
" Bisakah aku meminta waktumu satu hari? Satu hari saja, aku ingin menghabiskan satu hari lagi denganmu, aku ingin membuat sebuah kenangan manis denganmu sebelum aku benar-benar merelakanmu pergi." tanya Lissa tanpa bisa melepaskan tatapannya dari mata Erros yang menyorot tajam sekaligus sendu padanya.
Keheningan langsung membentang di antara mereka, antara kesenyapan Erros yang tak terbaca berpadu dengan kesabaran Lissa untuk menunggu jawaban atas permintaannya.
Permintaan Lissa berhasil membuat Erros tercenung, tak mengira dari sekian banyak hal yang tadi terlintas di benaknya Lissa malah meminta hal itu darinya. Mengapa permintaan itu terdengar miris bagi Erros.
Semula Erros nampak ragu, tetapi setelah mengambil jeda untuk memantapkan hati akhirnya Erros mengangguk sejenak sebelum berusaha mengurai senyum tipis di wajahnya. Tatapan matanya berubah sendu sebelum akhirnya ia membuka mulutnya dan menyuarakan jawabannya.
" Baiklah, mari kita bersenang-senang selama satu hari penuh."
" Janji?" tanya Lissa memastikan yang malah terdengar lucu bagi Erros, membuatnya terkekeh.
" Iya janji, kapanpun kau mau akan aku usahakan waktuku."
Lissa nampak berpikir sejenak. " Besok aku mau kau menjemputku jam 7 pagi, tidak lebih dan tidak kurang. Bagaimana Tuan Erros?"
" Baiklah, karna ini permintaanmu aku menyerahkan pengaturan sepenuhnya kepadamu." jawab Erros yang semakin membuat senyum di bibir Lissa mengembang sempurna.
Tak apa, walau satu hari aku akan sangat bersyukur, batin Lissa yang berusaha menguatkan hatinya sendiri.
........................
Erris berdiri di samping dinding kaca yang terletak di ruang kerjanya, matanya menatap lurus pada hamparan danau buatan yang berada di belakang mansion megah miliknya.
Rimbunnya pepohonan yang tertata sempurna di tambah dengan hamparan rumput berwarna hijau yang mengelilingi tepian danau buatan itu berhasil membuat pemandangan yang menenangkan jiwa karena keindahannya.
Ekspresinya dingin, sedingin hatinya sekarang. Tangan kirinya segaja ia selipkan pada saku celananya, sementara tangan kanannya memegang sebuah gelas kristal yang berisikan sampanye kesukaannya, jemarinya sengaja menggoyang-goyangkan gelas itu agar dinginnya es batu itu merata menyeluruhi setiap tetes sampanye miliknya.
" Permisi Tuan, dua kontainer senjata api jenis G2 Premium Kal.9MM di laporkan sudah memasuki gudang bagian selatan." suara Assisten Ken berhasil memecah keheningan yang sengaja di nikmati oleh Erris.
Assisten Ken menyampaikan informasi yang baru saja dia terima dari layar digital yang sedari tadi berada dalam genggamannya itu dengan lugas, tak melewatkan satu hal pun dalam setiap ucapannya.
Erris hanya bergeming, wajahnya tetap saja dingin seperti biasa bahkan saat keberhasilannya secara gamblang di jelaskan oleh Assisten Ken dia sama sekali tak merubah ekspresinya.
Setelah memutuskan pergi dari rumahnya dulu, Erris akhirnya kembali ke Rusia, negara asal mendiang ibunya. Kakeknya termasuk salah satu mafia yang paling di takuti disana, Erris menjalankan bisnis bawah tanah yang di wariskan mendiang kakeknya yang bergerak di bidang amunisi dan senjata api dengan sukses dan gemilang, membuat namanya semakin di perhitungkan di dunia bawah tanah.
Tiga tahun lalu ia memutuskan untuk kembali ke Seoul, negara tempat dimana makam ibunya berada. Dan semua kenangan masa kecilnya yang indah dengan mendiang ibunya terukir disini. Ia menjalankan bisnisnya dari negara ini, dengan dalih sebagai perusahaan senjata untuk pemerintah ia pun melancarkan bisnisnya dengan merambat pada dunia bawah tanah di negara ini.
