Being The Second

Being The Second
Episode 23 - Dia Harus Tahu



Setidaknya ada satu hal yang masih bisa aku usahakan.


Masalah bagaimana akhirnya nanti, aku pasrahkan saja pada Tuhan.


••••••••••••••••


Sebegitu cintanya kah dia pada Erros?!! Bahkan saat mabuk dan tak sadar saja dia terus memanggil nama Erros!!


Air kolam menjadi sangat dingin ketika suhu udara yang mencapai 16 derajat celcius itu seakan membekukan air yang berada di dalam kolam. Namun itu semua seperti tak berasa pada diri Erris, emosi dan juga gairahnya yang membara sekaligus seakan membuat tubuhnya menjadi sangat panas. Dia membutuhkan sesuatu yang dingin yang bisa menurunkan emosi dan hasratnya.


Erris menceburkan tubuhnya ke dalam kolam itu, beruntung para pelayannya bekerja dengan cekatan, hingga kini Erris bisa berenang dan menenangkan diri tanpa ada seorang pelayanpun yang mengganggunya dengan dalih membersihkan bagian taman dan kolam yang tadi di sulapnya menjadi tempat makan malam yang romantis bersama Arresha.


Ponsel Erris yang terus berdering membuatnya mendecih kesal, suasana hatinya sedang buruk sekarang dan dia tidak ingin di ganggu siapapun saat ini. Berulang kali panggilan suara itu masuk dan akhirnya memaksa Erris untuk menepi dan mengangkat telefonnya.


" Erris... Kau ada di mana? Aku di jalan menuju mansionmu, sebentar lagi aku sampai " suara seorang wanita langsung menyambar sesaat setelah panggilan suara itu di angkat oleh Erris.


" Pergilah. Aku tidak membutuhkanmu! " jawab Erris dingin dan langsung menutup panggilan itu tanpa menunggu jawaban apapun dari seberang telefon.


Erris melemparkan ponselnya ke sembarang arah, para ****** itu selalu saja mengusik ke tenangannya. Erris tak menginginkan para ****** itu, saat ini dia hanya menginginkan Arresha. Tapi dia tak mau menyentuh Arresha jika Arresha selalu saja mengeluh-eluhkan nama Erros, saudara kembarnya.


Setelah kembali berenang beberapa saat akhirnya Erris memilih untuk menyudahi kegiatannya itu. Erris berjalan menuju kamar utama miliknya dan hendak membersihkan tubuhnya. Selesai membersihkan tubuhnya Erris berniat menuju ruang kerjanya dan menyelesaikan pekerjaan yang ia tinggalkan karena menjemput Arresha tadi.


Namun langkah kakinya terhenti, Erris mengalihkan pandangannya ke arah ranjang mewahnya, bodycon dress dengan lengan sabrina yang di kenakan Arresha nampak sedikit melorot dari tubuhnya dan memperlihatkan sebagian dada Arresha. Tentu saja Arresha tak menyadari hal itu karena dia masih mabuk dan tertidur.


" Apa kau mencoba untuk menggodaku gadis kecil?! " ucap Erris menyunggingkan senyuman tipis dari salah satu sudut bibirnya.


Erris membelokkan langkahnya mendekat ke arah Arresha dan memilih duduk di tepian ranjang. Leher putih nan mulus Arresha sekali lagi berhasil membangkitkam gairah yang susah payah ia hilangkan sedari tadi.


Perlahan Erris mulai mendekatkan bibirnya pada belahan bibir Arresha. Erris menyesapnya perlahan menikmati setiap bagian dari bibir tipis Arresha. Tanpa sadar Arresha membalas ciuman Erris, membuat Erris memperdalam ciumannya.


Rasanya manis sekali, dan sangat.....memabukkan. Benar-benar membuat Erris hilang akal. Tak melewatkan satu bagianpun, Erris terus memperdalam ciumannya hingga membuat Arresha kesulitan bernafas.


" You're so hot baby.. " ucap Erris tersenyum setelah melepaskan bibir Arresha yang terasa sangat manis baginya. Arresha masih mengalunkan tangannya pada leher Erris, mata Erris berkilat penuh dengan hawa nafsu.


