Being The Second

Being The Second
Episode 14 - Erros Yang Manja



Pelukmu adalah pulang yang ku tuju dari kegilaan yang paling tajam.


••••••••••••••••••••••••••


Setelah mengakhiri percakapannya dengan Erros akhirnya Arresha memilih untuk mengirimkan pesan pada **Jofan**. Tentu saja dia tidak lupa dengan ucapan Jofan tadi pagi yang mengakatakan akan menjemputnya setelah pulang bekerja.


Jofab. Nanti malam tidak usah menjemputku karena aku di jemput kekasihku, terimakasih. Selamat berlatih, semangat ya 💪😋 . (Arresha)


Arresha fikir Jofan tidak akan langsung membalas pesannya karena dia mengira Jofan sedang sibuk berlatih. Tapi tak lama ponselnya kembali berdering setelah satu pesan masuk dari Jofan tertera di layar ponselnya.


👍👌 ( Jofan )


*Jangan lupa makan, kalau kamu sakit tidak ada yang aku sakiti nanti 😜😝* ( Arresha )


👌 ( Jofan )


"Apa dia marah? Kenapa jutek sekali?! " gumam Arresha heran, dia meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku kemudian melanjutkan pekerjaan yang tadi sempat dia tinggalkan.


.......................................


Jofan sedang berlatih vocal ketika sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Setelah melihat nama Arresha muncul dalam notifikasi ponselnya ia memutuskan untuk segera membukanya. Setelah kejadian kemarin malam Jofan selalu merasa khawatir akan keselamatan Arresha.


Jofan tentu saja tak ingin membuat Arresha menunggunya terlalu lama dengan mengabaikan pesannya, suara Arresha yang meminta pertolongan dan penuh ketakutan kemarin malam masih terngiang sangat jelas di telinganya.


Tapi mood-nya malah langsung hancur setelah membaca pesan dari Arresha, kenapa dia jadi sedih melihat Arresha yang bahagia? Bukankah seharusnya Jofan juga berbahagia setelah sekarang Arresha bertemu dengan kekasih yang selalu dia tunggu kedatangannya.


Jofan memejamkan matanya cukup lama, deru nafasnya yang terus memburu sebisa mungkin ia kendalikan agar emosi yang mulai menyusup masuk ke dalam hatinya itu tak menyulutkan amarah yang mungkin saja akan berimbas pada orang lain di sekitarnya yang tak tahu menahu tentang masalahnya.


"I want you to be happy, with or without me Arresha ( Aku ingin kau selalu bahagia, dengan atau tanpa aku Arresha ) ucap Jofan dalam hati.


Jika saja dia boleh berbicara jujur, dia sungguh tak ingin Arresha menemukan kebahagiaan selain dengannya. Hatinya sudah terlanjur jatuh terlalu dalam pada gadis itu. Jofan baru tahu ternyata cinta yang bertepuk sebelah tangan itu memanglah menyakitkan, pantas saja banyak orang yang terpaksa menyerah karenanya.


Jika saja Jofan bisa, dia akan membuat Arresha benar-benar jatuh cinta padanya tanpa ada bayang-bayang masa lalu yang selalu di nantikan oleh Arresha. Tapi sekarang Jofan belum ingin menyerah, dia tidak ingin menyerah sebelum perjuangannya dimulai.


Jangan lupa makan, kalau kamu sakit tidak ada yang aku sakiti nanti 😜😝 ( Arresha )


Bahkan sekarang saja kamu sudah menyakitiku Arresha, kamu memang tak pernah memberikan harapan kepadaku Arresha dan salahkah aku yang terlalu berharap kepadamu?! batin Jofan.


.................................


Waktu bergulir begitu cepat, matahari telah menghilang di telan kegelapan malam, dan bulanpun telah merangkak naik ke atas awan di selimuti oleh gumpalan awan berwarna hitam.


Assisten Jo sudah berada di tempat parkir caffe Horizon untuk menjemput Arresha, sesuai perintah dari Tuannya. Sekitar 15 menit dia menunggu dan akhirnya dia melihat jemputannya keluar dari dalam caffe.


