Being The Second

Being The Second
Episode 20 - Menyamar



Tak banyak yang ku pinta.


Cukupkan saja hadirmu ada, karena disitu bahagia bermula.


•••••••••••••••••••


Dugggghhhhhhhh!!!!!!!!


Arresha menendang Jofan cukup keras tapi tidak membuat Jofan terjatuh dari kasurnya. Membuat Jofan mengaduh sebelum kemudian mengelus bagian pahanya yang terkena tendangan kaki Arresha.


" Kenapa aku bisa tidur disini bersamamu?! Bukannya semalam aku tertidur saat menonton televisi?! " tanya Arresha yang kesal, wajah bangun tidurnya tetap saja cantik di mata Jofan.


" Mana tega aku membiarkanmu tidur di sana makanya aku membawamu ke kamar! Bukannya berterima kasih malah mengejutkanku dan menendangku. Dasar wanita bar-bar. Untung jantungku masih sehat dan tidak loncat keluar! " jawab Jofan kemudian menyenderkan punggungnya pada kepala ranjang.


" Kau suka sekali mencari kesempatan saat aku tidur, besok kalau kau sampai mabuk lagi dan pulang ke rumahku awas saja. Tidak akan aku bukakan pintu dan akan aku biarkan kau tidur di teras! "


" Memangnya kau tega membiarkanku tidur di teras seperti orang gila?! "


" Ya jelas tega lah, memangnya kenapa aku harus tidak tega? Lagian kau ini mabuk bukannya pulang ke rumahmu malah kau kesini, kalau pacarku melihatmu pasti dia akan mencincangmu hidup-hidup! "


" Ya sudah kalau begitu jangan sampai pacarmu tau! " jawab Jofan asal yang malah mendapatkan pukulan di kepalanya.


" Enak saja!! Kau pikir aku wanita murahan yang mau saja membukakan pintu untuk semua pria! " ucap Arresha yang merasa kesal.


" Kan aku bukan sembarangan pria. Lagian aku tidak mengatakan kalau kau wanita murahan kan " ucap Jofan yang masih saja keras kepala.


Arresha yang kesal dan malas untuk berdebat lagi akhirnya memilih untuk keluar dari kamarnya, mulutnya tak henti menggerutu pada Jofan yang selalu saja mencuri kesempatan dalam kesempitan.


" Arresha...... Kau marah padaku? " tanya Jofan manja, dia tak menyangka kalau Arresha malah marah padanya. Jofan terus mengekor kemanapun kaki Arresha melangkah.


" Tidak! " jawab Arresha singkat, lain di mulut lain di hati.


" Tapi kau terus mendiamkanku...." ucap Jofan lagi yang hanya mendapat lirikam tajam dari Arresha.


" Iya iya aku minta maaf, aku salah sembarangan memelukmu saat kau tidur " ucap Jofan akhirnya yang tak tahan karena Arresha terus mendiamkannya. Dia pikir Arresha hanya akan menendangnya, kalau saja Jofan tahu Arresha akan marah lebih baik dia tidur membeku kedinginan di sofa saja dari pada di diamkan seperti ini.


" Aku janji tidak akan mencuri kesempatan dalam kesempitan lagi. Janji. Suerr!!!! " imbuhnya lagi dengan mengacungkan jari kelingkingnya pada Arresha.


Arresha memutar bola matanya malas, kalau saja Jofan bukanlah sahabat baiknya pasti Arresha akan langsung mengusirnya.


" Janji?! " tanya Arresha memastikan.


" Iya aku janji " jawab Jofan yang tersenyum sumringah setidaknya Arresha tidak akan marah lagi padanya.


Arresha membalas janji kelingking yang di berikan Jofan, mana mungkin dia tega marah terlalu lama pada sahabatnya yang satu ini. Di tambah Jofan yang selalu memasang wajah imut dengan berbagai ekspresi menggemaskan berhasil membuat Arresha tersenyum melihatnya.


" Jofan aku ingin bertanya padamu? " ucap Arresha yang teringat tentang perkataan Jofan semalam.


" Hmmmm? "


Arresha nampak berfikir, haruskah dia bertanya? Kalau dia bertanya yang ada nanti Jofan malah salah sangka terhadapnya, lagian kan dia mabuk bagaimana dia ingat tentang yang di ucapkannya semalam. Tapi, bukannya ucapan orang mabuk biasanya kan jujur. Apa benar Jofan mencintainya?


