
" Mungkin ada sesuatu yang penting yang harus segera dia selesaikan." tutur Lissa, ekspresinya berubah muram, ia memilih untuk membuang muka, menahan butiran air mata yang siap untuk kembali merangsek, menerobos batasnya.
Arvin terus memperhatikan Lissa yang berusaha menutupi masalahnya darinya, melihat Lissa yang berubah seperti ini dia langsung tahu jika hubungannya dengan Erros memang tengah bermasalah. Arvin benar-benar merasa iba, hatinya merasa nelangsa melihat Lissa yang bahkan masih menutupi keburukan Erros darinya.
Arvin merentangkan kedua tangannya, membuat Lissa mengerutkan dahinya, menatapnya heran.
" Peluklah aku, kau bisa menceritakan segalanya kepadaku adik kecil. Kau tidak sendiri, aku ada disini dan siap mendengarkanmu adik kecilku yang manis." Arvin berucap lembut, matanya menatap sendu pada Lissa yang kini tengah sekuat tenaga menahan tangisannya.
Mendengar ucapan Arvin tentu saja membuat Lissa tak bisa menahannya lagi, dengan cepat ia merangkup tubuh kekar saudara sepupunya itu, Lissa memeluknya erat, sangat erat.
Dari kemarin dia terus menahannya sendiri, memendamnya sendiri. Dan rasa sakit itu semakin dalam menghujam jantungnya, mencabiknya dengan keji, seakan membunuhnya secara perlahan.
" Menangislah sampai hatimu merasa tenang, setelah itu kau bisa menceritakannya padaku." Arvin mendekap tubuh Lissa yang bergetar hebat, membiarkannya tenggelam dalam pelukannya, Arvin merasa miris melihatnya. Baru kali ini dia melihat Lissa begitu terpuruk seperti ini.
Apa yang sudah Erros lakukan padanya, batin Arvin.
Lissa terus menangis, menumpahkan semua air matanya yang bahkan tak pernah menyurut sedikitpun. Rasa sakit itu masih saja terlalu kuat mencabik-cabik hatinya, meruntuhkan segala dinding pertahanan yang ia buat saat tadi memutuskan untuk mengizinkan kakak sepupunya datang menemuinya.
Padahal ia sudah bersusah payah menyembunyikan lukanya, namun Arvin malah dengan mudahnya menemukan luka yang di simpannya rapat-rapat.
Setelah merasa cukup tenang barulah Lissa mengurai pelukannya, menghapus kasar air mata yang masih saja tak tahu diri ingin terus menetes keluar.
Tangan Arvin menyugar beberapa sulur anak rambut yang menutupi wajah cantik adik kecilnya itu, bibirnya mengurai senyuman tipis agar Lissa merasa tenang dan tak merasa sendiran.
" Apa Erros menyakitimu?" Arvin bertanya dengan nada hati-hati.
Lissa menengadahkan kepalanya, menggeleng pelan sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Arvin dengan lirih. " Dia tidak menyakitiku, aku yang salah karena membiarkan hatinya dimiliki wanita lain."
Arvin tercenung mendengar jawaban Lissa, ini bukan perkara siapa yang benar dan siapa yang berbuat kesilapan, jika membahas masalah itu semua sudah sangat jelas jika Erros lah yang bersalah.
" Jadi benar Erros dan gadis itu memiliki sebuah hubungan?" ekspresi Arvin menggelap, tak ingin percaya jika pria yang dia percaya akan menjaga adiknya malah tega menyakitinya seperti ini.
Lissa tak menjawab apapun, menatap lekat manik Arvin yang menatapnya tak percaya, matanya di penuhi luka sementara bibirnya bergetar seolah menahan sakit yang teramat sangat.
" Erros mengatakan ingin membatalkan pernikahan kami dan lebih memilih gadis itu, aku bisa apa Vin? Aku bahkan tak sanggup mengatakan tidak saat dia terus menyakiti perasaanku."
" Dan kau membiarkannya begitu saja? Padahal kau sendiri begitu tersiksa dan kesakitan karena hal gila yang di lakukan oleh Erros?" geram Arvin, tak dapat menutupi kekesalannya saat Lissa hanya diam dan tak mampu menjawab pertanyaannya itu.
