
Erros mengangguk, merasa heran karena melihat ujung mata Lissa yang telihat basah.
Lissa menghirup nafasnya dalam, mengumpulkan seluruh kekuatannya hanya untuk menerima sebuah penolakan yang mungkin akan keluar dari mulut pria yang paling dia cintai itu.
" Apa kau benar-benar mencintai gadis itu dan ingin menikah dengannya?"
Erros terpaku, tak menyangka jika Lissa akan menanyakan masalah ini lagi kepadanya. Bukankah semua sudah jelas, mengapa sekarang dia ada disini bersamanya bukankah itu sudah menggambarkan jawaban apa yang akan keluar dari mulutnya.
" Tidak adakah sesuatu yang bisa aku usahakan agar kita bisa tetap bersama?" tanya Lissa lagi.
" Maafkan aku Lissa." ucap Erros tertunduk, tak mampu menatap mata Lissa yang terlihat memerah dan langsung berkaca-kaca.
Lissa mengganggukkan kepalanya dengan lirih berulang kali, bibirnya berusaha mengulas seutas senyuman, namun matanya tak dapat berbohong sama sekali dan malah meneteskan bulirnya dengan begitu derasnya.
Dengan cepat Lissa menghapus air matanya, kemudian menghela nafasnya lagi sebelum berucap.
" Baiklah, kita kembali malam ini, bisakah aku tidur sebentar saja." jawabnya dengan suara bergetar.
Tak menjawab, Erros hanya menganggukkan kepalanya sebagai isyarat kemudian berjalan meninggalkan Lissa seorang diri di ruang perawatan itu.
........................
...°° Seoul °°...
Jofan memapah tubuh Arresha yang kehilangan kesadaran karena terlalu banyak minum soju.
Rupanya gadis itu benar-benar memanfaatkan kebaikan Jofan dengan memesan begitu banyak botol soju dan Jofan sama sekali tak bisa melarangnya karena tatapan mata Arresha yang penuh permohonan benar-benar meluluhkannya, bak anak kucing yang memelas meninta makan pada tuannya.
" Aku akan mengantarmu pulang ke rumah." ucap Jofan yang sibuk memasangkan sabuk pengaman milik Arresha. Membuat posisinya begitu dekat dengan gadis itu.
Setelah berhasil Jofan mengangkat kepalanya, berniat bangkit dan menutup pintu mobil namun langkahnya terhenti saat melihat sudut mata Arresha yang terlihat mengeluarkan setetes air mata.
Air mata itu ternyata berhasil menyentuh lubuk hatinya yang terdalam, membuatnya turut merasakan sakit yang kini begitu menyiksa Arresha, dalam kondisi mabuk seperti inipun dia masih saja menangis seperti itu.
Perlahan Jofan mendekatkan bibirnya pada mata indah itu kemudian mengecupnya dengan lembut, membuat air mata Arresha terhapus oleh kelembutan bibirnya.
" Tinggalkan dia jika ternyata dia hanya memberikan luka kepadamu Arresha, berbaliklah dan lihatlah aku yang selalu berdiri di belakangmu." bisik Jofan.
Sejenak dia terpaku melihat wajah cantik Arresha yang terlihat begitu sedih dalam tidur lelapnya.
Perlahan Jofan menutup pintu mobilnya kemudian kembali mengemudikan mobilnya meninggalkan kedai ramen dan mulai menyusuri jalanan kota Seoul yang di hiasi kerlap-kerlip lampu jalanan dan juga lampu gedung yang mulai menyala karena hari mulai gelap.
" Sebentar lagi kita sampai di rumahmu Arresha." ucap Jofan yang sesekali mengalihkan pandangannya pada tubuh Arresha yang terlelap di sampingnya.
Walaupun dia sebenarnya tahu jika Arresha tak akan menjawabnya karena gadis itu masih saja memejamkan matanya.
" Jangan pulang Jofan. Aku tidak mau di rumah. Sendiri di rumah akan membuatku menangis lagi." racau Arresha yang seolah mendengar suara Jofan yang seperti sebuah bisikan di telinganya.
" Terus kau mau kemana?"
" Kemana saja, yang penting jangan tinggalkan aku sendiri." jawab Arresha lirih.
Jofan kembali menginjak pedal gasnya saat lampu merah berganti menjadi warna hijau. Beberapa blok lagi mereka akan sampai di rumah kontrakan milik Arresha, tapi gadis itu jelas-jelas tak mau dia antarkan pulang.
