
Cahaya matahari yang sudah menyinari bumi semenjak beberapa jam lalu sama sekali tak mengganggu Arresha, saat cahayanya menyusup masuk melalui celah dari jendela kamarnya. Jika biasanya ia selalu bangun pagi dan memulai harinya dengan penuh semangat kali ini rasanya jauh berbeda dari kebiasaan Arresha.
Arresha masih setia berada di atas kasurnya, ia tak ingin melalukan apapun sekarang. Pikiran tentang Erros akan menikah terus berputar-putar di kepalanya. Hatinya kembali sakit saat mengingat hal itu. Air matanya kembali menetes membasahi bantal berbentuk anak ayam yang di berikan oleh Jofan untuknya.
" Ini untukmu, biar kalau kau tidur terus mengingatku dan selalu bermimpi indah." Ucapan Jofan saat memberikan hadiah bantal untuknya kembali terngiang, membuat Arresha sedikit tersenyum karena mengingatnya.
Tentu Arresha tak mengingat kejadian semalam saat Jofan menjemput dan menciumnya secara paksa karena dia terlalu mabuk. Arresha bahkan tak memikirkan lagi bagaimana ia bisa sampai di rumah dan tidur di atas kasurnya.
Hati Arresha masih terasa sesak saat otaknya kembali mengingat pengakuan Lissa kemarin. Tiga bulan lagi seharusnya mereka menikah dan dengan sangat tidak tahu dirinya Erros malah bermain hati dengannya dan bersikap seolah tak ada hal apapun yang ia sembunyikan.
Seperti itukah pria yang begitu ia cintai selama ini?!
Suara ketukan dari pintu kamar mengalihkan perhatian Arresha, dengan malas ia menghapus air matanya. " Siapa?! " tanya Arresha dengan suara serak karena menangis.
" Ini aku Jofan." jawab Jofan.
" Dia disini?" gumam Arresha, keningnya berkerut. Sejak kapan Jofan disini? batin Arresha.
Arresha hanya diam dan tak menjawab apapun. Membuat Jofan akhirnya memberanikan diri untuk membuka pintu kamar Arresha dan masuk ke dalamnya.
Jofan melihat tubuh Arresha yang masih dalam balutan selimut berwarna soft blue dengan motif anak gajah yang sangat imut. Tubuh Arresha yang menghadap tembok membuat Jofan hanya bisa melihat bagian punggung Arresha saja.
Jofan memilih untuk duduk di sisi ranjang Arresha, ia menarik nafasnya dalam. " Bukankah katamu kita ini sahabat, jadi kau bisa menceritakan masalahmu kepadaku Arresha." kata Jofan lembut mengelus punggung Arresha.
Arresha kembali terisak, tangisnya kembali pecah namun dia enggan untuk berbalik badan dan menatap Jofan.
" Apa kekasihmu itu menyakitimu? " tanya Jofan, ia mendekatkan tubuhnya pada kepala ranjang dan menyenderkan punggungnya disana.
" Aku terbiasa melihat wajahmu yang sangat menyebalkan dan mendengarkan mulutmu yang pedas. Kau tahu?! Melihatmu seperti ini membuatku jadi sangat sedih." sambung Jofan.
Selama ini Jofan terbiasa melihat senyuman manis yang menghiasi wajah cantik Arresha. Selama ini Jofan selalu terbiasa mendengar berbagai celotehan dari bibir Arresha yang sangat cerewet dan tak mau diam. Melihat Arresha, gadis yang ia cintai berubah seperti ini tentu membuatnya merasa sedih.
" Kalau dia sampai menyakitimu bilang saja padaku. Aku yang akan mengikatnya dan melemparkannya dari atas gedung! " ucap Jofan mencoba menggoda Arresha, siapa tahu bisa membuat Arresha mau membuka mulutnya dan menceritakan luka di hatinya
" Memangnya kau berani?! " tanya Arresha suaranya masih saja serak, ia masih setia dengan posisinya dan enggan bergerak.
" Bahkan kalau untukmu aku berani lompat ke kolam buaya!" jawab Jofan cepat.
" Jelas saja kau berani, kau saja satu spesies dengan mereka!! " celetuk Arresha membuat Jofan langsung menoleh ke arahnya.
