Being The Second

Being The Second
Episode 16 - Kau Mabuk Jofan



Ada kalanya harapan hanya bertemu dengan kecewa, dan keinginan kita di pertemukan dengan kedukaan.


••••••••••••••••


Erros tertegun saat Lissa hanya diam dan tak mengeluarkan emosinya sama sekali. Padahal Lissa tahu Arresha benar-benar menginap di penthouse-nya, selama ini Lissa juga tahu tidak pernah ada seorang wanitapun selain dirinya yang di izinkan Erros memasuki penthouse miliknya. Itu berarti sudah jelas kalau Lissa langsung bisa menebak siapa Arresha ini.


Sesungguhnya Erros telah menyiapkan hatinya dan jiwanya andai saja terjadi baku hantam ataupun perang dunia ketiga. Tapi sepertinya hal itu tak akan terjadi, untuk saat ini Erros bisa sedikit bernafas lega karena tak perlu merepotkan dirinya untuk memisahkan dua singa betina jika saja terjadi acara baku hantam di penthouse-nya.


Pandangan mata Erros beradu dengan mata Lissa saat ia berusaha melirik ke arah dimana Lissa tengah duduk dan menghabiskan sarapan yang mungkin saja paling tidak menyelerakan untuk Lissa, tentu bukan karena cita rasanya yang membuat selera makan Lissa hilang. Tapi karena yang memasak makanan itu adalah wanita yang menginap di tempat tunangannya.


Erros benar-benar kagum melihat Lissa yang bisa mengontrol dirinya sehebat itu, jika saja perempuan lain yang berada di posisi Lissa saat ini Erros bisa memastikan kalau perang dunia ataupun baku hantam sudah pasti terjadi semenjak saat dimana si wanita yang merupakan tunangannya melihat ada seorang wanita lain di dalam penthouse milik tunangannya, dan lebih parahnya lagi wanita itu menggunakan kemeja milik pria yang merupakan tunangannya.


Sedangkan Lissa masih tetap diam dan menghabiskan makanan di piring miliknya, walaupun tidak berselera sama sekali tapi Lissa berusaha menghabiskan sarapannya hingga tandas untuk menghargai niat baik Arresha yang dengan suka rela menawarkan sarapan untuknuya.


" Biar aku bereskan piringnya ya, kalian silahkan berbicara saja! " ucap Arrehsa. Setelah acara sarapan itu selesai Arresha segera bangkit hendak membereskan piring kotor dan langsung mencucinya.


" Aku janji akan menjelaskan semuanya! " ucap Erros lirih pada Lissa yang masih duduk diam di tempatnya.


Tapi Lissa tak ingin menjawab sama sekali, biar saja nanti saat mereka hanya berdua dia akan meminta penjelasan dari Erros mengenai hal ini. Lissa hanya ingin menjaga nama baik calon suaminya saja, jika ternyata dia salah paham dan terlanjur marah dan meluapkan segala emosinya yang ada Erros hanya akan malu karena perbuatannya. Jadi dia hanya diam dan menganggukan kepalanya pelan sebelum kemudian bangkit dan berpamitan untuk berangkat ke rumah sakit terlebih dahulu.


" Nona Arresha, sepertinya saya harus segera pergi karena ada kepentingan mendesak yang harus saya selesaikan. Terimakasih untuk sarapannya, masakanmu sangat lezat " ucap Lissa begitu anggun berpamitan kepada Arresha.


" Wah kau terburu-buru sekali Nona Lissa padahal baru saja selesai makan, " jawab Arresha terdengar begitu ramah dan ceria seperti biasanya.


" Maafkan aku Nona Arresha karena ada hal yang harus segera aku selesaikan, aku berjanji lain kali kita akan bertemu dan membicarakan banyak hal bersama, " jawab Lissa membuat Arresha tersenyum mendengarnya.


" Baiklah kalau begitu hati-hati di jalan Nona Lissa, senang bertemu denganmu, " ucap Arresha tersenyum dan di balas senyuman pula.


