
" Ya aku tau, kau pasti akan menyempatkan waktumu, tapi aku juga ingin kau lebih banyak beristirahat, jika aku mengajakmu ke sini pasti kau akan menunda pekerjaanmu dan membayarnya di lain hari dengan pekerjaan yang semakin bertumpuk. Kau bekerja sangat keras setiap harinya bahkan selalu sampai larut malam, aku khawatir kau jatuh sakit." ucap Lissa yang membayangkan betapa gilanya Erros selama ini dengan pekerjaannya, kantor adalah rumah kedua bagi Erros.
Harum bunga camelia semakin menggelitik indera penciuman Erros dan juga Lissa saat langkahnya semakin jauh memasuki taman bunga itu, Erros hanya diam mendengarkan cerita Lissa, sengaja memberikannya ruang untuk wanita itu menceritakan keluh kesahnya.
Lissa memiringkan kepalanya. " Kau ingat dulu waktu kecil kita sering ke taman bermain bersama mendiang ibuku dan ibumu juga Erris. Sejujurnya aku merindukan masa-masa itu." menatap Erros dari samping, terlalu sempurna sekali pria di sampingnya ini.
Rahangnya yang tegas, hidungnya yang mancung, sorot matanya yang tajam sekaligus lembut, benar-benar melelehkan hatinya. Apalagi dengan pakaian casual dan juga jaket kulit berwarna coklat yang kini di kenakannya, berbeda dari biasanya yang selalu mengenakan setelan formalnya yang nampak semakin matang kali ini Erros terlihat lain dari biasanya.
Erros menghela langkah Lissa menuju sebuah bangku taman yang terletak di pinggiran paving blok warna-warni yang sekarang mereka pijaki itu.
Beberapa pasang muda-mudi berjalan beriringan melewatinya, tampak jelas mereka sangat bahagia menikmati waktunya di sana, terbukti dari tangan merkmeka yang saling terpaut dan saling bercengkeramah satu sama lain.
Erros tersenyum mengenang masa kecilnya dulu, saat ayahnya terlalu sibuk bekerja di kantor. Erros dan Erris kecil sering di ajak oleh ibunya ke taman hiburan ataupun ke kebun binatang bersama Delissa dan ibunya.
Erris kecil selalu senang menjahili Delissa kecil yang sangat manja dan menggemaskan, bahkan Erris kecil seolah sengaja menjahilinya hingga membuatnya menangis, setelah gadis kecil yang menggemaskan itu menangis, Erris kecil seolah puas dan memilih meninggalkannya begitu saja. Dan tentu saja yang dengan sabar menenangkannya adalah Erros yang berkepribadian hangat dan juga penyabar.
" Kau ingat dulu waktu aku hampir tenggelam di kolam renang dan kau menyelamatkanku, langsung melompat begitu saja ke dalam kolam yang dalamnya tiga meter?" Lissa menatap Erros yang sedari tadi tak mengalihkan pandangannya sedetikpun.
" Walaupun dulu aku seperti hampir mati tapi aku senang, aku seperti seorang putri yang di selamatkan oleh pangeran impian." imbuhnya lagi. Lissa tersenyum tak lebar tapi membuatnya terlihat sangat manis, di tambah dengan matanya yang terus saja berbinar menatap Erros.
Erros merasa lucu mendengar ucapan Lissa, tak menyangka dia masih saja mengingatnya. Padahal itu terjadi saat mereka masih duduk di bangku sekolah dasar, hampir sekitar dua puluh tahun yang lalu.
" Sudah tahu kolamnya dalam, masih saja nekat melompat hanya karena Erris yang terus saja menantangmu." jawab Erros terkekeh merasa gemas, kemudian mengacak-acak pelan rambut Lissa membuat wanita itu mengerucutkan bibirnya kesal.
Senyum di wajah Lissa semakin mengembang saat melihat Erros tertawa karenanya, selalu saja menghangatkan hatinya walau hanya dengan mendengar deru nafasnya atau tatapan matanya.