" Maksudmu aku buaya?! " tanya Jofan menuntut penjelasan.
" Aku hanya bilang kau satu spesies! Aku tidak menyebutmu buaya kan! " jawab Arresha berkelit membuat Jofan menaikkan sudut bibirnya tipis, nyaris tak terlihat.
" Jadi maksudmu aku ini crocodail, biawak atau komodo?! " desak Jofan yang akhirnya berhasil membuat Arresha berbalik badan dan menatapnya.
" Hey, stupid apa bedanya buaya dengan crocodail?! " sungut Arresha, kenapa temannya yang satu ini sangat bodoh.
Sekilas Jofan terpaku melihat mata Arresha yang sedikit membengkak karena terlalu lama menangis. Namun dengan cepat ia berhasil menutupi keterkejutan-nya dengan wajah ceria dan menyebalkan seperti biasanya. " Ya jelas beda lah, tulisannya saja berbeda apalagi bacanya?! " jawab Jofan tak mau kalah.
" Terserah kau saja! Terserah!! " ucap Arresha yang mulai merasa kesal. Ia memutuskan untuk kembali memunggungi Jofan dan mendekap erat bonekanya. Jofan kembali menghembuskan nafasnya, hampir saja dia ikut terbawa emosi.
" Di depan ada Byun dan Chan, mereka masih tidur. Semalam mereka memaksa untuk ikut jadi aku terpaksa mengajaknya." jelas Jofan melirik sekilas pada Arresha yang membenamkam kembali wajahnya pada bantal anak ayam pemberiannya.
" Biarkan saja, aku tidak mengenal mereka." jawab Arresha malas.
" Kau bisa bercerita kepadaku kalau kau sudah siap, aku siap mendengarkanmu kapanpun. Kau tinggal kring maka aku langsung cling, sampai di depanmu." ucap Jofan membuat hati Arresha menghangat, tak menyangka dia punya teman sebaik ini.
" Sekarang kau boleh menangis sampai kamarmu banjir karena air matamu. Tapi kau tidak boleh mabuk seperti kemarin malam. Kalau mau mabuk telfon aku setidaknya jangan minum sendiri seperti itu. Untung aku yang menemukanmu, bagaimana kalau preman atau penjahat yang menemukanmu?! "
Mendengar ucapan Jofan membuat Arresha memutuskan untuk duduk menghadap Jofan yang terus menatapnya, namun Arresha hanya diam dan terus memperhatikan Jofan, membuat Jofan menatapnya heran dan penuh tanda tanya.
" Hhhhuuuwwwaaaaaaa........ "
Arresha menangis sangat keras, membuat Jofan kaget dan secara reflek langsung membekap mulut Arresha. Takut jika sampai Byun dan Chan bangun dan malah salah paham kepadanya.
Arresha yang merasa sesak bernafas karena Jofan membekapnya sangat erat, berusaha menggigit telapak tangan Jofan dan berhasil. Jofan langsung melepaskan bekapannya dan mengaduh kesakitan.
" Aawwww... Kenapa kau malah menggigitku?! " protes Jofan yang merasakan nyeri di telapak tangannya yang memerah dan terdapat bekas gigitan Arresha yang menancap di permukaan kulitnya.
Byun dan Chan sedikit mendengar saat pertama kali Arresha menangis dan berteriak, mereka mengira salah dengar maka dari itu mereka hanya diam dan memperhatikan kembali.
" Dia membohongiku dan dia mau menikah!! Huwaaaaaaa!!!! " tangis Arresha berhasil membuat Byun dan Chan langsung bangun, kemudian berlarian masuk ke kamarnya.
Entah mengapa setelah mendengar ucapan Jofan tadi membuat hatinya meronta dan menuntut pelepasan. Arresha tak bisa terus memendamnya, rasanya terlalu sakit untuk dia pendam sendirian. Dan Jofan adalah orang yang paling tepat karena Jofan adalah satu-satunya sahabat yang sangat bisa ia percayai.
" Sttttt... Arresha pelankan suaramu!! " ucap Jofan yang mencoba menutup mulut Arresha dengan telapak tangannya lagi. Namun gagal, Arresha terus mengalihkan tangan Jofan dari wajahnya dan terus saja menangis.