" Silahkan Nona, saya Assisten Jo yang di perintahkan untuk menjemput anda oleh Tuan Erros " kata Assisten Jo memberikan salam setelah terlebih dahulu menghampiri Arresha.


" Memangnya Erros menungguku dimana? " tanya Arresha setelah mereka masuk ke dalam mobil. Arresha duduk di kursi belakang setelah Assisten Jo membukakan pintu mobil untuknya.


" Beliau mengantakan untuk mengantarkan anda menuju penthouse miliknya Nona " jawab Assisten Jo singkat.


" Oh ya, aku belum berkenalan denganmu. Kenalkan namaku Arresha " ucap Arresha ramah.


" Saya Assisten Jo, assisten pribadi Tuan Erros " jawab Assisten Jo sopan.


" Memangnya Erros sekarang sibuk sekali ya sampai dia mempunyai Assisten pribadi segala?! " tanya Arresha begitu penasaran.


" Itu berarti kamu setiap hari bersama Erros dong?! " tanya Arresha lagi.


" Bisa di bilang seperti itu Nona " jawab Assisten Jo seadanya, tadi dia sudah berulang kali di peringatkan oleh Erros agar menjaga jaraknya dengan Arresha.


Ternyata dia sangat cerewet, aku jadi penasaran sebenarnya dia ini siapa sih?!, tanya Assisten Jo dalam hati.


" Oh ya. Assisten Jo, Erros itu sekarang punya perempuan lain tidak sih? "


" Perempuan lain? " tanya Assisten Jo heran.


" Iya perempuan lain, seperti wanita simpanan misalnya, tapi awas saja kamu mengadukan kepada Erros kalau aku bertanya seperti ini! " ancam Arresha, dia benar-benar kembali pada mode cerewetnya.


Sedangkan Assisten Jo masih terdiam, dia gagal mencerna pertanyaan Arresha karena setahunya Tuannya itu sudah memiliki seorang tunangan, yaitu Nona Lissa.


" Hey, Assisten Jo, kenapa kamu diam? Berarti benar kalau Erros mempungai perempuan lain?! " tanya Arresha lagi, pikirannya mulai macam-macam sekarang.


" Maaf Nona saya tidak tahu kalau urusan itu mengangkut hal yang pribadi Tuan Erros, " jawab Assisten Jo, instingnya mengatakan lebih baik jika ia tak berbicara macam-macam. Lagi pula dia belum mengetahui dengan pasti siapa perempuan yang dia jemput itu dan apa hubungannya dengan Tuannya pun dia belum mengetahui itu.


" Hhnmmm ya sudahlah kalau kamu tidak tahu " jawab Arresha, dia kembali menyandarkan punggungnya pada jok belakang mobil itu.


Sekitar setengah jam perjalanan akhirnya Arresha sampai di sebuah apartemen mewah yang terletak di tengah kota.


Assisten Jo memimpin jalan Arresha untuk mengantarkannya menuju lantai 50 dimana penthouse mewah milik Erros berada. Arresha memilih diam dan tak banyak berbicara setelah keluar dari mobil. Sebenarnya dia merasa lelah karena ini sudah terlalu larut setelah pulang bekerja,


Arresha melangkahkan kembali kakinya setelah lift yang membawanya naik ke lantai paling atas itu berhenti dengan sempurna.


" Terimakasih " jawab Arresha tersenyum manis membuat Assisten Jo langsung memalingkan wajahnya, kalau saja Tuannya melihatnya sudah pasti dia akan langsung mencongkel matanya dengan paksa.


Arresha tidak dapat menutupi kekagumannya pada hunian milik Erros, sebuah penthouse mewah dengan luas mencangkup dua lantai penuh bangunan pencarkar langit itu benar-benar menakjubkan di mata Arresha.


Design interior penthouse yang mengusung tema industrial dengan cat berwarna abu gelap dan juga dinding keramik bermotif chevron semakin terlihat maskulin namun juga tak meninggalkan kesan elegan.


Erros keluar dari kamarnya setelah mendengar pintu penthouse miliknya terbuka, dia langsung bisa menebak siapa yang datang. Sudah pasti itu Arresha-nya, membuatnya langsung bersemangat dan segera bergegas.