" Love you so much Nyx Erros Aether " racau Arresha tersenyum " Love you Erros " imbuhnya lagi membuat kilatan nafsu di mata Erris berubah.


Mendengar nama Erros yang terus saja di racaukan oleh Arresha membuat Erris geram. Erris mencebikkan bibirnya kemudian menarik tubuhnya menjauh dari Arresha.


Erris akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamarnya, dia berjalan menuju ruang kerjanya dan meninggalkan Arresha sendiri di kamarnya.


.................................


°° Penthouse Delissa °°


Waktu akan terasa lambat bagi mereka yang menunggu, terlalu panjang bagi mereka yang gelisah, dan terlalu singkat bagi mereka yang bahagia.


Tapi berbeda dengan Lissa, dia tidak sedang berbahagia tapi mengapa baginya waktu berlalu begitu cepat. Semakin waktu berlalu, semakin dekat pula hari pernikahannya dengan Erros akan di langsungkan. Dan dia sendiri tak tahu apakah dia jadi menikah dengan pria yang sangat dia cintai ittu atau malah pernikahan impiannya kandas begitu saja.


Segala persiapan yang dia serahkan sepenuhnya pada jasa wedding organizer hampir mencapai 80 persen, pesta pernikahan akbar yang akan di langsungkan di hotel bintang lima milik keluarganya itu sedang di ambang kehancuran. Lissa sedikit beruntung karena undangan pernikahakannya belum di kirimkan ataupun di sebarkan kepada para kerabat dan juga rekan bisnis keluarganya.


Sebegitu terpuruknya sampai dia tak memiliki nafsu untuk sekedar makan dan mengisi tenaganya. Kebahagiaan yang kemarin ada di pelupuk matanya hilang dalam sekejap saat Erros mengatakan bahwasanya dia telah mencintai wanita lain. Dunia yang kemarin seolah memihak padanya sekarang malah seperti sedang berkonspirasi dan membunuhnya secara perlahan.


Air matanya seakan tak pernah habis keluar dan selalu saja menetes, bahkan ketika tanpa sadar Lissa tersenyum dan mengingat setiap kenangannya bersama Erros pun air matanya masih saja menetes.


Matanya yang terlihat sembab dengan lingkaran hitam yang terlihat sangat jelas di area bawah matanya.


Semua jendela dan gorden sengaja ia tutup, membuat ruang kamarnya menjadi gelap karena tak ada cahaya apapun yang menembus masuk ke dalamnya. Lissa duduk di atas kasur mewahnya, sesekali matanya terpejam, menghirup nafas dalam. Semua udara yang ada rasanya ingin dia jejali ke dalam paru-parunya, membuat sesak yang sudah ada menjadi makin terasa.


Setelah berhari-hari menangis mengapa sakitnya tak pernah hilang dan yang ada malah semakin sakit. Apa salahnya hingga dia sampai di khianati seperti ini? Apa kurangnya? Apa dosanya hingga semua berubah menjadi seperti ini. Apa yang tidak dia beri untuk Erros hingga dengan mudahnya Erros berpaling darinya? Itulah pertanyaan yang selalu saja berputar-putar di otaknya.


Lissa tidak bisa terus seperti ini, dia tidak bisa hanya diam dan terus menangis seperti ini. Bagaimanapun Lissa harus mencoba untuk kembali bangkit dan bersikap dewasa dengan menyelesaikan masalahnya. Dunianya mungkin saja akan hancur namun secuil harapan mungkin masih tersisa untuknya.


Jika saja memang pernikahan yang selalu Lissa impikan itu akhirnya kandas, setidaknya dia sudah berusaha semampu dan sebisanya untuk mempertahankannya. Masalah bagaimana hasilnya nanti, Lissa serahkan semuanya kepada Tuhan. Biar Tuhanlah yang menentukan akhirnya.


Hari ini Lissa memutuskan untuk bertemu dengan Arresha, bagaimapun Arresha juga harus mengetahui kebenarannya. Masalah ini bukan hanya menyangkut Lissa dan Erros saja, tapi Arresha pun ikut andil dalam hal ini.


