
Sekali ku lepas tak kan ku kejar !
Sekali ku kejar tak kan ku lepas !
••••••••••••••••••
" Apa aku sangat mabuk sampai tak bisa mengingat apapun?! " ucap Jofan mengusap wajahnya kasar.
Apa saja yang dia lakukan saat mabuk? Mengapa dia malah tidak bisa mengingatnya lagi. Apa Jofab malah berbuat yang tidak-tidak pada Arresha?
Jofan meraba kasur yang dia sangka miliknya namun kenapa berbeda. Dia reflek membuka matanya dan langsung menyadari dia bukan berada di kamarnya, tapi di kamar Arresha. Bagaimana bisa?! pikir Jofan bingung.
" Astaga! Arresha?! " ucap Jofan tersentak dan langsung duduk.
" Dimana Arresha? " ucap Jofan yang melihat sekeliling tapi sepi. Dia hanya sendiri di kamar itu, lalu dimana Arresha? Kalau dia tidur di kamar Arresha lalu kemana Arresha?
Jofan memutuskan untuk keluar dari kamar dan mencari keberadaann Arresha. Jofan berjalan perlahan melangkahkan kakinya menyusuri tiap ruangan, dan mendengar suara televisi yang menyala membuatnya yakin jika saat ini Arresha tengah menonton televisi.
Jofan melirik ke arah jam dinding dan matanya membulat seketika.
" Jam 11 malam?! " gumam Jofan. Bagaimana bisa dia tertidur selama itu, dia manusia atau apa hingga bisa tidur begitu lama.
Jofan mendekat ke arah Arresha yang dia kira tengah menonton televisi, tapi ternyata Arresha malah tertidur begitu nyenyak hingga tak menyadari langkah kaki Jofan yang mendekat ke arahnya.
" Dia tidur " ucap Jofan lirih kemudian memutuskan untuk duduk di depan Arresha yang tak merasa sedikitpun jika Jofan kini berada di depannya.
Aku tak menyangka kalau tidur dia jadi secantik ini, pantas saja aku begitu jatuh cinta padanya, batin Jofan yang terus tersenyum memandangi wajah cantik Arresha yang tampak begitu polos saat tertidur.
Senyum Jofan perlahan menghilang saat mengingat Arresha yang dia tunggu ternyata tak pulang ke rumah, mengapa dia menjadi begitu frustasi saat tahu Arresha tak kunjung pulang, apa benar Jofan merasa begitu cemburu? apa cintanya ternyata se posesif ini. Bukankah dia hanya sebatas teman dan tak lebih dari itu, harusnya Jofan bisa mengendalikan perasaannya.
" Aku mencintaimu Arresha, aku sangat mencintaimu " ucap Jofan lirih agar tidak mengganggu tidur Arresha. Jofan memejamkan matanya saat bibirnya mengecup kening Arresha, bagaimana dia bisa begitu jatuh hati pada gadis ini, diapun tak tahu. Yang Jofan tahu dia sangat mencintainya dan hanya ingin terus bersama dengan Arresha.
" Seharusnya aku bahagia melihatmu bertemu dengannya " kata Jofan tersenyum kecut.
Seharusnya!
Ya, memang seharusnya Jofan turut bahagia tapi mengapa hatinya tak bisa bahagia. Beginikah rasanya patah hati? Baru kali ini Jofan merasa begitu terluka saat wanita yang ia cintai ternyata sudah ada yang memiliki. Beginikah sakitnya mencintai seseorang yang sudah jelas sangat mencintai kekasihnya?!
Apa benar ucapan Theo waktu itu kalau ini semua adalah karma untuk Jofan karena terlalu banyak hati wanita yang ia sakiti dengan mengacuhkan dan kadang memberikan harapan palsu pada mereka?
" Selama dia belum sah menjadi suami mu bukankah aku boleh berjuang untuk mendapatkanmu?! " ucap Jofan yang sebenarnya bertujuan untuk menyemangati dirinya sendiri.
Kenapa dia begitu takut kehilangan dan frustasi, bahkan Arresha saja belum menikah dengan kekasihnya, dia masih berpacaran bukan? Yang menikah saja bisa bercerai dengan mudahnya lantas bagaimana dengan yang berpacaran, tentu akan lebih mudah untuknya.