" Tuan, menurut informasi saat ini Tuan Erros tengah berada di penthouse Nona Delissa, dan Nona Arresha saat ini tengah bekerja di caffe seperti biasanya." Assisten Ken memberikan informasi lain yang di minta Erris secara terperinci.
" Siapkan mobil, kita ke caffe."
Tanpa banyak bicara Assisten Ken menggangguk dan membungkukkan badannya sebelum undur diri untuk menjalankan perintah Tuannya itu.
.................................
Dengan ringan Arresha melangkahkan kakinya melewati deretan meja yang nyaris di penuh oleh pelanggan caffe. Jam makan siang baru 15 menit di mulai, membuat caffe Horizon menjadi ramai oleh pelanggan yang biasa menghabiskan jam makan siangnya sembari mengopi di caffe.
Jofan dan teman-temannya masih menikmati makanannya dan juga asyik bercengkerama satu sama lain. Hampir dua jam mereka disana namun sama sekali tak merasa bosan, mungkin karena suasana caffe yang
Erris tersenyum simpul melihat Arresha yang tengah berdiri membelakangi dirinya, dengan cepat ia melangkah mendekat ke arah Arresha dan melingkarkan sebelah tangannya pada pinggul gadis itu.
" Selamat siang nona cantik." bisik Erris berhasil mengejutkan Arresha yang kini tengah berdiri di depan meja kasir, bill di tangannya nyaris jatuh karena kaget dengan tangan yang melingkari pinggulnya itu.
Arresha melebarkan matanya melihat Erris berdiri di sampingnya dengan senyumnya yang tampan. Bau maskulin perpaduan lemon sisilia, anggur, dan cemara langsung memenuhi indera penciuman Arresha.
" Erros?" sahut Arresha, tak menyangka Erros datang ke caffe, padahal baru tadi pagi mereka bertemu.
" Apa aku mengejutkanmu gadis?" tanya Erris dengan senyuman tipis di bibirnya yang malah terlihat begitu menggoda bagi kaum hawa.
" Menurutmu? Untung aku belum memukulmu." Arresha menengadahkan kepalanya menghadap Erris yang kini berdiri di sampingnya. " Ada apa kau datang kemari?"
" Aku merindukan gadisku, apakah aku dilarang datang dan menemui mu?" bisik Erris, sengaja dia mengetatkan cengkeraman tangannya dan mendekatkan bibirnya pada daun telinga Arresha, membuat gadis itu bergidik karena sensasi tergelitik akibat hembusan nafas Erris yang menyentuh permukaan kulitnya.
" Astaga!!! Baru tadi pagi kita berpisah." Arresha menggelengkan kepalanya sembari terkekeh, merasa lucu karena baru tadi pagi mereka berpisah dan sekarang pria itu berkata merindukannya, seakan bertahun-tahun berpisah.
" Tunggu disini, aku harus mengantarkan bill ini dulu." imbuh Arresha melepaskan tangan Erris yang masih melingkar di pinggulnya kemudian melangkah meninggalkan Erris yang kini berdiri dan terus menatapnya.
Jofan dan yang lain langsung menolehkan kepalanya mengikuti tatapan mata Mark yang mengarah pada meja kasir. Mereka terus memperhatikan Arresha dan Erris yang tampak begitu dekat, bahkan Erris melingkarkan tangannya di pinggang Arresha, membuat mereka dengan serempak mengerutkan keningnya.
" Apakah itu pacarnya yang waktu itu membuatnya menangis?" tanya Chan yang teringat kejadian hari itu, dimana Jofan, Byun dan dirinya kelimpungan mencari Arresha dan menemukannya tengah mabuk di depan sebuah mini market.
Jofan tak menjawab, gerahamnya mengetat saat melihat Erris begitu dekat dengan Arresha. Tangannya mengepal menahan rasa cemburu yang kembali mulai melingkupinya.
" Jofan? Benarkah itu kekasih Arresha?" Byun menepuk pundak Jofan karena pria itu hanya bergeming menatap Arresha dan Erris.
Kekasih Arresha? pikir Jofan, dia kembali teringat ucapan Arresha saat di ruang khusus karyawan tadi. Sebisa mungkin ia melucuti emosi yang mulai merembet masuk ke dalam hatinya, membakar api cemburu yang mulai mengepulkan asapnya.
" Sepertinya aku pernah melihat pria itu, tapi dimana ya?" Kim nampak berfikir, menggali ingatannya tentang sosok yang kini bersama Arresha itu.
