
I'm Not Him!!
Bukan Dia Tapi Aku!!!!!
•••••••••••••••••
" Ehmmmmm... Katanya kau mau mengajakku makan malam? " tanya Arresha membuat Erris tersenyum.
Sikap Arresha yang berusaha menghindar membuat Erris tersenyum, dia menjadi semakin penasaran karenanya. Selama ini tak pernah ada yang menolak sentuhannya, malah para wanitalah yang secara sukarela memberikan tubuh mereka untuk dia jamah dan nikmati sepuasnya.
" Baiklah, ayo... " jawab Erris, kemudian meraih jemari Arresha dan menuntunnya keluar berjalan menuju halaman belakang mansionnya
Arresha hanya diam saja mengikuti langkah kaki Erris, dia yang biasanya cerewet menjadi pendiam sekarang. Rasanya sangat canggung disini bersama Erris yang dikiranya adalah Erros.
Erris dan Erros memanglah lahir dengan visual yang identik sama. Bahkan ayahnya, Tuan Hilton dulu sering salah mengenali kedua putra kembarnya. Yang membedakan diantara keduanya adalah kepribadian yang mereka miliki. Jika Erros yang dikenal sebagai sosok yang hangat dan penuh perhatian, maka Erris adalah kebalikannya.
Erris tak suka banyak bicara, dia terkenal sebagai pria berhati dingin dan cenderung cuek dengan segala hal yang ada di sekitarnya. Erris tak menyukai wanita yang terlalu banyak bicara dan menuntutnya. Dia lebih suka melakukan segala sesuatu yang memang telah terstuktur rapi dengan segala perencanaan yang matang.
Padahal kemarin ketika di panthouse Arresha merasa sangat nyaman hanya berdua dengan Erros, atau mungkin karena rumah ini nampak seperti istana dengan begitu banyak pelayan dan penjaga, jadi dia merasa tak nyaman dan tak cocok berada disini.
Erris menyiapkan Romantic Candle Light Dinner di samping kolam renang, lilin-lilin kecil menghiasi tepi kolam dan beberapa sengaja di apungkan di atas kolam, kelopak bunga mawar yang sengaja di sebar di atas kolam menambah cantik suasana. Terdapat sebuah meja dan dua buah kursi tepat di samping kolam, diatasnya juga terdapat lilin dan juga vas berisikan bunga Lily menghiasi meja itu. Erris benar-benar mengubah bagian taman dan kolamnya menjadi tempat dinner yang sangat romantis dengan dekorasi yang begitu indahnya.
Musik yang beralun pelan berhasil membuat suasana menjadi semakin romantis. Lagu versi akustik dari penyanyi terkenal Charlie Puth Wiz Khalifa yang berjudul See You Again mengalun indah semakin menambah syahdu suasana.
Arresha terpukau dengan romantic dinner yang Erris di siapkan untuknya. Perasaanya yang tadi canggung perlahan mulai mencair setelah senyum manis menghiasi wajahnya. Dia tak menyangka kalau kekasihnya itu rela merepotkan diri dengan menyiapkan ini semua untuknya.
" Kau romantis sekali..... " ucap Arresha tersenyum sumringah, hatinya di penuhi ribuan bunga, matanya berbinar takjub, menatap Erris yang terus memperhatikan dirinya.
Erris hanya tersenyum, dia menuntun Arresha mendekat menuju meja, tangannya menarik sebuah kursi menginstrusikan agar Arresha duduk disana. Setelah Arresha duduk, barulah ia melangkah menuju kursinya kemudian duduk tepat di depan Arresha.
Dua orang pelayan datang membawakan botol berisi wine dan juga hidangan pembuka berupa Amuse Bouche berukuran one-bite-size ( kroket yang terbuat dari kentang berwarna coklat ke emasan ) yang tampak menarik di sajikan di atas batu-batuan hitam.
Hidangan utama malam itu adalah Vergano Rib-Eye Steak yang terdiri dari Coffee-rubbed beff steak, Potato Mousseline, Poached Vegetables, Espresso Jus.
