seceria Arresha menjadi gadis murung penuh kesedihan seperti itu?!"


Erros tertegun, dia tidak menjawab, tetapi ekspresinya menunjukkan bahwa kata-kata Jofan benar adanya.


Dia memang telah menyakiti perasaan Arresha, menghancurkan kepercayaannya dengan kebohongan besar yang di simpannya rapat-rapat. Menganggap Arresha seakan gadis bodoh yang akan percaya begitu saja pada setiap kata yang keluar dari mulutnya.


Dengan kasar Erros menghempaskan tubuh Jofan secara serampangan, lalu merangsek masuk tanpa izin si pemilik rumah dan langsung mencari Arresha ke seluruh penjuru apartemen itu.


Jofan berusaha menghentikan langkah Erros yang hendak mencapai pintu kamarnya, dengan kasar ia mencengkram lengan Erros kemudian memaksanya berbalik.


" Jangan ganggu dia lagi!! Kau hanya bisa membuatnya menangis!!" geram Jofan mendorong tubuh Erros, namun karena tubuh Erros yang berukuran lebih besar dari Jofan membuatnya hanya terhuyung dan mundur beberapa langkah.


Tak terima langkahnya di cekal Erros mengepalkan tangannya kemudian langsung memukul rahang Jofan dengan keras, membuat Jofan terjatuh di lantai, darah segar mengalir dari sudut bibir Jofan yang robek membuat mulutnya terasa anyir dengan rasa berkedut kuat yang mulai terasa nyeri.


Jofan menyeringai, sengaja memiringkan kepalanya.


" Aku tak menyangka, ternyata seperti ini sosok kekasih yang begitu di cintai oleh Arresha dan rela di tunggunya selama bertahun-tahun." sindir Jofan, memberikan senyum terbaiknya yang sungguh terlihat sangat menjengkelkan di mata Erros.


Tangan Jofan meraba sudut bibirnya yang terasa berkedut itu, kemudian ibu jarinya menghapus darah yang merembes keluar dari sudut bibirnya yang pecah.


" Kau tidak dalam kapasitas untuk menilai ataupun mengomentari diriku!" geram Erros.


Erros menahan dirinya sekuat tenaga agar tak memukul ataupun melampiaskan kekesalannya pada pria yang berdiri di depannya itu. Jika saja dari tadi dia tidak sedang menahan emosinya karena tahu Erris dan Arvin ternyata menemui Arresha di belakangnya pasti dia bisa menahan diri dan mencoba berkompromi dengan pria yang di sebut sebagai teman baik Arresha ini.


Setelah cukup menguasai amarahnya Erros kemudian mengulurkan tangannya, membuat Jofan menatapnya heran dengan kening berkerut dalam.


" Maafkan aku, aku sedang emosi dan kau malah memancingku." uluran tangan Erros semakin mendekat di depan Jofan.


Jofan menyipitkan matanya, menatap curiga pada Erros, seolah tak percaya begitu saja pria di depannya itu begitu mudahnya meminta maaf kepadanya.


" Aku tahu kau teman Arresha, dan seharusnya aku berterima kasih karena kau telah menjaganya." Erros menghela nafasnya sebelum berucap kembali. " Maafkan perbuatanku tadi." ucap Erros penuh ketulusan.


Jofan bergeming, di tatapnya Erros dengan dingin.


" Maafkan aku.." sesal Erros, pun dengan tatapan matanya yang mulai melunak. Pertanda dia benar-benar menyesal akan tindakannya.


Jofan mendengus, tak berniat membalas uluran tangan Erros.


" Simpan saja permintaan maafmu itu! Kalau kau benar-benar mencintainya jangan pernah membuatnya menangis lagi atau aku akan merebutnya darimu." jawab Jofan berusaha berdiri dengan kekuatannya sendiri.


Erros terdiam, padahal dia sudah rela merendahkan harga dirinya dan meminta maaf namun pria di depannya itu sama sekali tak membalas uluran tangannya. Tangan Erros yang tadinya terulur sengaja di tariknya perlahan.


Sebagai seorang pria, tentu Erros menyadari pria di depannya itu menyimpan perasaan lain pada Arresha, namun dia memilih diam dan tak memperpanjang masalah itu. Lagipula Arresha yang mengatakannya sendiri jika mereka hanyalah berteman dan tak memiliki hubungan yang lain.


Dan kepercayaannya kepada Arresha-lah yang membuatnya tak memperpanjang masalah itu. Bahkan bertahun-tahun lamanya Arresha tetap menunggunya dan hanya berpegangan pada sebuah tiang bernamakan kepercayaan.


Lantas mengapa kali ini dia tidak bisa melakukan hal yang sama?


Mata Erros melirik pintu kamar yang hanya berjarak beberapa langkah darinya itu. " Bisakah kali ini aku menemui Arresha dan mengajaknya pulang?" tanyanya perlahan.


Jofan tak langsung menjawab, tak mungkin juga dia melarang Erros bertemu dengan Arresha karena sesungguhnya dia belum tahu dengan jelas apa yang membuat Arresha begitu sedih hari ini.


" Dia sudah tidur, apakah kau tega membangunkannya dan mengajaknya pulang di tengah malam seperti ini?" sahut Jofan seolah tak rela. Namun tak melarang, hanya mengingatkan.


Erros berdehem, menyadari ucapan Jofan benar adanya. Tetapi membiarkan Arresha bermalam disini, bersama seorang pria yang memiliki perasaan pada kekasihnya tentu saja membuat Erros merasa tak tenang.


