
Kegelisaan ini akhirnya mencapai puncak.
Diam-diam air mata jatuh di pipi, mata terpejam, bibir terkatup rapat-bergetar hebat.
Rasanya seluruh dunia berkonspirasi untuk memberikan kesakitan dahsyat, yang membuat dada terasa sesak, akan meledak.
•••••••••••••••••••••
Erros memutuskan keluar setelah dia rasa cukup puas melihat kondisi ayahnya yang masih saja nyenyak dalam tidur panjangnya, dia harus menemui Tuan Louis dan Lissa sekarang.
" Selamat siang paman " ucap Erros memberikan salam dan menundukkan kepalanya singkat menunjukkan tata krama kepada orang yang lebih tua darinya.
" Siang Erros, duduklah! " jawab Tuan Louis singkat, dia tersenyum melihat calon menantu kebanggaannya yang sangat sopan dan tampan itu.
" Bagaimana kabarmu nak? " tanya Tuan Louis suaranya penuh kharisma sosok ayah yang mengayomi putranya.
" Saya baik paman, terima kasih sudah datang dan menjenguk ayah. Bagaimana kabar paman? "
" Aku baik, bagaimana masalah Erris? Apakah kau sudah menemuinya? " tanya Tuan Louis yang memang sudah mengetahui jika ini adalah ulah dari Erris.
" Sudah paman, aku menemuinya kemarin dan aku sudah memperingatkannya, dan semoga dia tidak berulah lagi " jawab Erros. Tuan Loius pun akhirnya berbicara panjang lebar dengan Erros.
Lissa hanya diam saja memperhatikan ayahnya dan Erros yang tengah berbicara, dia tak ingin membicarakam masalah Arresha terlebih dahulu. Di tambah lagi dengan keberadaan ayahnya tentu membuat Lissa mengurungkan niatnya, bagaimanapun dia tetap harus menjaga nama baik Erros di depan ayahnya. Walaupun pikirannya masih berkecambuk tapi dia berusaha untuk sabar menunggu waktu yang tepat agar dia bisa membicarakannya dengan tenang bersama Erros.
Sesekali Erros melirik ke arah Lissa yang hanya diam saja memperhatikannya dan juga ayahnya yang tengah berbicara. Erros berfikir jika Lissa akan langsung memarahinya di depan ayahnya karena sudah membawa perempuan lain menginap di penthouse miliknya.
Tapi pemikirannya telah salah untuk kedua kalinya, Lissa malah bersikap tenang dan tak menunjukkan emosinya sama sekali, meski Erros menyadari tatapan mata Lissa menunjukkan hal yang lain kepadanya. Membuatnya semakin merasa gelisah dan di penuhi rasa bersalah.
" Baiklah sepertinya aku harus segera kembali, ada meeting dan juga beberapa urusan yang harus aku selesaikan " ucap Tuan Louis mengakhiri percakapannya dengan Erros dan Assisten Mark.
" Kalau begitu biarkan saya yang mengantar anda Tuan! " ujar Assisten Mark sopan di balas anggukan pelan oleh Tuan Louis.
" Hati-hati di jalan paman, maafkan aku yang tidak bisa mengantarmu " ucap Erros dengan mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Tuan Louis.
" Tidak masalah, kau disini saja bersama Delissa, jaga Hilton dengan baik! " ucap Tuan Louis membalas jabatan tangan Erros.
" Hati-hati di jalan ayah, " ucap Lissa tersenyum kemudian memeluk ayahnya.
" Iya kau jangan nakal, disini saja temani Erros! " jawab Tuan Louis memeluk tubuh putrinya kemudian menghujaninya dengan ciuman di kening dan juga pipi Lissa.
Bagaimana jika Tuan Louis mengetahui Erros malah mencintai wanita lain, dan terang-terangan membawanya ke penthouse miliknya?
..........................
Lissa kembali duduk dengan anggun di sofa, dia siap berbicara sekarang. Tapi dia memilih diam, dia ingin Erros yang memulai pembicaraannya terlebih dahulu. Lisaa tidak ingin terburu-buru dan malah terkesan seperti memaksa ataupun menyudutkan Erros.