Dinner yang di siapkan oleh Erris sungguh berhasil menyentuh hati Arresha, ia merasa terbang ke langit tinggi karena perlakuan Erris yang begitu manis padanya.
Setelah sesi makan malam selesai, Erris dan Arresha masih betah duduk menikmati malam yang sangat indah itu. Gemerlap bintang menghiasi langit malam dengan sempurna. Pelayan kembali datang membawakan sebotol sampanye.
" Aku tidak mau minum " ucap Arresha melihat gelas berisi sampanye yang di sajikan oleh pelayan padanya.
" Minumlah sedikit sayang, kau pasti suka " jawab Erris tersenyum, dia mengangkat gelasnya dan mengajak Arresha untuk bersulang. Malam masih sangat panjang untuk mereka nikmati.
Dengan ragu akhirnya Arresha mengangkat gelasnya dan bersulang, Erris tersenyum kemudian langsung meminum sampanye miliknya. Arresha mulai mencicipi sampanye miliknya, sensasi rasa sparkling (bersoda) dan berbuih langsung menyambut indra pengecapnya. Arresha sungguh tak menyukai ini, dia tak ingin mabuk. Namun Erris terus saja memaksanya secara halus untuk meminum sampanye itu sampai habis.
" Ehmmm.. Erros, sepertinya malam ini aku harus pulang " ucap Arresha setelah menghabiskan segelas sampanye miliknya.
" Menginap saja disini, besok aku akan mengantarmu bekerja " jawab Erris, matanya menatap lurus ke arah Arresha bibirnya melengkungkan senyuman tipis.
Jawaban Erris membuat Arresha menjadi bingung, dia tidak ingin menginap disini. Ada perasaan tak tenang di hatinya sekarang ini, tapi diapun tak mengerti mengapa dia jadi seperti ini.
" Baiklah aku akan mengantarmu pulang, tapi kita harus menghabiskan sampanye ini dulu sayang " jawab Erris, sebenarnya dia tak suka ketika Arresha terus beralasan dan mengatakan ingin pulang.
Apa Arresha mulai curiga?! batin Erris.
Setelah menghabiskan hampir setengah botol sampanye, Arresha mulai merasakan berat di kepalanya. Sekuat tenaga dia menjaga supaya tetap tersadar, tapi efek alkohol dalam sampanye itu lebih kuat dalam mempengaruhi otaknya dan mulai merenggut kesadarannya.
" Kau mabuk sayang? " ucap Erris menyentuh tangan Arresha.
" Kepalaku pusing sekali, aku tidak kuat untuk minum lagi " jawab Arresha yang mulai kehilangan kesadarannya.
Erris hanya diam, dia tersenyum saat Arresha menjatuhkan kepalanya di meja. Rencananya berhasil, bagaimanapun dia tak akan membiarkan Arresha pulang begitu saja. Susah payah dia meninggalkan pekerjaannya dan membuang waktunya yang sangat berharga hanya untuk menjemput Arresha, maka dia tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Erris beranjak dari kursinya, dia menghampiri Arresha dan mengangkat tubuh mungil Arresha ke dalam gendongannya.
Erris membawa Arresha masuk ke dalam mansion, tubuh Arresha yang mungil tak membuatnya lelah sama sekali saat dia harus menaiki anak tangga dengan membawa Arresha dalam gendongannya. Kakinya melangkah menuju kamar utama mansion, kamar milik Erris.
Perlahan Erris merebahkan tubuh Arresha di atas kasur mewah miliknya yang berukuran king size. Erris tersenyum tipis, Arresha akan menjadi miliknya mulai malam ini. Tapi Erris tak ingin terlalu terburu-buru, malamnya masih begitu panjang dan dia ingin menikmatinya secara perlahan.
Kaki Erris melangkah menuju lemari es khusus untuk penyimpanan anggur atau minuman beralkohol yang tersedia dalam kamarnya. Berbagai jenis minuman beralkohol tersedia di dalamnya, mulai dari yang memiliki kadar alkohol rendah hingga paling tinggi seperti Brandy, Whisky, Vodka, Champagne (sampanye) dan lainnya.
