Being The Second

Being The Second
Episode 31 - Jofan Cemburu



Dering ponsel yang terus saja berbunyi berhasil menarik paksa kesadaran Arresha dari tidur singkatnya, seakan sudah menjadi kebiasaannya yang selalu saja tertidur ketika terlalu lama menonton televisi.


Tangannnya beralih meraih remote televisi yang seingatnya tadi tak jauh dari bantalan sofa tempatnya merebahkan tubuh, setelahnya dia langsung mematikan televisinya. Setelahnya televisi itu mati barulah ia meraih ponsel yang terletak tak di samping remote televisi tadi.


Nama Erros masih tertera di layar ponselnya, Arresha segera menggeser ikon berwarna hijau untuk mengangkat panggilan itu. " Hallo.. " ucap Arresha menahan kantuknya dan menguap membuat sudut matanya sedikit berair karena menahan kantuk yang teramat sangat.


" Kau dimana Arresha? " terdengar suara Erros menyahut dengan lembut. Dia kini tengah menyandarkan punggungnya santai pada kursi penumpang, mobilnya baru saja keluar dari area gerbang gedung pencakar langit milik ACG atau Aether Company's Group.


" Aku di rumah, ada apa? " Arresha sekali lagi menguap.


H**oliday is tidur day adalah kegiatan yang paling menentramkan baginya. Selain ia bisa mengistirahatkan tubuhnya setelah bekerja keras sampai akhir pekan, Arresha juga bisa menikmati waktunya dengan menonton televisi ataupun bereksperimen dengan menu-menu yang sekiranya menarik dan menggugah selera yang dia dapatnya dari internet.


" Aku di jalan ke rumahmu. Aku ingin mengajakmu makan malam bersama. " jawab Erros menjelaskan maksudnya.


" Makan malam bersama? " Arresha mengulang ucapan Erros karena merasa tak yakin, dia takut salah dengar.


" Iyaa... sepertinya kita sudah lama tidak keluar dan makan malam bersama. "


" Ya sudah datang saja ke rumah, aku akan bersiap-siap dulu." Arresha mengakhiri percakapannya dengan Erros.


Astaga Jofan!!!!


Baru saja Arresha berniat merenggangkan ototnya yang terasa kaku karena tertidur dengan posisi meringkuk di sofa matanya langsung menangkap tubuh Jofan yang masih tertidur dengan pulas. Dia sungguh lupa jika saat ini Jofan tidur di rumahnya.


Aku belum bercerita apapun tentang Jofan, kalau sampai Erros melihat Jofan yang sedang tidur di rumahnya, dia pasti akan langsung salah paham, pikir Arresha bingung.


" Jofan bangun....." Arresha mengguncang tubuh Jofan agar pria itu cepat bangun, jika sampai Erros melihat Jofan yang tidur di rumahnya mungkin saja daging di tubuh Jofan akan terpisah dengan tulang-tulangnya.


" Jofan bangun cepat!! Kau harus pergi sekarang, Erros di jalan dia akan kemari, kalau dia melihatmu nanti aku takut dia akan salah paham." kata Arresha merasa cemas. " Aku mandi dulu, setelah mandi kau harus sudah siap untuk pergi." imbuhnya lagi.


" Hmmmm... " Jofan hanya menjawabnya sambil lalu. Mungkin karena terlalu lelah hingga tubuh Jofan menuntut untuk beristirahat sampai puas, dan seolah tak perduli dia malah menarik kembali selimutnya hingga ke menutup kepalanya.


Setelah selesai dari ritual mandi singkatnya Arresha berniat untuk berganti pakaian, namun ia malah melihat Jofan yang masih saja tidur dengan sangat nyenyak.


Astaga..dia masih tidur, batinnya. Arresha berdecak kesal, dia pikir Jofan sudah bangun dan sudah siap untuk pergi, tapi yang ada malah dia masih saja tidur.


" Jofann!!! " tak menyerah Arresha terus saja mengguncang tubuh sahabatnya itu. " Kalau kau tidak bangun kau akan aku siram sekalian! " ancamnya namun sama sekali tak mempan.


" Erros sudah di jalan, dia akan kesini. Kau harus cepat bangun kalau kau masih sayang nyawamu!! " sekali lagi Arresha menepuk kedua pipi Jofan dengan keras.


