Being The Second

Being The Second
Episode 12 - Perhatian Jofan 2



Aku memang menemukan orang yang mungkin lebih baik dari dirimu. Tapi tak pernah aku temukan satu orang pun selain dirimu yang membuatku nyaman seperti saat bersamamu.


•••••••••••••••


" Jadi 2000 dapat 3 ya bang. Jangan pakai sambal!! Hahaha" jawab Arresha tertawa membuat Jofan tertawa kecut mendengarnya. Padahal dia bersungguh-sungguh ketika mengatakan ingin menjadi kekasih Arresha. Dia tak pernah bermain-main jika menyangkut hati, hati bukanlah sebuah lelucon menurutnya.


" Kenapa susah sekali menjebakmu sih?! hahaha... " jawab Jofan, dia ikut tertawa. Dia ingin menyembunyikan rasa kecewanya sekarang.


Wajahnya tertawa tapi berbeda dengan hatinya. Tak bisakah sekali saja Arresha mencoba untuk mengerti perasaanya?! Tak bisakah sekali saja Arresha berusaha menyelami hatinya?! Sekali saja dia mencoba pasti dia akan tau seberapa besar dan dalam rasa yang Jofan berikan untuknya.


Mungkin orang akan menyebutku bodoh, tapi aku tidak peduli. Aku tidak peduli pandangan orang lain, asal bersamamu saja aku menemukan duniaku, batin Jofan.


" Oh ya Arresha, pria yang bersama mu di caffe waktu itu siapa? " tanya Jofan mengalihkan pembicaraannya.


" Yang mana? "


" Yang waktu itu yang kau jewer telinganya? Kalian sepertinya akrab sekali? "


Waktu itu Jofan memang sempat membuntuti Arresha tapi dia malah kehilangan jejaknya saat lampu merah seperti sengaja menyala saat dia sedang terburu-buru. Padahal dia sangat penasaran sekali, selama dia mengenal Arresha dia tak pernah melihat Arresha pergi bersama pria lain selain dirinya dan Theo.


" Ohh yang itu, dia yang memberiku kalung dan gelang ini, " kata Arresha tersenyum menunjukkan kalung yang pernah di berikan oleh Erros dulu.


" Jadi dia sudah kembali? " tanya Jofan, dia jadi ingat sekarang saat Arresha bercerita tentang kekasihnya yang pergi namun tak kunjung kembali. Dan selama itu Arresha tetap menunggunya dengan sabar, padahal selama ini Jofan terus berusaha menemukan sedikit saja celah yang mungkin saja tersisa di hati Arresa. Namun Jofan tak pernah berhasil, arresha hanya memberikan ruang bernama 'persahabatan' dengan dirinya.


" Hummmm, " Arresha hanya menjawab singkat, tangannya meraih kalung yang dulu pernah Erros berikan kepadanya, dia memandangnya dengan mata berbinar dan senyum manis terus tersungging di wajahnya, sekali lagi berhasil membuat Jofan patah hati karenanya.


Ternyata benar kata orang, kau akan merasakan sakit ketika melihat seorang yang kau cintai tertawa dan alasannya tertawa itu bukan dirimu. Itulah yang di alami oleh Jofan saat ini, hatinya sakit melihat Arresha terlihat sangat bahagia ketika akhirnya yang dia tunggu selama ini kembali padanya.


Ternyata dia kembali, aku pikir dia tak akan pernah kembali. Dan semudah itu dia mendapatkan hati Arresha setelah meninggalkannya selama bertahun-tahun. Lihatlah ke arahku sekali saja Arresha, kau pasti akan menemukan cinta yang lebih besar dan jau lebih indah dari yang dia berikan padamu, batin Jofan.


Jofan hanya diam saja tak ingin menjawab apapun karena bibirnya masih terasa kelu, padahal dia pikir akan ada kesempatan untuknya mendapatkan Arresha, tapi ternyata dia salah. Pria itu sudah kembali dan sebegitu mudahnya dia mendapatkan Arresha lagi, mengapa dunia terasa seperti sedang mempermainkannya sekarang. Jofan memalingkan wajahnya ke samping, dia tak ingin arresha melihat wajah kecewanya sekarang.