Erros kembali duduk di sofa, dia sangat canggung sekarang. Ditambah lagi dengan sikap Lissa yang hanya diam semakin membuatnya bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Dia memang telah bersalah kepada Lissa, salahnya jatuh cinta kepada wanita lain padahal dia sendiri sudah memiliki seorang tunangan. Tapi ini urusan hati, siapa yang bisa menyangkalnya bahkan sang pemilik pun belum tentu bisa mengendalikan kehendak hatinya.
" Lissa.... " panggil Erros lirih, terselip keraguan pada nada bicaranya, dia bingung harus memulai dari mana untuk menjelaskan mengenai Arresha. Bibirnya terasa kelu untuk berucap, tapi dia paksakan untuk berbicara. Bagaimanapun dia memang harus berbicara.
" Berbicaralah, aku siap mendengarkan semua penjelasan darimu! " ucap Lissa lembut, bahkan saat seperti ini saja dia masih bisa bersikap lembut dan penuh pengertian, jika selain Lissa pasti yang ada sudah marah-marah dan mengamuk. Dengan sikap Lissa yang seperti ini justru malah membuat Erros semakin merasa bersalah.
" Untuk? " tanya Lissa.
" Namanya Arresha, aku bertemu dengannya saat di tugaskan ayah untuk mengurus anak cabang di Osaka. Aku jatuh cinta kepadanya " jawab Erros cepat dan tanpa jeda menandakan dia begitu yakin akan setiap ucapannya.
Bak di sambar petir, itulah yang Lissa rasakan saat ini. Tunangannya jatuh cinta dan itu bukan kepadanya melainkan pada wanita lain. Adakah yang lebih menyakitkan daripada ini? Adakah yang lebih kejam di bandingkan ini?
" Kau jatuh cinta kepadanya? " tanya Lissa lembut mengulang perkataan Erros, mungkin saja Erros salah berbicara. Lissa tak ingin banyak berpikir sekarang, dia membuang segala pikiran negatif yang terus melintas di kepalanya.
" Aku jatuh cinta kepadanya semenjak saat pertama aku bertemu dengannya, dia mengubah seluruh duniaku yang awalnya begitu kaku menjadi penuh warna. Maafkan aku Lissa " ucap Erros yang seakan tanpa belas kasih meremas hati Lissa hingga membuatnya kesakitan, sangat sakit.
Lissa hanya bisa terdiam mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Erros, yang malah setiap ucapannya itu terasa menyayatnya dengan kejam. Apa kurangnya dia selama ini? Kurang mengerti yang bagaimana lagi? Kurang sabar yang seperti apa lagi? Mengapa Erros menjadi sangat kejam kepadanya. Bolehkah dia marah sekarang? Bahkan Lissa pun tak ingat kapan terakhir dia marah pada Erros, karena seingatnya dia tak pernah sekalipun marah kepada Erros walaupun Erros berbuat kesalahan atau melakukan sesuatu yang tidak dia sukai.
" Apa kalian memiliki sebuah hubungan? " tanya Lissa, dia sebenarnya sudah tahu jawabannya tanpa harus bertanya lagi. Tapi dia ingin mendengar, dia ingin mendengar pengakuan itu keluar dari bibir Erros.
" Aku menjanjikan sebuah pernikahan dengannya " jawab Erros jujur, dia hanya harus jujur sekarang. Walaupun itu akan begitu menyakitkan untuk Lissa tapi setidaknya itulah kebenaran yang seharusnya Lissa ketahui.
" Kau menjanjikan sebuah pernikahan?! " tanya Lissa tercekat, dia benar-benar tidak ingin mempercayai ini. Mengapa Erros bisa sekejam ini kepadanya? Apa salahnya?!
" Apa kau lupa kalau kau sudah memiliki seorang tunangan Erros? Sebentar lagi kita akan menikah?! " tanya Lissa membuat Erros terdiam, dia bingung harus menjawab apa.
" Lalu untuk apa perhatianmu selama ini? Tidakkah kau fikir itu seperti sebuah pengharapan untukku? Membuatku benar-benar larut dalam cintamu yang nyatanya semu, kemudian dengan mudahnya kau mengatakan kau jatuh cinta pada wanita lain?! " tangis Lissa akhirnya pecah setelah mendengar pengakuan dari Erros.
Percayalah ini sangat menyakitkan bagi wanita manapun mendengar prianya mengatakan jika dia telah jatuh cinta kepada wanita selain dirinya dan bahkan begitu teganya menjanjikan sebuah pernikahan. Pernikahan adalah suatu hal yang sakral, bagaimana dengan mudahnya Erros menjanjikan hal itu kepada wanita lain? Lalu dia anggap Lissa apa selama ini?
" Apa kau melupakan jika sebentar lagi kita akan sah menjadi sepasang suami dan istri Erros? Apa bagimu sebuah pernikahan hanyalah mainan yang dapat kau permainkan sesuka hatimu?! Aku tak menyangka kalau ternyata kau begitu kejam Erros."
" Aku minta maaf Lissa... " ucap Erros tertunduk.
" Aku tidak membutuhkan maaf darimu Erros. Aku memang terlanjur mencintai dirimu, begitu besar sampai aku buta, aku begitu mempercayai dirimu sampai tidak ada keraguan secuilpun atas perasaanmu, bodohnya aku yang terlalu terlena dan melupakan kalau kau adalah pria normal yang bisa jatuh cinta kepada siapapun selain diriku "
" Seharusnya dari awal kau tak perlu memberikan sebuah pengharapan jika akhirnya kau patahkan. Jangan memberikan harapan padaku, seperti seolah kau ingin tapi tak ingin, seperti cinta tapi tak cinta. Apa kau tahu itu sangat menyakitkan Erros. " Lissa terisak tangisnya semakin menjadi saat sakit itu terus menjalar di hatinya, sakit sekali, sesak sekali rasanya.
" Aku tahu aku berdosa padamu Lissa, maafkan aku untuk semua kesalahanku, tapi aku tidak bisa mengendalikan hatiku ketika aku mulai mencintainya " jawab Erros.
Lissa menggelengkan kepalanya tak percaya, dengan kejamnya Erros berulang kali mengatakan jika dirinya memang sungguh jatuh cinta pada wanita itu, tangisnya semakin menjadi Lissa benar-benar tak bisa mendengarkannya lagi.
" Aku menerima kalau kau marah dan membenciku Lissa " imbuh Erros lagi.
" I'm not angry Erros. I'm pain and you put me here. The person supposed to love me more than anything " ( Aku tidak marah Erros. Aku kesakitan dan kau menempatkanku disini. Orang yang seharusnya mencintai diriku lebih dari apapun) jawab Lissa yang hanya bisa memangis sekarang.
Mengapa Erros menjadi begitu kejam terhadapnya, jika Erros mengatakan dia mencintai gadis itu semenjak bertemu dengannya itu berarti Erros menduakan hatinya selama 4 tahun lamanya. Mengapa ia begitu buta, sampai tak bisa merasakannya. Sikap Erros yang baik yang begitu perhatian dan penuh kasih sayang ternyata tak hanya dirinya saja yang dia beri perhatian seperti itu.
" Aku terlanjur mencintainya Lissa, maafkan aku " ucap Erros lagi yang seolah tanpa ampun terus menyayat hati Lissa dengan segala pengakuannya.
" Lalu aku?! " tanya Lissa, dia ingin tahu seperti apa posisinya di hati Erros, apakah dia juga mencintai Lissa seperti dia mencintai Arresha. Lissa hanya ingin tahu.
Erros terdiam, dia bingung bagaimana perasaannya kepada Lissa? Dia benar-benar bingung mengenai perasaanya kepada Lissa, yang dia tahu sekarang dia masih sangat mencintai Arresha.
" Aku tak tahu bagaimana perasaanku untukmu, kau yang selalu mendengarkanku membuatku merasa nyaman, maafkan aku Lissa " ucap Erros akhirnya.
" Tak tahu?! " tanya Lissa tersenyum kecut yang seakan tak percaya mendengarnya dari bibir Erros. Lissa membuang pandangannya ke segala arah, dia tak ingin melihat Erros sekarang, hatinya begitu sakit. Lissa menengadahkan kepalanya ke atas berusaha menghalau air matanya agar tak lagi menetes, tapi percuma, bukannya berhenti tapi air matanya malah semakin deras mengalir.