Being The Second

Being The Second
Episode 35 - Merasa Canggung



Erros tak langsung menjawabnya, dia mengubah posisinya yang tadi duduk di samping Arresha, bergulir berlutut di depan Arresha yang duduk di tepian ranjang mewah nan empuk itu.


Erros meraih tangan Arresha, menyelipkan jari-jarinya yang kuat di sela jemari Arresha yang lentik, membuat tangan mereka saling berjalinan. Erros meremas pelan tangan wanitanya itu. Erros menengadahkan kepalanya untuk menatap manik indah dari wanita yang sangat dia cintai dengan sepenuh hati itu.


" Jika aku tak mencintaimu aku tak akan berjuang sejauh ini Arresha." tatapan mata Erros yang tajam selalu saja membuat Arresha terperangkap karena dalamnya dan juga binarnya yang penuh cinta.


" Maka lepaskan aku." ucap Arresha mantap.


Erros menundukkan kepalanya dan menghela nafasnya panjang, dia terlalu lelah untuk berdebat mengenai masalah yang sudah di bicarakannya dengan Arresha.


" Melepaskanmu sama saja melepaskan separuh hidupku Arresha. Please, we have talked about this before." suara Erros tercekat, dan ketika lelaki itu menengadahkan kepalanya untuk menatap Arresha, matanya langsung bersiborok dengan manik Arresha yang kini menatapnya nanar dengan bibir bergetar menahan isakan tangisnya.


Tatapan Erros melemah saat melihat manik Arresha yang mulai memerah menahan tangisnya, dia tak suka melihatnya menangis, itu adalah yang paling dia benci selama ini.


Erros memaksa masuk ke dalam dekapan Arresha, menenggelamkan kepalanya pada perut Arresha, tak ingin mencari kehangatan, hanya ingin mencari ketenangan yang selalu dia dapat dari gadis mungilnya ini.


" Jangan pernah memintaku untuk melepaskanmu Arresha. Aku rela melepaskan segala yang aku punya asal itu bukan dirimu." ucapnya lembut.


...........................


°° Caffe Horizon °°


Tangan Arresha sibuk membereskan loker miliknya, menata tas dan juga jaket yang tadi di kenakannya. Tanpa sadar tangannya terhenti seketika saat matanya menatap gelang yang semalam di pasangkan Erros padanya.


Haruskah aku melepaskannya? batin Arresha meragu.


Semalam Erros menceritakan bahwa kalung dan gelang yang dia kenakan saat ini adalah peninggalan mendiang ibunya. Itu adalah hadiah ulang tahun pernikahan terakhir yang di pesankan oleh ayahnya secara khusus dari designer perhiasan mewah langgannan keluarganya untuk mendiang ibunya.


Erros menceritakan bahwa ibunya begitu bahagia saat menerima hadiah itu, bahkan dia merasa sayang untuk memakainya karena takut jika sampai perhiasan itu menjadi lecet ataupun rusak.


Bagaimana bisa Erros malah memberikan perhiasan yang sangat berharga dan sarat akan kenangan ini kepadanya, bukan kepada Lissa. Seyakin itukah Erros pada dirinya hingga memberikan ini bahkan di tahun pertamanya menjalin hubungan dengan Arresha.


Seberarti itukah aku untuknya?! batin Arresha merasa dilema.


" Arresha." Yoona menepuk pelan pundak Arresha, sedari pertama memasuki ruangan khusus karyawan itu Yoona berulang kali menyapa Arresha, namun gadis itu bergeming, terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tak mendengar saat Yoona memanggil namanya.


Tubuh Arresha melonjak kaget saat sebuah tepukan yang mendarat di pundaknya berhasil menyeretnya kembali dari kubangan pemikiran mengenai gelang dan juga kalung yang kini dia kenakan itu.


" Yoona?!" kening Arresha berkerut saat mendapati Yoona terus menatapnya intens. " Ada apa?" tanyanya kemudian.


Yoona menghela nafasnya, dari tadi dia berbicara panjang lebar namun Arresha sama sekali tak mendengarkannya.


" Astagaaa!!!" Yoona mendesis kesal.


" Aku bercerita sampai mulutku berbusa dan kau malah bertanya ada apa?!" tanya Yoona skeptis memandang Arresha.


Arresha mengangkat kedua bahunya, seolah mengejek." Aku sama sekali tidak melihat busa di mulutmu, yang ada malahan noda coklat di sela-sela gigimu." ucapnya dengan nada menjengkelkan.