Mobil Jofan berhenti dengan sempurna di teras rumah kontrakan milik Arresha, kemudian mereka turun bersama dan berjalan masuk ke dalam halaman rumah.


" Memangnya kau tidak di marahi teman-temanmu kalau kau terlambat datang?! " tanya Arresha, dia merogoh tas miliknya untuk mengambil kunci rumahnya.


" Kalau aku di marahi apa kau mau bertanggung jawab?! " tanya Jofan melirik sekilas pada Arresha.


" Ya jelas lah! " Arresha melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah setelah berhasil membuka pintu.


" Jelas apa?! " tanya Jofan yang juga ikut masuk mengikuti langkah Arresha.


" Jelas tidak lah, hahaha... " jawab Arresha yang hanya membuat Jofan terkekeh pelan.


" Kau mau sarapan apa? Nasi goreng? Omelet? Salad? Sandwich atau apa? " tanya Arresha pada Jofan yang sudah duduk di kursi ruang tamu.


" Tapi adanya cuma roti dan telur?! " imbuhnya lagi.


" Harusnya tidak usah menawariku yang lain kalau adanya cuma roti dan telur! " jawab Jofan terkekeh, kenapa ada gadis yang sangat menggemaskan seperti ini sih?!


" Kan siapa tahu kau mau yang lain, aku akan membeli bahannya dulu ke toko depan jalan sana, " jawab Arresha dengan wajah polosnya yang berhasil membuat Jofan tersenyum.


" Hilih ilisin " jawab Jofan terkekeh.


Arresha berjalan ke pantry dapur di sebelah ruang tamunya, ingin mencuci tangan terlebih dahulu sebelum kemudian mengambil roti dan telur. Kemudian membuka kulkasnya untuk mengambil satu kotak susu dan menghangatkannya.


" Kita buat sandwich isian telur saja! " usul Jofan mengikuti langkah Arresha yang berjalan menuju dapur.


" Kau mandi saja, nanti aku yang akan menyiapkan sarapannya! " imbuhnya lagi setelah berdiri di samping Arresha.


Arresha mengikat rambutnya dengan model bun, membuat leher jenjangnya terlihat menggoda dengan beberapa anak rambut yang lolos dari ikatan rambutnya.


" Hei kau tamuku Tuan Artis biar aku yang menyiapkannya kau tinggal duduk dan menunggu saja! " ucap Arresha


" Sudahlah biarkan aku membantumu, sini rotinya biar aku yang memanggangnya! " ucap Jofan mengambil plastik berisi roti dan memanggangnya di atas teflon yang sudah di beri margarin sebelumnya.


Setelah matang kemudian Jofan meletakanya di atas piring dan membawanya menuju meja makan, di susul Arresha yang membawa dua gelas susu hangat di tangannya.


" Selamat makan, jangan lupa berdoa dulu! " ucap Jofan setelah mereka duduk dan kemudian dia mulai memimpin doanya.


" Ohh ya Jofan, aku kemarin membuat pudding, sebentar aku ambilkan dulu, " kata Arresha berdiri mengambil pudding yang kemarin sempat dia buat.


" Kau mau? Aku membuat banyak kemarin nanti akan aku siapkan untuk bekal mu saat berlatih, " imbuhnya lagi riang membuat Jofan tersenyum.


" Terimakasih, " jawab Jofan tersenyum.


" Jofan, kau yakin mau mengantarku ke caffe? Shift ku mulai pukul 3 sore dam ini masih pukul 11 siang, lebih baik kau berangkat saja ke tempat latihanmu?! "


" Jam 9?! Kenapa kai tidak bilang dari tadi?! " kata Arresha terkejut.


" Sudah lah tidak apa, aku akan berangkat nanti saja bersamamu! " Jofan mengambil gelas sususnya dan meminumnya hingga habis.


" Ya sudah kalau begitu maumu, aku mau mandi dulu badanku rasanya lengket semua " kata Arresha kemudian bangkit membereskan gelas dan piringnya yang kotor kemudian mencucinya.


