
" Hanya kau Arresha...hanya kau yang aku inginkan di dunia ini. Bahkan di kehidupanku yang lain aku tetap hanya menginginkan dirimu disisiku."
Hati Arresha bagai di remas oleh kekuatan tak kasat mata, perpaduan sesak nan pedih yang seolah meremasnya dengan sangat kuat. Tak sadarkah Erros bahwa sikapnya yang seperti inilah yang malah semakin menyiksa Arresha.
" Aku mencintaimu Arresha, aku sangat mencintaimu." rintih Erros.
Air mata Arresha semakin deras mengalir saat lengan kekar Erros semakin erat melingkupi tubuhnya yang mungil, membuatnya semakin tenggelam dalam pelukan itu. Sekuat tenaga Arresha menahan isakan tangisnya, dan berulang kali pula ia berusaha menghela nafanya yang berat serasa seperti mencekik tenggorokannya.
Aku juga sangat mencintaimu Erros. Tapi aku tak bisa egois dan tetap bersamamu, batin Arresha.
Setelah menghapus air matanya dengan kasar, jemari Arresha berusaha mengurai dekapan Erros yang hanya pasrah saat Arresha melepaskan satu persatu jalinan tangannya.
Dengan perlahan Arresha membalikkan badannya dan menatap wajah tampan yang biasanya selalu membuatnya semakin jatuh cinta setiap dia menatapnya, namun sekarang terasa sangat berbeda seperti yang biasa di lihatnya.
Wajah itu di penuhi duka, bahkan matanya yang tajam itu seolah meredup karena di banjiri oleh air mata yang mengalir membasahi pipinya. Dan ini adalah pemandangan pertama bagi Arresha melihat mata tajam itu meneteskan bulirnya.
" Meskipun aku melihatmu setiap hari dan tersenyum...ada saat-saat dimana rasa benci padamu muncul... "
" Kau membenciku?" sela Erros seolah tak percaya.
" Jika kita terus seperti ini..jelas sekali bahwa suatu hari nanti, kita hanya akan saling membenci." Tatapan mata Arresha semakin dalam di sela helaan nafasnya yang terasa berat. " Aku tidak mau seperti itu... Aku lebih baik meninggalkanmu sekarang." imbuh Arresha.
Sekali lagi Arresha melepaskan gelang dan juga kalung pemberian Erros, kalung dan gelang milik mendiang Nyonya Maria, kemudian mengembalikannya kepada Erros yang masih tercenung tanpa bisa berkata-kata apapun.
" Ini adalah milik Nona Lissa, tolong berikan kepadanya." pinta Arresha yang langsung berbalik dan meninggalkan Erros yang hanya bisa mematung menatap kepergiannya.
Wajah Erros memucat, tubuhnya seakan langsung kehilangan dayanya ketika melihat dan mendengar kalimat yang di ucapkan Arresha tadi.
Matanya menatap Arresha dengan penuh ketidak percayaan, dan bibirnya seolah terkuci tanpa bisa berucap apapun saat sekali lagi Arresha melepas gelang dan kalung itu kemudian mengembalikannya kepadanya.
Erros masih saja terpaku menatap pintu utama penthouse-nya yang telah tertutup rapat setelah beberapa menit berlalu. Tangannya meremas erat kalung dan gelang itu dengan sangat kuat hingga membuat ujung jarinya memutih karena aliran darah yang seharusnya memberikan rona terhambat karena eratnya remasan tangannya.
Dia masih tak bisa menerimanya, bahkan sangat sulit baginya untuk menerima perpisahannya dengan gadis yang paling di cintainya itu, gadis yang selalu membuatnya tersenyum membuat harinya di penuhi warna indah yang bahkan Erros baru mengetahui warna itu setelah dia mengenal Arresha.
" Kita akan tetap bersama Arresha, aku tak akan melepaskanmu, lebih baik aku kehilangan segalanya dari pada aku kehilanganmu."
........................
Taksi yang membawa Arresha meninggalkan penthouse Erros melaju dengan perlahan menembus jalanan yang selalu saja ramai seperti biasanya. Arresha menatap sayu pada deretan gedung pencakar langit yang di laluinya, kantong air matanya pun seolah mengering tanpa mampu mengalirkan setetespun bulir air matanya.
