
Memang benar, selama ini Jofan banyak dekat dengan para gadis-gadis cantik dan terkenal tentunya. Namun ia tak terlalu menanggapi mereka dan hanya menganggap mereka teman ataupun yang lainnya. Baru kali ini mereka melihat Jofan begitu perhatian pada seorang gadis.
" Kalau di pikir-pikir kau benar juga. Bahkan kemarin malam Jofan menciumnya, jantungku hampir saja copot saat melihat adegan itu." jawab Chan kembali mengingat kejadian kemarin malam.
" Aku saja belum tentu bisa mencium seganas itu." ucap Byun polos kembali membayangkan ciuman Jofan dan Arresha yang mereka tonton secara live kemarin.
" Aku bahkan sampai berfikir gadis itu memang benar pacar Jofan!" jawab Chan melirik Byun yang malah senyum-senyum sendiri akan lamunannya mengenai live streaming Jofan kemarin malam.
Ehhhmmmm...
Ehhhnmmmmm.......
Suara deheman Jofan berhasil membuat Chan dan Byun tersentak kaget. Karena terlalu asyik membicarakan Jofan, mereka jadi lupa jika mereka kini tengah mengintip Jofan dan Arresha yang jaraknya hanya beberapa meter saja darinya serta terhalang pintu kamar yang sedikit terbuka, tentu saja suara bisik-bisik mereka akan terdengar jelas oleh Jofan dan juga Arresha.
Mereka langsung merasa kikuk karena tertangkap basah, Arresha yang mengikuti langkah Jofan hanya memandang heran pada Byun dan juga Chan, wajahnya yang sembab karena menangis tidak ia pedulikan.
" Ehhh Jo... Jofan. " kata Byun dan Chan tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih.
Jofan dan Arresha terus memandang mereka seakan menelisik apa yang tengah mereka lakukan di depan kamar Arresha. Tatapan matanya yang dingin semakin membuat Byun dan Chan merasa serba salah.
" Kami pikir tadi terjadi sebuah insiden maka dari itu kami berlarian kemari! " jelas Chan mencoba untuk berkilah, namun Arresha dan Jofan masih saja tak melepaskan tatapan matanya dari keduanya.
" Syukurlah kau baik-baik saja Nona cantik, kalau dia menyakitimu bilang saja kepadaku. Aku yang akan menghukumnya! " canda Byun mengedipkan sebelah matanya pada Arresha yang kini terus menatapnya. Ia berusaha membuat suasana menjadi lebih bersahabat dan menguapkan suasana mencekam yang terjadi.
" Oh ya, kenalkan. Namaku Chan." ucap Chan memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya pada Arresha.
" Aku Byun." sahut Byun cepat ikut mengulurkan tangannya dan tersenyum manis pada Arresha.
Jofan yang sedari tadi diam dan memperhatikan kedua hyung-nya ini langsung meraup paksa tangan Byun dan Chan. " Dia Arresha! " kata Jofan memperkenalkan Arresha.
Arresha langsung berlalu begitu saja meninggalkan ketiga lelaki itu dan tak mengucapkan apapun membuat Byun dan Chan mematung karena sikap dinginnya.
Biasanya para gadis justru akan berteriak kegirangan hanya dengan bisa melihat mereka. Tidakkah dia bangga karena Byun dan Chan sendiri yang mengulurkan tangan dan meminta berkenalan dengannya?!
Arresha berjalan meninggalkan ketiga pria itu, perutnya baru merasakan lapar sekarang. Arresha juga ingin mencuci mukanya supaya lebih segar. Setelah selesai mencuci muka dan gosok gigi Arresha berjalan keluar dari dalam kamar mandinya dan melihat Jofan dan Chan sudah duduk di depan televisi.
Kenapa mereka masih belum pulang sih? batin Arresha melirik Jofan dan Chan yang asyik bermain ponsel sementara Byun terlihat berada di pantry dapurnya tengah membuat kopi.
Jofan dan Chan tersenyum pada Arresha yang masih terus menatapnya, membuat Arresha memaksakan bibirnya untuk sedikit tersenyum. Ia tahu pasti Arresha tengah berperang dengan batinnya sendiri karena mereka masih belum saja pulang dan malah asyik menonton televisi di rumahnya.
