Being The Second

Being The Second
Episode 51 - Di penuhi amarah



Otak Erros yang biasanya cerdas dengan segala keputusannya yang terstruktur secara sempurna dengan perencanaan yang matang dan sistematis itu seakan membeku, tak mampu memikirkan langkah ataupun keputusan apapun yang akan dia ambil selanjutnya jika memang benar Lissa tengah mengandung anaknya.


Pengakuan Lissa mengenai kehamilannya tadi benar-benar mengubah segalanya, membuatnya dilanda rasa frustasi nan menumpuk dalam jiwanya yang ternyata berhasil membuat otaknya membeku seketika dan ternyata pula berhasil membekukan mulutnya tanpa bisa berkata apa-apa.


" Baiklah.. Baiklah.. Papa tahu kalian pasti ingin membicarakan masalah pernikahan kalian. Papa tidak akan mengganggu lagi." ucap Tuan Louis yang menyadari jika putri dan juga calon menantunya itu membutuhkan waktu untuk berbicara.


Tuan Louis pun pernah muda, pernah merasakan pula bagaimana pusing dan rumitnya mengurus persiapan pernikahan walaupun untuk urusan pesta dan lain sebagainya telah di serahkan sepenuhnya kepada jasa wedding organizer kenamaan kelas atas yang tak mungkin membuatnya kecewa karena pelayanan serta hasil kerjanya, namun sebagai calon pengantin apalagi ini adalah pengalaman pertama dan sekali seumur hidup bagi putri kesayangan dan juga menantu kebanggaanya mereka pasti tak ingin kelewatan ataupun melewatkan satu hal remeh sekalipun.


Jadi dengan bijaksana, Tuan Louis memilih untuk undur diri dan memberikan waktu berdua bagi sepasang muda-mudi ini untuk membahas segala sesuatu mengenai pernikahannya.


" Papa pamit beristirahat, seharian ini terlalu banyak pertemuan yang Papa hadiri. Selamat malam Erros." imbuhnya lagi sebelum berdiri meninggalkan ruang tamu itu.


Namun Erros bukanlah orang yang tak tahu tata krama, meskipun saat ini pikirannnya tengah berkecamuk setelah mengetahui kabar kehamilan Lissa, ia tetap mencoba bersikap sesopan mungkin dengan menjawab salam perpisahan dari Tuan Louis itu. " Selamat malam juga Paman." jawabnya lirih seraya menganggukkan kepalanya dengan perlahan.


Setelah berpamitan untuk undur diri, barulah kaki Tuan Louis mulai berjalan meninggalkan ruang tamu itu dan mulai memasuki aula tengah mansion sebelum akhirnya mulai menghilang ketika ia mulai menapak naik pada anak tangga yang mengarahkannnya naik menuju kamar pribadinya yang terletak pada lantai dua.


Sejenak Erros dan Lissa memperhatikan punggung Tuan Louis yang mulai menghilang ketika kakinya mulai menapaki satu persatu anak tangga. Setelah memastikan Tuan Louis mencapai puncak anak tangga dan tak nampak lagi sehingga tak mungkin bisa mendengarkan percakapannya dengan Lissa, mata tajam Erros yang tadinya bersinar dingin berubah menjadi berkobar penuh amarah kemudian langsung beralih menatap Lissa yang kini tengah duduk dengan anggun pada sofa itu.


" Apakah ini rencanamu selanjutnya?!" tanya Erros dingin. " Aku sungguh tak menyangka jika ternyata kau seluar biasa ini Nona Delissa!" ujarnya dengan kalimat meninggikan namun memiliki maksud jelas untuk merendahkan


Lissa menghela nafasnya yang panjang dengan perlahan, tak ingin terburu-buru menjawab tuduhan Erros itu. " Aku memang tengah mengandung anakmu Erros." jelas Lissa yang mencoba bersabar menghadapi amarah Erros yang mulai meluap itu.