Jofan mengerjapkan matanya malas, dia masih butuh banyak sekali istirahat dan masih ingin tidur lebih lama lagi, " Lima menit lagi Arresha. " jawab Jofan meracau.


" Lima menit lagi aku jamin nyawamu melayang!" Arresha mendesis kesal.


Ding donggggg.......


Suara nyaring bel rumah membuat Arresha berjingkat kaget, dengan cepat ia melangkah menuju pintu rumahnya. Dia tahu pasti itu adalah Erros, tapi entah mengapa ia merasa harus memastikannya kembali.


Kedua mata Arresha membulat sempurna saat melihat wajah Erros yang tertera pada display cctv yang terpasang di samping daun pintu rumahnya, keringat dingin langsung membanjiri tubuhnya ketika mengingat Jofan yang masih saja tidur dengan sangat pulas di ruang televisi.


Dengan cepat Arresha berbalik kembali menghampiri Jofan yang masih saja tidur mirip seperti mayat hidup. Karena kesal ia langsung menjewer telinga Jofan, membuat Jofan langsung tersentak kaget.


" Aacchh aaaccchhh.... " Jofan berteriak karena telinganya di tarik dengan sangat kencang oleh Arresha. Wajahnya yang tampan langsung memberengut kesal, tangannya mengelus telinganya yang terasa panas bercampur pegal.


" Arresha, kenapa kau menjewer telingaku!! Sakit tahu tidak sih!! " geram Jofan yang benar-benar kesal pada Arresha.


" Stttt!!! " tangan Arresha langsung membekap mulut Jofan, kalau sampai Erros mendengarnya dia juga akan mati. " Cepat masuk kamar!! " perintah Arresha yang langsung mendorong tubuh Jofan agar cepat bergegas.


Jofan yang tadinya memberengut kesal seketika langsung tersenyum saat Arresha memaksanya untuk cepat-cepat masuk ke dalam kamar.


Aku belum siap tapi kalau Arresha yang memaksa aku bisa apa, pikir Jofan, otaknya langsung melang-lang buana membelah keindahan dunia dan segala isinya.


Menyadari Jofan yang malah terus menatapnya dan tersenyum membuat Arresha berdecak kesal, tangannya langsung mengusap wajah Jofan dengan sangat kasar.


" Erros di luar? Pacarmu? Sedang apa? " tanya Jofan penasaran sekaligus kesal. Mengganggu saja, pikirnya.


" Jangan banyak bertanya, cepat masuk saja ke kamar. Dia di luar dari tadi, kalau terlalu lama dia bisa curiga! " Arresha mendesak Jofan agar cepat masuk kamar dan tidak banyak bertanya, dia tidak punya waktu untuk menjelaskannya.


Jofan yang merasa kesalpun akhirnya menghentakkan kakinya dengan kasar namun tak urung ia tetap masuk ke dalam kamar, sesuai perintah Arresha dan tak lupa ia langsung menutup pintu.


Arresha menghela nafasnya yang terengah, lulutnya terasa lemas dan jantungnya berdebar di penuhi kepanikan tak terkendali. Jangan sampai Erros tahu ada Jofan di kamarnya, Erros adalah pria yang sangat posesif dan juga pencemburu ulung. Jika sampai ia tahu Arresha menyembunyikan seorang pria di dalam kamarnya yang ada pasti rumah yang kini ia tinggali itu akan rata dengan tanah.


Sekali lagi Arresha menarik nafasnya sebelum ia membuka pintu rumahnya, dan langsung tersenyum saat Erros juga menarik senyum di bibirnya.


" Kenapa lama sekali? " mendengar pertanyaan Erros membuat wajah Arresha langsung pias.


" Mmm.. Aaa.. Perutku tadi sakit...iya perutku sakit.. Aku di kamar mandi tadi.." jawab Arresha terbata.


" Perutmu sakit? " tanya Erros, suaranya di liputi kecemasan.


" Ii... Iya.. Sepertinya aku salah makan. "


" Kalau begitu kita harus ke dokter. Akuu... "


" Tidak usah!! " potong Arresha cepat. " Aku hanya salah makan saja, tidak perlu ke dokter." sambungnya.


" Memangnya kau makan apa sampai perutmu bisa sakit seperti itu hmm?! " tanpa merasa curiga sama sekali Erros pun langsung menarik tubuh mungil Arresha ke dalam pelukannya, di hirupnya aroma menyenangkan yang menguar dari tubuh Arresha.