" Tidak jadi " kata Arresha akhirnya, lebih baik tidak usah bertanya. Mungkin saja Jofan mabuk jadi berbicara sembarangan, pikir Arresha.


...................................


Arresha turun dari mobil Jofan setelah sampai di caffe, sementara Jofan tidak ikut turun karena hari ini dia sangat sibuk dengan berbagai jadwalnya yang padat.


" Arresha, kalau sempat nanti aku akan menjemputmu dan mengantarmu pulang. Jangan pulang sendiri, aku khawatir kalau ada apa-apa denganmu! " kata Jofan begitu perhatian.


" Hmmmmm... Bagaimana Yoona dan yang lain tidak salah paham kalau kau sangat possesive padaku seperti ini?! Kau lebih cerewet dari pacarku tau " jawab Arresha mencebikan mulutnya karena Jofan yang sangat cerewet.


Jofan tersenyum, tangannya menarik hidung Arresha pelan membuat Arresha mengerucutkan bibirnya karena sebal.


" Biar mereka tidak salah paham makanya kita berpacaran saja bagaimana? " tanya Jofan menggoda membuat Arresha menghembuskan nafasnya kasar.


" Aku turun dulu, kau hati-hati di jalan! " kata Arresha kemudian membuka pintu mobil dan keluar membuat Jofan tersenyum, dia sudah terbiasa dengan penolakan Arresha.


" Semangat untuk hari ini " ucap Arresha lagi sebelum menutup pintu mobil. Jofan kembali mengemudikan mobilnya meninggalkan cafe tempat Arresha bekerja.


..............................


°° Caffe Horizon °°


Hari ini Arresha bekerja seperti biasanya, selalu ramah dan penuh semangat. Mungkin karena ini adalah hari senin, hari dimana orang mulai bekerja setelah libur akhir pekan berakhir membuat pengunjung cafe menjadi tak seramai biasanya. Orang bilang hari senin adalah hari yang panjang.


" Arresha, ada yang mencarimu dia menunggu di meja nomor 4, " ucap Atha yang memang di mencari keberadaan Arresha sedari tadi yang ternyata berada di ruang khusus karyawan.


" Hmmm.. "


" Laki-laki atau perempuan? "


" Laki-laki "


" Siapa? Jofan? " tanya Arresha heran.


" Bukan, mana mungkin Jofan menunggumu di meja, kalau dia pasti dia langsung mencarimu ke seluruh lubang tikus yang ada di caffe ini! " jelas Atha yang malah membuat Arresha semakin bingung.


" Oh ya Arresha aku mau bertanya, memangnya kau berpacaran ya dengan Jofan? " tanya Atha yang sebenarnya sangat penasaran mengenai hubungan Arresha dengan Jofan yang sangat dekat, bahkan setiap hari Jofan selalu mengantar jemput Arresha setelah kejadian malam itu.


" Kau ini ada-ada saja, kita hanya berteman, mana mungkin artis terkenal seperti dia mau berpacaran dengan pelayan caffe sepertiku, ada-ada saja " jawab Arresha terkekeh karena merasa lucu dengan pertanyaan Atha.


" Tapi menurutku dia menyukaimu, mana mungkin dia mau mengantar jemput dirimu setiap hari kalau dia tidak menyukaimu " ucap Atha yang kurang puas dengan jawaban Arresha.


Arresha tertawa mendengar ucapan Atha, memang setiap orang pasti akan mengira dia berpacaran dengan Jofan karena kedekatan mereka yang mirip seperti orang berpacaran.


" Aku sudah punya pacar, dan itu bukan Jofan! " jawab Arresha berhasil membuang rasa penasaran Atha.


" Sudah, aku mau menemui orang itu dulu " imbuhnya lagi kemudian berjalan meninggalkan Atha yang masih berada di ruang khusus karyawan.


Arresha berjalan keluar meninggalkan Atha di ruang khusus karyawan. Dia penasaran siapa yang datang dan mencarinya, apa itu Erros, tapi kenapa tidak memberi tahu dulu kalau mau datang. Biasanya dia akan menelfon atau mengirim pesan jika datang berkunjung ke cafe


Senyum Arresha mengembang saat melihat Erros tengah duduk menunggunya, wajahnya yang tampan dan sorot matanya yang tajam selalu berhasil membuat Arresha terpesona.