Arresha menyodorkan sebuah kaca lipat yang selalu dia simpan di dalam tasnya, menunjukkan bahwa benar ada noda berwarna coklat di antara sela gigi Yoona.


Dengan cepat Yoona meraih kaca itu, ternyata benar ucapan Arresha, dia jadi malu sendiri karena kecerobohannya itu. Pantas saja di bus tadi banyak orang menatapnya aneh lalu senyum-senyum di belakangnya, bodohnya dia malah membalas senyuman itu dan memamerkan deretan giginya yang tak putih karena ternodai sisa coklat yang tadi dia makan sebelum berangkat bekerja.


" Kau tadi bicara apa?" Arresha mengalihkan pandangannya dari Yoona yang tengah sibuk membersihkan giginya menggunakan tissu.


" Tidak jadi, aku sudah lupa tadi aku bicara apa." jawab Yoona membuat Arresha memutar bola matanya malas.


" Ya sudah aku ke depan dulu." pamit Arresha meninggalkan ruangan khusus karyawan itu.


......................


Dengan semangat Arresha membereskan mug dan juga piring kotor di meja yang sudah di tinggalkan oleh pelanggannya. Tak lupa ia mengelap dan memastikan meja itu benar-benar bersih dan siap untuk di pergunakan oleh tamu lain sebelum melangkah meninggalkannnya.


" Arresha, meja nomor delapan ya." ucap Atha menyodorkan nampan berisi beberapa cangkir kopi panas dan juga kudapan ringan yang menjadi teman saat menikmati kopi itu.


Arresha tak menjawab hanya tersenyum dan meraih nampan itu, kemudian melangkah ringan menuju meja nomor delapan yang nampak di isi oleh gadis-gadis muda, dari umurnya mereka terlihat seperti mahasiswi dengan penampilan stylish khas anak metropolitan.


Perhatian para gadis itu seketika teralih saat melihat segerombolan pria tampan yang memasuki area caffe. Dengan serempak mereka membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini.


" Tolong tampar aku!!" ucap salah satu gadis, membuat Arresha mengernyitkan dahinya heran.


" Aku tidak minum alkohol, tapi mengapa aku mabuk dan berhalusinasi melihat XO disini?!" kata gadis yang lain.


XO? Disini? pikir Arresha bingung, lalu ekor matanya mengikuti pandangan para gadis itu tengah tertuju saat ini.


Arresha membulatkan matanya tak percaya. Astaga, itu benar-benar XO kah? batinnya.


Tanpa sengaja matanya langsung bersiborok dengan mata Jofan yang kini terus menatapnya, membuat Arresha teringat dengan perlakuan Jofan padanya malam itu. Pipinya merah padam dengan semburat rasa canggung yang langsung terlihat jelas di wajahnya.


Belum sempat Arresha mempersilahkan para gadis itu untuk menikmati kopinya, tubuh Arresha di buat limbung saat para gadis itu beranjak berdiri dan setengah berlari menghampiri para member XO, mungkin saja mereka ingin meminta foto pada biasnya.


Begitu para pelanggan caffe itu mengerubuti para member XO, akhirnya Arresha tersadar dan memilih untuk bersembunyi di area belakang, dengan dalih untuk mencuci tumpukan piring kotor yang menggunung.


Sebenarnya ini bukanlah pekerjaannya karena untuk urusan piring dan gelas yang kotor ada orang lain yang mengerjakannya, namun Arresha bersikeras membantunya.


Karena pernyataan cinta Jofan padanya malam itu, Arresha menjadi merasa canggung saat ini jika harus bertemu dengan Jofan. Dia memang berkata untuk membahasnya nanti, dan Arresha tahu Jofan tidak akan mungkin membahas masalah itu sekarang karena saat ini Jofan tidak sendirian mengunjungi caffe itu.


Tapi entah mengapa Arresha merasa belum siap untuk bertemu dengan Jofan saat ini, dan memilih menghindari Jofan.


......................


Jofan menghela nafasnya kasar saat dia kesusahan menyelinap diantara kerumunan orang yang terus memintanya berfoto, ekor matanya sempat menangkap saat Arresha berusaha menghindarinya dan masuk ke area belakang caffe.