Jofan lalu membelokkan kemudinya, kembali menerobos jalanan ibukota hingga beberapa lama mereka sampai di sebuah apartemen di pusat kota.
Setelah memarkirkan mobilnya di bassement dengan sempurna Jofan bergerak keluar dari dalam mobil, menggendong Arresha dan membawanya naik menuju apartemen pribadinya karena tak mungkin jika Jofan membawa Arresha pulang ke dorm-nya yang di penuhi teman-temannya yang kesemuanya berjenis kelamin laki-laki.
Arresha merasa sedikit terusik saat tubuhnya berpindah dari jok mobil ke dalam gendongan Jofan yang membuat tubuhnya serasa melayang. Namun Arresha tetap berusaha menjaga tubuhnya agar tak terlalu banyak bergerak, dan membuat Jofan semakin kesulitan.
Tubuh Arresha yang mungil tentu saja tak membuat Jofan kepayahan meskipun harus menggendongnya hingga ke dalam apartemennya.
Perlahan dia membaringkan Arresha dengan lembut di dalam kamarnya, tak lupa pula ia membuka sepatu yang masih membungkus kaki Arresha dengan telaten. Setelah itu Jofan menarik selimut tebalnya dan menyelimuti Arresha.
Jofan duduk di sisi lain dari ranjangnya, matanya menatap sendu pada tubuh Arresha yang kini memejamkan matanya dengan erat. Lama dia hanya diam memperhatikan wajah ayu gadis pujaannya itu.
" Jofan...." suara Arresha terdengar serak, matanya masih saja tertutup begitu rapatnya.
Namun Jofan bergeming, tak menjawab apapun karena tahu Arresha hanya sedang meracau karena mabuk alkohol.
" Masalahnya Jofan....kau jangan terlalu baik kepadaku....aku takut...kalau kau terlalu baik kepadaku....aku akan terlalu bergantung kepadamu....dan jika aku terlalu bergantung kepadamu aku takut.....aku takut kalau aku malah jatuh cinta kepadamu...." racau Arresha yang sesekali terhenti kemudian dia berusaha melanjutkan kalimatnya walaupun hanya terdengar seperti sebuah bisikan ataupun gumaman yang tak jelas.
Namun Jofan mendengarnya, dia memahaminya dengan jelas. Tanpa sadar bibirnya terangkat, menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang terlihat begitu manis di wajahnya yang tampan.
Jofan tersenyum lembut, lalu mengangkat tangannya untuk mengusap pucuk kepala Arresha.
" Bergantunglah padaku Arresha..terus bergantunglah padaku. Karena sekali kau menggantungkan kepercayaanmu kepadaku aku tidak akan melepaskannya dan menyia-nyiakannya seperti yang kekasihmu itu lakukan." Jofan menghadiahkan sebuah kecupan lembut di telapak tangan Arresha.
Lissa dan Erros kini tengah berada dalam pesawat pribadi milik Erros dan mereka telah mengudara sekita setengah jam yang lalu. Namun Lissa hanya diam tak banyak berkata seperti saat tadi siang ketika mereka berjalan bersama dan Lissa yang terlihat begitu bahagia.
Erros merasa ada yang aneh dengan sikap Lissa kali ini, namun dia memilih diam dan tak ingin banyak bertanya, mungkin saja hal itu berhubungan dengan pertanyaan terakhir kali yang Lissa tanyakan kepadanya.
Setelah mendarat dengan sempurna di Bandar Udara Internasional Icheon, Lissa dan Erros turun dari pesawatnya.
" Ayo.." ucap Erros membukakan pintu mobilnya.
" Mobil jemputanku sudah sampai. Aku akan pulang bersama supirku." mata Lissa mengarah pada mobil berwarna putih yang kini tengah melaju ke arahnya.
Erros mengerutkan keningnya dalam, menatap terkejut ke arah Lissa. Mata Erros secara impulsif mengikuti arah pandangan mata Lissa, tentu dia terkejut karena Lissa tak memberitahukan hal ini.
Apa Lissa marah kepadanga hingga bertingkah seperti ini kepadanya?
Lissa melangkah mendekat setelah mobil itu berhenti beberapa meter dari mobil milik Erros yang pintunya masih terbuka dan Erros yang masih terdiam terus menatapnya.
Erros mencekal langkah Lissa, menahan lengannya dengan tangannya. Membuat Lissa membeku, namun tak membalikkan tubuhnya sama sekali.
" Kau marah padaku?" tanya Erros yang tak bisa menutupi rasa penasarannya lagi.
