Being The Second

Being The Second
Episode 13 - Nyx Erris Aether



Manusia berubah karena dua hal,


Cintanya dan lukanya.


••••••••••••••


Erros melangkahkan kakinya keluar dari kamar yang ada di samping ruang perawatan ayahnya. Langkah kakinya yamg terlihat sangat tergesa-gesa membuat Lissa langsung menatap ke arahnya.


" Erros.. " panggilan Lissa berhasil menghentikan langkah kaki Erros yang hampir sampai di depan lift.


" Kau mau kemana? " tanya Lissa heran, dia kira Erros akan beristirahat karena dari kemarin dia belum beristirahat sama sekali. Lissa melangkahkan kakinya dengan begitu anggun mendekat ke arah Erros.


" Aku akan menemui Erris " jawab Erros singkat, tatapan matanya penuh amarah saat ini dan nafasnya memburu pendek membuat Lissa menghela nafas, dia sudah sangat paham jika seperti ini Erros tengah di kuasai oleh amarah.


Bagaimana pun Lissa tahu, pasti Erros akan menemui Erris karena tindakan Erris kali ini sudah melewati batas. Dan Lissa tidak mungkin untuk mencegah Erros, Erris memang harus di beri peringatan. Bagaimana pun Tuan Hilton adalah ayah kandungnya sendiri, dan tidak seharusnya Erris berbuat hal keji yang bahkan bisa merenggut nyawa ayahnya.


Lissa tentu mengenal Erris yang merupakan saudara kandung Erros, karena mereka tumbuh bersama semenjak kecil. Erris yang dulu di kenal Lissa adalah sosok yang baik, hangat dan selalu memanjakan Erros. Tapi semenjak kejadiaan naas yang merenggut nyawa ibunya Erris berubah menjadi sosok yang sama sekali tak di kenal oleh Lissa.


" Aku tidak akan melarangmu menemuinya, tapi kau harus mengontrol emosimu terlebih dahulu, kau harus bisa menguasai dirimu dengan baik sebelum kau menemuinya. Aku tidak ingin jika emosi yang malah menguasai dirimu. Aku tak ingin karena di kuasai amarah kau malah bertindak gegabah yang malah bisa membahayakan dirimu sendiri " ucap Lissa lembut, suaranya terdengar begitu anggun mendayu, tangannya meraih lengan Erros dan mengelusnya perlahan berharap Erros bisa sedikit saja membuang emosinya.


Dan ternyata benar, mendengar ucapan Lissa membuat Erros bisa membuang sedikit saja membuang emosinya. Nafasnya yang tadi memburu berangsur perlaban menandakan dirinya lebih tenang sekarang. Erros ingin menemui Erris sekarang, dia ingin memberinya pelajaran karena tindakannya yang kejam merencanakan pembunuhan ayahnya sendiri.


" Terima kasih sudah mengingatkanku " ucap Erros tangannya meraih telapak tangan Lissa yang masih mengelus lengannya dan menepuknya lembut.


" Sudah menjadi tugasku untuk selalu mengingatkan dirimu jika kau mulai gelap mata seperti itu " ucap Lissa tersenyum.


" Tolong jaga ayah untukku, aku hanya ingin memberinya pelajaran atas tindakannya yang sudah melewati batas " jawab Erros, tangannya mengelus pipi Lissa kemudian mengecup keningnya perlahan sebelum kemudian melangkahkan kakinya keluar meninggalkan Lissa.


" Jaga dirimu baik-baik Erros, aku akan selalu berdoa untuk keselamatanmu" ucap Lissa melihat Erros yang sudah menghilang di balik pintu lift khusus yang membawannya turun dari lantai D tempat ayahnya di rawat.


....................................


Green Hill's Estate



Erros mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju Green Hill's Estate, tempat dimana mansion mewah milik Erris berada. Mansion mewah yang letaknya jauh dari pusat kota, memastikan ketenangan para penghuninya tanpa gangguan hiruk pikuk khas ibukota. Letaknya yang berada tepat di bawah pegunungan memberikan udara sejuk khas pegunungan.


Emosinya kembali memuncak saat mengingat tubuh ayahnya yang terbujur lemah tak berdaya dengan berbagai selang yang melekat di tubuhnya dan monitor yang selalu berbunyi untuk menandakan ayahnya masih hidup dan tengah berjuang dari mautnya seorang diri.