" Entahlah aku juga tidak tahu, tapi dulu Erris selalu saja mengejekku, mengataiku gadis manja yang cuma taunya merengek. Tentu aku tak bisa menerimanya karena dia mengejekku begitu." kilah Lissa menggebu membayangkan betapa konyolnya dia dulu sewaktu kecil.
Erros hanya tersenyum mendengarkan cerita Lissa dan memperhatikan ekspresinya yang berubah-ubah. Sebentar kesal, sebentar marah, sebentar tertawa, lama sekali dia tak melihat Lissa tertawa seperti itu, lama pula dia tak pernah mendengarkan cerita-cerita Lissa. Bahkan bertanya cerita apa saja yang dia lalui hari ini pun tak pernah.
" Sepertinya sebentar lagi turun hujan? Bagaimana? Kau ingin kemana lagi?" tanya Erros yang kini menengadahkan kepalanya ke atas, mengamati awan yang tadi cerah sekarang malah berubah menjadi gumpalan nyaris hitam.
Lissa langsung menengadahkan kepalanya ke atas, mengikuti arah tatapan Erros.
Benar...awannya berubah menjadi gumpalan gelap pekat. Mungkin karena terlalu asyik mengenang masa kecilnya yang indah jadi dia tak menyadarinya.
" Sejujurnya aku tak tahu harus kemana lagi, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu." Lissa mengedarkan pandangannya, tempat itu mulai sepi ternyata.
Puluhan lampu taman yang terpasang di sepanjang jalan paving blok maupun di sudut-sudut tertentu di taman itu mulai menyala secara otomatis ketika sensornya menangkap perubahan cahaya di sekitarnya yang berubah menjadi gelap, tertutupi awan mendung di angkasa.
" Baiklah, kita pikirkan nanti kita akan kemana, yang terpenting sekarang kita harus segera pergi dari sini sebelum hujan mulai turun." Erros beranjak dari duduknya, mengulurkan tangannya yang kokoh pada Lissa. Kemudian menghelanya dengan lembut meninggalkan taman itu.
Suasana sedikit hening, hanya beberapa pasang muda-mudi yang juga sepertinya hendak bergegas pergi sebelum air hujan mulai berjatuhan membasahi bumi dan tentunya juga membasahi mereka jika tak cepat berteduh.
Sayangnya mereka terlambat berteduh, hujan lebih dulu berhasil menjatuhkan airnya ke bumi tanpa ampun. Baru setengah perjalanan ketika Erros dan Lissa melangkahkan kakinya keluar dari taman itu, dan sekarang mereka harus basah kuyup tersiram air hujan.
Dengan sigap Erros melepaskan jaket kulit yang sedari tadi membalut tubuhnya itu, menggunakannya sebagai payung walaupun itu tak melindunginya sama sekali tetapi yang terpenting kepalanya tak harus basah kuyup tersiram air hujan.
Jaket itu lebih banyak menaungi kepala Lissa, dan dengan langkah yang setengah berlari kecil akhirnya mereka sampai di tempat parkir Camelia Hill itu.
" Sepertinya kita harus mencari hotel terdekat, kita harus membersihkan badan dan berganti pakaian." ucap Erros yang melihat Lissa mulai menggigil kedinginan.
Tak membantah Lissa hanya menganggukan kepalanya, bajunya benar-benar basah kuyup hanya kepalanya saja yang sedikit basah. Mobil itupun akhirnya melaju meninggalkan area parkir Camelia Hill yang sedikit lenggang di tengah gemersik hujan yang turun dengan begitu derasnya.
Ketika mobil itu memasuki area loby hotel mewah yang lokasinya tak terlalu jauh dari Camelia Hill tadi, Erros bergegas turun dari mobilnya tak lupa membukakan pintu untuk Delissa kemudian mengambil tasnya yang terletak di kursi penumpang bagian belakang. Setelah itu Erros memberikan kunci mobilnya pada petugas parkir valet yang bersiaga di area depan loby.
Loby hotel itu nampak cukup ramai, para tamu hotel tampak berlalu-lalang sesuai dengan kepentingannya masing-masing, sementara itu para petugas hotel yang berseragam rapi dengan beberapa model yang berbeda-beda sesuai jenis pekerjaannya pun nampak sibuk dengan pekerjaan mereka.
