Being The Second

Being The Second
Episode 25 - Dia Menangis



Jika aku bisa kembali pada hari dimana kita pertama kali bertemu, aku lebih memilih untuk berbalik dan berjalan pergi.


•••••••••••••••••••


Setelah kepergian Lissa, Arresha langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi khusus karyawan dan menguncinya rapat. Dia hanya ingin menangis sekarang, dia tak mampu menahannya.


Sakit.....


" Kenapa rasanya sakit sekali?! " rintih Arresha di sela isakan tangis yang ia tahan, agar tak mengundang perhatian lebih dari teman-temannya.


Sesuatu yang sangat dahsyat menghantam hatinya, menghancurkannya hingga berkeping-keping. Rasa ini bukan lagi hanya sekedar menusuk, ini lebih dari itu.


Arresha memukul dadanya berulang kali, berharap sesak itu segera pergi agar dia bisa kembali bernafas dengan normal seperti biasanya. Tapi percuma, isakan tangisnya membuat dadanya semakin terasa sesak dan kerongkongannya terasa makin mencekiknya dengan erat.


Jika saja Arresha bisa mengulang waktu dan kembali pada saat pertemuan pertamanya dengan Erros, pasti dia akan memilih untuk berbalik badan dan pergi saja. Pergi sejauh mungkin agar dia tidak mengenal dan jatuh cinta pada pria yang salah. Dia pria yang sudah dimiliki dan dia jelas bukan takdirnya.


Arresha tak pernah meminta Erros untuk berjanji dan dia juga tak pernah meminta Erros untuk bersamanya. Erros lah yang mengatakan itu, Erros lah yang berjanji tanpa ia minta. Harusnya dulu Erros tak usah menjanjikan apapun padanya.


Dengan janji-janji yang Erros ucapkam dulu justru malah akhirnya membuat secerca harapan di hati Arresha. Jika sudah begini Arresha harus bagaimana?! Janji yang Erros ucapkan dulu hanyalah sebuah janji yang tak mungkin akan ia tagih apapun keadaanya.


" Harusnya aku sadar, siapa aku dan siapa Erros. Kasta kita jauh berbeda dan kita tak akan mungkin bisa bersama. Harusnya aku tidak perlu berharap apapun kepadanya! "


Menaruh harapan pada manusia adalah seni paling sederhana untuk menderita. Dan itu memang nyata adanya,


Tangis Arresha semakin menjadi, dadanya yang semakin sesak berulang kali di pukulinya. Kenapa malah semakin dia menangis malah rasanya semakin sesak dan hatinya menjadi semakin sakit. Arresha mencoba untuk menarik nafas sebanyak mungkin yang dia bisa, tapi rasanya sangat sulit dan juga tubuhnya yang bergetar hebat membuatnya kesulitan untuk bernafas.


Mengapa Erros tak pernah berkata jujur mengenai hal ini, tidakkah dia sadar karena kebohongan yang selalu ia tutupi itulah yang akhirnya memberikan luka yang dalam di hatinya.


Dan untuk apa kemarin Erros malah menyiapkan Candle Light Dinner yang sangat romantis untuknya? Untuk membuatnya terbang ke atas awan dan kemudian menghempaskannya begitu saja ke dasar bumi?! Kebohongan apalagi yang akan Erros tutupi darinya?! Berapa banyak kebohongan yang sudah Erros tutupi?!


Arresha memukul dadanya lagi, matanya terpejam rapat.


" Arresha... Are you ok? " suara Theo terdengar di balik pintu toilet. Theo mendapat laporan dari Yoona dan Atha jika Arresha tengah mengurung diri di dalam toilet selama dua jam setelah pertemuannya dengan seorang wanita yang merekapun tak tahu siapa.


" Yah.. " jawab Arresha berusaha menyembunyikan isakan tangisnya.


" Are you sure? " tanya Theo memastikan, dia tak yakin jika Arresha baik-baik saja.


" Yah... " jawabnya lagi. Arresha semakin sulit bernafas sekarang, dadanya semakin terasa sesak.