" Aku bisa apa Vin?! Katakan kepadaku apa yang bisa aku lakukan untuk mencegahnya?! Jika ada aku pasti akan melakukannya agar Erros tetap berada di sisiku."
" Tapi tiga bulan lagi kau akan menikah dengannya Delissa! Bersikaplah egois kali ini saja! Pikirkanlah perasaanmu!!" Arvin mendengus kesal.
Gadis sebaik dan setulus Lissa, dia cantik, memiliki segalanya, kaya raya, dari keluarga tepandang, apa kurangnya dia?!
Jika saja Lissa bukanlah saudara sepupunya sendiri, pasti dia akan berusaha mati-matian untuk merebutnya dari Erros, pria ******** yang benar-benar tak pantas mendapatkan cinta yang begitu tulus dari Lissa.
Lissa mengalihkan pandanganya pada gemerlap jutaan bintang yang menghiasi angkasa. Menyeka ujung matanya yang sesekali masih meneteskan air mata.
" Aku hanya berharap agar perasaanku mati saja, agar aku tak merasakan sakit lagi saat mendengar Erros mengatakan ingin berakhir. Tapi nyatanya perasaanku tak pernah mati Vin, rasanya masih saja sangat sakit dan aku masih saja mencintainya dengan sangat." Lissa kembali tertunduk, bahunya bergetar karena tangisannya.
" Bahkan hampir seumur hidupku ku habiskan untuk selalu mencintainya, tapi nyatanya cintaku tak berarti apa-apa untuknya. Aku kalah Vin, aku tidak ingin menyerah, tapi aku juga tidak ingin memaksanya tinggal saat dia berusaha menggapai kebahagiaannya, dan kebahagiaannya bukan denganku Vin, aku bisa apa?! "
Lissa meremas dadanya yang terus berdetak sangat cepat, jantungnya seakan meronta ingin keluar karena tak mampu lagi menahan sesak dalam jiwanya.
Arvin hanya diam memperhatikan Lissa yang kini menangis tersedu, siapapun yang melihatnya pasti akan merasa iba mendengar tangisannya tanpa harus tahu apa masalah yang dia alami saat ini.
" Aku mencintainya Vin, aku sangat mencintainya. Aku ingin marah, aku ingin menghancurkan semuanya saat dia berkata ingin berakhir. Tapi aku terlalu lemah, bahkan untuk mengatakan tidak-pun nyatanya aku tak sanggup Vin."
Erros!! Aku akan membuat perhitungan denganmu!!! batin Arvin mendesis murka.
" Jika jatuh cinta ternyata sesakit ini aku merasa tak ingin saja merasakannya, tapi aku bahkan tak sanggup beralih saat di matanya menemukan debaran jantungku, dan di senyumannya aku menemukan duniaku, sesuatu yang halus yang tak pernah aku temukan selain darinya."
" Cintaku tulus untuknya Vin. Cintaku tanpa pamrih." Lissa menghela napasnya yang kian memberat. " Semoga kerelaanku menjadi bagian dari bahagianya."
Sekali lagi Arvin menarik napasnya panjang, semakin memburu rasanya. Manusia mana yang akan menerima begitu saja adiknya di sakiti seperti ini, pasti dia akan menuntut balas perbuatan Erros pada Lissa.
Lissa beralih, memaksa masuk ke dalam dekapan Arvin. Pria bertubuh jangkung itu mengelus puncak kepala Lissa dengan lembut, dia tak bisa berkata apapun sekarang. Pikirannya seolah buntu, hanya ada kata menuntut balas perbuatan Erros.
" Jangan melakukan apapun padanya, jika kau menyakitinya itu berarti kau juga menyakitiku juga." tutur Lissa yang seakan mengerti jalan pikiran Arvin saat ini.
Arvin menggeram kesal. " Aku tak bisa hanya diam saja saat dia menyakiti adikku yang paling aku sayangi, bahkan aku selalu menjaga perasaanmu agar tak terluka sedikitpun. Tapi dia malah meremukkan hatimu seperti ini, bagaimana aku bisa diam saja?!!" berang Arvin tak terima.