" Hey baby, kamu sudah datang " ucap Erros setelah keluar dari kamarnya dan berjalan menuruni tangga dengan model floating stars atau model minimalis melayang. Membuat Arresha secara reflek mengikuti asal suara dimana Erros berada.


Erros terlihat mengenakan kaos polos berwarna hitam dengan drawstring pants berwarna army, wajah tampannya semakin terlihat memanjakan mata ketika cahaya lampu berwarna daylight semakin membuat wajahnya terlihat tampan.


" Hmmm " jawab Arresha tersenyum menatap Erros yang berjalan ke arahnya.


" Saya permisi Tuan selamat malam " ucap Assisten Jo kemudian berjalan keluar dari penthouse milik Tuannya itu.


Erros langsung memeluk Arresha setelah sampai tepat di depan tubuh mungil Arresha, dia memeluknya erat seolah sangat merindukannya, Arresha tersenyum membalas pelukan Erros, dia memang merindukan prianya.


Sebenarnya Erros hanya ingin mencari sedikit kekuatan dari dekapan Arresha, dia merasa terlalu lelah sekarang. Tapi dia tidak boleh menyerah, perjuangannya masih panjang untuk bisa membawa Arresha hidup bersamanya.


Bukan hati Arresha yang ia perjuangkan sekarang karena dia sudah mendapatkannya, tapi masa depannya yang dia perjuangkan. Agar dia bisa membuat hidup Arresha bahagia bersamanya.


Mungkin pemikiran setiap orang berbeda, ada orang yang mengatakan dia akan menerimamu apa adanya kalau dia benar-benar mencintaimu. Tapi itu bukan yang Erros inginkan karena dalam prinsipnya, kalau kamu mencintainya kamu harus membuat hidupnya bahagia dengan tidak kekurangan satu hal apapun. Mungkin tidak semua orang membutuhkan uang untuk cinta, tapi bukankah cinta akan menjadi lebih indah jika ada uang.


" Apa kamu merindukanku baby? " tanya Erros yang masih memeluk tubuh Arresha.


" Hmmm, bagaimana kabarmu? Apa kamu sangat sibuk hingga tak bisa menghubungiku sama sekali?! " tanya Arresha.


" Maafkan aku kemarin ada masalah yang harus aku atasi, kamu sudah makan? " tanya Erros membimbing Arresha menuju sofa bermodel chaise berbentuk L yang berwarna abu-abu pun dengan bantalan chusion berwarna senada.


" Iya aku mengerti, bagaimana kabarmu? Kenapa menyuruhku kemari sih? Inikan sudah malam! " jawab Arresha.


" Aku merindukanmu menunggu besok rasanya lama sekali jadi aku menguruh Assisten Jo menjemputmu sepulang bekerja saja " kata Erros yang dengan manjanya membaringkan tubuhnya kemudian menyandarkan kepalanya pada paha Arresha.


" Dasar tidak sabaran, aku bahkan begitu sabarnya menunggu dirimu bertahun-tahun Tuan " ucap Arresha meledek, dia mengelus rambut Erros sudah lama sekali rasanya mereka tidak seperti ini.


" Hahaha ya justru itukan, sekali bertemu maunya terus bertemu, oh atau kamu tinggal disini saja Arresha, jadi aku bisa setiap haribbertemu denganmu? " tanya Erros menatap Arresha penuh binar yang juga membalas tatapan matanya.


" Apa?! Tidak aku tidak mau, aku juga punya rumah sendiri walaupun itu cuma rumah kontrakan kecil tapi aku membayarnya dengan kerja kerasku tau! " jawab Arresha bangga. Rumah kontrakannya walaupun kecil tapi dia sudah terlalu nyaman untuk tinggal disana.


" Ya sudah lah, oh ya kamu sudah makan malam Arresha? Bagaimana kalau kita memasak bersama seperti dulu? " usul Erros, dia belum makan apapun semenjak tadi pagi ketika di siapkan makanannya oleh Lissa.


" Memangnya kamu belum makan malam? " tanya Arresha yang masih mengelus rambut Erros


" Belum aku kan maunya memakanmu! " jawab Erros tersenyum lebar.


" Kau berani memakanku akan aku lempar dari balkon!! " ancam Arresha membuat Erros tersenyum gemas.