Lissa mengenal Erros dengan sangat baik, dia paham betul jika pria di depannya itu kini tengah menahan amarah yang begitu membara dalam dirinya.


Mendengar jawaban Lissa itupun akhirnya membuat bibir Erros menipis seraya menggelengkan kepalanya tak percaya. " Hamil?!" tanya Erros dengan nada skeptis yang di sengaja.


" Semenjak kapan kau hamil Delissa? Kenapa kau tak membicarakan masalah ini denganku sebelumnya?! Apa setelah kau tahu Arresha memilih meninggalkanku lalu kau ingin mengingkari ucapanmu sendiri?!" Erros memajukan tubuh dan menatap Lissa dengan tatapan tajam menyelidik.


Lissa menghela nafasnya panjang, mengumpulkan kekuatannya untuk menjawab. " Ya.. Memang sebelumnya aku berniat melahirkan dan membesarkan anak ini seorang diri, tapi setelah aku mengetahui Arresha sendirilah yang memutuskan untuk meninggalkanmu maka aku berhak pula memutuskan untuk menuntut tanggung jawabmu Erros!!! Anak ini lebih membutuhkanmu sebagai ayahnya di bandingkan Arresha-mu itu!" jawab Lissa tegas.


" Apa buktinya kalau kau memang tengah mengandung anakku?! Apa kau pikir aku akan percaya begitu saja dengan ucapanmu itu tanpa adanya bukti apapun yang bisa kau berikan padaku?!" seru Erros yang masih tak bisa mempercayai ucapan Lissa begitu saja.


Bagaimana mungkin Lissa tiba-tiba hamil?! Padahal baru kemarin siang mereka bertemu dan wanita itu sama sekali tak mengatakan apapun mengenai kehamilannya itu.


Tanpa ingin menjawab pertanyaan Erros, tangan Lissa terulur meletakkan sebuah amplop berwarna putih dengan logo khas rumah sakit yang sedari tadi ia simpan pada balik bajunya, dan rupanya hal itupun langsung menarik perhatian Erros yang sedari tadi memang tengah memperhatikan setiap gerak-gerik Lissa, dengan cepat pula tangan Erros menyambar amplop berwarna putih itu.


Dengan gerakan yang seolah tak sabar dan nampak tergesa-gesa, Erros langsung membuka amplop itu kemudian membaca setiap kalimat yang tertulis di dalamnya, tanpa melewatkan satu katapun dari informasi yang tertera di dalamnya.


Dalam surat itu tertulis dengan sangat jelas jika Lissa memang tengah hamil. Lalu apa yang akan Erros lakukan setelah ini?! Dan bagaimana dengan Arresha?!


Lissa hanya diam memperhatikan Erros yang kini seolah termenung setelah membaca surat itu. " Maafkan aku Erros, maaf jika aku egois tapi aku ingin kita tetap melanjutkan pernikahan kita. Anak ini jauh lebih membutuhkanmu di bandingkan Arresha. Dia gadis muda yang cantik, aku yakin dia akan menemukan laki-laki yang akan mencintainya dengan sepenuh hati." ucap Lissa yang sesungguhnya pun berada dalam posisi yang tak mudah.


Jika bukan karena janin yang kini tumbuh dalam rahimnya, dia tak mungkin akan bersikap seegois ini.


Mendengar ucapan Lissa membuat emosi Erros semakin memuncak, sebelah tangannya terkepal kuat sementara satu tangannya yang lain menggenggam kertas itu dengan sangat kuat.


" Aku akan menikahimu, tapi dengan satu syarat!" geram Erros yang nampak frustasi setelah mengetahui sebuah fakta jika Lissa memang tengah mengandung anaknya.


" Setelah kita menikah, aku akan tetap bersama dengan Arresha. Dan kau tidak berhak mengatur atau bahkan melarangku untuk tetap bersama dengannya." lanjut Erros, matanya bersinar dingin, sangat dingin.