Lissa mengurai pelukan Arvin, menatap pria itu dengan sendu namun penuh dengan luka dalam sorotan matanya.
" Bahagianya juga bahagiaku Vin, maka sakitnya akan lebih menyakitiku." lirih Lissa.
" Jangan bodoh Lissa, kau cantik bahkan sangat cantik, kau memiliki segalanya, apa yang tidak kau punya? Kau bisa membuat Erros tetap berada di sisimu dengan segala yang kau miliki." Arvin mendesis kesal karena kebodohan adiknya itu yang bahkan terima saja saat Erros terus menyakitinya.
" Lalu apa gunanya jika dia di sisiku tapi hatinya bukan untukku." jawab Lissa membuat Arvin terdiam.
Arvin hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar mendengar jawaban Lissa yang begitu naif, kenapa dia tak pernah sadar mempunyai adik sebodoh ini.
" Sudah jangan menangis terus, lebih baik sekarang kau tidurlah, ini hampir tengah malam. Aku akan menemanimu, aku akan menginap disini." ucap Arvin yang tak ingin melihat adiknya itu terus saja menangis.
Lissa menghela nafasnya, tangannya beralih menghapus air matanya namun tentu masih meninggalkan bekas di wajah cantiknya.
" Tumben sekali menginap disini?" ujar Lissa merasa heran.
Mendengar pertanyaan Lissa membuat Arvin menggendikkan kedua bahunya sebelum menjawab pertanyaan Lissa.
" Berjaga-jaga saja siapa tahu kau akan bunuh diri dengan melompat dari atas balkon ini atau siapa tahu juga kau akan memotong nadimu hingga semua darah di tubuhmu yang sekarang menjadi kurus kering ini habis tak bersisa. " ledeknya, menggiring tubuh Lissa untuk masuk ke dalam penthouse.
Lissa terkekeh mendengar ucapan Arvin, dia tidak segila itu hingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena masalah yang dia alami saat ini. Dia mempunyai tanggung jawab yang harus ia emban, dan juga dia adalah putri sematawayang dari Tuan Louis, hidupnya bukan untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk semua orang yang membutuhkannya.
Setelah memastikan Lissa memasuki kamarnya Arvin tak langsung masuk ke dalam kamar tamu, tempatnya akan bermalam. Ia lebih memilih untuk, membanting tubuhnya di sofa ruang santai, mendengar tangisan Lissa dan juga menahan amarah yang tadi sempat memuncak ternyata cukup menguras energinya.
" Aku hanya akan memberinya sedikit pelajaran, agar dia sadar dengan apa yang sudah dia perbuat padamu." gumam Arvin, menengguk minuman bersoda yang tadi sudah dia buka dan tinggal sepertiga-nya, saat dia meminumnya tak ada lagi sensasi rasa sparkling (berbuih) hanya ada rasa cola yang sedikit manis yang memenuhi indera pengecapnya.
........................
Fajar mulai menyingsing di tandai dengan semburat cahaya yang berusaha untuk menerobos masuk, menembus tirai gorden yang cukup tebal di kamar tempatnya bermalam.
Arresha merasa enggan beranjak dari kasurnya, setelah semalam memaksa ingin pulang namun tak di izinkan sama sekali oleh Erros akhirnya dia mengalah dan menuruti keinginan Erros untuk menginap di penthouse-nya.
Arresha menatap langit-langit kamar mewah itu, ingatannya kembali pada saat semalam dirinya baru kembali dari restaurant bersama Erros. Lelaki itu meminta izin untuk memasuki kamarnya dan berkata ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dengan Arresha.
" Aku ingin kau memakai ini lagi Arresha." Erros mengeluarkan kalung dan juga gelang yang waktu itu di kembalikan oleh Arresha.
Arresha diam tak berniat meraih kalung dan juga gelang yang di berikan Erros padanya. Kediaman Arresha menciptakan suasana hening di kamar mewah itu.
" Apakah kau mencintaiku?" Arresha menatap lekat wajah rupawan yang menjadi pemilik hatinya itu.
Erros tak langsung menjawabnya, dia mengubah posisinya yang tadi duduk di samping Arresha, bergulir berlutut di depan Arresha yang duduk di tepian ranjang mewah nan empuk itu.