" Bisakah kau buka pintunya Arresha? " pinta Theo lembut, tentu dia tahu Arresha kini tengah menangis di dalam toilet.


Arresha hanya diam dan tak bisa menjawab apapun, dia tak ingin membuka pintu itu. Arresha tak ingin orang lain melihat dirinya yang begitu mengenaskan sekarang.


" Arresha... please.... " ucap Theo lagi karena tak mendapat jawaban apapun dari Arresha, membuatnya semakin cemas.


" Telingaku siap mendengarkan semua ceritamu Arresha, tolong buka pintunya! " imbuhnya lagi berusaha membujuk Arresha agar mau membuka pintunya.


Setelah beberapa saat akhirnya ia mendengar knop kunci terbuka, membuat Theo sedikit bernafas lega karena akhirnya Arresha mau membuka pintu toilet itu, tapi tatapan matanya seketika berubah terkejut sekaligus iba saat melihat keadaan Arresha yang terlihat sangat kacau.


Matanya yang sembab dan tatapannya yang begitu menyedihkan membuat Theo langsung membeku, dia merasa sangat iba melihatnya. Apa masalah yang tengah di hadapi temannya ini hingga membuatnya menangis seperti ini? Selama mengenal Arresha dia tak pernah melihat Arresha mengeluh ataupun menangis. Arresha selalu memberikan senyuman cantiknya pada semua orang, termasuk dirinya.


" Izinkan aku pulang hari ini, aku sungguh tidak bisa bekerja dengan keadaanku yang seperti ini." bisik Arresha menahan air matanya agar tak kembali menetes.


Theo terpaku mendengar suara Arresha yang bergetar. " Yah, biarkan aku yang mengantarmu! " jawab Theo.


" Terima kasih, tapi aku bisa pulang sendiri." tolak Arresha, tanpa menunggu jawaban dari Theo dia langsung berjalan menuju lokernya untuk mengambil tas dan jaket miliknya.


Arresha berjalan meninggalkan caffe, dia tak tahu kemana kakinya melangkah. Semakin Arresha melangkah, semakin langkah kaki Arresha berubah cepat. Arresha terus berlari menyusuri trotoar yang lampunya mulai menyala karena hari yang hampir gelap. Arresha berlari namun tak tahu kemana arahnya. Dia hanya ingin berlari sekarang, mungkin saja dengan berlari akan membuatnya melupakan rasa sesak di dadanya.


Kau kejam Erros, kau kejam!!!!! batin Arresha menjerit.


Arresha melihat sebuah jembatan penyeberangan orang di depannya, jadi dia memutuskan untuk berhenti. Arresha duduk di atas jembatan itu, dia melihat lalu lalang kendaraan yang sangat padat di bawah kakinya.


Entah karma apa yang Tuhan siapkan untuknya nanti. Arresha hampir saja menghancurkan pernikahan seseorang karena kebodohannya. Bahkan saat pertemuan pertamanya bersama Lissa, Arresha sungguh terlihat seperti orang yang sangat bodoh yang tak mengerti situasi apapun dan malah bisa tersenyum begitu senangnya di atas rasa sakit yang tengah mendera hati Lissa.


Arresha kembali melangkahkan kakinya, rumahnya masih sangat jauh dan Arresha belum ingin pulang. Jika di rumah yang ada dia hanya akan menangis merutuki kebodohannya sendiri.


Hingga akhirnya langkah kaki Arresha terhenti di sebuah mini market dengan beberapa meja dan kursi di area depannya. Arresha memutuskan untuk masuk ke dalam mini market itu dan membeli beberapa botol soju (minuman beralkohol khas Korea Selatan).


Arresha menenggak langsung satu botol soju hingga habis tak bersisa. Namun sepertinya satu botol saja tidak akan cukup untuknya, jadi Arresha membuka botol keduanya, ketiga dan ke empatnya.


..............................


Setelah kepergian Arresha dari caffe, Theo langsung menghubungi Jofan. Theo berfikir mungkin jika dengan Jofan, Arresha akan mau berbagi cerita dan kesedihannya.


