Being The Second

Being The Second
Episode 50 - Pengakuan



Mansion mewah bergaya Eropa klasik yang hampir 80% nya di penuhi oleh jendela-jendela besar yang memiliki bingkai khas bingkai negara Eropa, sehingga menimbulkan kesan klasik yang sangat cantik untuk di pandang.


Lampu dengan pencahayaan warna kuning serta cat dan segala perabotan rumah yang di dominasi oleh warna putih nampak sangat menyatu dan terlihat sangat elegan. Sebuah lampu kristal yang sangat indah tergantung di tengah-tengah aula yang berada di bawah tangga utama mansion itu.


Lissa melangkahkan kakinya dengan anggun menuruni anak tangga, matanya yang indah langsung terpaku pada tubuh Erros yang tengah duduk dengan gagahnya di atas sofa Arabian Headrest berwarna putih yang terletak di ruang tamu utama mansion itu.


Bahkan hanya melihat Erros duduk diam seperti itupun membuat jantungnya berdetak tak terkendali seperti ini, rasanya masih sama, detaknya pun terasa sama. Ataukah hanya dia yang tak bisa membedakannya? Mungkinkah itu hanyalah detakan jantung seseorang yang tengah merasa ketakutan kehilangan sesuatu yang menjadi miliknya?


Mendengar suara langkah kaki dari anak tangga reflek membuat Erros menolehkan kepalanya, mata tajamnya langsung beradu dengan mata Lissa yang kini juga tengah memperhatikannya itu.


Erros bergeming, tak menyunggingkan senyum tampannya yang penuh kharisma sama sekali. Setelah yang terjadi tadi siang antara dirinya dan Arresha dia sama sekali tak bisa mengendalikan perasaannya barang secuilpun.


Mungkinkah itu adalah alasan Lissa memintanya untuk menghabiskan waktu bersama di Pulau Jeju? Agar Arvin bisa menemui Arresha untuk mengatakan sesuatu tentang dirinya sehingga berhasil membuat gadis itu berubah pikiran lalu memilih untuk menyerah dan meninggalkannya seperti sekarang ini?!


Yang ada di pikirkan Erros saat ini hanyalah dia harus segera menyelesaikan masalah perjodohannya dan pernikahannnya dengan Lissa agar Arresha bisa sepenuhnya percaya kepadanya, lalu dia akan membuat gadis itu kembali ke dalam pelukannya lagi.


Tak mungkin Erros bisa melepaskan Arresha begitu saja!!


Bagaimanapun yang terjadi Erros akan tetap mempertahankan Arresha agar tetap berada di sisinya. Karena Arresha adalah satu-satunya wanita yang ia inginkan di dunia ini, dia tidak ingin yang lain selain Arresha-nya.


Lissa menghentikan langkahnya pada anak tangga terakhir, matanya masih saja terpaku memperhatikan Erros yang hanya bergeming menatap kedatangannya. Meski berat, bibir tipisnya berusaha menyambut Erros dengan sebuah senyuman yang terkesan dia paksakan, kemudian ia menghela nafasnya dengan sedih.


" Selamat malam. Maaf membuatmu menunggu lama." ucap Lissa saat jaraknya hanya tinggal beberapa langkah lagi. " Papa sedang menyelesaikan sesuatu, mungkin tidak lama lagi beliau akan turun." imbuh Lissa mendaratkan tubuhnya pada sofa Arabian Headrest itu dengan anggun.


Sementara itu Erros yang masih saja bergeming membuat Lissa mengerutkan keningnya heran. Tak biasanya pria itu sedingin ini kepadanya, meskipun sedang dalam suasana hati yang buruk dia pasti akan menjawab ucapannya dan tak hanya diam saja seperti itu.


" Apakah ada masalah?" tanya Lissa akhirnya, memperhatikan Erros dengan tatapan bertanya.


Erros menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Lissa.


" Apa kau yang menyuruh Arvin untuk menemui Arresha?" tuduh Erros menatap Lissa dengan kecewa. " Jadi itukah alasanmu memintaku untuk menemanimu pergi ke Pulau Jeju?! Agar Arvin bisa menemui Arresha dan membuatnya berubah pikiran sehingga ia memilih meninggalkanku seperti ini?" tanya Erros beruntun, tak mampu menyembunyikan nada amarah nan sinis dalam suaranya.


Kening Lissa berkerut semakin dalam, sama sekali tak memahami maksud ucapan Erros barusan.


