Being The Second

Being The Second
Episode 6 - Cemburu



Hebatnya orang jatuh cinta dalam diam adalah dia bisa menyembunyikan perasaannya di balik senyumannya.


•••••••••••••


°° Caffe Horizon °°


Terkadang tujuan utama kita pergi ke caffe adalah sekedar untuk makan dan minum saja. Tapi kini caffe seakan bertransformasi, tak cuma makan dan minuman yang kalian dapatkan ketika berkunjung ke sebuah caffe, melainkan juga suasana yang menyenangkan, pemandangan yang menakjubkan, citarasa yang luar biasa, serta konsep dan ide-ide yang unik.


Caffe Horizon memiliki beberapa spot foto yang instagramable, mungkin itulah salah satu alasan mengapa caffe itu selalu ramai pengunjung, banyak jendela berwarna-warni, bingkai yang berjumlah puluhan atau bahkan ratusan itu di susun secara acak yang justu sukses memberikan kesan aesthetic , dan juga beberapa mobil jeep serta mobil-mobil klasik lainnya yang biasanya selalu dijadikan spot foto oleh pengunjung.


Tak hanya itu saja, city view yang luar biasa terutama diwaktu senja juga menambah sisi romantis sangat cocok untuk pasangan yang sedang di mabuk kasmaran dan menginginkan tempat yang cozy.


Hari ini caffe cukup ramai pengunjung, selalu seperti biasanya, walaupun tak seramai ketika malam hari ataupun malam minggu. Maklum saja caffe tempat Arresha bekerja adalah caffe yang sedang naik daun di kota itu, banyak kalangan muda-mudi yang sering menghabiskan waktu untuk minum kopi ataupun nongkrong ria bersama teman-temannya di caffe itu.


Untung saja Jofan menurut ketika Arresha memaksanya untuk memakai masker agar sedikit menyamarkan wajahnya, bisa-bisa nanti caffe itu akan sesak penuh pengunjung yang merupakan fansnya fanatiknya.


Awalnya Jofan merasa bingung dengan pekerjaannya dan hanya berdiri di samping Arresha sambil menawarkan camilan atau kudapan lain. Beruntung tidak butuh waktu lama dia bisa menyesuaikan diri dan mulai melayani pelanggan dengan begitu luwes, seolah dia memang pelayan asli di caffe itu.


" Permisi kak, mau pesan apa? " tanya Arresha ramah pada pelanggan wanita, mungkin saja umurnya baru menginjak usia 20an.


" Panna cotta black forest dan juga mochachino ice nya ya kak, ' ucap si gadis muda.


" Totalnya 7000 won ya kak, ' kata Arresha ramah setelah menghitung total harga menu yang dipilih si gadis tadi.


Jofan baru saja kembali dari toilet, ia memperhatikan Arresha yang tampak begitu semangat dan juga ramah melayani setiap pelayan yang hadir, membuatnya tersenyum.


Pandangannya beralih pada kaki Arresha yang terlihat di perban membuat senyumnya perlahan memudar beralih menjadi tatapan sendu. Merasa miris melihat gadis yang ia cintai masih saja bekerja begitu kerasnya demi menyambung hidup, bahkan dalam keadaan sakit seperti itupun masih saja bekerja.


Jofan kembali ke belakang melangkahkan kakinya menuju ke area gudang mencari mana tahu ada kursi bar yang cukup tinggi agar Arresha bisa duduk.


Berdiri cukup lama seperti itu mungkin saja bisa membuat kakinya membengkak lagi, batin Jofan


" Ini duduklah disini, kalau berdiri terus seperti itu nanti kakimu malah akan membengkak lagi, " kata Jofan lembut mendorong sebuah kursi bar ke belakang tubuh Arresha, untungnya tadi dia menemukan kursi bar di gudang.


" Dari mana kau mendapatkannya? " tanya Arresha merasa heran bukannya tadi Jofan berpamitan untuk ke toilet malah sekarang kembali membawa sebuah kursi bar untuknya.