Lissa melangkahkan kakinya keluar tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada Erros yang sedari tadi masih memperhatikannya. Perasaan Lissa benar-benar kacau bahkan sampai di detik terakhir Lissa disana Erros sama sekali tak membicarakan apapun mengenai dirinya.


...................................................


°° Rumah Arresha °°


Mobil Erros akhirnya sampai di depan rumah Arresha setelah menempuh perjalanan sekitar empat puluh lima menit lamanya. Erros memutuskan untuk mengantarkan Arresha kembali ke rumah sebelum dirinya pergi ke rumah sakit dan ke kantor.


" Aku pergi dulu Arresha, kau beristirahatlah inikan hari liburmu jadi lebih baik jika kau beristirahat dan jangan kemana-mana, oke?! " ucap Erros mengecup tangan Arresha yang sedari tadi tak lepas dari genggaman tangannya.


" Iya-iya om cerewet!! " kata Arresha meledek membuat Erros langsung membulatkan matanya saat Arresha kembali memamggilnya 'om '.


" Hey aku hanya selisih 7 tahun lebih tua darimu jangan memanggilku 'om ' rasanya aku seperti pedofil yang memacari anak di bawah umur!! " ucap Erros yang merasa kesal mendengar ucapan Arresha.


" Hahahaa iya-iya oke pacarku yang tampan, ya sudah kau berangkatlah, hati-hati di jalan dan jangan ngebut! " kata Arresha kemudian membuka pintu mobil dan setelah itu keluar.


Setelah mobil Erros benar-benar menghilang dari pandangannya, barulah Arresha berjalan memasuki halaman rumah, namun baru saja ia meraih handle pintu terdengar suara seseorang yang memanggil namanya. Membuat Arresha mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah.


" Arresha, " ucap Jofan sekali lagi.


Jofan berdiri di halaman rumah Arresha, penampilannya terlihat sangat berantakan membuat Arresha mengerutkan dahi bingung menatap kedatangan Jofan.


" Jofan? " ucap Arresha bingung. Untuk apa Jofan datang ke rumahnya sepagi ini dan mengapa penampilannya sangat berantakan seperti itu, tidak seperti Jofan yang Arressha kenal. Biasanya Jofan akan selalu berpenampilan rapi dan berwajah segar tapi sekarang yang terlihat begitu berbeda.


Jofan berjalan perlahan menghampiri Arresha, langkahnya gontai tatapan matanya sayu menatap dalam pada manik Arresha, tak mengalihkan pandangannya barang sekilaspun. Arresha mencium aroma alkohol yang sangat menyengat dari tubuh Jofan yang terus mendekat ke arahnya. .


Setelah sampai tepat di depan Arresha, Jofan langsung menarik tubuh Arresha ke dalam dekapannya. Jofan memeluknya sangat erat membuat Arresha semakin membeku. Arresha benar-benar bingung dengan perlakuan Jofan kali ini.


" Kau baru pulang Arresha? " tanya Jofan yang tetap mendekap erat tubuh Arresha suaranya terdengar begitu sedih dan frustasi.


" Aku menunggumu! " ucapnya lagi, suaranya terdengar parau aroma alkohol tercium sangat jelas dari tiap helaan nafasnya yang memburu.


Jofan menunggu Arresha semalaman setelah dia kembali dari bar, setelah menghabiskan hampir delapan botol wine Jofan akhirnya pergi meninggalkan bar setelah bar itu tutup.


Jofan yang mabuk berat benar-benar berusaha untuk tetap terjaga agar saat Arresha kembali dia bisa langsung datang dan menemuinya. Jofan menunggu dari jam 3 pagi dan sekarang waktu sudah menunjukan pukul 9 pagi. Jofan semakin merasa frustasi saat mengetahui Arresha benar-benar tidak pulang membuatnya hampir hilang kewarasan.


" Jofan kau mabuk?! " tanya Arresha berusaha melepaskan diri dari dekapan Jofan yang ia rasa terlalu erat.


