Being The Second

Being The Second
Episode 49 - Datang Ke Rumah



Jofan langsung menyambar slingbag-nya dan bergegas pergi menyusul Arresha. Pikirannya tak akan bisa tenang karena membayangkan Arresha di tempat itu seorang diri dan terjebak hujan badai yang biasanya akan mengganas jika di daerah yang berdekatan dengan pantai.


Langkah kaki Jofan semakin melebar saat ia hampir mencapai mobilnya, sementara itu jantungnya semakin berdebar di penuhi kepanikan yang tak terkendali, tanpa ingin membuang-buang waktu lagi ia langsung masuk ke dalam mobil dan mengemudikannya dengan kecepatan penuh.


Semalam dia membiarkan Erros membawa Arresha pergi begitu saja karena dia mengira Arresha tak akan sedih lagi jika bersama kekasihnya itu. Namun ternyata dugaannya salah, Arresha sekarang malah pergi seorang diri ke pantai itu dan parahnya lagi di sana tengah di landa hujan badai.


Lalu kemana Erros sialan itu? Kenapa dia tak menjaga Arresha dan malah membiarkannya oergi seorang diri ke pantai sepertu itu?!


Jika tahu begini akhirnya, dia tak akan membiarkan Arresha di bawa pergi oleh Erros, dia akan menahannya walaupun dia harus beradu otot dengan pria sialan itu.


Mobil Jofan melaju semakin kencang saat adrenalinnya semakin berpacu karena menahan emosi yang berpadu sempurna dengan perasaan cemas yang kini menyelimuti otaknya.


Membuat otaknya hanya memikirkan dia harus segera sampai di pantai Daepohang, karena tak ingin Arresha hanya sendiri di sana.


Hujan lebat yang berjatuhan mulai membasahi mobil Audi RX milik Jofan ketika ia mulai memasuki daerah Sokcho. Di daerah itu memang tengah terjadi hujan lebat di sertai badai, namun Jofan tak memperdulikaknnya karena dia hanya ingin cepat melihat Arresha.


... ..................



Arresha melipat lututnya di tepian dinding beratap kecil di mercusuar itu, kedua tangannya yang nampak gemetaran telah berubah menjadi keriput karena kedinginan dan terlalu lama terkena air itu sengaja di ulurkannya sebagian, menengadahkan telapaknya dan menampung air hujan yang membeludak hingga terus menetes berjatuhan.


Celananya basah karena percikan air hujan, matanya hanya menatap lurus pada telapak tangannya itu dan sesekali dia juga memainkan air hujan di telapaknya itu, berusaha mengusir jenuhnya.


Langit yang tadi menggelap karena tertutupi mendungnya awan hitam kini berubah menjadi gelap pekat karena hari yang mulai berganti malam. Lampu-lampu di sekitar dermaga-pun mulai menyala secara otomatis saat sensornya tak lagi menemukan cahaya menerangi sudut-sudut tempat itu.


Rintik hujan di tangannya yang terhenti membuat kening Arresha berkerut, di tambah dengan sepasang sepatu yang berdiri tepat di depannya.


Dengan cepat Arresha menengadahkan kepalanya, berusaha melihat siapakah sosok yang kini berdiri di depannya itu.


Jofan???


Pria itu berdiri di depannya, menatap Arresha dengan nanar sementara tangannya memegang sebuah payung yang dia gunakan untuk memayungi seluruh tubuh Arresha yang terkena air hujan.


Jofan merelakan tubuhnya sendiri basah kuyup terkena air hujan karena ia menyerongkan payung itu sepenuhnya untuk memayungi tubuh Arresha.


Dan ternyata dugaannya benar, gadis itu di sini seorang diri terjebak di antara hujan badai yang telah berlangsung bejam-jam lamanya.


Arresha berusaha menarik seulas senyum tipis di bibirnya serta menggumamkam nama Jofan. Dia tak menyangka pria itu akan menemukannya disini. Jarak dari Seoul ke Sokcho membutuhkan waktu berjam-jam lamanya dan pria itu rela jauh-jauh ke Sokcho hanya untuk menyusulnya.


Entah mengapa dia merasakan sedikit ketenangan di hatinya saat ia melihat pria itu datang dan berdiri di depannya.


" Kau datang?" tanya Arresha yang masih mempertahankan senyum tipis di bibirnya itu.


" Kenapa kau sendiri disini?" Jofan langsung berlutut, mensejajarkan dirinya dengan Arresha.


" Aku ingin melihat laut tapi aku lupa tidak melihat berita cuaca dulu sebelum kesini."


Tangan Jofan semakin erat meremas pegangan payungnya, hatinya di penuhi kekesalan yang seolah memohon untuk di ledakkan saja. Rahangnya semakin mengetat saat melihat baju yang di kenakan Arresha hampir basah kuyup terkena air hujan.


Gadis itu pasti menggigil kedinginan, bibirnya yang biasanya ranum pun kini nampak membiru dan sedikit bergetar di sertai dengan wajahnya yang mulai memucat. Dengan sigap ia melepaskan jaket tebal yang dia pakai lalu mengenakannya pada tubuh Arresha.


Tatapan Arresha terpaku pada wajah Jofan yang begitu dekat dengannya.


" Kau sudah melihat laut dari tadi, sekarang kita harus kembali dan mencari penginapan terdekat." ajak Jofan, menarik lengan Arresha dengan lembut, kemudian tangannya menyugar anak rambut Arresha yang nampak berantakan lalu menyelipkan sulurnya di belakang telinga Arresha.


Tak menjawab Arresha hanya mengganggukkan kepalanya perlahan, sementara itu matanya masih saja terpaku menatap wajah tampan sahabat baiknya itu.


" Jofan....." ucap Arresha lirih yang membuat gerakan Jofan langsung terhenti, pria itu menolehkan kepalanya serta memusatkan perhatian dan indera pendengarannya pada Arresha.


" Terimakasih." ucap Arresha tulus kemudian langsung merangsek masuk ke dalam dada bidang Jofan lalu melingkarkan lengannya pada punggung sahabatnya itu.


Jofan hanya terdiam, tak menyangka Arresha akan memeluknya. Hatinya yang tadi di penuhi ke khawatiran menjadi lega seketika, seolah tali kencang yang tadi mengikatnya dengan erat langsung terlepas tanpa tersisa satu tautanpun.


Tangan Jofan mengelus pucuk kepala Arresha dengan perlahan. " Aku sudah bilang berkali-kali. Jangan membuatku khawatir, kalau ada apa-apa atau kalau kau mau apa-apa bilang saja padaku. Aku tidak berjanji, tapi akan aku usahakan." ucap Jofan lembut, sementara tangannya yang lain membalas pelukan Arresha, membuat tubuh mungil gadis itu semakin tenggelam dalam dekapannya.


Arresha hanya diam, tak berniat menjawabnya. " Maafkan aku." jawabnya dengan suara bergetar.


Setelah merasa cukup, Arresha lalu mengurai pelukannya dan dengan segera menghapus air matanya.


" Baiklah kita harus mencari hotel, kau harus segera mandi dan berganti pakaian. Kalau terlalu lama kau bisa sakit." ucap Jofan yang menghela langkahnya dan menuntun Arresha, sementara tangannya yang lain memegang kembali payung yang tadi di letakannya secara sembarangan saat Arresha memaksa masuk kedalam pelukannya.


Seperti tadi, Jofan kembali merelakan tubuhnya yang terlanjur basah kuyup demi memayungi tubuh Arresha. Setidaknya fisiknya sudah pasti jauh lebih kuat jika di bandingkan tubuh mungil Arresha yang sudah terkena air hujan berjam-jam lamanya.



..................... ...


...°° Mansion Tuan Louis °°...


Lissa berdiri di belakang jendela besar dalam kamarnya, matanya menatap lurus pada air mancur serta kolam buatan yang terletak di halaman depan dari mansion milik ayahnya. Sementara itu pikirannya melayang jauh memikirkan nasib makhluk mungil yang kini tengah bertumbuh di dalam rahimnya.


Biarlah, dia tak akan menuntut pertanggung jawaban apapun dari Erros. Lissa hanya tak ingin membuat Erros menikahinya karena paksaan, sementara hatinya masih saja dia persembahkan untuk gadis itu.