Selalu saja galak, padahal kan Erros sedang ingin bermanja-manja. Dia juga masih memegang janji yang pernah ucapkan dulu pada mendiang ayah Arresha yang mengatakan ' aku akan menjaga Arresha tanpa merusak sesuatupun dari dirinya ' ucap Erros ketika bertemu dengan ayah Arresha untuk meminta izin berpacaran dengan putrinya.


" Iya-iya mana mungkin aku berani memakanmu, aku takut kau benar-benar melemparku dari balkon, nanti kalau sudah menjadi istriku pasti akan aku makan setiap hari! " jawab Erros terkekeh membuat pipi arresha di hiasi rona merah karena merasa tersanjung saat Erros menyebut kata istri.


Erros menatap dalam mata Arresha, sekarang dia baru merasakan ketenangan setelah bersama Arresha. Hanya dengan duduk bersama dan bermanja seperti ini saja sudah memberikannya ketenangan yang menentramkan jiwanya. Ternyata yang di butuhkannya saat ini hanya Arresha.


Perlahan Erros menarik tengkuk Arresha, kemudian menciumnya dalam. Bibir ini yang selalu membuat candu untuknya, yang selama ini dia rindukan. Arresha memejamkan matanya ketika helaan nafas Erros mulai menyentuh wajahnya, diapun tak dapat membohongi jantungnya yang selalu berdetak lebih kencang ketika dalam posisi seintim ini dengan Erros.


Ciuman lembut itu berubah menjadi ******* hangat di penuhi gairah ketika Erros semakin memperdalam ciumannya, menjelajah setiap bagian bibir Arresha. Erros mengubah posisinya agar lebih mudah menjangkau tiap bagian bibir Arresha. Kelembutan bibir Arresha benar-benar membuatnya mabuk, Erros terus menekan dan menciumnya lebih dalam. Ini sungguh candu yang sesungguhnya, nafsu yang memburu membuatnya menginginkan hal yang lebih, otaknya pun mulai berfantasi ria, tapi Erros berusaha keras untuk mengontrol dirinya.


Setelah beberapa menit berlalu ciuman itu akhirnya berakhir setelah Erros melepaskan pertautan bibirnya dari bibir Arresha, kilatan nafsu masih saja memburu di matanya. Erros berusaha keras untuk kembali mengontrol dirinya ketika matanya tanpa sengaja melihat belahan bibir Arresha yang berwarna merah itu membengkak akibat ulahnya, di tambah lagi dengan nafas Arresha yang terengah seperti seolah sengaja menggoda imannnya untuk menuntaskan hasrat yang masih saja membara.


" I Love You Arresha, thank you for waiting for me" ucap Erros.


" Love you more Nyx Erros Aether" jawab Arresha tersenyum.


" Katanya kamu lapar? Lebih baik kita memasak ini bahkan sudah hampir tengah malam dan kamu malah belum makan " kata Arresha setelah dia melepaskan pelukannya.


" Aku rindu nasi goreng buatanmu baby " ucap Erros manja kemudian beranjak dari sofa dan menuntun langkah Arresha menuju pantry.


" Baiklah kita akan masak nasi goreng sesuai pesanan anda Tuan! " jawab Arresha tersenyum.


Akhirnya mereka pun memasak bersama, Erros bertugas mengupas dan mencuci bumbu-bumbu sedangkan Arresha bertugas menyiapkan bahan yang lain.


Setelah semua bahan dan bumbu siap akhirnya Arresha mulai memasak nasi goreng sesuai dengan pesanan Erros, senyuman manis selalu tersungging di wajahnya yang cantik hingga membuat Erros tak ada bosannya memperhatikan Arresha terus menerus.


" I Love You baby " ucap Erros memeluk tubuh Arresha dari belakang, tangannya melingkar sempurna pada pinggang Arresha kembali mengungkung tubuh mungil kekasihnya.


" Love you too " balas Arresha tangannya masih sibuk dengan spatulanya dan mulai menumis bumbu.


Erros tak melepaskan Arresha barang sedetikpun, dia selalu menempel pada Arresha dan dengan manjanya menyenderkan kepalanya di bahu Arresha bahkan sampai nasi gorengnya matang.