Mendengar ucapan Jofan membuat Arresha terdiam, ia hanya pasrah saja saat Jofan terus memeluknya dan tak mengeluarkan suara apapun lagi. Tapi setelah beberapa menit Arresha merasa tubuh Jofan semakin berat hingga membuatnya hampir saja kehilangan keseimbangan.


" Jofan? Are you ok?! " tanya Arresha yang berusaha melepaskan pelukan Jofan dari tubuhnya dan benar saja Jofan sudah tak sadarkan diri. Akhirnya Arresha memutuskan untuk membawa Jofan masuk ke dalam rumah.


Arresha memapah tubuh Jofan sampai ke dalam kamarnya kemudian membaringkannya di atas kasur miliknya, dengan telaten Arresha melepaskan sepatu yang masih membalut kaki Jofan. Kemudian menarik selimut dan menyelimuti tubuh Jofan. Arresha merenggangkan ototnya yang terasa pegal karena memapah tubuh Jofan yang ukurannya jauh lebih besar dari tubuhnya yang mungil.


Arresha berjalan keluar dari kamarnya menuju dapur untuk mengambil satu wadah air hangat dan juga saputangan tak lupa pula handuk kecil dia bawa kembali ke kamarnya. Dengan sabar dan telaten Arresha mulai membasuh wajah tampan Jofan yang tak terusik sedikitpun ketika lap basah itu mengenai wajahnyanya.


" Kau kenapa Jofan? Apa kau sedang dalam masalah hingga mabuk seperti ini?! " ucap Arresha setelah selesai membasuh wajah tampan Jofan, tak melewatkan satu bagianpun di wajahnya.


" Kalau ada masalah berceritalah kepadaku, aku pasti akan selalu mendengarkanmu " ucap Arresha lagi, ia sangat sedih dan prihatin melihat keadaan Jofan saat ini.


Jofan yang selama ini selalu ada untuk dirinya, selalu datang ketika Arresha membutuhkannya. Bahkan tak peduli jika Jofan sedang sibuk dia pasti langsung datang saat Arresha membutuhkan dirinya.


" Aku mencintaimu Arresha " gumam Jofan yang masih saja memejamkan matanya membuat Arresha langsung terdiam.


Aku mencintaimu Arresha? , batin Arresha mengulangi ucapan Jofan.


" Ya Jofan?! " tanya Arresha memastikan sekali lagi, ia takut salah mendengar.


" Aku mencintaimu, mengapa kau tak pernah menyadari itu? Berulang kali aku memintamu tapi kau hanya menganggap semua itu hanya lelucon. Aku membencimu, aku membenci dirimu yang tak pernah mengerti itu" ucap Jofan membuka sedikit matanya yang terasa sangat berat. Walaupun berat tapi dia ingin membuka matanya dia ingin melihat bagaimana reaksi Arresha mendengar pernyataan cintanya itu.


" Aku mencintaimu Arresha, aku benar-benar mencintaimu. Lebih dari kekasih yang sudah meninggalkanmu pergi bertahun-tahun itu yang dengan mudahnya menerima maaf darimu, kau harus tahu cintaku jauh lebih besar Arresha!!! "


Arresha masih saja diam mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Jofan, dia mengerjapkan matanya berulang kali perasaanya terasa bergemuruh sekarang ini. Terlebih ini baru pertama kali Arresha melihat Jofan dalam keadaan yang sangat memprihatinkan seperti sekarang ini.


" Kau mabuk Jofan, biarkan aku membersihkan tubuhmu terlebih dahulu! " ucap Arresha akhirnya, ia hanya menganggap Jofan sedang mabuk jadi berbicara sembarangan. Tangannya kembali meraih lap basah yang tadi dia gunakan untuk membersihkan wajah Jofan.


" Kau selalu menganggap itu lelucon Arresha! Perasaanku kepadamu bukanlah sebuah lelucon! " ucap Jofan kesal.


" Kau mabuk Jofan! Sudah jangan banyak berbicara lagi! Sekarang tidurlah! Biar aku membersihkan tubuhmu lagi! " jawab Arresha yang merasa kesal karena Jofan terus saja berbicara sembarangan.