Pertemuan terakhir kalinya dengan Arresha dan apa yang dia lakukan serta ucapkan pada gadis itu sudah pasti membuat Arresha merubah sikapnya menjadi canggung dan berusaha menghindarinya seperti sekarang ini.


Jika bukan karena para hyung-nya ini yang memaksa datang dan ingin melihat seperti apa gadis yang membuatnya bertekuk lutut pastilah dia memilih datang sendiri ke caffe Horizon dan kedatangannya ke caffe kali ini tak akan menarik perhatian pelanggan yang lain, seperti sekarang ini.


Jofan mengira Byun dan Chan benar-benar menepati janjinya untuk tidak menceritakan masalah Arresha pada member yang lain. Namun nyatanya mulut bergosip mereka bahkan menglahkan wanita ketika asyik ber-ghibah ria. Bahkan semenjak konsernya di Hongkong kemarin mereka selalu membahasnya dan menagih janji Jofan untuk melihat gadis yang membuat mereka sangat penasaran itu.


Alhasil disinilah mereka sekarang, setelah memaksa dan mengancamnya akhirnya mau tak mau Jofan mengajak mereka datang ke caffe Horizon, tempat Arresha bekerja.


Jofan, Byun, Chan, Mark, Kim, dan Dio akhirnya bisa bernafas lega setelah berhasil menyelesaikan sesi fanmeting dadakan dengan para penggemarnya. Mereka melangkah menuju meja dengan ukuran yang lebih besar karena meja tersebut di maksudkan untuk menampung pelanggan yang datang secara berkelompok seperti mereka.


" Jadi pacarmu itu bekerja disini Jofan?" tanya Mark mengedarkan pandangannya pada caffe Horizon. " Yang mana kekasihmu itu?" tanyanya lagi antusias.


" Kalian sudah berjanji setelah melihatnya tidak akan jatuh cinta padanya!" ucap Jofan posesif. Siapa yang tahu kalau salah satu diantara hyung-nya itu akan jatuh cinta pada Arresha seperti dirinya yang akhirnya bertekuk lutut di bawah pesonanya.


" Ya aku tidak menjamin kalau dia yang akan jatuh cinta pada pesonaku." canda Mark percaya diri yang langsung mendapatkan tatapan tajam bak laser dari Jofan.


" Jadi yang mana pacarmu itu?" tanya Dio penasaran, membuat mereka kembali mengedarkan pandangannya pada beberapa waiters yang tengah sibuk melayani pelanggannnya, menimang sosok gadis yang menjadi incaran Jofan.


Jofan ikut mengedarkan matanya, dia tahu Arresha masih berada di area dapur caffe. " Tunggu saja nanti dia pasti keluar." jawab Jofan, mengangkat salah satu tangannya untuk memanggil pelayan.


.........................


Arresha meraih sebuah lap kering yang tergantung di samping wastafel, dia sudah menyelesaikan cucian piring yang jumlahnya tak sedikit itu. Beruntung temannya yang lain tak mengganggunya saat dia terlalu asyik berjibaku dengan setumpuk piring kotor.


" Kak, aku izin istirahat sebentar ya di loker karyawan, mau ke toilet juga." Arresha meminta izin pada temannya yang lain, berjaga-jaga siapa tau ada yang mencarinya.


Setelah mendapat izin barulah ia meninggalkan dapur itu, menyeret kakinya menuju ruangan khusus karyawan, tempatnya bersembunyi dari Jofan saat ini.


Ruangan itu sepi, tak ada siapapun selain Arresha karena temannya yang lain tengah sibuk bekerja di depan.


" Tak apalah mencuri waktu sebentar untuk beristirahat." Arresha menghela nafasnya perlahan, kakinya melangkah memasuki ruanga itu, tak lupa menutup kembali pintu di belakangnya.


Arresha memilih untuk duduk di lantai agar lebih leluasa meluruskan kakinya yang terasa pegal kemudian menyenderkan punggungnya di depan loker miliknya. Dia berusaha memejamkan matanya sejenak sembari mengetukkan kepala bagian belakangnya perlahan pada lokernya.


" Mungkin saja Jofan datang ke caffe bukan untuk bertemu denganku, kenapa aku malah menghindar dan bersembunyi disini." ucap Arresha menghela nafasnya panjang.


" Tapi rasanya aku masih belum siap bertemu dengannya, kenapa dia malah bersikap seperti itu. Masalah dengan Erros saja masih membuatku pusing." Arresha mengurut pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri.