Being The Second

Being The Second
Eposide 7 - Makan Siang Bersama



Menaruh harapan pada manusia adalah seni paling senderhana untuk menderita.


••••••••••••••


Jofan melangkahkan kakinya malas, sungguh hatinya yang dari pagi terasa begitu ringan kini malah terasa berat. Mood nya seakan langsung hilang seketika saat pria aneh itu dengan terang-terangan menujukkan diri tidak menyukainya.


Walaupun tidak berbentuk ucapan tapi sangat jelas terasa dari sikap dan tatapan matanya yang menunjukkan hal tersebut. Jofan kembali memakai masker yang tadi sempat dia buka saat pria aneh itu menyuruhnya membukanya.


" Jofab, bagaimana? " tanya Arresha langsung. Sebenarnya dia sedari tadi sangat tidak fokus, berulang kali melihat dan mencuri pandang pada lorong menuju VIP Room tempat Erros dan Jofan berada dalam satu ruangan.


Pikiran negatif yang sedari tadi berusaha di tepisnya membuahkan hal manis saat melihat Jofan berjalan keluar dari lorong VIP Room itu dengan badan yang masih utuh berada pada tempatnya.


Dulu temannya sampai babak belur karena salah faham mengira Arresha memiliki hubungan dengan pria lain saat Erros mendapati Arresha berboncengan dengan pria yang merupakan teman satu fakultas dengannya, padahal kala itu Arresha tengah berboncengan dengan temannya menuju rumah sang dosen dengan tujuan meminta bimbingan dalam hal penyusunan skripsi. Dan begitu cerobohnya sampai lupa mengatakannya terlebih dahulu pada Erros.


" Dia memesan semua makanan termahal dan juga terenak disini! " kata Jofan setelah sampai di balik meja kasir


" Dia juga menyuruhmu untuk menemuinya! " imbuhnya lagi dengan suara malas.


" Ehhmmm.. Dia mengatakan apa padamu? " tanya Arresha was-was, takut Erros berbicara yang tidak-tidak dengan mulutnya yang tajam itu.


" Dia tak mengatakan apapun, bahkan dia hanya diam dan memelototiku terus menerus. Membuatku merasa seperti seorang kriminal yang sedang di interogasi! " jawab Jofan mengadu. Berusaha menirukan tatapan mata Erros kepadanya, memang benar bahkan dari tadi laki-laki itu hanya menatapnya tajam tanpa senyum ataupun melunakkan sedikit saja tatapannya.


" Dan kau langsung gemetaran tidak kalau di tatap seperti itu? " tanya Arresha meledek


" Iya.. Eh tidak !! Siapa yang gemetaran, aku hanya merasa aneh saja, seperti seolah-olah aku memang mencuri sesuatu darinya, " jawab Jofan.


Kau memang tidak mencuri apapun darinya tapi kau membuatnya salah faham, batin Arresha.


" Bilang saja kau gemetaran apa susahnya sih, pasti keringat dinginmu keluar semuanya, iya kan ?! " kata Arresha terkekeh geli, syukurlah Erros tidak berbuat apapun pada Jofan.


" Enak saja, keringat dingin di tubuhku tidak akan keluar kalau hanya di tatap seperti itu tau! "sanggah Jofan membuat Arresha hanya menggelengkan kepalanya, merasa lucu dengan sikap Jofan kali ini.


Arresha memilihkan menu yang sesuai dengan selera Erros, tentu dia masih hapal betul apa saja makanan kesukaan kekasihnya itu, jadi itu bukanlah pekerjaan yang menyulitkan untuknya.


" Ya sudah kalau begitu lebih baik aku segera menemuinya. Kalau terlalu lama aku takut dia akan memakanmu karena mengira tak melaksanakan tugasnya dengan benar, " kata Arresha berusaha turun dari kursi bar yang lumayan tinggi itu.


" Tapi kakimu masih sakit Arresha, " kata Jofan memegang lengan Arresha, tapi dia tak bermaksud melarangnya, hanya membantunya untuk turun.


" Memangnya kau mau mati muda hah? " tanya Arresha meledek lagi.


" Astaga Arresha, aku benar-benar mengkhawatirkanmu, dan kau malah meledekku terus dari tadi, aku jadi menyesal karena sudah mengkhawatirkan dirimu! " kata Jofan yang merasa kesal sekarang, dia sedang dalam mode perhatian tapi yang dia perhatikan dari tadi begitu meremehkannya.


" Sudahlah, terserah kau saja !! Aku tak menjamin kalau kau akan kembali dengan selamat. Jadi aku akan menyiapkan peti kremasi untuk berjaga-jaga nantinya, " imbuhnya lagi meledek Arresha, jangan berpikir jika dia tidak bisa membalasnya.


" Ya siapkan dua, satu lagi untukmu !!! Kalau aku kembali dengan selamat kau yang akan aku kremasikan! " jawab Arresha tertawa, kemudian melangkahkan kakinya yang sedikit kesusahan berjalan menyusuri lorong yang menghubungkan bagian depan caffe menuju VIP Room.


.............................................


°° VIP Room °°


Arresha melangkahkan kakinya, berjalan perlahan walau sedikit kesusahan karena masih saja terasa nyeri saat tertekan, seperti saat berjalan.


Sebenarnya hatinya juga merasa sedikit was-was, air muka Erros nampak begitu ketat tadi saat bertemu dengannya, bukan tidak mungkin jika sekarang Erros sedang menahan amarah dan siap meledakkannya kapan saja.


" Permisi, selamat siang, " ujar Arresha setelah masuk ke dalam ruang VIP tempat Erros dan seorang pria lain yang tak di kenalnya.


" Duduklah, " kata Erros mempersilahkan Arresha untuk duduk di sofa yang sama dengannya duduk saat ini. Kemudian menoleh sedikit pada Assisten Jo, memberikan kode yang hanya dengan tatapan matanya saja sudah membuat Assisten Jo mengerti maksud dari tuannya.


" Saya permisi Tuan, " ucap Assisten Jo setelah berdiri, membungkukkan sedikit badannya sebelum benar-benar melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.


" Bagaimana kabarmu Arresha? " tanya Erros akhirnya setelah memastikan Assisten Jo benar-benar keluar dan menutup pintunya dengan rapat.


Matilah aku. Suaranya dingin sekali, ternyata dia benar-benar sedang marah, dasar pria tukang cemburu, batin Arresha memejamkan matanya singkat demi menambah kekuatan menghadapi kekasihnya yang sangat pencemburu itu.


Erros masih saja belum bisa menguasai dirinya karena tadi mendengar Jofan yang mengakui Arresha sebagai miliknya, dia jadi merasa, pasti sudah banyak yang ia lewatkan selama 3 tahun ini.


" Baik-baik saja, apa kamu tidak sibuk sampai bisa ke sini saat jam makan siang sepertini ini? " ucap Arresha berusaha membuat suasana senormal mungkin.


" Kenapa? Apa aku mengganggumu yang sedang asyik berpacaran hmm? " tanya Erros mencoba melunakkan sedikit kecanggungan diantara dirinya dan Arresha.


" Siapa yang bilang kalau aku berpacaran dengannya sih? Kita kan cuma berteman, lagi pula dia memang orangnya seperti itu, suka sekali bercanda! "


" Tapi tadi dia bilangnya seperti itu, katanya kau adalah miliknya. Itu artinya kau berpacaran dengannya kan?! " jawab Erros cepat masih belum percaya begitu saja, tapi dia memang tidak bisa kalau marah terlalu lama pada kekasihnya yang manis ini.


" Ya sudah kalau dia bilang aku miliknya itu berarti aku miliknya, " kata Arresha yang akhirnya mulai kesal, padahal dia sudah menjelaskan tapi Erros masih saja tidak mempercayai nya.


Lagi pula ini adalah trik nomor dua ketika dia di tuduh yang tidak-tidak, yaitu berpura-pura kesal.


" Kalau begitu aku akan mencincang nya hidup-hidup, biar dia tau rasa karena sudah mengakui hak milik orang lain, " jawab Erros yang mulai kesal, bukankah seharusnya dia yang kesal sekarang, kenapa malah jadi Arresha yang ngambek padanya.


" Aku siapkan bumbunya, kau maunya di apakan? Di panggang atau bagaimana?! " jawab Arresha kemudian tertawa.