Arresha duduk di tepi ranjangnya menatap Jofan yang sudah tertidur, ia bingung tak mengerti ketika mencoba memahami ucapan Jofan tadi. Matanya tak beralih dari wajah Jofan yang sangat nyenyak dalam tidurnya. Wajahnya semakin terlihat tampan ketika tertidur nyenyak seperti itu, bagaikan bayi yang sangat nyaman oleh buaian mimpi dalam tidurnya.


Kau hanya mabuk Jofan, kau berbicara seperti itu karena kau mabuk! batin Arresha.


" Sekarang tidurlah, aku akan menyiapkan sop anti pengar untukmu dan juga memasak dulu " ucap Arresha kemudian bangkit meninggalkan Jofan yang sudah terlelap nyenyak dalam mimpinya.


................................................


°° Aether of Hospital °°



Erros melangkahkan kakinya dengan penuh percaya diri memasuki lobby rumah sakit, beberapa dokter dan perawat langsung memberikan salam dan membungkukan badannya sopan ketika berpapasan dengannya.


Wajahnya yang tampan, garis rahangnya yang keras, hidung mancung dan juga alisnya yang tebal benar-benar membuat setiap orang terkesima akan kharisma yang melekat jelas di dirinya. Caranya berjalan, caranya membalas salam, caranya tersenyum dan caranya berbicara benar-benar menghipnotis mata setiap orang yang memandangnya.


Langkah kaki Erros berhenti di depan lift khusus yang akan membawanya langsung menuju lantai khusus tempat dimana ayahnya di rawat saat ini. Erros memindai cincin yang ia pakai pada alat pemindai yang terletak di samping tombol open. Setah pemindaian itu berhasil barulah lift itu terbuka dengan sempurna dan Erros kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift itu dan menekan tombol lantai D yang letaknya paling atas di bandingkan tombol yang lain.


Tak lama pintu lift terbuka menunjukkan sebuah ruangan yang sangat megah dengan lantai terukirkan logo matahari dengan warna keemasan, marmer hitam menghiasinya, bagian dinding utama pun terdapat sebuah logo matahati berwarna emas. Di bagian tengah ruangan terdapat sebuah sofa davinci berwarna putih dengan sedikit hiasa bungga lily di atas mejanya. Pada bagian kanan dan kiri terdapat beberapa ruangan yang merupakan tempat perawatan khusus dan juga sebuah kamar untuk beristirahat, bahkan di lantai itupun terdapat ruang ICU sendiri dengan alat-alat kedokteran yang lengkap nan canggih.


Beberapa bodyguard bertubuh kekar langsung membungkukan badan setelah melihat Erros keluar dari lift dan berjalan memasuki lantai itu, mereka memberikan jalan untuk Erros melangkahkan kakinya menuju ruang rawat milik ayahnya.


Langkah Erros terhenti di depan ruang perawatan ayahnya, dia melihat ada Assisten Mark, Tuan Louis ayah Lissa, dan juga Lissa yang sedang duduk di sofa dan terlihat membicarakan sesuatu. Erros memberikan salam singkat lalu dia meminta izin untuk melihat kondisi ayahnya terlebih dahulu.


Erros kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang perawatan ayahnya, dia berjalan menuju sebuah lemari yang menyimpan baju khusus untuk memasuki ruangan itu. Setelah memakainya dengan lengkap barulah Erros melangkahkan kakinya memasuki ruang perawatan ayahnya.


" Sadarlah ayah! " ucap Erros yang melihat Tuan Hilton tampak tertidur tenang dengan monitor, alat ventilator, dan juga kabel-kabel yang melekat di tubuhnya. Erros menggenggam erat tangan ayahnya, tangan yang selama ini selalu melindunginya dan memberikan kehidupan untuknya.


" Aku berjanji akan membuat Erris menyadari kesalahannya dan meminta maaf atas segala perbuatannya kepadamu! " imbuhnya lagi.


Erros memutuskan keluar setelah dia rasa cukup puas melihat kondisi ayahnya, dia harus menemui Tuan Louis dan Lissa sekarang.