" Bolehkah kali ini saja aku berperan sebagai antagonis untuk bisa mendapatkan dirimu Arresha?! " Jofan menatap dalam wajah cantik Arresha, kenapa semakin dalam dia menatap dia malah semakin terpesona.
Cuppppp....
Jofan berhasil mencuri sebuah ciuman dari bibir Arresha untuk yang kedua kalinya. Jofan berjanji kalau saja Arresha sudah menjadi miliknya dia tak perlu melakukan hal curang dengan cara seperti itu. Jika ingin dia bisa menciumnya kapan saja ia mau.
" Aku pasti bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku Arresha, dan saat itu tiba aku tak akan membiarkanmu berpaling dariku walau sekalipun " ucap Jofan yang terus menatap wajah cantik Arresha yang masih saja terlelap.
Jofan merogoh saku celananya untuk mengeluarkan ponsel miliknya, jemarinya bergulir menekan tombol 'kamera', Jofan ingin memfoto Arresha yang tengah terlelap.
" Arresha aku foto ya?! " tanya Jofan lirih.
" Iya foto saja yang banyak " ucap Jofan menirukan nada bicara Arresha kemudian memfotonya sebanyak yang ia mau.
" Aku lapar, Arresha masak tidak ya? " gumam Jofan mengelus perutnya yang baru merasakan lapar.
Jofan memutuskan untuk berjalan menuju dapur setelah puas berfoto bersama dengan Arresha. Jofan membuka tudung saji yang berada di atas meja makan, senyumnya mengembang sempurna saat melihat ayam goreng pedas dan sup pangsit, yang membuat cacing-cacing di perutnya semakin gencar berdemo meminta untuk segera di isi.
Jofan akhirnya makan dengan begitu lahapnya karena dia merasa begitu lapar setelah tidur terlalu lama. Jofan melihat semangkuk sup anti pengar juga tersedia di meja makan. Tanpa sadar Jofan menghabiskan semua makanan itu hingga tandas tak bersisa, setelah makannya habis Jofan berjalan menuju lemari es dan mengambil susu kotak kemudian meminumnya.
" Dia tidur nyenyak sekali, apa aku pindahkan saja ya ke kamar, kasihan kalau dia tidur di sofa seperti itu! " ucap Jofab tampak berfikir.
Jofan memutuskan untuk bermalam di rumah Arresha karena sudah lewat tengah malam, lagi pula Jofan rasanya masih betah di sana bersama Arresha dan pasti sangat tidak sopan jika Jofan pulang begitu saja tanpa berpamitan kepada Arresha.
" Lebih baik aku mandi dulu, tubuhku rasanya lengket sekali! " ucap Jofan yang merasa begitu risih, benar saja kemarin dia habis berlatih dan badannya pasti berkeringat dan lengket ditambah lagi dia juga bau alkohol karena mabuk hingga tak sadarkan diri dan tertidur begitu lama.
Akhirnya Jofan memutuskan untuk mengambil baju gantinya yang selalu tersedia di dalam mobil. Karena kesibukannya dan pekerjaannya sebagai public figure yang menuntutnya untuk selalu tampil sempurna dalam setiap kesempatanlah yang akhirnya memaksa Jofan mengubah mobilnya sebagai rumah kedua yang berisi berbagai baju dan perlengkapan penunjang lainnya.
Setelah selesai mandi barulah Jofan memutuskan untuk menggendong Arresha kembali ke kamarnya dan membaringkan tubuh Arresha dengan perlahan agar tidak mengganggu tidurnya
Setelah memastikan Arresha tidur dengan nyaman Jofan memilih untuk duduk di tepi ranjang, matanya menatap ke arah Arresha yang tampak tidur dengan damai mengulaskan senyum di wajahnya yang tampan.
" Kau tidur saja disini Jofan, sofanya terlalu sempit, kasihan kau tidur di sofa " ucap Jofan menirukan suara Arresha.
" Terimakasih Arresha kau baik sekali " jawabnya sendiri sambil terkekeh geli.