Ucapan Erros itu seakan langsung merajam jantung Lissa tanpa belas kasih. Lalu apa artinya ikatan pernikahan yang sakral jika setelah menikah Erros tetap memilih bersama Arresha?


" Apakah di matamu pernikahan hanya sebatas status semata, sementara aku tidak berhak menuntut kesetiaan darimu? Sebegitu gilanya kah kau mencintai Arresha, Erros?!" tanya Lissa kemudian dengan suara meninggi di penuhi rasa sakit hati.


" Terserah apa yang kau pikirkan tentangku, walaupun aku menikah denganmu tapi kau tahu hatiku hanya akan aku berikan pada Arresha." desis Erros dingin. "Itulah persyaratan dariku, dan jika kau setuju sebulan lagi kita akan menikah." seru Erros kemudian dengan nada suara tegas tak terbantahkan.


Lissa tersenyum masam, merasakan hatinya yang terasa sangat perih mendengar kegilaan syarat yang di ajukan Erros sebelum menikah dengannya. Akan jadi apa bahtera pernikahannya nanti dengan Erros jika setelah menikah dengannya pun bukan dirinya yang di jadikan ratu di hati Erros, melainkan Arresha. Akankah Lissa sanggup menjalani pernikahannya nanti jika seperti itu caranya?!


" Kau bisa tetap berhubungan dengan Arresha, dengan satu syarat. Hanya akulah Nyonya Aether dan aku tidak ingin baik keluargaku ataupun keluargamu mengetahui keberadaan ataupun hubunganmu dengan gadis itu." imbuh Lissa dengan suara tenang namun tak meninggalkan keseriusan yang nyata dalam ucapannya.


Tentu saja Erros langsung menyeringai setelah mendengar ucapan Lissa, ternyata Delissa yang ia kenal selama ini tak sebaik dan setulus seperti apa yang ada dalam pikirannya selama ini.


" Ternyata seperti inilah dirimu yang sebenarnya." Erros menipiskan bibir dengan sikap jengkel, tatapannya jelas seolah meremehkan ke arah Lissa.


Namun sekali lagi Lissa hanya memilih diam, jika Erros saja bisa mengajukan syarat segila itu mengapa dia pun tak bisa?! Lissa bukanlah tipikal wanita lemah yang akan menerima apa saja rasa sakit hati yang di torehkan pria yang paling dia cintai itu.


Jika Erros saja bisa segila itu maka diapun juga bisa melakukan hal yang sama namun dengan cara yang berbeda.


" Baik jika itu maumu." Erros beranjak dari duduknya, berdiri menatap Lissa yang pandangannya kini mengikutinya. " Satu bulan lagi kita akan menikah." imbuh Erros sebelum kemudian mebalikkan tubuhnya dan tanpa permisi meninggalkan mansion mewah Tuan Louis itu.


°°°°


Hujan itu semakin lama semakin menderas di sertai angin badai yang semakin menggila pula. Deretan pohon kelapa khas pesisir pantai pun bergoyang beriringan, seiring dengan hembusan angin yang menghempas tak tentu arah.


Sebuah mobil mewah berjenis Lamborghini Aventador berwarna putih nampak terparkir dengan sempurna pada bahu jalan, tak jauh dari mercusuar berwarna merah yang nampak tetap kokoh meskipun di hantam badai yang seakan belum puas menunjukkan eksistensinya.


Sengaja ia memilih diam di balik kemudi mobil sport mewahnya dan terus memperhatikan gadis itu berjam-jam lamanya.


Dan gadis yang sedari tadi dia perhatikan itupun seakan tak berniat sedikitpun untuk pergi meninggalkan pantai ataupun mercusuar tersebut meskipun hujan badai seolah tak ingin memberi jeda barang sejenak agar umat manusia yang terjebak di bawahnya bisa mencari tempat perlindungan yang lebih nyaman dan aman pula.


