
Jofan masih setia duduk di belakang kemudi mobilnya yang terparkir di seberang jalan restaurant yang Arresha masuki sedari tadi, setengah jam berlalu dan ia hanya duduk di sana memperhatikan pintu masuk restaurant itu. Matanya dengan jeli memindai setiap orang yang keluar masuk dari dalam restaurant
Tadi saat ia berniat mengunjungi rumah Arresha, tanpa sengaja ia melihat gadis pujaannya itu masuk ke dalam sebuah taksi yang langsung membawanya pergi, karena terlalu penasaran Jofan pun memutuskan untuk mengikutinya.
Keningnya semakin berkerut saat taksi yang membawa Arresha memasuki sebuah restaurant mewah, Jofan berfikir Arresha datang ke restaurant itu untuk menemui kekasihnya.
Tapi tak urung dia tetap menunggu di dalam mobilnya dan menunggu Arresha keluar dari dalam restaurant. Dia belum bisa tenang sebelum memastikannya sendiri.
Namun pemikiran itu lenyap seketika saat sekarang ia melihat Arresha berjalan seorang diri keluar dari dalam restaurant itu.
" Arresha?!" bibir bergumam tanpa sadar, keningnya berkerut memperhatikan Arresha dari dalam mobilnya.
Gadis itu berjalan cepat dan juga kepalanya selalu tertunduk ke bawah, Jofan berfikir jika terjadi sesuatu kepada Arresha.
Merasa terjadi sesuatu yang buruk pada Arresha, akhirnya Jofan langsung turun dari mobilnya, namun langkahnya terhenti oleh deretan mobil yang lalu-lalang seolah tak membiarkannya melangkah untuk menyebrangi jalan raya yang ramai itu.
Matanya menajam, memperhatikan bayangan punggung Arresha yang semakin mengecil, menandakan gadis itu semakin jauh di depannya.
Akhirnya setelah jalanan itu terasa cukup lenggang dan memberinga sedikit ruang, Jofan langsung melangkahkan kakinya setengah berlari mengejar Arresha yang saat ini sudah berbaur dengan kerumunan orang yang berjalan di atas trotoar.
.....................
Meski matanya terasa sangat panas dan air matanya seolah melesak memaksa untuk sesegera mungkin di alirkan, namun Arresha menahannya sekuat tenaga.
Dari awal memang dirinya lah yang salah, seharusnya dari awal ia menyadari perbedaan kasta antara dirinya dan juga Erros, kenapa harus memaksakan diri dan menunggunya?
Bukankah dari kemarin dia memang meminta Erros meninggalkannya, melupakannya dan kembali bersama Lissa?!
Sekali lagi Arresha menghela nafasnya dengan panjang, tak ingin perasaan sesak itu semakin menjadi dan menyiksanya. Membuatnya semakin lemah, semakin terpuruk dan semakin merasa sulit melepaskan cintanya.
Meskipun perih itu seolah menggerogoti hatinya, tapi ia tak ingin menangis. Setidaknya Arresha tidak ingin menangis di tengah jalan seperti orang yang kehilangan kewarasan.
Arresha sadar sekali air matanya itu menetes pasti akan sangat sulit untuk menghentikannya.
Arresha terus melangkahkan kakinya, membaurkan diri dengan kerumunan orang-orang yang memenuhi trotoar itu, setidaknya di tengah kerumunan dia tidak merasa sendiri.
Lama Arresha berjalan dia melihat sebuah taman bermain anak-anak lengkap dengan berbagai mainan khas anak, seperti jungkat-jungkit, ayunan, perosotan, besi panjat dan lain sebagainya.
Banyak anak-anak yang asyik bercengkeramah satu sama lain, ada pula beberapa anak yang asyik bermain wahana mainan itu bersama teman-temannya.
Arresha memutuskan untuk membelokkan langkahnya memasuki area taman bermain itu, kemudian duduk di sebuah bangku taman.
Pandangannya lurus mengamati anak-anak itu bermain. Tanpa beban, saling bercengkeramah satu sama lain dan saling tertawa bersama. Wajah para malaikat kecil itu terlihat sangat polos dengan bola mata penuh binar yang memancarkan kebahagiaan karena bisa bermain dan bertemu dengan kawan-kawannya.
Tanpa sadar Arresha terhanyut dalam perhatiannya, hanya diam, bergeming memandangi anak-anak itu.
" Kakak...kakak...." sebuah tangan kecil menyentuh lengan Arresha, menarik kecil lengan bajunya, membuat Arresha tersadar dan kembali dari dunia lamunannya.