Mungkin dia terlalu lelah menangisi hal yang tak mungkin bisa dia miliki.
Bagaimanapun ini adalah yang terbaik. Untuknya, untuk Erros, dan untuk Lissa. Patah hati hanya sebuah luka kecil di dalam hatinya, dan Arresha yakin dia hanya akan sedih untuk beberapa waktu saja lalu bisa terbiasa dan pasti dia bisa melupakan sakitnya.
Setelah melewati gedung-gedung pencakar langit, taksi itu terus melaju melalui jalan bebas hambatan yang mengarah ke daerah pesisir di wilayah timur Korea Selatan. Jalan pesisir itu cukup sepi, hanya ada beberapa mobil yang berpapasan dengan taksi yang di naiki Arresha.
Dan sang sopir taksi pun seolah mengerti jika penumpangnya itu sedang dalam suasana hati yang buruk sehingga ia lebih memilih diam dan sesekali melirik dari kaca spionnya.
Gumpalan awan berwarna hitam menyelimuti langit luas, namun suara guntur yang biasanya menyertai mendung tak terdengar sama sekali.
Setelah menempuh perjalanan selama 3 jam akhirnya Arresha sampai di pantai Daepohang Port Light House yang terletak di wilayah Sokcho, Provinsi Gangwon yang berbatasan langsung dengan Laut Jepang.
Selain sebuah mercusuar cantik berwarna merah yang menjadi primadona, pantai ini juga memiliki breakwater atau pemecah ombak yang tertata di sekeliling dermaga mercusuar.
Ombak dan pasir pantai merupakan perpaduan tempat yang sempurna bagi hati yang menginginkan ketenangan, seperti yang Arresha rasakan saat ini. Dia butuh ombak untuk menghapuskan sakit di hatinya, meskipun sebenarnya Arresha sendiri tak yakin ombak itu akan mampu menghapus perihnya.
Arresha terus melangkahkan kakinya menuju bagian paling ujung dari pemecah ombak, matanya menatap lurus pada birunya lautan yang nampak kontras berpadu dengan gumpalan awan berwarna hitam di atasnya.
Di seberang lautan itu adalah Jepang, negara asalnya. Jauh-jauh dia pindah ke Seoul hanya demi ingin bertemu dengan Erros lagi, tetapi setelah bertemu kembali dengan pria yang sangat dia cintai itu takdir seolah mempermainkannya.
Di buatnya bertemu, di berikan rasa cinta yang tak terhingga lalu di pisahkan kembali oleh suatu hal yang bernamakan takdir.
Bolehkah kali ini saja dia marah pada sang takdir?
Jika gadis lain yang sedang patah hati mungkin mereka akan pulang ke rumah untuk mencari ibunya, berbaring di pangkuan ibunya dan menceritakan segala yang kesakitan yang di alaminya, lalu setelah itu hatinya akan tenang karena telah membagi keluh kesahnya.
Haruskah Arresha kembali saja ke Osaka, disana adalah tempat kelahirannya, makam kedua orang tuanya pun ada di sana. Tak seperti di Seoul dia harus hidup sendiri di negeri orang, setidaknya jika ia kembali ke Osaka walaupun disana Arresha juga sendiri namun itu sama saja ia kembali ke rumahnya.
Lama Arresha hanya menatap luasnya lautan itu, rambutnya yang terurai di biarkannya di terbangkan angin pantai yang berhembus kencang, beberapa sulurnya menutupi sebagian wajah cantiknya yang nampak sayu berpadu dengan sembab yang begitu kentara.
Rintik hujan yang mulai turun pun yang akhirnya menyadarkan Arresha dari lamunan panjangnya, dia harus mencari tempat untuk sekedar berteduh jika tak ingin bajunya basah kuyup.
Arresha berlari kecil menuju mercusuar yang tak jauh dari dermaga pemecah ombak tempatnya berdiri saat ini, hujan yang tadinya hanya berupa rintik kecilpun berubah semakin deras di sertai angin kencang dan juga suara gemuruh petir yang mulai bersahutan.