Jofan melangkah perlahan menuju sisi ranjang yang lain, mencoba agar tak bersuara karena dia tak mau mengganggu lelap tidur Arresha.
Pada akhirnya, Jofan memilih untuk membaringkan tubuhnya di sisa ruang sempit di pinggir ranjang yang masih tersedia di samping Arresha. Gerakannya perlahan dan hati-hati supaya tidak mengganggu Arresha.
Jofan masih saja terjaga, dia sudah tidur begitu lama bagaimana bisa sekarang harus tidur lagi. Jofan memiringkan tubuhnya dengan perlahan, sangat pelan karena takut Arresha akan terbangun dan menendangnya lagi seperti waktu di rumah sakit kemarin. Jofan menghadap ke arah Arresha yang kini juga menghadap ke arahnya, Jofan jadi tersenyum.
" Aku ikhlas kalau besok pagi saat kau bangun kau langsung menendangku asal sekarang aku bisa terus melihat wajahmu sampai aku tertidur " ucap Jofan yang masih saja tidak bisa menghilangkan senyuman di wajahnya.
.........................................................
Malam berlalu begitu cepat, bunyi alarm dari ponsel Arresha terasa sangat mengganggu tidur Arresha dan juga Jofan. Tangan Arresha menyusup ke bawah bantal asal suara alarm itu berbunyi kemudian menggeser layarnya untuk mematikan alarm yang masih saja berdering dan sangat memekakan telinga itu.
Jofan mengeratkan pelukannya saat tubuh Arresha menggeliat, dia sungguh nyaman seperti memeluk guling yang sangat hangat. Matanya masih senantiasa terpejam karena Jofan baru bisa tidur saat jam menunjukkan pukul tiga pagi.
Merasakan ada sesuatu yang hangat tanpa sadar membuat Arresha semakin nyaman dalam buaian tidurnya, dia membalas pelukan Jofan yang menempel erat pada tubuhnya.
" Gulingku hangat sekali....." ucap Arresha tersenyum dan menambah erat dekapannya pada tubuh Jofan yang dia kira adalah guling.
" Arresha jangan terlalu kencang memelukku, aku tidak bisa bernafas! " racau Jofan karena Arresha yang terlalu erat mendekapnya hingga membuatnya kesulitan bernafas. Kalau saja Jofan sadar dia tidak akan memprotes apapun saat Arresha memeluknya sangat erat! Biar saja sulit bernafas asal bisa di peluk terus.
Mendengar suara membuat Arresha terdiam, dia mengerutkan keningnya. Sejak kapan gulingku bisa berbicara?, batin Arresha heran.
Arresha mengerjapkan matanya yang sebenarnya masih sangat malas untuk bangun, pandangan matanya yang awalnya sedikit buram menjadi semakin jelas saat Arresha kembali mengerjapkan matanya berulang kali.
Kerutan di dahi Arresha semakin jelas saat indra penciumannya mulai berkoneksi dengan otaknya, dia mencium bau maskulin dan saat pertama kali membuka mata dia melihat dada seorang pria yang tengah mendekapnya begitu erat. Arresha berusaha menengadahkan kepalanya ke atas agar lebih jelas melihat wajah pria yang kini tengah tidur bersamanya dan memeluknya begitu erat.
" Jofan?! " gumam Arresha yang masih kebingungan, otaknya belum berfungsi sempurna setelah bangun tidur.
Aaaaaaaaa.........
Arresha berteriak sangat kencang setelah otaknya mulai berfungsi kembali. Dia langsung menjauhkan tubuhnya dari Sehun yang masih saja memeluknya dengan erat. Tangannya langsung menyilang menutupi bagian dadanya. Jofan yang terkejut pun tanpa sadar malah berteriak tak kalah kencang dari Arresha.
" Kau kenapa ikut berteriak?! " kata Arresha kesal kemudian bangun dari tidurnya.
" Aku kaget karena kau berteriak sangat kencang!! " jawab Jofan yang ikut duduk.
Dugggghhhhhhhh!!!!!!!!
Arresha menendang Jofan cukup keras tapi tidak membuat Jofan terjatuh dari kasurnya. Membuat Jofan mengaduh sebelum kemudian mengelus bagian pahanya yang terkena tendangan kaki Arresha.