Para penjaga langsung bersiap waspada saat melihat sebuah mobil berhenti tepat di depan pintu gerbang mansion. Erros membuka kaca mobilnya menampakkan wajahnya yang tampan. Dia tak membuka mulutnya sama sekali, namun para penjaga itu langsung membukakan gerbang untuknya. Membuat Erros mengerti jika Erris memang tengah menantikan kedatangannya.


Erros kembali menginjak pedal gas mobilnya melewati pagar itu, mobilnya melewati sebuah taman besar dengan hamparan rumput berwarna hijau yang menutupi warna coklat tanah. Terdapat sebuah air mancur besar di bagian depan pintu utama mansion. Erros turun dari mobilnya, kakinya melangkah mantap melewati pilar-pilar raksasa yang terdapat pada bagian depan pintu utama, kemudian memasuki rumah itu setelah seorang pelayan membukakan pintu untuknya.


" Akhirnya kau datang Erros " suara Erris menggema di ruang tamu, ia berjalan perlahan menuruni anak tangga dari lantai dua mansion mewahnya itu. Membuat perhatian Erros langsung tertuju kepada Erris, tatapan matamya sangat tajam dan di penuhi amarah.


" Apa si tua itu sudah menemui ajalnya? " imbuhnya lagi terkekeh membuat Erros mengepalkan tangannya sangat kuat hingga ujung jari-jarinya memutih saat kukunya menancap erat pada telapak tangannya.


" Kemarilah sudah lama kita tidak minum-minum bersama! " ucap Erris lagi saat langkahnya hampir sampai di depan Erros.


Amarah Erros benar-benar memuncak terlebih setelah ia melihat bagaimana reaksi Erris yang tak merasa berdosa sama sekali setelah melakukan perencanaan pembunuhan ayahnya.


Erros memburu langkah Erris yang mulai mendekat dan tanpa menunggu lagi ia langsung melayangkan pukulan keras mengenai bagian sudut bibir Erris yang tak sempat menghindar ketika Erros memukulnya.


Erris yang tak siap langsung jatuh terhuyung, ia memegangi sudut bibirnya yang robek dan berdarah, Erris menyeringai kemudian menatap Erros dengan tatapan mengejek.


" Apa tindakanku salah?! Bukankah memang seharusnya si tua itu cepat menemui ajalnya?! " ucap Erris yang kembali berdiri di depan Erros, tatapan matanya jelas seolah menantang Erros.


" Kau gila Erris!!! Dia ayahmu, ayah kita!!! Bagaimana bisa kau bisa merencanakan pembunuhan ayahmu sendiri?!!! " suara Erros menggema di mansion itu.


" Ya aku gila!!! Aku gila setelah melihat kematian ibuku tepat di depan mataku Erros!!! Ibuku mati sia-sia karena pria tua itu " jawab Erris tak kalah lantang.


" Tapi itu bukan salah ayah!!! Kau tak bisa menyalahkannya atas kematian ibu! Dia juga ibuku, bukan hanya ibumu saja!! "


" Tapi dia adalah penyebab kematian ibu, bagaimanapun ibuku akhirnya mati sia-sia hanya demi pria tua itu!!! "


" Pria tua katamu?!! Kau bukan manusia Erris! Kau monster!!! " ucap Erros tangannya menunjuk tepat pada wajah Erris.


" Tidak ada gunanya aku berbicara panjang lebar denganmu karena di otakmu hanya ada kebencian dan dendam!!! "


" Kau harus ingat jika ayah sampai tak bisa membuka matanya lagi kau akan menerima akibatnya!!! " ancam Erros sebelum membalikkan badannya dan melangkah keluar meninggalkan Erris yang masih memegang sudut bibirnya yang sobek dan berdarah.


" Tidakkah kau berterima kasih kepadaku yang sudah menjaganya selama ini?! " ucap Erris berhasil menghentikan langkah kaki Erros yang hampir mencapai daun pintu.


" Kau tau dia selalu tertawa saat bersama denganku?! Sepertinya aku jatuh cinta pada senyumannya " imbuhnya lagi memprovokasi membuat Erros membeku.


" Apa maksudmu?!! " tanya Erros yang mulai di kuasai amarah menatap Erris dengan tajam.


" Kau tentu tahu apa maksudku!!! " ucap Erris meremehkan, kedua tangannya dia selipkan ke dalam saku celana, menunjukkan sikap mengejek pada Erros.