" Di gudang, sudahlah jangan cerewet, mumpung aku lagi baik nih padamu, "


" Yayaya baiklah terimakasih, " jawab Arresha tersenyum tulus, tahu saja kalau kakinya dari tadi terasa nyeri, ia berusaha duduk namun karena kursi bar yang lumayan tinggi itu membuatnya sedikit kesusahan untuk naik keatasnya, melihat Arresha yang berjinjit beberapa kali tapi belum berhasil duduk membuat Jofan menggelengkan kepalanya tersenyum.


" Makanya kalau tumbuh itu ke atas jangan ke samping, " kata Jofan yang kini memegang lengan Arresha berusaha membantunya duduk.


" Aku tidak gendut tau, asal kau tau saja aku ini berisi, " kilah Arresha.


" Intinya sama saja, pendek! " jawab Jofan membuat Arresha memutar bola matanya malas, jika di ladeni nanti yang ada mereka malah akan membuat gaduh.


" Kalian ini romantis sekali sih. Jofan, aku juga mau dong di perhatikan seperti itu, " kata Yoona yang merupakan salah satu karyawan di caffe itu, terlihat tangannya memegang sebuah nampan kosong lalu berdiri di sebelah meja kasir, memperhatikan Arresha dan juga Jofan yang dari tadi nampak begitu kompak dan juga romantis.


" Aku tidak akan perhatian pada sembarang gadis tahu, aku hanya akan perhatian pada pacarku saja! " jawab Jofan.


" Memangnya kalian berdua berpacaran?! " tanya Yoona yang terkejut mendengar jawaban Jofan. Tidak dapat memelankan sedikitpun nada suaranya, selalu saja cempreng dan berisik, membuat beberapa karyawan dan juga pengunjung yang mendengarnya langsung menoleh pada mereka.


" Tidak! " kata Arresha.


" Iya! " kata Jofan.


" Jadi yang benar yang mana? Kalian berpacaran atau tidak sih?! " tanya Yoona yang merasa kesal, dia bertanya baik-baik malah jawaban temannya itu membuatnya bingung.


" Kau ini bagaimana sih Arresha tega sekali tidak mengakui diriku! "jawab Jofan.


" Ehhmmmm, " terdengar suara seorang pria berdehem membuah perhatian Arresha, Jofan, dan Yoona langsung teralihkan.


Kedua mata indah Arresha membulat sempurna saat pandangannya bertemu langsung dengan Erros, apalagi menyadari pertanyaan tidak masuk akal dan jawaban yang lebih tidak masuk akal dari Yoona dan juga Jofan, pasti membuat Erros salah paham terhadapnya.


" E.. Erros! " suara Arresha tercekat, dari dulu prianya ini adalah pencemburu ulung, kalau dia mendengar semuanya dan salah paham pasti akan kacau nantinya.


" Silahkan pesanannya Tuan, " ucap Jofan ramah yang masih belum menyadari aura hitam yang kini menyelimuti sekitar tempatnya berada saat ini.


" Nona, tolong bawakan menunya ke VIP Room! " kata Erros dingin, menatap Arresha tajam, suaranya yang terdengar datar dan juga tidak sehangat tadi pagi saat berdua bersama Arresha di mobil, membuat Arresha menelan ludahnya kasar dan langsung memahami jika Erros memang sudah mendengarnya dan juga salah paham terhadapnya.


Tanpa menunggu jawaban apapun dari Arresha, Erros langsung melangkahkan kakinya mengikuti seorang pelayan yang membimbing langkahnya menuju VIP Room, di ikuti oleh Assisten Jo yang setia mengekor di belakangnya.


" Ba.. baik Tuan, " jawab Arresha yang melihat punggung Erros mulai menjauh dari pandangannya.


" Dia dingin sekali! " kata Jofan yang juga memperhatikan Erros, merasa heran, kenapa pria tadi bersikap aneh seperti itu sih, pikirnya.


" Kau jaga saja disini, aku akan mengantarkan buku menu ke VIP Room! " kata Arresha berusaha turun dari kursi bar yang dari tadi ia duduki.


" E..ehh kau mau kemana? Sudah kau duduk saja disini, biar aku yang mengantarkan buku menunya! " kata Jofan.