Erris mengambil sebotol Cocktail kemudian melangkahkan kakinya menuju single sofa yang terletak di seberang kasurnya. Dia ingin menikmati minumannya terlebih dahulu sebelum menikmati malamnya bersama Arresha. Erris terus memperhatikan setiap inchi tubuh Arresha, tanpa melewatkan satu inchi pun dari pandangannya.
Erris membuang pandangannya, dia mulai bergairah saat melihat Arresha yang menggeliat mencari kenyamanan. " Kau sungguh menarik " ucap Erris tersenyum kemudian mulai melangkahkan kakinya mendekat pada Arresha.
" Kau akan menjadi mililku Arresha, aku tak akan menjadikan dirimu sebagai wanita simpanan seperti Erros, aku pastikan kau akan mendapatkan surga dunia ketika kau memilih untuk bersamaku " ucap Erris melihat wajah cantik Arresha, tangannya mengelus pipi mulus Arresha. Menyusuri tiap bagian wajahnya dan berhenti pada belahan bibir Arresha yang tipis namun sangat menggoda.
Perlahan tapi pasti Erris mulai mendekatkan bibirnya pada bibir tipis milik Arresha yang sedari tadi mengusik adrenalinnya. Hembusan nafas Arresha yang teratur mengenai wajahnya saat tak ada lagi jarak antara dirinya dan Arresha.
" Erros.... " racau Arresha, berhasil menghentikan aksi Erris yang mulai mengecup bibirnya.
Erris tak suka ketika Arresha memanggilnya Erros, dia bukan Erros! Mungkin dari tadi dia bisa menahan dirinya, tapi efek dari alkohol itu benar-benar mengikis rasa sabar di hatinya.
" Call me Erris, Arresha! Im not Erros!!! " ucap Erris pada Arresha yang tetap memejamkan matanya.
" Erross...... Love You " racau Arresha lagi membuat mood Erris langsung hancur karenanya.
Erris beranjak, dia memilih pergi meninggalkan Arresha guna meredamkan emosinya. Dia tak suka saat Arresha terus memanggilnya 'Erros'. Erris menghembuskan nafasnya kasar, ia meraih kotak rokoknya yang terletak di atas nakas dan Cocktail yang masih tersisa setengah botol, kemudian melangkahkan kakinya menuju balkon.
Mata Erris menerawang jauh saat putung rokoknya telah menyala, dia mengesapnya dalam dan memilih untuk menikmati sensasinya terlebih dahulu sebelum menghembuskan gumpalan asap rokok dari mulutnya.
" Erros?! " gumam Erris tersenyum kecut, selalu saja Erros. Semua orang selalu lebih menyukai Erros dari pada dirinya. Hanya ibunya lah yang selalu mengerti Erris.
Setelah menghabiskan enam putung rokok dan juga cocktailnya, Erris berjalan menuju walk in closset yang tersedia dalam kamarnya. Dia menanggalkan pakaian yang di kenakannya dan memilih sebuah baju renang, kemudian membalut tubuh atletisnya menggunakan handuk jubah berwarna putih.
Erris memilih untuk keluar dari kamar mewahnya dan berjalan menuju kolam renang, dia ingin berenang. Emosi masih saja menguasai dirinya saat nama Erros yang tanpa sadar terus di sebut oleh Arresha.
Sebegitu cintanya kah dia pada Erros?!! Bahkan saat mabuk dan tak sadar saja dia terus memanggil nama Erros!!
Air kolam menjadi sangat dingin ketika suhu udara yang mencapai 16 derajat celcius itu seakan membekukan air yang berada di dalam kolam. Namun itu semua seperti tak berasa pada diri Erris, emosi dan juga gairahnya yang membara sekaligus seakan membuat tubuhnya menjadi sangat panas. Dia membutuhkan sesuatu yang dingin yang bisa menurunkan emosi dan hasratnya.