" Arvin menemui Arresha? Untuk apa?" tanya Lissa bingung, merasa tak pernah meminta ataupun menyuruh Arvin untuk menemui Arresha.


Erros mencebik kesal lalu menggelengkan kepalanya perlahan sembari tersenyum tipis. " Aku tak menyangka kalau ternyata kau sepicik itu." cibirnya sinis.


Helaan nafas Lissa langsung tertahan saat mendengar cibiran Erros yang sangat kasar itu, hatinya serasa di remas dengan sangat kuat oleh tangan tak kasat mata.


Sungguh sesak rasanya saat kita di tuduh melakukan sesuatu yang tak pernah kita lakukan. Dia tak pernah meminta apalagi menyuruh Arvin untuk menemui Arresha. Bahkan Lissa sendirilah yang melarang Arvin menemui Arresha.


Namun saat melihat bagaimana Arvin menahan emosinya malam itu ketika mengetahui Erros memutuskan mengakhiri hubungannya secara sepihak karena memilih wanita lain, sudah pasti Arvin tak akan tinggal diam begitu saja.


" Maaf atas apa yang di lakukan Arvin, aku yakin dia melakukan itu karena dia terlalu menyayangi diriku." suara Lissa tertahan saat melihat kilasan emosi yang melingkupi mata Erros masih saja menyala. " Tapi percayalah aku tidak pernah meminta ataupun menyuruhnya untuk menemui Arresha." imbuhnya lagi.


Erros sama sekali tak berniat menjawab ataupun menanggapi ucapan Lissa dan memilih untuk membuang pandangannya ke lain arah. Rasanya dia tak akan bisa percaya begitu saja setelah apa yang terjadi hari ini.


Melihat Erros yang menahan luapan emosinya itu membuat Lissa menghela nafasnya dalam, tak menyangka pria itu akan sebegitu marah dan dinginnya kepadanya hanya karena Arvin menemui Arresha secara diam-diam.


Suara langkah yang menggema dari anak tangga seolah mengalihkan perhatian Erros dan juga Lissa. Tuan Louis menuruni tangga itu dengan tenang dan perlahan, namun senyum di wajahnya tersungging sempurna saat melihat calon menantu kebanggaannya tengah duduk bersama putri kesayangannya.


Seolah tak menyadari adanya aura yang tak mengenakkan dari keduanya.


Melihat Tuan Louis yang mendekat membuat Erros dan Lissa langsung berdiri guna menyambut kedatangan pria paruh baya itu.


" Selamat malam Erros, Papa senang sekali melihatmu disini, padahal baru saja Papa berniat mengundangmu untuk makan malam bersama." ucap Tuan Louis.


Wajah Erros masih saja begitu dingin, tanpa berniat mengalihkan pandangannya pada Lissa barang sedetikpun.


" Tidak perlu repot-repot Paman. Kedatanganku kesini karena ada sesuatu yang ingin aku sampaikan." jawab Erros membuat Tuan Louis mengerutkan keningnya heran karena melihat wajah Erros yang begitu ketat berpadu dengan keseriusan itu.


Tuan Louis menganggukan kepalanya singkat sebelum menjawab. " Duduklah!" ucap Tuan Louis yang langsung menggambil tempat duduk di samping putrinya, Delissa. Di ikuti Erros dan juga Lissa.


Tuan Louis sama sekali tak menyadari jika wajah putrinya itu berubah pucat bercampur kesedihan yang begitu kentara karena terlalu sibuk memperhatikan raut wajah Erros yang begitu ketat dan serius.


" Jadi ada hal apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Tuan Louis yang mulai merasa penasaran mengenai hal yang ingin di bicarakan oleh calon menantunya itu.


Erros menarik nafasnya dalam sebelum mengutarakan maksudnya. " Paman, maafkan aku. Aku.. "


" Papa, aku hamil!" Lissa menyela kalimat Erros dengan cepat, tepat sebelum Erros berhasil menyelesaikan kalimatnya. Matanya menatap Erros dengan tajam, tak mengalihkannya dari wajah rupawan itu barang sedetikpun.


Mata Tuan Louis reflek langsung melebar saat pikirannya berhasil mencerna maksud dari ucapan Lissa. Raut bahagia langsung terpancar sangat jelas dari wajahnya. Berbeda dengan Erros yang masih ternganga, otaknya seakan membeku, tak mampu memahami ucapan Lissa.