" Aku akui, aku juga jatuh cinta padanya. Senyumannya yang manis, wajahnya yang selalu ceria benar-benar membuat diriku jatuh cinta " imbuh Erris menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya.


" Jangan pernah berani menyentuhnya!!! Dia tak layak untuk monster seperti dirimu!!! " ucap Erros yang kembali melangkah mendekat ke arah Erris.


" Memangnya kau pikir dia layak untuk kau jadikan wanita simpananmu?!! "


Mendengar ucapan Erris benar-benar membuat Erros tak mampu lagi menahan amarahnya.


Wanita simpanan?! pikir Erros, kedua matanya membulat sempurna mendengar kata Erris yang menyebut Arresha sebagai wanita simpanan.


Dengan langkah cepat ia menghampiri Erris yang tetap diam tak beralih sejengkalpun ketika melihat Erros kembali mendekat ke arahnya dengan di kuasai oleh amarah. Erros mencengkeram kerah baju Erris dan menatapnya dengan sangat tajam.


" Dia bukan wanita simpanan!!! " ucap Erros tajam, tak mengalihkan sedikitpun tatapannya dari kedua bola mata milik Erris yang menatapnya dengan santai.


" Kau!!!!! " ucap Erros tercekat, ia tak bisa menyangkal apapun perkataan Erris.


" Aku sungguh kasihan melihatnya. Lebih baik kau pergi jauh dari hidupnya, biarkan aku yang membuatnya bahagia tanpa harus merasa kehilangan lagi seperti saat kau meninggalkannya dulu "


" Aku tidak akan pernah meninggalkannya lagi karena hanya dia yang akan menjadi istriku!!! "


" Lalu bagaimana dengan Delissa?! Tidakkah kau berfikir mungkin saja saat ini dia sudah mengandung buah cinta kalian?! " ucap Erris, tentu saja dia mengetahui semuanya karena dia selalu memata-matai Erros.


Mendengar ucapan Erris benar-benar membuat Erros membeku. Lissa mungkin saja mengandung anaknya karena dia sering melakukannya dengan Lissa.


Oh ****!!! Harusnya aku memikirkan masalah itu! batin Erros.


" **** !!!! Berani kau menyentuhnya aku pastikan aku akan langsung membunuhmu!!! " ancam Erros kemudian menghempaskan kasar tubuh Erris yang hanya menanggapinya dengan sikap santai.


" Apa kau takut dia akan jatuh cinta kepadaku Erros?! Asal kau tau bahkan dia selalu tersenyum bahagia saat bersama denganku. Bukankah itu jelas kalau dia lebih bahagia bersama denganku dari pada dengamu yang hanya akan menjadikannya wanita simpanan?!! " kata Erris tersenyum simpul.


" Beraninya kau menyamar sebagai diriku untuk mengelabuhinya!! "


" Awalnya aku hanya ingin bermain-main saja, aku ingin tahu semenarik apa mainanmu itu. Tapi setelah bermain-main dengannya siapa sangka jika akupun mulai menyukainya " kata Erris dengan nada enteng kembali memprovokasi Erros.


" Aku pastikan kau tidak akan bisa bertemu dengannya lagi!! " ucap Erros menghempaskan kasar tubuh Erris kemudian melangkahkan kakinya memasuki mobil dan meninggalkan Erris yang masih saja tersenyum simpul menghadapi kemurkaan Erros kepadanya.


Dia bisa melihat dengan jelas ketakutan di mata Erros saat dia membicarakan masalah Arresha. Tertu saja Erris mengetahui siapa Arresha yang selama ini selalu ia awasi setiap tindakannya.


Erris beberapa kali menemui Arresha dengan mengaku sebagai Erros, pada awalnya dia hanya ingin mengetahui lebih dalam seperti apa wanita yang sangat di cintai oleh adik kembarnya itu. Namun sepertinya dia juga mulai merasa tertarik kepada Arresha.


" Menikahlah dengan Delissa dan biarkan aku yang menjaga Arresha " ucap Erris menatap mobil Erros yang sudah menghilang menggalkan mansionnya.


Erris meninggalkan ruang tamu dan kembali menaiki anak tangganya menuju lantai dua mansion, ia melangkahkan kakinya santai. Kemudian memasuki kamarnya yang mewah.


Erris berjalan menuju nakas yang terletak di samping ranjangnya, tangannya meraih sebuah bingkai foto dan menatapnya dengan senyuman tipis tersungging di wajahnya.


" Dia memang sangat mirip denganmu bu, aku jatuh cinta pada matanya yang penuh binar menciptakan ketenangan di hatiku, aku jatuh cinta pada senyumannya yang sehangat senyumanmu bu. Dia tidak pantas untuk Erros yang hanya akan menjadikannya seorang wanita simpanan! " ucap Erris tersenyum memandang wajah cantik ibunya.


.......................


Erros mengemudikan mobilnya meninggalkan mansion mewah milik Erris. Dia tak tahan lagi berada di sana bersama dengan Erris yang selalu memprovokasi dirinya dan malah membuatnya semakin sulit mengontrol emosinya.


Mobilnya melaju cepat melewati jalanan yang sepi, hanya ada beberapa mobil yang berpapasan dengan mobilnya. Dia merasa kembali kecolongan saat mengetahui ternyata Erris telah mengetahui keberadaan Arresha. Posisinya akan semakin sulit sekarang, apalagi masalah pertunangannya dengan Lissa yang ingin dia batalkan.


" Lalu bagaimana dengan Delissa?! Tidakkah kau berfikir mungkin saja saat ini dia sudah mengandung buah cinta kalian?! " ucapan Erris kembali terngiang di telinganya.


Kenapa dia tak berfikir sejauh itu?! Mungkin saja Lissa mengandung anaknya, dia sering melakukannya bersama Lissa dan tanpa pengaman atau apapun yang bisa mencegah kehamilan. Kalau Lissa sampai hamil semua rencananya akan gagal, tidak mungkin jika dia menyuruh Lissa menggugurkan kandungannya yang berarti dia membunuh anak biologisnya sendiri.


Erros menghentikan mobilnya asal di tepi jalan, pikirannya benar-benar kacau sekarang. Erros memukul kemudi mobilnya keras merutuki kebodohannya sendiri.


" Oh Shitt!!! Stupid!!! Kenapa aku sebodoh ini!! Sial!!!! " ucap Erros kesal.


" Aku akui, aku juga jatuh cinta padanya. Senyumannya yang manis, wajahnya yang selalu ceria benar-benar membuat diriku jatuh cinta " sekali lagi ucapan Erris kembali terngiang di telinganya nembakar emosi Erros yang semakin membara.


" Sejak kapan dia tau Arresha?! Dan apa dia sering bertemu dengan Arresha?! " kata Erros mengusap kasar wajahnya, tangannya kembali memukul kemudi mobil.


" Sial!! Apa yang harus aku lakukan sekarang?!"


Arresha.....


Erros baru ingat jika dia belum menelfon Arresha dari kemarin, dia langsung merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya.


Tiga kali panggilan tak terjawab dari Arresha jam 22.59


Arresha menelfonnya semalam itu dan Erros tidak menjawabnya sama sekali karena di sibukkan dengan pencarian ayahnya. Erros memutuskan untuk menelfon Arresha saja, barangkali ada sesuatu yang penting yang ingin di katakan Arresha.


Tuttttttt....


Tuuuuttttttt....


" Arresha. Kau sedang apa? " tanya Erros setelah Arresha mengangkat telfonnya


"Aku di caffe, ada apa? "jawab Arresha


" Maaf kemarin tidak mengangkat telfonmu, aku sangat sibuk dan baru membuka hand phone, apakah ada hal penting? " tanya Erros, menyandarkan punggungnya pada jok mobil, salah satu tangannya menijit kepalanya yang terasa pusing.


Apakah ada hal penting? Memangnya harus ada yang penting dulu baru aku bisa menelfonmu? batin Arresha.


" Tidak ada, cuma ingin tau kabarmu saja " jawab Arresha.


" Nanti kau pulang jam berapa? " tanya Erros


" Jam 10 malam, kenapa? "


" Nanti Assistenku yang kemarin akan menjemputmu, aku ingin bertemu denganmu, bagaimana? " tanya Erros


" Memangnya ada apa? Tumben sekali? " suara Arresha terdengar dari seberang telefon.


" Tidak ada, aku hanya rindu padamu makanya aku ingin bertemu, aku tidak bisa menjemputmu makanya aku menyuruh assistenku yang datang " jawab Erros


" Oh ya baiklah "


" Ya sudah kalau begitu selamat bekerja, " kata Erros sebelum menutup telefonnya.