Membuat Arresha kalang kabut sendiri, ingin mengejar namun tak mungkin, kaki Jofan yang jenjang sudah melangkah cukup jauh dan lagi di belakang Erros tadi ada dua orang lagi pelanggan yang harus dia layani.


Arresha merapalkan segala doa dalam hatinya, semoga Erros tidak marah dan semoga semua baik-baik saja.


Baik-baik saja dari mana?! Jelas-jelas tadi air muka Erros begitu dingin dan juga tatapan matanya sangat tajam seperti itu, tidak mungkin kalau Erros tidak marah padanya. Entahlah, dada Arresha langsung serasa bergemuruh di dalam sana, membuat napasnya tercekat serasa memburu.


Suasana hati Jofan hari ini bisa di bilang sangat baik, hatinya terasa sangat ringan, dia sungguh merasa senang hari ini bisa bersama Arresha dan membantunya bekerja seakan mendapat kepuasan tersendiri dalam hatinya. Jofan melangkahkan kaki nya dengan perasaan gembira hingga senyum manis terus tersungging di wajah tampannya.


" Permisi tuan, " salam Jofan sebelum memasuki VIP Room, ia mengetuk pelan pintu kaca yang membatasi area VIP Room dengan area lainnya.


" Masuk, " kata Erros


Mendengar suara bariton dari dalam ruangan akhirnya menuntun langkah Jofan untuk masuk ke dalam ruang tersebut, terlihat dua orang pria berpakaian rapi dengan setelan jas yang terlihat mahal membalut tubuh atletis yang nampak menonjol di beberapa bagian tubuhnya.


Seorang pria yang berdehem saat di kasir tadi yang dari suaranya saja terdengar sangat dingin, telihat masih sibuk memfokuskan pandangannya pada ipadnya.


Mungkin tengah mengecek beberapa pekerjaan, ujar Jofan yang langkahnya mulai mendekat sampai pada ambang batas antara pelayan dan juga tamu caffe.


Kesenyapan masih menyelimuti ruangan itu sebelum akhirnya Assisten Jo memilih membuka suara dan membuat perhatian Jofan beralih kepadanya.


" Apakah ada yang ingin anda pesan Tuan? " tanya Assisten Jo sopan, berujar pelan agar tak membuat tuannya merasa terganggu.


Mendengar ucapan Assisten Jo akhirnya membuat Erros mengalihkan pandangannya, menatap dingin dan datar pada Jofan yang masih diam menunggunya.


Jofan mengerutkan kening merasa tengah di interogasi, merasa aneh dan juga serba salah karena di tatap seperti itu. Padahal mereka baru saja bertemu namun mengapa pria di depannya ini malah terlihat marah padanya, membuatnya berdehem pelan demi menetralisir rasa canggung yang menyeruak jelas dalam dirinya.


Cukup lama Erros hanya diam dan memperhatikan Jofan, seakan menelisik dan menilai seperti apa sosok pria yang berdiri di depannya saat ini, hingga dengan begitu beraninya mengakui kekasih yang sangat dia cintai adalah miliknya.


Tidak! dia tidak salah dengar tadi, jelas-jelas pria ini mengatakan kalau dirinya memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman dengan Arresha, walaupun dia juga mendengar dengan jelas saat Arresha menyanggah ucapannya. Erros masih berkutat dengan pemikiran dan penilaiannya sendiri.


" Buka maskermu, " kata Erros tanpa mengalihkan pandangannya dari Jofan, pun dengan tatapan matanya yang semakin lama terlihat semakin tajam.


Mendengar ucapan pelanggan di depannya ini membuat Jofan merasa jika dirinya kini memang tengah di interogasi.


Kenapa aku jadi seperti maling yang tertangkap basah oleh pemiliknya, batin Jofan


Namun tak membuat Jofan membantah, perlahan namun pasti ia mulai membuka masker yang dari tadi menutupi wajah tampannya. Membuat wajahnya yang rupawan terlihat jelas oleh Erros yang bahkan dari tadi tak berkedip barang sekalipun.