" Aku hanya makan ramen yang terlalu pedas jadi perutku tadi sakit." jawab Arresha yang akhirnya bisa bernafas lega karena Erros mempercayai ucapannya.


" Aku kan sering bilang jangan makan sembarangan, tapi kau malah terus saja makan-makanan yang tidak sehat seperti itu. Dasar anak nakal. " Erros mengurai pelukannya dan menatap wajah gadis yang paling dia cintai itu.


Cupppp.....


Erros mendaratkan bibirnya sekilas, membuat Arresha mematung, tak siap dengan ciuman dadakan itu. Setelah itu ia kembali mendaratkan bibirnya kembali pada belahan bibir Arresha yang sedikit terbuka, membuatnya kembali tergoda.


Erros ******* bibir Arresha dengan lembut, tentu saja ciuman itu tak berlangsung lama. Karena saat ini mereka masih berada di daun pintu dan aksinya ini bisa saja mengundang perhatian orang-orang yang melihatnya.


" I love you my baby.. " ucap Erros tersenyum, tanpa mengalihkan wajah Arresha sejengkalpun dari matanya.


"You too... " jawab Arresha, kemudian ia melepaskan pelukannya dan mengajak Erros untuk masuk ke dalam rumah. Dia harus bersiap-siap terlebih dahulu, karena tadi waktunya habis untuk membangunkan mayat hidup yang membuat Arresha merasa frustasi.


" Kau duduk dulu, aku akan bersiap sebentar saja." kata Arresha.


" Baiklah, lama juga tidak masalah." jawab Erros tersenyum.


Jofan yang merasa penasaran memutuskan untuk mengintip Arresha dan juga kekasihnya dari celah pintu yang sedikit ia buka. Tapi dia malah langsung menyesal karena terlalu penasaran, Jofan malah melihat Arresha yang di cium oleh Erros, walaupun singkat itu benar-benar membuat emosinya melesat naik ke ubun-ubun.


" Cium-cium, dosa tahu!" sindir Jofan ketika Arresha masuk ke dalam kamar.


" Bilang saja kau iri kan?!" ledek Arresha.


" Siapa juga yang iri, tidak penting dan tidak bermanfaat! " sungut Jofan tangannya langsung meraih ponsel miliknya, mencoba untuk menyibukkan diri dan membuang emosi yang masih saja menguasai dirinya.


" Kalau tidak iri terus kenapa kau kesal seperti itu?! Bilangnya idol terkenal dan banyak di gilai jutaan wanita, tapi nyatanya jomblo kesepian." goda Arresha. " Ckk..ckk..ckk... Tatian anak mami.. Uluuhh..ulluuu." imbuhnya lagi membuat Jofan semakin kesal, dia benar-benar cemburu.


Rasa cemburu benar-benar menguasai hati Jofan, matanya menatap Arresha dingin tanpa ekspresi, kakinya melangkah ke arah Arresha yang masih berdiri di ambang pintu. Arresha yang awalnya tak sadar ketika Jofan melangkah ke arahnya akhirnya mulai menyadari saat tatapan mata Jofan begitu tajam dan dingin.


" Joo.. Jofan...kau mau apa?! " tanya Arresha waspada, namun Jofan tak menjawab, dia terus melangkah hingga menghimpit tubuh Arresha yang menegang dengan sempurna.


Tak perduli dengan wajah Arresha yang berubah pias karena sikapnya, tangan Jofan langsung meraih ceruk leher Arresha, menahannya agar gadis itu tak bisa menghindar darinya. Dengan cepat bibir tipisnya menyambar bibir Arresha, Jofan mencium Arresha dengan sangat rakus, dia ******* segala yang ada dalam bibir Arresha.


Arresha yang tak siap hanya bisa terpaku dengan ulah Jofan tapi setelah akhirnya sadar dia langsung berusaha menghindar dan berusaha menghentikan ciuman itu. Namun kedua tangan Jofan benar-benar menahan ceruk leher Arresha dengan kuat hingga ia tak bisa menghindar ataupun menghentikannya.


Tak menyerah dengan penolakan Arresha, Jofan semakin memperdalam pertautan bibirnya, ********** dengan penuh perasaan. Hingga akhirnya Arresha tak lagi menolaknya dan bersikap pasrah, Jofan mulai bisa menikmati setiap ******* yang ia rasakan dari manisnya bibir Arresha.