Pintu mercusuar itu di kunci dengan gembok besar yang terpasang di daun pintunya, sehingga Arresha hanya bisa berdiri di depan pintu ketika hujan yang semakin menderas di tambah angin yang seolah memporak-porandakan jatuhnya bulir hujan.
Arresha merogoh tasnya dan mengambil ponselnya, dengan lihai ia menggeser layar digital itu menyelusuri kontak dalam ponselnya sebelum kemudian dia memulai panggilannya.
" Hallo.." salam Arresha setelah panggilan itu tersambung.
" Ya Arresha?" suara Jofan terdengar menyahuti salam Arresha.
" Kau sedang apa?" tanya Arresha,
" Aku di dorm, ada apa Arresha?"
" Tidak, aku hanya ingin menelfonmu dan mengucapkan terimakasih untuk yang kemarin." jawab Arresha, namun karena derasnya hujan di sertai badai dan juga gemuruh petir membuat suaranya hanya terdengar bak bisikan tak jelas di telinga Jofan.
Jofan tak langsung menjawab, keningnya berkerut dalam. Tidak biasanya Arresha menelfon hanya untuk mengucapkan terima kasih kepadanya.
" Kau dimana Arresha? Aku akan menjemputmu." tanya Erros yang merasa cemas.
Pertanyaan Jofan tanpa sadar membuat Arresha menipiskan bibir dengan segurat senyum tipis yang terulas di bibir ranumnya.
Selalu saja mengerti tanpa dia repot-repot menceritakannya.
" Aku sedang melihat lautan di mercusuar, sebentar lagi aku pulang. Kau tidak usah kesini."
" Kau bersama Erros?" tanya Erros, nada suaranya terdengar biasa, namun Arresha menangkap adanya kecemasan dalam suaranya.
" Iya aku bersamanya."
Arresha menengadah memperhatikan awan gelap yang menyelimuti angkasa, sepertinya hujan badai ini akan berlangsung lama dan di daerah ini pasti akan sulit untuk mencari taksi atau angkutan umum.
Biarlah, Arresha disini saja menunggu hujannya reda lagi pula dia juga tak ingin buru-buru pulang.
Keheningan yang membentang lama diantara mereka, ketika Arresha maupun Jofan membisu tak mengucapkan apapun. Jofan mengerutkan kening seolah sedang memikirkan sesuatu.
Jika bersama Erros tidak mungkin Arresha akan menelfonnya.
" Ya sudah, aku hanya ingin berterimakasih saja. Aku matikan ya." ucap Arresha sebelum mematikan sambungan telfonnya.
.................. ...
Kening Jofan berkerut semakin dalam saat sambungan telfon itu di putuskan sepihak oleh Arresha. Di Seoul tidak sedang hujan namun telfon tadi terdengar suara hujan lebat yang bersahutan dengan gemuruh yang menggelegar.
Perasaannya langsung cemas membayangkan Arresha berada di suatu tempat yang entah dimana itu seorang diri karena tidak mungkin gadis itu akan menelfonnya jika sekarang dia bersama dengan Erros.
Dengan cepat Jofan menjelajah berita cuaca di Seoul dan sekitarnya mencari di daerah manakah yang sekarang sedang hujan lebat, dan juga dekat pantai serta mercusuar.
Pantai Daepohang Port Light House yang terletak di wilayah Sokcho, Provinsi Gangwon.
Itu 3 jam perjalanan dari Seoul, bagaimana Arresha bisa berada di sana. Dan sejak kapan dia ada di sana? Bukankah semalam Erros sendirilah yang menjemput Arresha di apartemennya.
Apakah mungkin terjadi pertengkaran kembali diantara mereka sehingga Arresha sekarang jauh-jauh pergi ke pantai itu seorang diri.
Jofan langsung menyambar slingbag-nya dan bergegas pergi menyusul Arresha. Pikirannya tak akan bisa tenang karena membayangkan Arresha di tempat itu seorang diri dan terjebak hujan badai yang biasanya akan mengganas jika di daerah yang berdekatan dengan pantai.