Being The Second

Being The Second
Episode 36 - Meminta Waktu



" Tapi rasanya aku masih belum siap bertemu dengannya, kenapa dia malah bersikap seperti itu. Masalah dengan Erros saja masih membuatku pusing." Arresha mengurut pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri.


" Arresha."


Sapaan itu langsung terdengar ketika pintu ruang khusus karyawan itu terbuka, seketika itu pula Arresha-pun langsung membuka matanya untuk melihat siapa gerangan yang memanggil namanya.


" Jofan." jawab Arresha terdengar canggung. " Ada apa?" tanyanya mengulas senyum tipis di wajah cantiknya.


" Kau sedang apa?" Jofan berjalan mendekati Arresha, kemudian memilih ikut duduk, menyilangkan kakinya di lantai tepat di depan Arresha yang sedari tadi hanya bergeming memandangnya.


" Tidak ada, aku hanya beristirahat."


" Maafkan aku." ucap Jofan setengah berbisik, menyuarakan permohonan maaf dari dalam hatinya akan perbuatannya malam itu pada Arresha.


Arresha tak berniat membuka mulutnya untuk menjawab, ia memilih untuk menganggukkan kepalanya tipis sebagai jawaban atas permohonan maaf yang di suarakan oleh Jofan.


Suasana menjadi hening karena tak ada satupun dari mereka yang berniat untuk memulai percakapan, membuat nuansa canggung semakin kental terasa di antara keduanya.


Berulang kali Jofan merutuki dirinya sendiri atas kebodohannya malam itu yang lepas kendali dan tak bisa menahan rasa cemburunya. Andai saja malam itu dia sedikit bisa mengontrol emosinya pasti saat ini Arresha akan menyambutnya dengan senyuman merekah yang selalu berhasil menular ke dalam hati dan juga jiwanya.


Kalau saja Arresha ingat perbuatannya saat di mobil malam itu, apakah dia mau memaafkan Jofan seperti sekarang ini.


" Tidak usah di bahas lagi, aku tidak ingin hubungan persahabatan kita menjadi renggang hanya karena masalah ini." Arresha memilih untuk memecah keheningan yang semakin lama semakin mengganggu baginya.


Jofan berusaha untuk tersenyum meskipun rasanya getir, padahal dia siap jika Arresha menuntut untuk membahas masalah kemarin. Dan dia berniat mengutarakan perasaannya dengan jujur tanpa ada yang dia tutupi.


Tapi sekarang apa yang dia pikirkan ternyata tak sejalan dengan kenyataan, Arresha malah memintanya untuk tidak membahas masalah itu. Sekali lagi dia harus berusaha tersenyum meski hatinya ingin berteriak sekencang mungkin yang dia bisa.


" Aku tidak akan membahasnya, tapi bolehkah aku mengatakan sesuatu Arresha?" tanya Jofan merasa ragu, tapi dia merasa bahwa dia memang harus mengatakannya pada Arresha.


" Hmmm?" tanya Arresha menaikkan sebelah alisnya.


" Kau boleh datang padaku kapanpun jika dia menyakitimu." ucap Jofan tulus membuat Arresha terdiam karenanya.


" Akan aku ingat kata-katamu itu." Arresha tersenyum tipis menanggapinya. " Tumben sekali kau datang bersama teman-temanmu?" tanya Arresha mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Mereka memaksa datang kesini, katanya ingin bertemu denganmu." Jofan berucap setelah berhasil menguasai kekecewaannya atas penolakan secara tidak langsung yang di ucapkan Arresha.


" Bertemu denganku? Ada apa?" Arresha mengerutkan keningnya heran.


" Kau tahu mulut Byun dan Chan bahkan lebih berbahaya dari pada mulut besar host acara gosip." Jofan mengadu dengan gayanya yang terlihat lucu, namun tak berhasil menarik senyuman di wajah Arresha.


" Mereka menggosipkanku? Tentang apa?" tanya Arresha bingung.


" Kau tanya saja pada mereka, marahi saja sekalian biar mereka tahu rasa." Jofan mengulurkan tangannya, mengajak Arresha keluar dari ruang khusus karyawan itu.


.....................


" Ohh jadi kau yang bernama Arresha?" sapa Mark antusias.


Jofan menggiring Arresha agar lebih mendekat pada rekannya itu, dengan bangga dia memperkenalkan sahabat yang telah mencuri tahta di hatinya itu.