°° Caffe Horizon °°


Setelah mendapatkan informasi dari Assisten Jo mengenai tempat dimana ia bisa menemui Arresha, Lissa kemudian bergegas. Lissa mengemudikan mobil mewah pabrikan Rolls Royce keluaran terbaru miliknya.


Caffe Horizon, itulah tujuannya saat ini.


Jarum jam menunjukkan pukul tiga sore saat akhirnya Lissw sampai di caffe tempat Arresha bekerja. Penampilannya begitu memukau seperti biasanya, cenderung terlihat sederhana namun tak sedikitpun meninggalkan kesan anggun nan elegan dalam dirinya. Kaca mata yang membingkai kedua mata indahnya bertujuan untuk menutupi bagian matanya yang masih terlihat membengkak karena terlalu lama menangis.


Lissa melangkah memasuki caffe Horizon. Dia memilih duduk di meja yang terletak di sudut ruangan tepat di samping jendela. Seorang waiters menghampirinya dengan senyuman ramah kemudian memberikan salam formal kepadanya.


" Apa saya bisa bertemu dengan Nona Arresha? " tanya Lissa lembut membuat si waiters langsung mengerti jika Lissa bukanlah wanita berstrata biasa. Gaya bicaranya yang sopan dengan suara yang mengalun lembut memang menjadi pesona tersendiri dalam diri Lissa.


" Tentu bisa nona, saya akan memanggilkanya untuk anda " ucap si waiters sopan kemudian pamit undur diri dan meninggalkan Lissa.


........................


Arresha di beritahu oleh Yoona jika ada wanita yang ingin bertemu dengannya dan menunggu di meja nomor 13. Membuat Arresha penasaran, ia bergegas menyelesaikan pekerjaanya dan berjalan menuju meja nomor 13 tempat dimana Lissa tengah duduk menunggunya saat ini.


" Selamat siang Nona Lissa, aku tak menyangka kau sampai datang kesini " sapa Arresha ramah, dia tak menyangka Lissa akan menyempatkan diri dan datang menemuinya di caffe tempatnya bekerja.


Mendengar salam hangat dari Arresha membuat Lissa berusaha mengulum senyum tipis di bibirnya " Apa kau ada waktu Nona Arresha? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu " jawab Lissa yang begitu anggun.


" Di bicarakan? Ehmmm.. Pasti, aku ada waktu Nona, tapi mohon tunggu sebentar ya aku harus menyelesaikan yang ini dulu " jawab Arresha tersenyum menunjukkan sebuah nampan berisi beberapa cangkir kotor yang ada di tangannya.


" Tentu Nona, silahkan selesaikan saja dulu, aku akan menunggumu "


Setelah mendapat jawaban dari Lissa barulah Arresha berjalan menuju dapur caffe untuk meletakkan nampan dan juga mencuci tangannya. Setidaknya dia harus mencuci tangannya sampai bersih sebelum menerima tamu, tidak mungkin dia menerima tamu dalam keadaan tangannya yang kotor.


Lissa terus memperhatikan Arresha yang kini berjalan meninggalkannya, dia tak menyangka gadis yang begitu di cintai oleh tunangannya adalah seorang pelayan di sebuah caffe. Bukannya Lissa merendahkan pekerjaan Arresha yang hanyalah seorang waiters di sebuah caffe, dia hanya tak menyangka hal ini.


Apa yang ada dalam diri Arresha yang dia tidak punya? Apa yang membuat Erros begitu yakin saat mengatakan dia telah jatuh cinta pada wanita itu? Dia memang gadis yang cantik, Lissa tak menampik hal itu. Tapi bukankah Lissa juga tak kalah cantik jika di bandingkan dengan Arresha?


Arresha kembali berjalan menuju meja dimana Lissa tengah menunggunya, dia jadi penasaran mengenai hal yang ingin di bicarakan oleh Lissa. Yang Arresha tahu pasti itu adalah hal yang penting hingga membuat Lissa rela merepotkan diri untuk menemuinya di caffe.