Arresha menolehkan kepalanya, matanya yang indah menatap anak kecil yang berdiri di sampingnya, usianya sekitar empat tahun terlihat menggemaskan dengan pipi yang menyembul satu sama lain.
" Ya adik kecil, ada apa?" tanya Arresha tersenyum gemas pada anak kecil itu.
" Kevin.." ujar anak itu mengulurkan tangannya pada Arresha, matanya yang bulat menatap Arresha dengan polosnya, membuatnya mengernyitkan kening heran, tak ayal Arresha membalas uluran tangan mungil itu.
" Arresha."
" Aku di marahi mamaku kalau berbicara dengan orang asing, tapi sepertinya kakak bukan orang jahat." ujar anak itu mengamati air muka Arresha hingga ujung kakinya, seolah menilainya.
Arresha bergeming mendengarkan Kevin, tanpa sadar bibirnya menyunggingkan seutas senyuman.
" Kenapa kakak sendiri disini? Perlu aku temani?" tanya Kevin dengan gayanya membuat Arresha semakin gemas karena tingkahnya.
" Memangnya kamu tidak takut di culik oleh kakak?" Arresha balik bertanya pada Kevin.
" Tidak papa di culik wanita cantik, aku mau saja." jawab Kevin langsung membuat Arresha membelalakkan matanya.
Astaga...masih kecil tapi sudah pandai merayu gadis. batin Arresha.
Tak menunggu jawaban Arresha, Kevin langsung merangsek naik ke atas kursi taman itu kemudian duduk di samping Arresha. Kakinya yang mungil sengaja dia ayun-ayunkan dan matanya menatap teman-temannya yang masih asik bermain.
" Memangnya mama-mu ada dimana?" tanya Arresha penasaran.
" Mama sedang membeli minum untukku, aku di suruh menunggu sebentar bersama teman-temanku." ujar Kevin, Arresha menganggukkan kepalanya paham.
" Mau permen?" Arresha menyodorkan sebuah permen yang di ambilnya dari dalam tas, permen rasa coklat kesukaannya.
Kevin menggelengkan kepalanya. " Aku tidak memakan apapun pemberian orang asin, takut beracun!" jawabnya polos membuat Arresha langsung terkekeh.
" Ya sudah, yang penting kakak sudah menawarkanmu, jangan bilang kakak pelit!" ancam Arresha gemas, membuka sebungkus permen itu dan memasukannya ke dalam mulutnya sendiri.
" Kak... Lihatlah ada boneka badut." ujar Kevin menunjuk sebuah boneka badut yang berjalan memasuki taman itu dengan antusias, membaur langsung pada anak-anak yang asyik bermain. Membuatnya menjadi pusat perhatian dan sedetik kemudian anak-anak itu langsung mengerumuninya, seperti kerumunan kelinci kecil yang tengah mengerumuni makanannnya.
Boneka badut berbentuk serigala yang bukannya menakutkan, malah terlihat lucu dan menggemaskan. Kedua tangan boneka badut itu memegang banyak balon udara berbagai karakter ada doraemon, spongebob, tayo, nemo, angry bird dan masih banyak lagi.
Kevin langsung menarik tangan Arresha dengan paksa saat melihat badut itu membagikan balon-balonnya, membuat Arresha mau tak mau mengikutinya. Dengan cepat Kevin melangkahkan kakinya mendekati boneka badut itu, seolah tak ingin jika sampai dia tak kebagian balon lucu itu.
" Aku mau satu..aku mau..aku mau..."seru Kevin tak mau kalah dari temannya yang lain.
Badut itupun memberikan sebuah balon untuk Kevin membuat anak itu langsung melompat kegirangan mendapatkan balonnya. Setelah memberikan balon untuk Kevin, badut itu memberikan segenggam tali penuh balon kepada Arresha.
" Ehh??" Arresha keheranan saat badut itu memberinya segenggam balon, ingin menolaknya tetapi badut itu seolah memaksanya untuk menerima balon-balon itu.
Melihat anak-anak yang bersorak-sorai di sekelilingnya membuat Arresha tanpa sadar tersenyum, tertawa karenanya. Kevin yang tadi masih menggenggam tangannya pun ikut larut dalam kebahagiaan sederhana itu. Kembali pada teman-temannya dan bercengkerama heboh ala anak-anak seusianya.
Sekali lagi badut itu menari-nari saat lagu kembali di putar, lagu anak berjudul The Wheels On The Bus berhasil membuat anak-anak itu bersorak-sorai terhanyut dalam instrumen musik yang begitu ceria.
Tangan badut yang terasa empuk menarik lengan Arresha mengajaknya menari bersama.