Hal baik apa yang dia lakukan di kehidupan sebelumnya hingga sekarang memiliki pacar setampan ini?


Erris melihat Arresha berjalan menuju ke arahnya, membuat senyum di bibirnya mengembang sempurna. Pasti Arresha akan mengira dirinya adalah Erros, tak apa walaupun seperti bayangan asalkan bisa bertemu dan melihat senyumannya saja sudah cukup baginya.


" Kenapa tidak menelfon dulu kalau mau kesini? " tanya Arresha setelah sampai di meja tempat Erris tengah duduk menyandarkan punggungnya pada kursi.


" Kalau aku menelfon itu namanya bukan kejutan, " jawab Erris tersenyum. Bagaimana bisa dia menelfon yang ada nanti Arresha akan curiga kepadanya.


" Kau ini ada-ada saja! " jawabnya terkekeh " Memangnya tidak sedang sibuk ya? " tanya Arresha riang.


" Kalau untukmu tidak ada kata sibuk di kamusku sayang, " jawab Erris berhasil membuat pipi Arresha merona karena ucapannya.


" Stop menggombal Tuan, saya sedang bekerja! " ucap Arresha memelototkan matanya karena malu mendengar ucapan Erris yang sangat pandai menggoda.


" Ehhmmm..." Erris berdehem karena merasa sangat gemas melihat pipi Arresha yang bersemu merah.


" Jadi nanti kau pulang jam berapa Nona? Saya ingin menculikmu dan membawamu pulang ke istana saya "


" Jam 5 sore, lebih baik anda kembali lagi nanti. Karena ini masih lama Tuan saya yakin anda akan bosan karena menunggu saya bekerja "


Erris melirik jam tangan bermerk Rolex yang menghiasi lengan tangannya, jam baru menunjukkan pukul setengah dua sore, setidaknya masih ada waktu dua setengah jam lagi dia menunggu Arresha selesai bekerja.


Erris bukanlah pria yang suka menunggu, dia tak pernah mau merepotkan dirinya untuk menunggu sesuatu, apapun itu. Waktu adalah uang baginya, Erris selalu terbiasa dengan sesuatu yang tepat waktu sesuai jadwalnya serta terbiasa dengan orang lain lah yang menunggunya. Karena terlalu bersemangat dan tak sabar untuk bertemu dengan Arresha, dia melupakan beberapa hal termasuk melupakan jam kerja Arresha yang masih tersisa beberapa jam kedepan.


" Aku bisa menunggu dan terus melihat wajah cantikmu sayang " ucap Erris menyunggingkan senyum di wajahnya yang tampan.


Wajah Arresha seketika langsung merah merona. Dia segera berpaling dan menahan senyumnya tapi tidak tertahan, sudut bibirnya tetap melengkung dengan senyum merona.


" Dasar pria suka sekali menggombal! " gerutu Arresha yang sukses membuat senyum Erris melebar sempurna.


" Aku hanya menggombal kepadamu sayang! " katanya menatap dalam mata Arresha tanpa menghilangkan senyum di wajahnya.


" Hmmmm, ya ya ya. Awas saja kalau sampai menggombal pada wanita lain akan aku tenggelamkan sampai ke dasar lautan!! " jawab Arresha.


" Bahkan sampi ke dasar bumi pun aku rela jika itu kau! " jawab Erris tanpa mengindahkan tatapan matanya dari wajah Arresha yang terus melebarkan senyum bahagia.


" Stop acara gombal-menggombalnya Tuan, kau mau pesan apa? Kau tidak boleh hanya duduk disini tanpa memesan apapun! "


" Apapun yang kau bawakan aku pasti suka " jawab Erris.


" Ya sudah tunggu sini, aku akan membawakan pesanan anda dan kembali bekerja Tuan " ucap Arresha kemudian berlalu meninggalkan Erris.


Erris tetap memperhatikan Arresha yang sibuk bekerja, dia kira dia akan bosan duduk disini berjam-jam lamanya. Tapi sepertinya malah dia tak ingin kemanapun, ingin disini saja terus memperhatikam Arresha yang tengah sibuk bekerja.


Berulang kali tatapan matanya beradu dengan manik Arresha membuat senyum di wajah Erris kembali melengkung sempurna. Dia benar-benar terlihat seperti ABG yang di mabuk asmara.


Aku pasti bisa mendapatkanmu Arresha, batin Erris yang terus memperhatikan setiap hal dari diri Arresha.