Tak lama setelah perdebatan singkat itu akhirnya pelayan datang mengantarkan pesanan Erros, membuat perhatian Erros dan juga Arresha teralih karenanya.


Erros tersenyum melihat beberapa menu yang tersaji di mejanya saat ini, semua adalah makanan kesukaannya, ternyata bebek mungilnya ini masih saja mengingat makanan kesukaanya.


" Kau bahkan masih mengingat apa saja makanan kesukaanku Arresha, " kata Erros tersenyum sumringah, itu berarti sampai detik ini dia tak pernah salah kalau selalu berfikir bebek mungilnya ini selalu mencintainya.


" Aku bahkan masih mengingat dengan teramat sangat jelas suara dengkuranmu yang fals. Huhh, kau tahu itu sangat mirip suara disel! Hahaha " jawab Arresha dengan cepat, menggoda Erros yang langsung tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.


" Enak saja, aku tidak seperti itu, kau tahu tidurku begitu elegan dan berkelas, aku tidak akan percaya begitu saja kalau tidak ada buktinya! "


" Bagaimana mau ada buktinya kalau videonya dulu kau hapus, curang sekali! " Arresha mencibik kesal, dia sempat merekamnya dulu saat Erros tertidur di sofa ruang tamu rumahnya setelah menemani ayahnya bermain catur.


Erros yang sebenarnya sama sekali tidak bisa bermain catur hanya sok jago, sok dia bisa bermain padahal dia hanya asal menjalankan pion miliknya. Saat tiba gilirannya dia akan berpura-pura dengan berpikir begitu keras dan lama setelah itu baru dia menjalankan pionnya, tapi justru triknya itu malah membuatnya mengantuk dan saat ayahnya pergi ke kamar mandi malah dia tertidur begitu pulasnya.


" Kalau tidak aku hapus kau pasti akan selalu menggunakan itu untuk meledekku! " jawab Erros membuat Arresha terkekeh geli.


" Sudahlah berdebat denganmu tidak akan pernah ada habisnya, cacing di perutku sudah berdemo minta di isi. Kau juga pasti belum makan kan? Mari makan bersama, " kata Erros mengalihkan pembicaraan. Lagian dia tidak bisa terlalu lama di sini, masih banyak pekerjaan penting yang harus dia lakukan, dan dia masih ingat Lissa yang mengatakan kalau dia di undang makan malam oleh Tuan Louis, ayah dari Lissa, tunangannya.


" Ehhh kau ini lupa atau bagaimana?! Aku disini adalah pelayan kau menyuruhku makan bersama dirimu nanti bos ku malah memarahiku karena meninggalkan pekerjaanku, "


" Meninggalkan pekerjaanmu atau meninggalkan pacarmu itu hmmm? "


" Hmm pacarku pasti akan mencariku! " ledek Arresha lagi dengan menekankan kata pacarku.


" Aku mau mengambil kapak, kau tunggu saja disini?! " kata Erros cepat, berdiri dan bersiap keluar.


" Disini tidak ada kapak, adanya gergaji, kau mau aku ambilkan gergaji?! "


" Tidak usah, di mobilku ada kau tenang saja! " ujar Erros yang kini masih berdiri.


" Ya sudah sana, pergilah! "


Erros pun akhirnya keluar dari ruang VIP itu, membuat Arresha kalang kabut sendiri. Tadinya dia sungguh hanya ingin meledek tapi kenapa malah sekarang Erros benar-benar keluar, apa dia sungguh-sungguh akan mencincang Jofan.


Arresha ingin menyusul tapi Assisten Jo melarangnya untuk keluar dari ruangan itu, membuat Arresha semakin panik dam bingung sendiri, apa yang akan di lakukan Erros kali ini.


Jofan, semoga Tuhan yang akan menyelamatkan nyawamu, doa Arresha dalam hati.


Sekitar sepuluh menit barulah Erros kembali ke ruang VIP dan mendapati Arresha yang nampak gelisah tak bisa duduk dengan tenang, membuatnya sedikit menaikkan sudut bibirnya.