Erros menggandeng tangan Lissa yang terasa dingin itu menyebrangi area loby hotel menuju meja resepsionis yang juga nampak sangat mewah, berlapis marmer hitam dengan semburat emas pada bagian logo hotelnya yang berupa logo rasi bintang Leo.
" Kau mau aku pesankan kamar sendiri atau bagaimana?" tanya Erros ragu dan serba salah.
Jika kemarin dia tak perlu pusing memikirkan masalah kamar hotel seperti ini dengan Lissa, karena sudah pasti mereka akan berada dalam satu kamar yang sama berbagi ruang dan juga berbagi kehangatan bersama. Namum sekarang berbeda, tak etis rasanya jika mereka berada dalam satu kamar yang sama.
Lissa nampak berfikir sebelum menyuarakan jawabannya. " Kita hanya sebentar disini, rasanya sayang jika harus memesan dua kamar sekaligus." jawab Lissa penuh pertimbangan.
Erros hanya mengangguk kemudian kembali mengalihkan perhatiannya pada resepsionis hotel yang sedari tadi menunggunya sambil mencuri pandang kepadanya.
Pria setampan ini, tubuh sekekar ini rasanya sayang jika di lewatkan begitu saja. pikir si resepsionis.
Senyum lembut menggoda alami langsung menghiasi bibir resepsionis yang di poles gincu berwarna oranye basah nan ranum itu. Tatapan matanya yang di penuhi kekaguman luar biasa akan ketampanan tamunya itu tak dapat dia tutupi dengan sempurna sehingga tergambar jelas dari raut wajahnya.
" Selamat sore Tuan. Apakah anda ingin memesan kamar?" tanya resepsionis itu dengan nada lembut menggoda.
Tentu saja hal itu tak luput dari pengawasan Lissa yang kini berdiri di belakang punggung Erros, dengan percaya diri dia mengangkat dagunya merangsek maju kedepan dan langsung mengapit lengan Erros yang terasa kokoh nan keras itu. Membuat Erros mengerutkan keningnya heran dengan sikap posesif yang di tunjukkan Lissa.
" Satu kamar P**resident Suite." Lissa langsung menyambar tanpa menunggu Erros menjawab pertanyaan si resepsionis tadi.
Tangannya meletakkan sebuah kartu berwarna hitam dengan logo rasi bintang Leo yang terbuat dari emas, VVIP-accsess card yang hanya di miliki oleh keluarga inti dari Dawson Corporation.
Wajah resepsionis tadi langsung berubah pucat saat melihat wanita melingkarkan tangannya dengan manja nan posesif di lengan tamunya itu terlebih wanita itu memberikan sebuah kartu VVIP-accsess milik Dawson Corporation. Sudah pasti tamunya ini bukanlah orang sembarangan.
" Bb..baik Nona. Silahkan kamar anda, lantai 17 kamar nomor 1134a Nona." ujarnya memberikan sebuah cardlock hotel dengan sikap yang luar biasa sopan.
Lissa langsung mengambil cardlock itu gerakannya lembut dan tak terkesan terburu-buru dan malah terlihat anggun.
" Terimakasih." ucap Lissa tersenyum sebelum meninggalkan area resepsionis itu, tangannya masih saja mengapit lengan Erros.
" Ada apa?" tanya Erros, keningnya berkerut dalam karena sikap Lissa yang berbeda. Saat ini mereka tengah berada di dalam lift yang membawanya naik menuju lantai 17.
Lissa terkekeh, membuat kening Erros berkerut semakin dalam. " Sekali-kali mengerjai orang bolehkan? Wajahnya tadi lucu sekali saat melihat VVIP-acsessku." jawab Lissa tanpa bisa menyurutkan senyum di wajah cantiknya.
" Astaga.." Erros menggelengkan kepalanya tak percaya, merasa lucu. " Kau membuatnya mati kaku tadi." Erros ikut tertawa membayangkan wajah si resepsionis tadi.
" Ini adalah anak cabang dari hotel keluargaku yang di Seoul, tentu saja dia mengenali VVIP-acsses card ku." jelas Lissa yang masih saja tertawa senang karena berhasil mengerjai karyawannya itu.