Being The Second

Being The Second
Episode 10 - Tunggu Aku Arresha



Tak peduli bagaimana akhirnya, yang jelas kamu selalu menjadi alasan terbesarku untuk tak berhenti berjuang.


•••••••••••••••••••


Arresha berjalan menapaki trotoar depan taman kota, malam yang semakin larut membuat taman kota yang biasanya ramai menjadi sepi. Arresha baru saja pulang bekerja, karena hari ini dia shift sore hingga mengharuskannya pulang malam.


Halte bus sudah terlihat, tak jauh dari pandangan matanya, namun matanya menangkap pemandangan yang lain dari balik halte bus itu. Seorang pria yang terlihat kepayahan dan menyenderkan punggungnya pada tiang besi di belakang halte bus sebelum kemudian ambruk dan terjatuh.


Hal itu langsung menarik perhatian Arresha dan memutuskan berlari mendekati pria itu, siapa tahu butuh bantuan atau pertolongan, batinnya.


" Tuan anda kenapa? Apa anda baik-baik saja? " tanya Arresha cemas mendekati pria itu.


Pria itu tidak menjawab dan hanya mengaduh kesakitan, tangannya seperti menahan dan menekan sesuatu di perutnya. Arresha berusaha menyanggah tubuh pria itu agar tidak terjatuh begitu saja di trotoar.


" Darah!!! Tuan anda berdarah!!! " Matanya membulat sempurna saat tanpa sengaja melihat darah di tangan pria itu dan tangan Arresha yang berusaha menyanggah tubuh pria itupun tak luput dari tetesan darah yang terus saja keluar dari bagian perutnya.


" Tuan sadarlah Tuan!! " teriak Arresha lagi, dia menoleh ke kanan dan ke kiri siapa tau ada orang lain yang bisa memberikan pertolongan.


Dari kejauhan Arreha melihat segerombol pria berpakaian serba hitam, terlihat berlari dan mencari sesuatu, membuat Arresha semakin panik. Dia berusaha mengendap-endap memapah pria itu, membawanya ke belakang bunga lantana yang terlihat rimbun dan cocok untuk tempat bersembunyi.


" Tolong aku! " kata pria itu sebelum akhirnya benar-benar ambruk dan tak sadarkan diri.


Arresha semakin panik, bagaimana kalau dia malah di tuduh sebagai pembunuh nantinya. Orang-orang itu berlari mendekat ke arahnya, sekuat tenaga Arresha membekap mulutnya sendiri agar tak menimbulkan suara atau gerakan sekecil apapun yang bisa saja menarik perhatian orang-orang itu.


" Kau menemukannya? " tanya salah seorang dari segerombolan pria itu, mereka berkumpul setelah sebelumnya berpencar.


" Tidak " jawab seseorang.


" Tidak " jawab yang lainnya lagi.


" Bukankah tadi kau berhasil menusuk nya, seharusnya dia tidak bisa berlari jauh. Cepat cari dia dan bereskan malam ini juga!!! " kata salah seorang lagi.


Arresha hanya bisa mendengarkan dan tak bisa melihat wajah mereka, dia menjadi semakin takut, bagaimana kalau dia ketahuan nanti, dan bagaimana kalau dia malah di bawa-bawa ke dalam masalah mereka.


Aduh Ya Tuhan, bagaimana ini, batin Arresha.


" Cari lagi sampai ketemu!!! " perintah salah seorang lagi dan setelah itu mereka langsung berlari lagi. Melihat mereka yang sudah pergi cukup jauh membuat Arresha bernafas lega.


Untung saja, batin Arresha.


" Tuan. Tuan. Bangunlah! Aduh bagaimana ini, aku harus bagaimana!! " pekik Arresha yang merasa frustasi.


" Apa aku tinggalkan saja ya biar aku aman? Eh tapi bagaimana kalau dia malah mati? Aduhhh bagaimana ini?!! "


" Erros!!!! Iya benar aku harus telfon Erros. Pasti dia bisa membantuku! " gumam Arresha langsung mencari handphone nya dan menelfon Erros.


Tuuuuutttttt


Tuuuuttttt


Tuuuuttttttt.


" Ayolah Erros angkat. Angkatttt!!!! " gumam Arresha tapi sampai nada sambung itu mati telfonnya malah tidak di angkat oleh Erros. Arresha mencoba sekali lagi, dua kali, tiga kali tapi nihil ! Membuatnya semakin frustasi.