Perasaannya tentu berkecambuk dalam dirinya, dia sangat ingin menghampiri pada gadis itu lalu membawanya pergi dan mencari tempat perlindungan yang beribu kali lipat lebih nyaman dibandingkan atap tipis pintu mercusuar itu. Namun Erris tetap memilih duduk diam di belakang kemudinya, memperhatikan dan menjaga Arresha dari kejauhan.


Tak mungkin baginya untuk menghampiri gadis itu, sebab Arresha pun tak pernah mengetahui keberadaannya. Karena selama ini Arresha hanya mengenalnya sebagai Erros dan Erris pun tahu betul hal apa yang membuat Arresha begitu terpuruk kali ini jika bukan Erros, saudara kembarnya.


Setelah mendapat laporan dari seorang bodyguard yang ia utus untuk menjaga Arresha tanpa gadis itu sadari keberadaannya, sengaja Erris membatalkan beberapa pertemuan pentingnya dengan kolega bisnisnya serta menyerahkan urusan perusahaan pada Assistant Mark.


Apa dia sudah gila?!


Mengapa Arresha bahkan seolah tak ingin pergi meninggalkan pantai itu padahal berjam-jam lamanya ia terjebak di bawah hujan badai yang sudah pasti membuat bajunya basah kuyup karena atap mercusuar tipis dan tak seberapa itu.


Erris memutuskan untuk lebih berbaik hati lagi dengan cara memberi sedikit lagi waktu untuk Arresha, mungkin tiga puluh menit dari saat ini merupakan waktu yang cukup bagi Arresha memenangkan dirinya.


Tiga puluh menit?! Bukankah itu terlalu lama?! Pikirnya lagi.


Namun jika setelah tiga puluh menit itu berlalu dan gadis itu tetap keras kepala tanpa ingin meninggalkan atap kecil mercusuar itu Erris akan langsung keluar menariknya atau mungkin akan membopongnya lalu membawanya ke tempat yang jauh lebih nyaman dari teras mercusuar itu.


Tak peduli Arresha akan terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba.


Dia tak pernah semurah hati itu memberikan waktunya yang amat berharga pada orang lain! Jika di pikir lagi Erris pun tak akan pernah faham mengapa dia rela menunggu berjam-jam di balik kemudi mobilnya serta meninggalkan begitu saja pekerjaannya hanya demi menunggui gadis yang tengah patah hati seperti itu.


Namun bukankah orang yang tengah patah hati bisa saja melakukan hal nekat dengan mengakhiri hidupnya sendiri?!


Setelah beberapa menit berlalu nampak sebuah mobil berwarna hitam legam terhenti di bahu jalan, tanpa menunggu waktu lama si pengemudi pun bergegas keluar setelah membentangkan sebuah payung berwarna hitam kemudian berlari menuju arah pantai nampak mencari sesuatu.


Mata tajam Erris mengamati dengan seksama pria itu, dia tahu betul siapa pria itu. Jofan. Sudah pasti ia kesana untuk menjemput Arresha.


Entah mengapa seketika muncul semburat rasa marah dalam hatinya melihat pria lain menjemput Arresha padahal ia telah menunggunya disini berjam-jam lamanya. Namun Erris pun sadar tak memungkinkan juga jika ia keluar lalu menarik tangan Arresha begitu saja bukan?


Tak lama setelah mobil hitam Jofan meninggalkan pantai bersama Arresha, Erris memutuskan pergi meninggalkan pantai Sokcho.


Ia tak tau ada apa dengan hatinya, mengapa ia merasa begitu marah melihat Arresha di jemput oleh pria lain. Apalagi bayangan ketika Arresha merangsek masuk pada dada bidang Jofan membuat emosinya membumbung tinggi hingga dadanya terasa begitu sesak.


Mobil Erris melaju dengan kecepatan penuh meninggalkan patai Sokcho, perlahan namun pasti kecepatan itu bertambah seiring jalanan yang menyepi tanpa kendaraan lain yang melaluinya