Awalnya Arresha merasa malu karena tak terbiasa menari di tempat umum seperti itu, tetapi karena anak-anak di sekitarnya ikut menyanyi dan menari riang akhirnya ia pun mulai menggerakkan tubuhnya, mengikuti tarian dengan senyuman merekah di bibirnya yang manis merona.
Tangan badut itu terus menarik kedua tangan Arresha, mengajaknya berputar-putar sembari menari, membuat Arresha benar-benar larut dalam euforia dan melupakan sesak yang tadi menggelayuti hatinya.
Setelah lagu berhenti di putar tarian itupun otomatis turut berhenti, anak-anak yang tadi mengerumuni Arresha pun membubarkan diri satu persatu, kembali bermain dengan dunianya.
Arresha mengerutkan keningnya saat boneka badut itu menarik tangannya kembali, mengisyaratkan kepadanya untuk menepi dari tengah-tengah taman itu.
Mata Arresha tak berpindah sedikitpun dari tubuh gempal badut itu, setelah sampai di tepi taman badut itu mengajak Arresha duduk di sebuah bangku taman yang tadi di dudukinya.
" Hahhhhhh...panas sekali..." ujar boneka badut itu membuka kepala badutnya lalu mengibas-kibaskan tangannya seolah mengipasi wajahnya yang kepanasan.
" Jofan?!!!" pekik Arresha tak menyangka, matanya membulat sempurna, ternyata Jofan yang menjadi boneka badut serigala tadi.
" Aku sengaja kesini, melihat anak-anak bermain aku ingin jadi ikut bermain." ucap Jofan tersenyum.
Arresha melirik tajam ke arah Jofan, membuat Jofan sedikit salah tingkah karenanya. " Kau tidak sedang mengikutiku kan Tuan Artis?!" tanya Arresha sambil melemparkan tatapan mata penuh selidik.
" Mengikutimu? Untuk apa aku mengikutimu?" Jofan balik bertanya membuat Arresha semakin awas meliriknya.
Jofan menyandarkan punggungnya yang lebar pada sandaran kursi taman itu, sementara tangannya mengibas-kibaskan bagian dada atas kostum badut itu, peluhnya bercucuran membasahi dahi kemudian mengalir ke wajahnya yang tampan.
Dia benar-benar kepanasan, lagian di siang hari yang terik seperti ini malah main badut-badutan. batin Arresha yang memperhatikan Jofan dari samping.
" Karena keinginanmu itu sepertinya sangat kebetulan sekali.." desak Arresha yang masih merasa curiga,
" Kalau tidak percaya ya sudah." Ujar Jofan langsung menyela,
Arresha menghela nafasnya, mengulum bibirnya ke bawah kemudian mengangkat alisnya. " Ya sudah." sahut Arresha dengan suara mengambang.
Jofan mengendikkan kedua bahunya, seolah acuh namun sesungguhnya ia memperhatikan Arresha yang kini menatap lurus pada anak-anak tadi.
Setelah kebingungan mencari Arresha tadi akhirnya Jofan berhasil menemukan Arresha yang duduk seorang diri di taman bermain anak. Sebenarnya Jofan langsung ingin mendekat saat ia berhasil menemukan Arresha.
Namun ia mengurungkan niatnya saat memperhatikan Arresha yang seolah larut dalam lamunannya, dan tak mungkin dia menghampirinya begitu saja tanpa sebuah alasan yang meyakinkan.
Tanpa sengaja mata Jofan melihat boneka badut yang tengah membagikan selebaran leaflet dan ia memutuskan untuk menyewanya, menjadikannya alasan agar bisa mendekat dan menghibur Arresha. Tak sia-sia ternyata usahanya itu berhasil bahkan di luar perkiraanya, karena Arresha sendirilah yang mendekat ke arahnya.
Jofan tersenyum menyadari betapa konyolnya dia saat ini hanya demi bisa melihat senyum manis Arresha.
" Kau tidak bekerja?" tanya Jofan memecah keheningan karena Arresha kembali diam dan hanya sibuk memandangi anak-anak yang tengah bermain itu.
" Caffe sedang di renovasi, jadi akan di tutup untuk beberapa hari kedepan." jawab Arresha tanpa mengalihkan perhatiannya.
" Kau libur?" tanya Jofan memastikan.
Tak menjawab Arresha hanya menganggukkan kepalanya, ekspresinya berubah muram saat tanpa sengaja ekor matanya melihat sepasang kekasih yang asyik bercengkeramah di bawah pepohonan rindang sambil menikmati se-muncung es krim di tangannya.
( Maafin ya kak kalo gambarnya ga sesuai soalnya susah cari yang sesuai cerita. hehehe)😁😊