Arresha berpamitan untuk membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket. Sementara Jofan memilih untuk menonton televisi dan memakan beberapa camilan yang tadi di ambilnya dari kulkas.


Sekitar 30 menit akhirnya Arresha selesai mandi dan keluar dari kamarnya mengenakan hotpans pendek dan juga kaos polos yang terlihat kebesaran di tubuhnya, rambutnya yang basah dia biarkan terurai.


Penampilan Arresha yang terkesan sexy dan sangat natural berhasil membuat Jofan terpesona, dengan kasar ia menelan ludahnya.


................................................


Erros berdiri di samping kaca pembatas ruang perawatan ayahnya. Sudah berjam-jam dia hanya diam dan memandang tubuh ayahnya yang terbujur lemah tak berdaya di atas ranjang pesakitan. Semalam Erros mendapatkan kabar jika ayahnya mengalami insiden penyerangan ketika dalam perjalanan kembali dari Moskow. Mendengar kabar ayahnya di serang membuat Erros langsung waspada, dia segera memutuskan untuk meningkatkan parimeter keamanan ayahnya dua kali lipat dari biasanya. Bagaimanapun dia tidak ingin kecolongan lagi.


Erros langsung bisa menebak siapa dalang di balik insiden penyerangan ayahnya itu. Dia sudah pasti adalah Erris, saudara kembarnya yang masih menyimpan dendam pada ayahnya. Karena demi melindungi ayahnya sang ibu harus meregang nyawa di tangan para mafia tak lain adalah musuh ayahnya.


Pandangannya berubah kelam saat mengingat tentang saudara kembarnya yang dengan teganya merencakanakan kematian ayahnya sendiri, bahkan dengan keji menusuknya hingga mengakibatkan ayahnya hampir saja meregang nyawa.


Nyx Erris Aether, saudara kembar yang hanya selang beberapa menit lebih tua darinya. Padahal dulu Erris adalah sosok kakak yang selalu menjadi panutannya, tapi semua berubah semenjak kematian sang ibu.


Erris yang tak terima ibunya mati dengan cara yang mengenaskan selalu menyalahkan sang ayah. Sungguh ironi memang, suami mana yang menginginkan kematian istrinya sendiri?! Dan ketika dia selamat dia harus menerima batu kebencian yang begitu besar dari anak kandungnya sendiri.


Ibunya meninggal bukan karena ayahnya, tapi karena mobil mereka di serang saat tengah melakukan perjalanan bisnis menuju Berlin. Pelakunya tiada lain adalah rival ayahnya, yang menginginkan kematian dari Hilton Aether, ayah Erros dan Erris.


Tuan Hilton berhasil selamat setelah Nyonya Maria, yang tak lain adalah istrinya dengan suka rela mengorbankan dirinya dengan menghadang berondongan peluru yang siap menembus dadanya.


Erris yang tak terima dengan kematian ibunya sudah membasmi seluruh orang beserta antek-antek yang terlibat dalam pembunuhan ibunya. Dengan melibatkan jaringan bawah tanah yang selama ini dia pimpin, akhirnya dia berhasil membalaskan dendamnya.


Tapi belum semua, dia ingin ayahnya mati. Dari pada terus hidup dan membuatnya terus tersiksa karena teringat kematian malaikatnya secara mengenaskan.


Kabar buruk kembali datang saat para pengawal pribadi ayahnya berhasil di kalahkan dan membuat ayahnya menghilang. Erros mengerahkan seluruh tim dan anak buahnya untuk mencari keberadaan ayahnya.


Tak kurang dari 3 jam mereka berhasil menemukan keberadaan sang ayah saat seorang informan mengabarkan ada seorang pria di larikan ke rumah sakit dengan luka tusuk mengenai bagian perutnya.


Setelah di pastikan kalau itu memang benar-benar ayahnya dia langsung bergegas menuju rumah sakit untuk melihat kondisi ayahnya.