" Aku tak akan membangunkannya, lagi pula katamu dia mabuk dan tak sadarkan diri. Aku akan menggendongnya sampai ke dalam mobilku." jawab Erros.


Jofan hanya bisa terdiam, seolah kehabisan alasan untuk tetap menahan Arresha di apartemennya ini. Tetapi menahan Arresha agar tetap disini bersamanya juga bukanlah sebuah tindakan yang tepat, karena kekasih Arresha sendirilah yang menjemputnya kemari.


" Baiklah.." desahan kecewanya keluar ketika akhirnya Jofan memutuskan untuk mengizinkan Erros membawa Arresha pulang.


" Jaga dia, jangan biarkan dia menangis lagi." sambungnya perlahan sambil melunakkan tatapannya seolah berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


Tak menjawab, Erros hanya menganggukkan kepalanya, kemudian meminta izin untuk membuka pintu kamar itu.


Jofan mengikuti langkah Erros dengan perlahan, menjaga jarak di belakangnya dan matanya menatap awas pada wajah cantik yang masih saja terlelap damai dalam tidurnya.


Lampu kamar apartemen itu remang karena Jofan sengaja mematikan seluruh lampu di kamar itu dan hanya menyisakan satu lampu tidur yang menyala di bagian atas kepala ranjangnya yang berukuran king size itu.


Tak lama akhirnya lampu itu berubah menjadi terang setelah Jofan menyalakan lampu utama kamar.


Erros mengedarkan pandangannya pada kamar apartemen luas yang di dominasi cat berwarna putih serta seluruh perabotannya yang memiliki warna serupa.


Setelah matanya yang tajam berhasil menemukan Arresha, akhirnya langkah kaki Erros mendekat pada ranjang king size nan empuk yang menjadi alas tidur kekasihnya itu, dengan selimut tebal yang membalut tubuhnya hingga bagian dadanya.


Tatapannya tajamnya berubah sayu saat melihat mata Arresha yang terlihat sembab dan bulu mata lentik itu masih terlihat basah di bagian ujungnya. Erros duduk dengan sangat perlahan di samping tubuh Arresha, tangannya bergulir mengelus pipi kekasihnya itu dengan lembut di penuhi perasaannya yang seakan juga merasakan kesakitan Arresha.


" Kita akan pulang... Jangan menangis lagi." bisik Erros lirih sebelum kemudian bergulir mendekat.


Dengan lembut Erros menghadiahkan sebuah kecupan hangat di pucuk kepala Arresha.


Tanpa berkata apapun lagi, Erros langsung membungkuk untuk menyelipkan lengannya yang kokoh pada punggung dan belakang lutut Arresha, membawa tubuh mungil itu ke dalam gendongannya.


Sengaja Erros menghentikan langkahnya tepat di depan Jofan yang hanya bisa diam menatapnya, kedua tangan Jofan sengaja dia selipkan di saku celananya, berusaha bersikap tenang dan menahan dirinya saat melihat Erros membawa Arresha dari ranjangnya.


" Terimakasih telah menjaganya." ujar Erros, menganggukkan kepalanya sejenak sebelum berpamitan meninggalkan apartemen Jofan.


Lama Jofan hanya diam memperhatikan pintu lift yang telah menutup membawa Arresha turun bersama Erros, kekasihnya. Beberapa menit telah berlalu, namun dia masih betah memperhatikan pintu lift itu dalam keheningan.


Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini, mungkinkah perasaan tak rela melihat Erros membawa Arresha? Ataukah perasaan cemburu pada pria yang menjadi kekasih Arresha?


Padahal dia sudah bersusah payah menjaga dan menghibur Arresha seharian ini. Meninggalkan jadwalnya dan juga banyak pekerjaannya hanya demi menjaga Arresha, hingga dia sengaja mematikan ponselnya agar tak ada yang mengganggu waktunya, serta harus menerima omelan dari rekan-rekannya di esok hari karena ketidak hadirannya hari ini.


Dan sekarang saat Arresha telah terlelap Erros malah membawanya pergi begitu saja?!


Hatinya di penuhi ketidak relaan, bukaan hanya karena Erros membawa Arresha pergi setelah susah payah dia menjaga dan menghiburnya. Namun juga ketidak-relaan karena nyatanya pria seperti itulah yang selalu di eluh-eluhkan Arresha, pria seperti itulah yang rela di tunggunya bertahun-tahun


Padahal Jofan ada di sisinya, selalu bersamanya, menjaga dan memperhatikannya setiap saat. Tapi tak sekalipun Arresha melihat ke arahnya sebagai seorang pria yang telah jatuh ke dalam perangkap gadis ceria nan lugu sepertinya.


.....................


...°° Penthouse Erros °°...


Matahari seolah sengaja menyelinapkan pendarnya melalui sela tirai jendela yang tak tertutup sempurna, dan seakan tepat sasaran, cahaya matahari itu menyentuh lembut wajah Arresha. Membuat keningnya berkerut dalam, di ikuti pula oleh matanya yang semakin rapat terpejam menahan silau.


Tak tahan dengan silau yang semakin lama semakin mengganggunya, tubuh Arresha beringsut ke sisi lain ranjang yang sekiranya tak terjamah oleh cahaya matahari yang terasa menyilaukan itu.


Namun Arresha tak bisa menggeserkan tubuhnya sama sekali, karena terhalangi sesuatu yang berat nan hangat yang serasa mendekapnya erat.