" Hallo, Jofan kau dimana?" tanya Theo setelah Jofan mengangkat telfonnya, sedari tadi Theo terus menghubungi Jofan tapi ponselnya tidak aktif.


" Aku baru selesai meeting, kenapa?" sahut Jofan yang masih duduk di kursi bersama para member yang lainnya.


Sore itu Jofan masih berada di gedung MS-Town bersama semua membernya. Mereka baru saja selesai melakukan meeting untuk membahas konsep video clip dari single terbaru milik grup XO-nya.


" Kau masih sibuk tidak?" tanya Theo yang merasa ragu, dia malah takut mengganggu Jofan yang dia tahu sangat sibuk belakangan ini.


" Memangnya kenapa?!" Jofan bertanya balik karena merasa penasaran, tidak biasanya Theo langsung menghubunginya seperti ini. Biasanya jika ada sesuatu Theo hanya mengirimkan pesan pada Jofan.


" Arresha.. "


" Ada apa?! "


" Tadi dia mengurung diri di toilet selama dua jam, aku memintanya keluar dan saat dia keluar aku melihat dia menangis. Dan sekarang dia pergi tidak tau kemana, dia tidak mau aku antarkan. Aku merasa cemas karena aku tak pernah melihat Arresha seperti itu sebelumnya."


" Dia menangis? Kenapa?"


" Aku juga tidak tahu, dia tidak bercerita apapun kepadaku. Yang aku tahu tadi ada seorang wanita yang menemuinya." jelas Theo semakin membuat Jofan bingung.


" Ya sudah, aku yang akan mencarinya." tegas Jofan langsung mematikan sambungan telfonnya.


Jofan menyambar kunci mobil dan juga tasnya, dia langsung melangkah keluar dari ruang meeting itu. Byun dan Chan yang sedari tadi mencuri dengar percakapan Jofan menjadi semakin penasaran.


" Jofan kau mau kemana?" tanya Byun juga ikut menyusul langkah kaki Jofan yang berjalan dengan cepat meninggalkan ruangan meeting, nampak Chan juga mengekor di belakangnya.


" Aku ada urusan, aku harus pergi sekarang!" jawab Jofan tanpa menghentikan atau memperlambat langkah kakinya.


" Aku ikut!! " ucap Byun dan Chan kompak, mereka tidak memiliki kegiatan apapun lagi dan mereka merasa penasaran apa yang membuat Jofan begitu cemas seperti sekarang ini.


" Aku bukan pergi untuk bermain hyung!" gerutu Sehun yang kini terus melangkahkan kakinya menyusuri bassement.


Hyung, artinya kakak laki-laki dalam bahasa Korea. Panggilan hyung ini di khususkan untuk laki-laki untuk memanggil laki-laki yang lebih tua.


" Lalu kau mau kemana?" tanya Chan.


" Aku harus mencari seseorang "


" Ya sudah biarkan kita ikut, siapa tahu kita akan berguna untukmu." ucap Byun cepat membuat Jofan mencebikkan bibirnya.


Jofan hanya diam dan menghembuskan nafasnya kasar, mereka berdua kalau sedang dalam mode kompak seperti ini pasti akan selalu menang melawan siapapun.


Byun dan Chan ikut masuk ke dalam mobil milik Jofan yang berjenis Audi RS7 yang berwarna hitam dan berjendela gelap itu. Jofan mengemudikan mobilnya menyusuri jalanan kota Seoul.


Jofan membawa mobilnya melaju menuju rumah Arresha, namun dia tak mendapati Arresha di rumahnya. Membuatnya kembali memutar otak mencari dimana keberadaan Arresha saat ini.


Jofan memutar kemudinya menyusuri jalanan yang biasa di lalui oleh Arresha hingga ke caffe, namun hasilnya masih saja nihil. Membuatnya semakin frustasi karena malam yang mulai larut dan sekelebat suara Arresha yang menelfonnya dan meminta tolong kembali terngiang di telinganya.