Bagaimana dia bisa cemburu dan tak mempercayai kekasihnya ini, bahkan sampai sekarang gelang dan kalung yang dia berikan dulu masih bertengger dengan begitu cantiknya di tangan dan juga leher mulus Arrrsha.


Sebenarnya tadi dia hanya pergi ke toilet sebentar lalu menyuruh assisten Jo untuk meminta izin pada manager Arresha agar dapat menemaninya, tentu dengan uang sogokan agar mulutnya diam.


" Aku sudah mencincangnya, sekarang kau bisa makan, tak perlu memikirkan yang lainnya! " kata Erros setelah duduk, mengambil sendok serta garpu dan langsung menyantap makanan yang sedari tadi menggugah seleranya itu.


Arresha masih diam belum ingin makan, menatap Erros dengan penuh curiga. Pikirannya masih di liputi apa yang Erros lakukan pada Jofan sebenarnya, jadi dia hanya diam memperhatikan Erros yang makan dengan begitu elegannya.


Semakin memperhatikan Erros malah pikirannya semakin buyar, malah dia sekarang terlena dengan ketampanan pacarnya sendiri.


Ulluu ulluuu, pacar siapa sih ini, ganteng banget, batin Arresha senyum-senyum sendiri.


" Aku tahu aku ini sangat tampan, jangan memperhatikan ku terus. Makanlah, agar tubuhmu bisa gendut seperti dulu lagi, "


" Memangnya dulu aku gendut? " perasaan dia tidak pernah merasa gendut dari dulu, walaupun makannya memang banyak.


" Hmmm, gendut dan menonjol di beberapa sisi, " jawab Erros asal dan membuatnya terkekeh sendiri.


" Dasar pria mesum!!! " kata Arresha langsung menutupi bagian dadanya dengan menyilangkan dua tangannya.


" Sudahlah jangan menggodaku terus, kau makanlah, kalau kau tidak makan nanti kau yang aku makan! " ancam Erros membuat Arresha langsung diam dan mulai memakan makanannya hingga semua menu yang tadinya memenuhi hampir seluruh bagian meja itu habis tak bersisa, mereka makan dengan begitu lahapnya.


Setelah makanannya habis Arresha memperhatikan Erros yang kini terlihat sibuk dengan gadget miliknya. Pacarnya ini sekarang berubah begitu banyak, bukan hanya penampilannya saja yang berubah, tapi sekarang dia terlihat seperti bos besar dan sangat sibuk, bahkan dulu saat bersamanya Erros jarang sekali bermain gadget seperti itu, pasti sekarang pekerjaanya begitu menguras hampir seluruh waktunya.


Semakin dia melihat Erros yang sekarang, dia semakin merasa jauh, dia sekarang hanya anak yatim piatu yang bahkan untuk bisa makan esok hari saja dia harus bekerja keras hari ini.


Tatapan matanya berubah sendu semakin dia memperhatikan Erros, tapi dia berusaha menampiknya dengan cepat. Biarlah tak apa walaupun jauh dia juga tak ingin terlalu berharap saat ini, biar mengalir saja apa adanya. Bagaimana akhirnya nanti biarlah takdir yang menentukan semuanya.


" Arresha, aku harus pergi sekarang, aku ada janji temu dengan klien, maaf sepertinya aku tak bisa menjemput dan mengantarkanmu pulang, " kata Erros setelah tadi dia mengecek beberapa pekerjaan dari gadget miliknya.


" Hmmm, tak apa, datanglah jika kau sempat saja, aku tak ingin adanya aku malah mengganggu pekerjaanmu, " jawab Arresha yang berusaha memahami keadaan.


" Heii, kenapa kau berbicara seperti itu, kau tak pernah mengganggu pekerjaanku. Jadi jangan bicara seperti itu lagi, okey ?! " ucap Erros yang menangkap berbeda dari nada bicara Arresha barusan.


" Ya sudah sekarang pergilah, kau pasti sangat sibuk, " kata Arresha tersenyum membuat hati Erros seketika menjadi lega karenanya.


" Aku pergi, kau jaga dirimu baik-baik, dan jangan ceroboh, okey?! " ucap Erros bangkit dari duduknya kemudian mencium pelan kening Arresha sebelum akhirnya benar-benar pergi melangkah meninggalkan Arresha di ruangan itu.