Hamil?! Aku hamil! Lissa hamil?! Benarkah itu?! Apakah telinganya hanya salah mendengar ataukah itu hanyalah rekayasa Lissa semata?!


" Benarkah?!" tanya Tuan Louis yang seolah masih tak percaya. " Papa tidak percaya secepat ini papa akan menjadi seorang kakek?!" imbuhnya lagi dengan sumringah.


Tuan Louis mengalihkan padangannya pada Erros yang masih terdiam itu. " Kau tidak perlu meminta maaf Erros untuk kabar baik ini, Papa sangat bahagia mendengarnya." ucapnya.


Mata Erros beralih menatap Lissa yang kini juga tengah memperhatikannya itu. Mata yang tadi menatap Lissa dengan luapan emosi itu berubah menjadi tatapan terkejut penuh tanya yang sangat jelas terlihat.


Sementara itu Lissa hanya bergeming, menatapnya dengan dingin membuat Erros menjadi kesulitan membaca pikirannya. Nyatanya Lissa tak bisa melepaskan pria itu begitu saja. Tadinya dia berniat melepaskan semuanya, merelakan Erros untuk bersama dengan Arresha dan dia akan merawat serta membesarkan anak itu seorang diri.


Namun setelah mengetahui Arresha yang memilih meninggalkan Erros membuat Lissa merubah keputusannya. Lagipula dalam rahimnya kini tengah tumbuh janin mungil hasil hubungannya bersama Erros.


Arresha adalah gadis yang cantik dan usianya pun masih muda, di luar sana pastilah banyak pria yang berebut mendapatkannya. Bolehkah kali ini saja dia bersikap egois? Bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk anak yang pasti akan membutuhkan sosok ayah dalam hidupnya.


" Apakah Hilton sudah mengetahui kabar bahagia ini?" tanya Tuan Louis antusias yang secara tak langsung memutus kontak mata antara Lissa dan juga Erros.


Lissa mengalihkan pandangannya pada ayahnya, lalu menggelengkan kepalanya dengan perlahan. " Aku baru memberi tahu Papa dan Erros saja." jawabnya dengan berusaha menyunggingkan senyuman di bibirnya.


" Papa sangat bahagia mendengarnya. Pernikahan kalian kurang dari tiga bulan lagi, apakah kalian ingin mempercepat tanggal pernikahannya?" tanya Tuan Louis serius namun dengan kebahagiaan yang masih jelas terpancar di wajahnya.


" Kita akan mempercepatnya Pa, lagipula semakin lama perutku pasti akan semakin membesar. Kita sudah sepakat jika satu bulan lagi kita akan menikah." jawab Lissa dengan mantap tanpa memberikan kesempatan bagi Erros untuk menyuarakan pemikirannya.


Tuan Louis menganggukan kepalanya setuju dengan ucapan putrinya itu. " Baiklah Papa merestui kalian berdua, apapun keputusan kalian papa pasti akan mendukungnya."


" Terimakasih Pa." jawab Lissa lembut.


" Besok Papa akan datang menemui Hilton, sampaikan pesan ini kepadanya Erros." ucap Tuan Louis mengalihkan pandangannya pada Erros yang masih saja terdiam itu. " Sekali lagi Papa ucapkan selamat pada kalian berdua." imbuh Tuan Louis menepuk pundak Erros dengan perlahan.


Erros tak mampu menjawab ucapan Tuan Louis dan hanya menganggukkan kepalanya dengan perlahan. Bibirnya seakan kelu, dia masih tak bisa mempercayai begitu saja mengenai pengakuan Lissa tersebut. Dan meminta penjelasannya saat ini juga bukanlah waktu yang tepat.


Setelah ini, Erros akan menuntut penjelasan Lissa mengenai kehamilannya itu. Meskipun dia tak ingin mempercayainya begitu saja, namun logika dan hatinya berkata lain karena dia memang seringkali melakukannya bersama Lissa. Dan mereka melakukannya pun dengan kesadaran penuh antara dua manusia dewasa yang memiliki hasrat seksual.


Namun jika memang benar Lissa tengah mengandung anaknya, lalu apa yang akan Erros perbuat?!


Otak Erros yang biasanya cerdas dengan segala keputusannya yang terstruktur secara sempurna disertai perencanaan yang matang itu seakan membeku tak mampu memikirkan langkah ataupun keputusan apapun yang akan dia ambil selanjutnya jika memang benar Lissa tengah mengandung anaknya.