Arresha tersenyum ramah membalas sapaan Mark padanya.


" Yang itu Mark." Jofan mengarahkan matanya ke arah Mark untuk memperkenalkannya pada Arresha. " Kau harus hati-hati dengannya, setiap hari mantan pacarnya selalu datang seperti bayang-bayang." jelas Jofan membuat semua yang ada di sana menjadi tertawa karenanya.


" Perkenalkan aku Dio." sapa Dio mengulurkan tangannya ramah di selipi dengan senyuman manis yang menghiasi wajahnya.


" Dia sering marah-marah tidak jelas." jelas Jofan lagi setengah berbisik.


" Hai Arresha, kenalkan aku Kim." salam Kim dengan senyuman manis menghiasi wajahnya yang tampan, namun tak membuat Arresha terpesona, lagi pula di kota ini banyak sekali laki-laki tampan yang dia lihat. Dan tentunya di mata Arresha yang paling tampan dan mempesona hanyalah Nyx Erros Aether seorang.


" Hayy Arresha.. Kita bertemu lagi." sapa Chan dengan mengedipkan sebelah matanya, dan tentu saja hal itu tak luput dari pengawasan Jofan yang langsung menatapnya tajam.


" Kenalkan aku Arresha, salam kenal ya." Arresha membungkukkan badannya sopan. " Hampir setiap hari aku melihat kalian di TV jadi aku sudah tahu nama kalian, tidak usah repot-repot memperkenalkan diri seperti itu." ujar Arresha sopan.


Arresha langsung menolehkan kepalanya, menghadap Byun yang kini terus saja menggerutu tentangnya.


" Heyy.. Bung siapa yang tidak kesal saat ada tamu menganggap rumahku sebagai rumahnya sendiri di hari pertamanya mengunjungi rumahku dan bahkan menghabiskan stok ramenku yang tak seberapa itu." sindir Arresha tak mau kalah yang malah membuat semua orang yang ada di sana tertawa lepas karenanya, tak menyangka gadis ini galak juga ternyata.


Byun membelalakkan matanya tak percaya karena Arresha masih mengingatnya dan malah mengungkitnya kembali.


Dengan sengaja ia mengela nafasnya kasar sambil berkacak pinggang. " Astagaa...kau ini!! Apa kau lupa bahkan kami mentraktirmu sampai perutmu hampir saja meledak karena kekenyangan." sungut Byun tak ingin kalah.


Mark, Dio, Chan, Jofan, dan Kim tertawa lepas mendengar perselisihan yang terjadi antara Arresha dan Byun, gadis ini bahkan bisa membuat orang lain tertawa dengan kata-katanya yang tajam itu.


Jofan menepuk bahu Arresha pelan. " Kalau menanggapinya sampai besok juga tidak akan ada habisnya." ucap Jofan membuat Arresha menghembuskan nafasnya kasar.


" Baiklah aku yang waras dan aku yang akan mengalah." sekali lagi Arresha berhasil membuat Jofan dan teman-temannya itu tertawa, berbeda dengan Byun yang masih saja terlihat menggerutu kesal.


.......................


Setelah lift khusus itu terbuka Erros melanglangkah menyusuri lorong yang mengantarkannya menuju penthouse Lissa berada. Sesungguhnya ia masih hapal betul sandi pintu untuk memasuki penthouse itu, tapi Erros memutuskan untuk menekan bell dan menunggu Lissa membukakan pintu untuknya.


Erros tersenyum masam saat mengingat bahwa kemarin ia masih bisa sesukanya datang ke kediaman Lissa ini tanpa harus repot-repot memencet bell dan menunggu si pemilik membukakan pintu untuknya. Dan dia bisa pulang kapanpun ia mau tanpa harus berpikir apakah kedatangannya mengganggu Lissa atau tidak, tapi dia sadar hubungannya dengan Lissa saat ini tidak sebaik kemarin.


Lissa baru saja selesai membersihkan tubuhnya, bathrobe berwarna putih masih membalut tubuhnya saat ia terpaksa harus menyeret langkahnya keluar dari kamar dan membuka pintu. Rambutnya yang basah sengaja ia biarkan terurai dengan sempurna, bahkan hanya dengan mengenakan sebuah bathrobe dan juga rambutnya yang tak tertata sama sekali Lissa masih saja terlihat begitu anggun dan memukau mata dengan segala pesona yang dia miliki.