Lissa menghela nafasnya dalam-dalam sebelum memutuskan untuk berbalik badan dan menjawab pertanyaan Erros yang begitu mengusiknya.
Jelas dia marah, jelas dia tak terima, apalagi dengan kehadiran makhluk mungil di dalam rahimnya kali ini. Bagaimana bisa Erros malah bertanya dia marah atau tidak?!
" Kau yang paling tahu..aku tidak akan bisa marah padamu." jawab Lissa dengan ketulusan yang sungguh palsu.
Lissa kembali melangkahkan kakinya membuat cekalan tangan Erros terlepas begitu saja.
" Besok datanglah ke rumah saat makan malam." ucap Lissa sebelum menghilang di balik pintu mobilnya yang tertutup kemudian melaju.
........................
Erros mengemudikan mobilnya menembus jalanan ibukota yang selalu saja ramai bahkan hingga tengah malam seperti ini, seolah seluruh penduduknya tak pernah beristirahat dan selalu sibuk dengan aktifitasnya terbukti dari padatnya kendaraan yang masih memenuhi jalanan.
" Dimana Arresha sekarang?" Erros langsung bertanya dengan nada dingin setelah Assisten Jo menerima sambungan telfonnya.
Membuat Assisten Jo yang baru saja selesai membersihkan diri di apartemennya langsung menegang, tak menyangka jika tuannya itu akan menanyakan keberadaan Arresha tengah malam seperti ini.
" Nona Arresha berada di apartemen temannya Tuan." jawab Assisten Jo ragu, namun dia memang harus mengatakan yang sebenarnya.
Tangan Erros mencengkeram kuat kemudi mobilnya, dari tadi dia sudah menahan emosinya apalagi saat mengetahui Arvin dan Erris ternyata menemui Arresha secara diam-diam di belakangnya.
Susah payah dia mengendalikan emosinya karena tak mungkin dia melampiaskannya pada Delissa yang mungkin saja tak tahu menahu mengenai masalah pertemuan itu.
" Kirimkan aku alamatnya." perintah Erros sebelum mengakhiri sambungan telefonnya secara sepihak.
Mobil Erros melaju semakin kencang membelah jalanan, semakin dalam ia menginjak pedal gas mobilnya sementara matanya semakin tajam menatap lurus ke depan.
Setelah sampai di alamat yang di kirimkan Assisten Jo tadi, Erros bergegas turun, langkahnya yang lebar nampak tergesa-gesa menyusuri loby apartemen mewah itu.
Berulang kali dia mengumpat dalam hati saat lift yang membawanya naik seolah mempermainkan kesabarannya dengan bergerak perlahan, inginnya begitu dia menekan tombol closse, lift itu langsung sampai di lantai 20, tujuannya, tempat Arresha berada saat ini.
Dia ingin menjemput Arresha, dia tak akan bisa tenang membiarkan Arresha bermalam di sana.
Erros kembali melangkahkan kakinya begitu lift itu terbuka, mencari unit nomor 2567 milik teman Arresha itu.
Seolah tak sabar Erros terus menekan bell itu berulang-ulang.
Jofan yang kala itu tengah mengambil segelas air putih di counter dapurnya berdecak kesal saat bell apartemennya terus berbunyi.
" Siapa yang tidak tahu adat dan bertamu tengah malam seperti ini."Jofan mencibir kesal namun tetap melangkahkan kakinya menuju pintu apartemennya.
Matanya membulat sempurna setelah saat ia membuka pintu itu, apa dia salah lihat? Bukankah dia pacar Arresha yang sialan itu? Untuk apa tengah malam datang ke apartemennya?!
" Dimana Arresha?" tanya Erros langsung, matamya yang tajam menatap dingin ke arah Jofan yang kini juga menatap matanya tak kalah tajam.
Jofan langsung menyeringai sebagai tanggapan, menatap Erros penuh arti.
" Saya pikir Tuan Nyx Erros Aether pemilik Aether Group Company adalah orang yang penuh dedikasi dan tahu sopan santun. Ternyata saya salah mengira, karena tengah malam seperti ini dia bertamu ke rumah orang yang tidak di kenalnya dan langsung bertanya seolah saya seorang kriminal yang menculik kekasihnya." nada mengejek kental begitu kentara dalam suara Jofan.
Dan Erros terpancing. Gerahamnya berkedut seolah menahan emosi, sementara suara yang keluar dari mulutnya terdengar lebih seperti geraman.
" Jangan memancing emosiku. Dimana Arresha?" ujar Erros kemudian dengan mata menyiratkan peringatan.