" Bukankah itu Tuan Nyx Erros Aether? CEO dari Aether Group Company?!" seru Dio yang lebih dulu berhasil mengenali sosok yang kini bersama Arresha.
Mendengar ucapan Dio membuat semua yang ada di meja itu membelalakkan matanya tak percaya. Dengan cepat mereka mencari nama Nyx Erros Aether di mesin pencarian otomatis pada ponsel mereka.
" Benar, itu Erros Aether, CEO ACG!!" seru Mark tak habis pikir.
Kekasih Arresha adalah seorang CEO, dari ACG? Perusahaan besar yang melingkupi berbagai bidang industri di Korea? batin Jofan tak percaya.
Mereka mengira Erris adalah Erros, karena dalam daftar pemegang saham terbesar sekaligus pemilik dari Aether Group Company hanya tertera nama Erros, tak ada nama Erris.
" Jadi apa hubungannya dengan Arresha? Kenapa mereka terlihat sangat dekat sekali?" tanya Chan bingung.
" Dia kekasih Arresha." Jofan menjawab singkat yang langsung membuat teman-temannya itu memalingkan wajah menatapnya tak percaya.
" Kekasih? Arresha?" tanya mereka masih tak bisa mempercayai hal itu.
...Member XO...
.................
Kening Arresha berkerut saat mengingat dengan mudahnya Theo mengizinkan dirinya pergi meninggalkan caffe, padahal jam kerjanya masihlah panjang.
Saat ini Arresha tengah berada dalam mobil mewah milik Erris, mobil mewah itu terus melaju membelah jalanan ibukota. Tentu saja Arresha tak menyadari dengan keberadaan satu mobil lain yang kini mengikuti mobil itu dari belakang.
Atas instruksinya akhirnya Assisten Ken beserta para pengawal Erris mengikutinya dari titik aman yang tak terlalu mencolok, tak ingin membuat Arresha merasa terganggu dengan keberadaanya.
" Erros kita akan kemana?" Arresha bertanya perlahan dengan nada hati-hati saat menyadari supir itu kini mengemudikan mobilnya keluar dari pusat kota menuju jalur besar yang mengarah ke pinggiran kota.
" Kau akan tahu nanti, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu." jawab Erris lembut meraih jemari Arresha, menggenggamnya erat namun tak menyakiti sama sekali, kemudian mengangsurkannya mendekat.
Arresha memilih diam tak ingin bertanya lagi, entah mengapa di dalam mobil seperti ini membuatnya kembali merasa tak nyaman meskipun mereka tak hanya berdua di dalam mobil itu.
Arresha belum pernah melalui jalur ini sebelumnya, tetapi dia paham jalur berkelok dan di penuhi dengan pepohonan pinus nan indah di kiri-kanannya, ini adalah jalur yang mengarah ke area pegunungan nan sejuk di pinggir kota.
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam dari pusat kota, mobil itu akhirnya berbelok ke jalan khusus yang lebih lenggang dari sebelumnya. Hamparan pepohonan dan juga rumput hijau yang terbentang luas membuat kening Arresha berkerut semakin dalam, namun dia memilih untuk tetap diam.
Heaven Memorial Park
Pelang besar itu menyambut dengan megahnya saat mobil itu mulai melintasinya. Sebuah pemakaman yang lokasinya di kelilingi oleh hamparan gunung dan lereng dengan udara yang sejuk, serta aliran sungai yang jernih dengan gugusan hutan yang rimbun.
Pemakaman tersebut berada di lahan dengan kontur berbukit, menjadikannya nampak bertingkat dengan pola makam yang teratur.
Udara sejuk nan segar khas pegunungan langsung menyambut Arresha saat gadis itu menapakkan kakinya dan memandang ke sekelilingnya, pemandangan indah dan udara yang sejuk sama sekali tak membuat perhatian Arresha teralih.
Mengapa Erros membawanya ke pemakaman? Dan ke makam siapa? pikir Arresha bingung.
" Ayo Arresha?" Erris mengulurkan tangan kanannya, sementara tangannya yang lain memegang se-baquet bunga lily putih yang entah dari mana asalnya pun Arresha tak tahu, mungkin karena tadi dia terlalu fokus dengan jalanan yang ia lalui.
...Nyx Erris Aether...