Sekali lagi Erros memperhatikan pria yang kini berdiri di depannya. Cukup tampan juga, pikirnya yang masih di selimuti segala pertanyaan siapa pria yang dengan beraninya mengaku sebagai kekasih dari wanitanya.


Wajar saja jika dia tak mengenali siapa Jofan, karena memang dirinya bukan tipikal orang yang tidak memiliki pekerjaan dan membuang-buang waktunya dengan menonton televisi ataupun yang lainnya. Waktunya terlalu berharga dari pada harus di habiskan dengan hal-hal yang tidak seberapa penting seperti itu.


" Bukannya aku tadi menyuruh pelayan wanita yang duduk di sampingmu, mengapa malah kau yang kesini?! " tanya Erros.


" Maaf Tuan, kakinya sakit dan harus di perban, terlalu sering berjalan akan membuat kakinya membengkak, " jawab Jofan yang berusaha menjelaskan, kemudian sedikit mencondongkan tubuhnya, tangannya menjulur memberikan buku menu.


" Silahkan menunya Tuan, saya yang akan melayani anda, " imbuhnya lagi setelah memastikan buku menu itu mendarat dengan sempurna di atas meja.


Erros mengalihkan pandangannya pada buku menu yang sudah tergeletak rapi di atas meja, tangannya terulur berusaha meraih buku menu, setelah berhasil mencapainya ia kembali menyandarkan punggungnya pada deretan soffa empuk yang sedari tadi di dudukinya, kakinya menyilang menandakan saat ini ia memang ingin merilekskan punggungnya yang terasa mulai menegang. Jemari tangannya membuka satu persatu daftar menu, namun sepertinya tak ada satupun menu yang berhasil menggugah seleranya hingga ia lebih memilih kembali menutup buku menu itu tanpa memilih satupun menu yang tertulis di dalamnya.


" Bawakan semua makanan yang terenak dan termahal disini, dan aku mau kau panggilkan pelayan tadi yang duduk di sampingmu! " kata Erros yang memang sudah berhasil membuat Jofan merasa bingung dan aneh dengan sikapnya.


" T..tapi Tuan, sepertinya dia tidak bisa melayani anda dengan maksimal karena... " ucap Jofan berusaha sekali lagi menjelaskan jika saat ini kondisi Arresha memang benar-benar kurang baik jika harus melayani tamu dengan mengantarkan menu pesanannya.


" Panggilkan saja dia kesini! " kata Erros cepat tanpa menunggu lebih lama lagi penjelasan dari pria yang kini tengah melayaninya, tangannya bergerak mengisyaratkan agar Jofan segera keluar dari ruangan itu dan menjalankan tugas yang dia berikan.


" B..baik tuan, saya permisi, " jawab Jofan yang akhirnya pasrah namun juga kesal, menyadari jika saat ini dia hanyalah pelayan di caffe ini, sungguh sangat tidak memungkinkan jika dirinya harus berdebat dengan sang tamu, yang notabene adalah raja.


Erros masih diam memperhatikan punggung Jofan yang mulai menjauh kemudian menghilang dari balik pintu kaca tembus pandang yang membatasi ruangannya, hingga membuat Assisten Jo merasa aneh dengan sikap tuannya kali ini.


" Maaf Tuan, apakah ada masalah? " tanya Assisten Jo akhirnya yang tak bisa membendung lagi rasa penasaran yang sedari tadi melingkupinya, walaupun biasa bersikap dingin namun bosnya itu tak pernah sedingin dan sesarkasme itu terhadap seseorang yang baru di temuinya.


Padahal tadi sewaktu di perjalanan dan sampai di bagian depan caffe terlihat air mukanya cukup baik dan tidak seketat biasanya.


" Cari tahu siapa dia! " kata Erros.


" Baik tuan, " jawab Assisten Jo, walaupun kepalanya masih di penuhi segudang pertanyaan tapi dia lebih memilih diam dan tak memperpanjang obrolannya dengan bosnya, dia sudah paham betul jika bosnya itu sudah bersikap seperti itu menandakan dirinya merasa marah dan ketenangannya terusik.


Jofan



Arresha