" Aku menunggunya bertahun-tahun dan setelah kembali dia malah membohongiku, Hiiikksss... ternyata dia sudah memiliki seorang tunangan dan sebentar lagi mereka akan menikah." ungkap Arresha terisak.
Jofan yang tidak tega melihat Arresha menangis langsung menariknya dan memeluknya erat. Tangannya kembali mengelus punggung Arresha. " Itu berarti dia bukan yang terbaik untukmu Arresha. Cuppp...cupppp... Tenanglah! " ucap Jofan lembut.
" Tunangannya datang menemuiku, dia menceritakan semuanya padaku. Hiksss.. Erros bahkan berniat membatalkan pernikahannya hanya demi diriku!" tangis Arresha semakin menjadi, bahunya bergetar. " Apa dia pikir aku mau hidup bahagia bersamanya di atas penderitaan orang lain?!"
Jofan hanya diam dan mendengarkan Arresha mengeluarkan semua beban di hatinya, tangannya masih setia mengelus punggung dan rambut Arresha.
" Aku menunggunya bertahun-tahun seperti orang gila! Aku selalu percaya bahwa dia akan datang dan menemuiku!! Bahkan kemarin ketika dia mengajakku ke penthouse-nya, tunangannya datang dan dia menutupi semuanya dariku. Aku seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa. Aku memang bodoh!! " Arresha mengadu pada Jofan, mencoba mengeluarkan semua hal sedari kemarin sangat menusuk di hatinya.
" Husssttttt... Kau tidak bodoh Arresha, dia yang bodoh karena sudah menyakitimu!"
" Kemarin dia menyiapkan makan malam yang sangat romantis untukku, hikksss... membuatku terbang di atas awan dan sekarang dia menghempaskanku hingga ke dasar bumi. Dia jahat sekali Jofan!! " tangis Arresha semakin menjadi, hatinya semakin sesak saat mengingat makan malam yang sangat romantis yang Erros sediakan untuknya.
Arresha masih belum mengetahui jika yang menjemputnya dan mengajaknya ke mansion serta menyiapkan Candle Light Dinner kemarin adalah Erris, saudara kembar Erros.
" Kau beruntung karena mengetahui ini di awal dan kau juga belum menghancurkan pernikahan mereka. Jadi berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Oke?! " ucap Jofan mencoba untuk menenangkan tangis Arresha.
Arresha masih saja menangis dan tak melepaskan pelukannya dari tubuh Jofan, saat ini dia memang membutuhkan sepasang bahu untuk bersandar dan sepasang telinga untuk mendengarkannya. Air mata Arresha terus mengalir membasahi baju milik Jofan, tapi ia tak peduli karena rasanya belum puas menangis dan merutuki kebodohannya sendiri.
Kenapa Erros begitu tega membodohi dirinya selama ini?
Byun dan Chan kini bersembunyi di balik pintu dan hanya mengintip di balik celah pintu yang sedikit terbuka, mereka ikut mendengarkan Arresha bercerita. Mereka sempat berfikir telah terjadi sesuatu yang di inginkan, maka dari itu ketika mendengar suara Arresha yang menangis dan berteriak mereka langsung bangun dan berlarian menuju kamar Arresha.
" Aku tak menyangka Jofan bisa berbicara sebijak itu?! " bisik Byun, matanya masih saja mengintip Jofan dan Arresha yang tak melepaskan pelukannya satu sama lain.
" Dia hanya bijak kalau masalah wanita!" timpal Chan berbisik. Ia pun ikut mengintip Jofan dan Arresha di dalam kamar.
" Tapi aku baru kali ini melihatnya seperti itu. Selama bertahun-tahun mengenalnya yang aku tahu dia tidak terlalu menanggapi gadis-gadis yang mendekatinya?! " ungkap Byun.
Memang benar, selama ini Jofan banyak dekat dengan para gadis-gadis cantik dan terkenal tentunya. Namun ia tak terlalu menanggapi mereka dan hanya menganggap mereka teman ataupun yang lainnya. Baru kali ini mereka melihat Jofan begitu perhatian pada seorang gadis.