Sebenarnya Erros meminta agar sang ayah langsung di pindahkan ke rumah sakit milik keluarganya, tentu dengan alasan karena rumah sakit milik keluarganya adalah rumah sakit bertaraf internasional dengan peralatan yang jauh lebih lengkap dan lebih canggih di bandingkan rumah sakit tempat ayahnya di rawat saat ini.


Namun dokter menolak keras permintaannya karena ayahnya baru saja selesai menjalani operasi dan kondisinya masih sangat kritis. Dokter menyarankan agar pasien lebih dahulu melewati masa kritisnya dan setelah di pastikan kondisinya stabil baru bisa di pindahkan. Alasan dokter itupun di benarkan oleh Dokter Althaf yang merupakan dokter pribadi keluarganya, tentu saja setelah memeriksa ulang kondisi dari Tuan Hilton.


" Erros, kau istirahat dan makanlah dulu, aku yang akan menjaga Paman Hilton, " ucap Lissa suaranya mendayu. Mengelus bahu Erros memberikan pengertian agar Erros beristirahat terlebih dahulu. Dia tau semalam Erros benar-benar tidak beristirahat.


" Baiklah, aku memang sangat lelah. Tolong jaga ayahku dan bangunkan saja aku kalau ada apa-apa, " jawab Erros, memeijit pangkal hidungnya. Setelah pemindahan ayahnya selesai barulah dia merasa pusing, mungkin di karenakan dia kurang tidur dan beristirahat dengan baik.


" Dia juga ayahku, apa kau lupa itu ?! Semenjak saat kita di jodohkan dulu aku sudah menganggapnya ayahku juga. Kau tenang saja aku pasti akan menjaganya sebaik dirimu, " kata Lissa penuh perhatian.


" Terimakasih Lissa, " jawab Erros seadanya.


Dia tahu Lissa adalah perempuan yang baik yang selama ini selalu mendukungnya. Lissa mempunyai hati yang tulus dan benar-benar menyayangi ayahnya seperti ayah kandungnya sendiri.


" Aku tidak menerima kata terima kasih darimu, kau calon suamiku dan itu juga sudah menjadi tugasku, " senyum manis terlukis di wajah cantik Lissa.


Calon Suami ?


Erros tak mungkin melupakan itu, dia memang calon suami dari Lissa. Tapi dia pun tak yakin apakah pernikahannya dengan Lissa akan benar-benar terjadi.


Ada wanita lain di hatinya, yaitu Arresha. Hanya Arresha yang ada di hatinya saat ini. Dan Lissa, dia hanya sekedar menghormati dan menghargai perempuan itu. Karena selama ini pun Lissa selalu menghormati dirinya.


" Makanlah dulu baru setelah itu kau bersihkan dirimu. Makananmu sudah aku siapkan di meja, aku akan menyiapkan air hangat dan juga pakaianmu, " kata Lissa lagi menuntun Erros menuju meja yang letaknya tak jauh dari ruang rawat ayahnya.


Erros hanya diam saja saat Lissa menyiapkan segala keperluannya, dia memperhatikan Lissa yang dengan sabarnya melayani dirinya, membuat hatinya tersentuh.


" Air hangatnya sudah siap, dan bajumu sudah aku siapkan, " ucap Lissa setelah keluar dari kamar tunggu yang berada di lantai tempat Tuan Hilton di rawat saat ini.


Erros hanya mengangguk, dia masih belum ingin terlalu banyak bicara sekarang. Suasana hatinya masih buruk dan dia belum bisa tenang, mungkin hanya Arresha lah yang bisa membuatnya tenang sekarang.


Mengingat nama Arresha membuat Erros ingin menemuinya saat ini juga, dia butuh ketenangan dan ketenangannya itu ada bersama Arresha.


Erros melangkah menuju bathroom, dia ingin berendam terlebih dahulu sekarang. Dia ingin merilekskan sedikit otot-otot di tubuhnya yang terasa menegang.


Setelah berendam kurang lebih 30 menit barulah Erros keluar dari dalam bathroom dengan mengenakan handuk jubah berwarna putih yang membungkus tubuhnya dengan sempurna. Kemudian meraih pakaian yang di siapkan oleh Lissa dan memakainya.