Arresha memutuskan untuk berjalan menuju pantry dapur, perutnya yang keroncongan meronta untuk segera di isi.
" Anggap saja rumah sendiri ya?! " sapa Arresha sedikit menyindir Byun yang tengah mengaduk tiga cangkir kopi di pantry-nya.
" Iya jangan malu-malu. Anggap saja rumah sendiri." sahut Byun tersenyum lebar, dia sadar Arresha kini tengah menyindir dirinya yang sangat tidak tahu diri itu. Tapi Byun tak mengambil hati sindiran Arresha, dia malah bersikap seperti biasanya.
Dasar tidak tahu malu, batin Arresha kesal. Ia berjalan menuju kulkasnya, ia ingat masih memiliki beberapa stok telur dan juga ramen instan. Makan yang pedas-pedas sangat cocok untuk dirinya saat ini.
" Ramenmu kemarin aku masak Nona, maafkan aku karena tengah malam aku kelaparan dan kedua pria tak tahu diri itu malah minta di buatkan sekalian, jadi aku memasak semuanya." kata Byun membuat Arresha langsung menghentikan langkah kakinya sebelum tangannya berhasil mencapai pintu kulkas.
Arresha tak menjawab, ia menghembuskan nafasnya kasar. Kau juga tidak tahu diri Tuan!! Aku yang sedang patah hati, kenapa kalian datang dan malah menyusahkanku seperti ini!! batin Arresha menjerit.
Rasanya ia sangat ingin berteriak dan mengusir mereka dari rumahnya, namun dia menahannya. " Anggap saja rumah sendiri! " jawab Arresha memaksakan senyumnya.
" Jangan sungkan ya Nona. " celetuk Byun meledek Arresha. " Aku permisi dulu ya, kopinya sudah jadi. Oh ya apa kau mau? Biar aku buatkan sekalian?" tanya Byun yang lupa tidak menawarkan Arresha kopi sebelumnya.
" Terimakasih. Aku bisa buat sendiri."
Ding dongggggg!!!!!!
Huhhhh... Apalagi ini?! batin Arresha kesal. Arresha menarik kakinya malas menuju pintu rumah namun Jofan menghentikan langkahnya.
" Biar aku saja! " seru Jofan mendahului langkah Arresha.
Jofan segera membuka pintu rumah, dua orang kurir datang salah satunya membawa tiga kotak pizza dan beberapa kaleng minuman bersoda dan yang sat.u lagi membawa empat boks ayam goreng pedas dan beberapa kotak makanan yang berisikan bulgogi hangat. Aroma sedap dari makanan itu langsung menguar masuk ke dalam indra penciuman Arresha.
" Kau harus makan banyak, katanya orang patah hati membutuhkan banyak tenaga." ucap Jofan pada Arresha yang terus saja menatapnya dingin.
Jofan tersenyum kemudian menyeret Arresha untuk bergabung bersama Byun dan Chan yang kini tengah duduk menikmati kopi sembari menonton televisi dan bermain gadgetnya masing-masing.
Ya Tuhan, aku baru tahu artis terkenal ternyata sangat tidak tahu malu seperti mereka, batin Arresha melirik ke arah Byun dan Chan.
Mereka akhirnya makan bersama hingga menghabiskan semua makanan tadi sampai tak bersisa. Kedatangan Jofan dan teman-temannya berhasil membuat Arresha tak terlalu larut dalam kesedihannya. Bahkan Chan memberikan sebuah ide untuk bermain game sambung kata, membuat Arresha sejenak bisa melupakan sakit hatinya.
........................
°° Rumah Sakit °°
Beberapa hari ini Erros begitu di sibukkan dengan pekerjaannya di perusahaan. Karena ayahnya yang terbaring koma akhirnya memaksa Erros untuk turun langsung mengatasi masalah perusahaan dan juga memimpin beberapa rapat penting yang hanya bisa di wakilkan oleh dirinya.
Masalahnya dengan Lissa tentu terus saja mengganggu pikirannya, membuat Erros tidak bisa memfokuskan dirinya pada pekerjaannya sepenuhnya. Hari ini sebelum berangkat ke perusahaan Erros berniat untuk mampir terlebih dahulu ke rumah sakit, melihat keadaan ayahnya yang baru sadar kemarin siang itu.
Saat ia sampai di rumah sakit ternyata Lissa juga berada di sana. Ia menjadi tenang karena melihat Lissa yang nampak baik-baik saja, walaupun ia tak menampik ketika melihat lingkaran hitam yang membingkai mata Lissa menandakan tunangannya itu tidak beristirahat dengan baik beberapa hari ini.
Lissa yang biasanya menyambut kedatangannya dengan senyuman hangat berubah menjadi diam dan seakan tak ingin menatapnya. Erros pun cukup tahu diri mengapa Lissa berubah seperti itu kepadanya.
Tuan Hilton baru selesai melakukan serangkaian test pasca sadar dari komanya, beliau masih harus menjalani observasi selama 24 jam sebelum bisa di pindahkan ke ruang perawatan biasa. Lissa nampak berdiri di samping kaca pembatas ruang perawatan Tuan Hilton, matanya menatap lurus ke pada ranjang perawatan milik ayah dari calon suaminya itu.
Erros melangkahkan kakinya dan berdiri di samping Lissa, namun Lissa bergeming. Ia masih belum bisa menguasai hatinya yang masih begitu sakit seperti saat mendegarkan pengakuan dari Erros kala itu.
" Aku senang kau datang. " sapa Erros sedikit melirik ke arah Lissa yang masih saja bergeming.
Lissa menghembuskan nafasnya pelan dan memejamkan matanya singkat. " Aku datang karena aku mengkhawatirkan Paman Hilton." jawab Lissa singkat. Suasana senyap kembali melingkupi mereka berdua.
Erros berusaha menahan gejolak di hatinya saat sikap Lissa begitu acuh terhadapnya. Mengapa hatinya terasa sakit ketika Lissa mengacuhkannya seperti ini?
" Bagaimana kabarmu? " tanya Erros, suaranya yang berat namun terdengar seksi, ia memalingkan wajah tampannya ke arah Lissa.
" Seperti yang kau lihat bukan. Aku bisa mengatasinya sendiri, tidak perlu mengkhawatirkan diriku." jawab Lissa dingin membuat Erros kembali menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Seorang dokter berjalan menghampiri Erros dan Lissa untuk menginformasikan kondisi terkini dari Tuan Hilton. Syukurlah beliau sudah berhasil melewati masa kritisnya dan tinggal menjalani perawatan untuk pemulihannya.
Erros dan Lissa berjalan memasuki ruang perawatan Tuan Hilton setelah mengenakan baju steril yang tersedia di rak area depan pintu ruang ICU itu.
" Aku senang sekali paman sudah sadar." sapa Lissa tulus, senyuman manis menghiasi wajah cantiknya, auranya begitu anggun dan lemah lembut.
Tuan Hilton hanya bisa membalas ucapan Lissa dengan senyuman, mulutnya masih terasa sedikit kelu untuk berbicara.
" Bagaimana keadaan papa? Apa masih ada yang sakitkah? " tanya Erros yang hanya di balas gelengan kepala, menandakan keadaan Tuan Hilton berangsur pulih dan tidak lagi merasakan sakit yang berarti selain tubuhnya yang masih sangat lemas.
" Papa senang sekali melihat kalian berdua disini. Menantu papa yang cantik." ucap Tuan Hilton terbata, kerutan di wajahnya yang mulai menua sama sekali tak mengurangi kharisma dan ketampanan dari Tuan Hilton.
" Nanti kalau paman sudah sembuh kita harus bermain golf lagi, aku pasti bisa mengalahkan paman." jawab Lissa tersenyum. Erros hanya diam memperhatikan Lissa dan juga ayahnya yang sangat dekat satu sama lain.
Lissa dan Erros akhirnya meninggalkan ruang perawatan Tuan Hilton setelah dokter mengatakan jika Tuan Hilton harus beristirahat kembali. Lissa sengaja berjalan terlebih dahulu dan segera meninggalkan Erros, namun cekalan tanggan Erros berhasil mrnghentikan langkah kakinya.