Being The Second

Being The Second
Episode 40 - Sama Baiknya



" Bukankah anda yang waktu itu di restaurant Tuan?" tanya Arresha dengan nada hati-hati.


" Panggil saja Arvin."


Arresha mengganggukan kepalanya. " Jadi ada hal apa yang ingin anda bicarakan dengan saya Tuan Arvin?" tanya Arresha langsung.


" Aku hanya ingin bertanya dan mencari kejelasan saja agar semuanya menjadi gamblang." jawab Arvin yang membuat kening Arresha berkerut dalam. " Apa kau memiliki hubungan dengan Erros?"


Pertanyaan Arvin membuat Arresha tercenung, tak tahu jawaban apa yang sesuai untuk menjawabnya. Arresha hanya diam, matanya yang menatap ke sembarang arah membuatnya sangat jelas terbaca oleh Arvin, seolah ingin membuka mulutnya tapi tak tau harus berkata apa.


Arvin sama sekali tak melepaskan Arresha dari pandangannya, dia menatap wajah Arresha lekat-lekat, memperhatikan perubahan ekspresi yang tergambar jelas di wajah cantik Arresha.


" Maka aku jawab kediamanmu sebagai jawaban Nona." ucap Arvin memecah keheningan yang tercipta oleh kediaman Arresha.


Arresha langsung menundukkan kepalanya, tak menyangkal ucapan Arvin yang memanglah sebuah kebenaran yang tak bisa ia tutupi.


" Apa kau tahu Erros sudah memiliki tunangan dan akan menikah sebentar lagi Nona Arresha?" Arvin kembali bertanya.


" Saya tahu Tuan, tapi saya tak tahu harus berbuat apa. Saya mencintai Erros tapi saya juga tidak ingin berbahagia atas luka Nona Lissa." jawab Arresha lirih.


Arvin menghela" Jika kau berkata demikian bukankah seharusnya kau memutuskan untuk pergi meninggalkan Erros, Nona Arresha? Dan bukan malah tetap bersamanya seperti sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta?!"


" Maafkan aku Nona, bukannya aku ingin menghakimi-mu dan membela Lissa. Lissa adalah sepupuku, dan aku sangat-amat mengenalnya. Dia sangat mencintai Erros melebihi cintanya pada dirinya sendiri, bahkan dia selalu mementingkan Erros di atas segala kepentingannya sendiri. Bagi Lissa, Erros adalah dunianya." ungkap Arvin yang malah membuat kepala Arresha tertunduk semakin dalam, terbebani oleh perasaan bersalah yang tak terperi.


" Kau adalah wanita Nona, kau tentu lebih mengerti bagaimana perasaan Lissa saat ini di bandingkan diriku. Akhir-akhir ini dia selalu mengurung diri di penthouse-nya dan tak pernah berangkat ke kantornya ataupun pulang ke rumahnya. Pernikahannya hanya kurang tiga bulan lagi Nona, dan sekarang segala yang dia impikan selama hidupnya tengah di ambang kehancuran. Jadi ku mohon, tolong jauhi Erros biarkan dia menikah dengan Lissa."


Arresha terdiam, matanya mulai terasa panas dan tenggorokannya serasa seperti tercekik dari dalam. Arresha menengadahkan kepalanya ke atas kemudian menghela nafasnya panjang, berusaha menenangkan perasaannya dan menahan bulir air matanya agar tak terjatuh.


Tidak Arresha! Kau kuat! Jangan menangis!! batin Arresha menguatkan dirinya sendiri. Lagi pula tangisannya malah akan membuatnya terlihat semakin memuakkan bukan?!


" Maafkan kesilapan saya Tuan, saya akan mengakhiri hubungan saya dengan Erros. Saya yang akan memastikannya sendiri bahwa dia pasti akan menikah dengan Nona Lissa." ucap Arresha bergetar.


Kenapa pita suaranya bahkan tak mau bekerja sama dengan otaknya, kenapa malah mengeluarkan suara bergetar seperti itu?! Walaupun bibirnya hampir berhasil berusaha mengulas sebuah senyuman tipis nan sopan kenapa pita suaranya tak berhasil melakukannya.


" Terimakasih untuk pengertianmu Nona Arresha. Aku akan sangat berhutang budi padamu, karena bagiku Lissa adalah adik yang paling aku sayangi, aku tak bisa melihatnya terpuruk seperti itu. Maafkan untuk ke egoisanku ini Nona Arresha." tutur Arvin yang malah jadi merasa sungkan saat melihat Arresha sekuat tenaga menahan tangisannya.


Arvin tahu gadis di depannya ini sama terlukanya seperti Lissa, dia juga sangat mencintai Erros sama seperti Lissa. Tapi memang bukankah begitu seharusnya?! Seharusnya gadis inilah yang pergi dan bukanlah Lissa.


Arresha tak ingin menjawab ucapan pria di depannya ini, dia takut saat membuka mulutnya dia malah tak bisa menahan tangisannnya lagi.


Tidak! Tidak seharusnya dia menangis di depan pria ini, dia tidak boleh terlihat lemah dan menyedihkan di depan pria asing seperti ini.


Arresha menundukkan kepalanya kemudian sekali lagi menghela nafasnya, sangat panjang sampai dia merasa sanggup untuk berbicara lagi.


" Jangan minta maaf kepadaku Tuan, karena anda tidak membuat kesalahan apapun kepada saya." sekali lagi Arresha menghela nafasnya yang mulai menyesak kembali.


" Saya harus segera pergi Tuan, saya permisi." imbuhnya lagi. Tanpa menunggu jawaban Arvin, Arresha langsung bergerak bangkit kemudian berjalan meninggalkan ruang VIP itu.


Arresha tak ingin menjelaskan apapun pada pria di depannya itu dan memilih pergi, walaupun nampaknya dia adalah pria yang cukup bersahabat dan mau berkompromi dengannya.


Buat apa pula Arresha menjelaskan apa yang di rasakannya saat ini? Apa peduli pria ini pada lukanya?! Apa pedulinya jika ternyata Arresha-pun sama terlukanya seperti Lissa?!


Arvin yang awalnya ingin memberikan salam perpisahan akhirnya mengurungkan niatnya saat gadis itu langsung saja bangkit dan keluar, meninggalkannya sendirian di VIP Room itu.


Matanya menatap lurus pada daun pintu yang sedari tadi telah tertutup itu, ekspresinya berubah suram. Dia kira gadis itu tak akan melepaskan Erros dengan begitu mudahnya, tapi nyatanya dia salah.


Ternyata gadis yang di cintai Erros tak kalah baik dari sepupunya, Lissa. Betapa beruntungnya Erros di cintai oleh dua wanita yang sama-sama memiliki hati yang begitu baik. pikir Arvin.


.................


Pulau Jeju atau yang di sebut-sebut sebagai The Hawaii of Korea adalah pulau yang memiliki empat musim, dan saat ini di Hawaii-nya Korea itu tengah mengalami musim semi, hingga membuatnya terlihat sangat indah oleh warna-warni bunga yang bermekaran. Terlihat begitu memanjakan mata saat Lissa mengamatinya dari atas pesawat.


Setelah mengudara selama satu setengah jam akhirnya pesawat jet pribadi milik Erros berhasil mendarat dengan sempurna di Bandara Jeju.


Semilir angin yang terasa hangat langsung menerpa wajah cantik Lissa, menerbangkan sulur anak rambutnya yang tergerai sempurna. Cerahnya cahaya matahari semakin menyilaukan kecantikan paras Lissa saat ia mengedarkan pandangannya, mengamati sekelilingnya.


Lissa melangkahkan kakinya menuruni tangga kecil yang membawanya turun dari pesawat itu, Erros mengulurkan tangannya yang kokoh sebagai pengangan tangan Lissa dan dengan sabar ia menutun langkah Lissa satu persatu agar tak jatuh tergelincir. Perlakuan manis Erros itu tentu saja kembali menghangatkan hati Lissa.


Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam legam terparkir tak jauh di bawah anak tangga itu. Setelah Erros membukakan pintu untuknya barulah Lissa memasuki mobil itu di susul Erros yang mengambil alih kemudi mobil.


Sengaja Erros tak membiarkan sopir ataupun pengawal mengikutinya, karena dia tak ingin ada yang menganggu harinya bersama Lissa kali ini.


Tempat pertama yang sangat ingin di kunjungi Lissa adalah Aqua Planet Jeju yang termasuk dalam jajaran aquarium terbesar di negara-negara Asia bagian timur.


Dengan senyuman yang merekah di paras cantiknya Lissa terus menggenggam jemari Erros yang berukuran jauh lebih besar dari jemarinya itu.


Langkahnya ringan menyelusuri seluruh bagian aquarium raksasa itu. Berbagai jenis ikan berwarna-warni mulai dari yang paking besar semuanya ada di sana, Lissa bisa melihatnya dengan sangat jelas. Terumbu karang serta anemon laut pun ada di sana, Lissa sudah pernah ke tempat seperti ini sebelumnya, tapi tetap saja dia selalu merasa terpesona seolah baru pertama kali ke aquarium besar seperti ini.


Jika begini bisakah dia merelakan Erros nantinya? Tidakkah nanti dia semakin merasa berat melepaskannya?


" Apa kau menyukainya?" tanya Erros yang kini berdiri di samping Lissa yang tengah menatap ikan-ikan yang seolah meliak-liukan tubuhnya seolah memamerkan tariannya yang indah gemulai dari dalam tangki air raksasa yang di batasi dinding kaca tebal itu.


Lissa mengangguk antusias tanpa mengalihkan pandangan matanya yang tengah berbinar bahagia itu. " Aku sangat menyukainya." jawabnya kemudian.


Menyadari Erros yang kini ikut terhanyut dalam keindahan biota laut itu, membuat Lissa memalingkan wajahnya menatap Erros dari samping. Tangannya masih menggenggam erat jemari Erros, sama sekali tak ingin melepaskannya. Ini adalah hari terakhirnya bersama Erros, tak akan dia melepaskannya walau sedetikpun.


Ajari aku apapun Erros, apapun itu aku akan mempelajarinya. Asal jangan mengajariku bagaimana cara melanjutkan hidup tanpamu, batin Lissa yang mulai terasa pedih.


Setelah cukup puas menjelajah hingga ke bagian terdalam lautan dari Aquarium itu, akhirnya Erros mengajak Lissa untuk makan siang di sebuah lounge yang terdapat di bagian lain dari Aqua Planet Jeju itu.


Sebuah lounge yang mengusung tema undersea resto dengan seluruh dinding hingga atapnya terbuat dari kaca tebal yang berbentuk setengah lingkaran menyerupai sebuah gua.



................


Setelah menghabiskan makan siangnya Lissa mengajak Erros menuju Camelia Hill yang kabarnya tengah mengadakan festival bunga musim semi.


Di taman yang memiliki luas sekitar dua puluh ribu hektar itu, di tumbuhi sekitar enam ribu pohon bunga kamelia dan lebih dari lima ratus spesies bunga liar, pohon dan tanaman lain seperti hydrangea.


Bunga-bunga yang bermekaran semakin menambah kesan romantis nan hangat bagi pasangan muda-mudi yang sengaja datang untuk menghabiskan waktu berdua bersama orang terkasihnya.


" Aku selalu ingin datang ke sini bersamamu, tapi aku tau kau sangat sibuk dan aku tak ingin mengganggu waktumu." ucap Lissa yang kini berjalan beriringan bersama Erros.


Erros mengerutkan keningnya. " Kalau kau mengatakannya pasti aku akan mengusahakan waktuku dan mengajakmu kesini." ucap Erros yang merasa itu bukanlah alasan.


" Ya aku tau, kau pasti akan menyempatkan waktumu, tapi aku juga ingin kau lebih banyak beristirahat, jika aku mengajakmu ke sini pasti kau akan menunda pekerjaanmu dan membayarnya di lain hari dengan pekerjaan yang semakin bertumpuk. Kau bekerja sangat keras setiap harinya bahkan selalu sampai larut malam, aku hanya khawatir kau jatuh sakit." ucap Lissa yang membayangkan betapa gilanya Erros selama ini dengan pekerjaannya, kantor adalah rumah kedua bagi Erros.