Kening Lissa berkerut saat melihat sosok yang bertamu itu dari layar digital yang terpasang di area dinding di samping pintu utama.


" Erros?" gumam Lissa,


Rasa bahagia melingkupi hatinya saat melihat pria yang sangat dia cintai itu datang menemuinya, tak menyangka bahwa Erros masih mau datang ke penthouse-nya, dengan cepat ia meraih handle pintu dan membukanya, terlalu bahagia rasanya saat bisa melihatnya datang.


Erros terpaku melihat Lissa yang terlihat begitu menggoda dalam balutan bathrobe itu, membuat imajinasinya sejenak melayang saat tak sengaja bayangan percintaannya yang panas dengan Lissa menyusup ke benaknya.


Rambutnya yang basah dan permukaan kulitnya yang lembab, di tambah dengan aroma sabun bercampur aftreshave yang lembut nan manis langsung menggelitik indera penciuman Erros, membuat tenggorokan Erros menjadi kering seketika seakan berhari-hari tak teraliri air barang setetespun.


" Aku ke kantormu, dan kata sekertarismu kau tidak datang ke kantor beberapa hari ini. Apa kau sakit?" tanya Erros setelah berhasil membuang jauh imajinasi liarnya.


Senyum Lissa merekah saat tahu ternyata Erros masih memikirkan keadaannya. " Aku tidak sakit, hanya ingin beristirahat saja. Masuklah." Lissa melangkahkan kakinya terlebih dahulu memasuki penthouse-nya.


Mungkin setelah ke datangan Arvin kemarin lusa dan dia bisa berbagi cerita dengan kakak sepupunya itu yang akhirnya membuat suasana hatinya pagi ini sedikit membaik, hingga sekarang ia bisa menguasai hatinya dan menyambut kedatangan Erros dengan senyuman manis di wajahnya.


Tak mungkin ia akan terus terlihat begitu lemah dan menyedihkan di depan Erros, setidaknya Erros harus tahu bahwa dia baik-baik saja setelah hubungan mereka berakhir dengan menyakitkan.


Erros mengekor langkah Lissa menuju sofa, dengan tenang ia mendaratkan tubuhnya pada sofa bed empuk berbahan akrilik itu.


" Tunggulah sebentar, aku akan berganti pakaian dan membuatkanmu minum." pamit Lissa lembut sebelum meninggalkan Erros menuju kamarnya.


Lissa memilih sebuah dress rumah berwarna putih berlengan panjang untuk membalut tubuhnya yang indah. Tak lupa pelembab bibir tanpa warna ia oleskan pada permukaan bibirnya yang tipis, membuat sensasi lembab dan warna alami bibirnya keluar dengan natural.


" Jadi ada hal apa yang membawamu kemari?" tanya Lissa lembut memberikan segelas jus alpukat kesukaan Erros.


" Ada yang ingin aku bicarakan padamu." jawab Erros, tangannya menerima segelas jus yang di berikan Lissa padanya.


" Tentang?"


" Apa kita bisa membuat janji temu dengan Paman Louis?"


Pertanyaan Erros berhasil membuat Lissa mematung, jadi ini yang ingin Erros bicarakan dengannya, Lissa tersenyum masam.


" Sebelum bertemu dengan ayahku, bolehkah aku meminta sesuatu padamu?" tanya Lissa ragu.


Kening Erros berkerut mendengar ucapan Lissa, apa yang ingin Lissa minta darinya. " Tentu, kau boleh meminta apapun dariku, aku akan berusaha memberikannya semampuku." tanya Erros akhirnya.


Lissa mengalihkan pandangannya, menatap mata Erros yang tajam, mata yang selalu berhasil membuatnya merasakan debaran lain di jantungnya, dan mata itu pula yang selalu membuatnya lumpuh untuk menolak segala keinginan si empu-nya.


" Bisakah aku meminta waktumu satu hari? Satu hari saja.. aku ingin menghabiskan satu hari lagi denganmu, aku ingin membuat sebuah kenangan manis denganmu sebelum aku benar-benar merelakanmu pergi." tanya Lissa tanpa bisa melepaskan tatapannya dari mata Erros yang menyorot tajam sekaligus sendu padanya.