Bukankah akan lebih menyakitkan jika dia sampai mendengar dari mulut orang lain, jika Erros menikahinya hanya karena merasa kasihan saja.


Suara ketukan pintu yang berulang itu sama sekali tak berhasil menarik Lissa dari lamunannya, wanita itu masih saja berdiri menyandarkan tubuhnya pada bibir jendela. Hingga ketika sebuah usapan lembut di lengannya membuat Lissa terperanjat kaget, karena merasa tak mendengar siapapun mengetuk pintu kamarnya.


Dan ketika melihat sang ayah-lah yang memasuki kamarnya, bibir Lissa pun menyunggingkan senyum tipis.


Tuan Louis memandangi putri semata wayangnya itu dengan seksama, menatap wajah cantik Lissa yang sangat mirip dengan mendiang istrinya terkdang membuatnya menjadi merindukan mendiang istrinya yang kini telah tenang di pangkuan Sang Kuasa.


" Apa yang kau pikirkan hmmm? Papa memanggilmu berulang kali tapi kau sama sekali tak mendengarnya." tanya Tuan Louis mengelus lengan putri kesayangannya itu.


Lissa tak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya perlahan.


" Aku hanya merindukan Papaku yang sangat tampan ini." ucap Lissa memeluk manja tubuh ayahnya yang masih saja tegap dan juga terawat. " Bagaimana kabar Papa?" Lissa memiringkan kepala menatap wajah pria yang menjadi cinta pertamanya itu.


Tuan Louis terkekeh mendapati sikap manja anaknya itu.


" Setelah hampir dua minggu tak pulang ke rumah kau baru menanyakan kabar Papamu ini. Dasar anak nakal!" cibir Tuan Louis.


" Kau bilang Erros akan datang? Tumben sekali, biasanya dia ke rumah hanya jika Papa mengundangnya datang saja?" tanya Tuan Louis yang merasa heran karena tak biasanya calon menantu kebanggannya itu datang ke rumah.


Pertanyaan Tuan Louis membuat senyuman di wajah Lissa langsung menyurut seketika. Dan seolah waktunya sesuai, Pak Mus yang merupakan kepala pelayan di mansion itu mengetuk pintu yang setengah terbuka itu dengan perlahan.


" Tuan, maaf mengganggu. Tuan Erros datang, dan sekarang tengah menunggu di ruang tamu." ujar Pak Mus sopan.


Senyum Tuan Louis langsung melebar, tak menyangka baru saja dia membicarakan calon menantunya itu, dan sekarang malahan dia sudah datang.


" Lihatlah, panjang umur sekali calon suamimu itu. Baru saja Papa menanyakannya dan sekarang dia langsung datang."


Sementara itu Lissa hanya menyeringai, berusaha tersenyum menanggapi candaan ayahnya itu.


" Bilang padanya, sebentar lagi aku dan Lissa akan turun." seru Tuan Louis yang hanya di tanggapi dengan anggukan tipis oleh Pak Mus sebelum pamit undur diri dan menyampaikan amanat dari Tuannya itu.


" Baiklah, Papa tahu kau pasti butuh waktu untuk berrias sebelum bertemu calon suamimu itu. Papa akan ke kamar sebentar, ada sesuatu yang harus Papa ambil." ujar Tuan Louis mengelus kepala putrinya itu dengan kasih sayang, kemudian berjalan keluar meninggalkan kamar Lissa.


Mendung langsung merayapi wajah cantik Lissa begitu Tuan Louis meninggalkan kamarnya, jika biasanya dia akan sangat bahagia ketika Erros datang ke rumahnya kali ini dia malah berharap agar Erros tak usah datang saja ke rumahnya.


Berulang kali ia berusaha untuk menghela nafasnya. " Kau harus bisa Lissa! Kau pasti bisa!" batin Lissa menyemangati dirinya sendiri.


Lissa menyeret kakinya dengan malas menuju bathroom untuk sekedar membasuh mukanya agar terlihat lebih segar, setelah itu ia memoleskan lipstik dengan warna yang nampak natural di bibirnya agar tak terlihat terlalu pucat.


Setelah memastikan penampilannya sesuai, barulah Lissa melangkahkan kakinya dengan malas meninggalkan kamarnya.