" Jofan. Iya Jofan!! " hanya nama itu yang ada di kepalanya sekarang, tanpa menunggu lagi dia langsung menelfon Jofan. Arresha bersumpah jika Jofan juga tidak mengangkat telfonnya dia akan kabur saja, dia masih ingin hidup, kalau dia tertangkap juga bagaimana. Bagaimana kalau malah dia juga di bunuh nanti?!


Tuuuttttttttt.....


" Hallo.."


" Jofan ! Tolong aku. Aku di taman kota. Aku takut. Tolong aku!! " kata Arresha cepat bahkan sebelum Jofan menyelesaikan salamnya.


Mendengar suara Arresha yang ketakutan dan meminta pertolongan membuat Jofan terperanjat kaget, dia sekarang masih berada di ruang latihan, hari ini dia sangat sibuk.


" Arresha? Ada apa? Kau kenapa?! " tanya Jofan, suaranya terdengar panik dan cemas.


" Jangan bertanya! Tolong aku! Aku di belakang pohon dekat semak-semak! Cepatlah! " jawab Arresha cepat, dia benar-benar ketakutan sekarang, apalagi pria itu sudah tidak bergerak dari tadi, bahkan membuka matanya saja tidak, apa dia sudah mati, pikir Arresha yang malah membuatnya semakin takut.


" Tunggu aku. 10 menit aku sampai disana " jawab Jofan cepat.


Mendengar ucapan Arresha yang terdengar sangat ketakutan membuat Jofan semakin panik dan langsung menyambar kunci mobilnya, dia bergegas pergi dari ruangan latihannya. Beberapa temannya berusaha memanggilnya tapi Jofan seperti tidak mendengarnya sama sekali, pikirannya langsung buyar dan malah terngiang-ngiang suara Arresha yang meminta tolong.


Jofan tolong aku !


Aku takut!


Tolong aku!


Ucapan Arresha terus terngiang di telinganya membuatnya semakin cemas, suaranya yang benar-benar seperti orang ketakutan malah membuatnya semakin tak karuan, dia benar-benar panik.


Jofan mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat, dia tidak memperdulikan bagaimana caranya mengemudi, bahkan beberapa kali menerobos lampu merah, di pikirannya saat ini hanya dia harus cepat sampai ke taman kota.


Jofan tolong aku !


Aku takut !


Tolong aku !


Benar saja dalam waktu sepuluh menit dia sampai di taman kota, dia memarkirkan mobilnya asal, dan langsung berlari mencari Arresha.


Dia berlari menyusuri beberapa pepohonan kecil, lampu taman kota hanya ada di sudut-sudut tertentu saja, dan cahayanya tidak menerangi sampai seluruh sudut taman kota itu.


Aku di belakang pohon dekat semak-semak.


Tiba-tiba Jofan teringat ucapan Arresha tadi, dan langsung berlari lagi mencari semak-semak di samping pohon, atau pohon di samping semak-semak. Entahlah pikirannya kacau, dia hanya berusaha secepat mungkin menemukan keberadaan Arresha.


" Arresha!!! " panggil Jofan setelah melihat tubuh Arresha yang meringkuk ketakutan.


Jofan langsung berlari mendekat, dia langsung memeluknya sangat erat, dia baru bisa bernafas sekarang, sedari tadi dia merasa sangat takut hingga rasanya seperti tercekat erat, sangat erat, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Arresha.


" Arresha kau kenapa? Kau tak apa? " tanya Jofan mengurai sedikit pelukannya, dan memegang wajah Arresha menangkupnya dengan kedua tangannya.


" Darah !!! Jofan dia mati ! Aku takut! "


" Mati? Darah?! " ucap Jofan yang mengulang perkataan Arresha, membuatnya kebingungan.


Tangan Arresha menunjuk pada pria yang tadi di tolongnya, dia ada di belakang tubuh Arresha sekarang.


" Apa yang terjadi Arresha? Bagaimana bisa?! " tanya Jofan kaget, dan tak menyangka.


" Aku menemukannya di belakang halte bus, dia berdarah dan di kejar oleh orang-orang jadi aku berusaha menolongnya, malah dia mati " ujar Arresha berusaha menjelaskan.


" Bagaimana ini?! Aku bukan pelakunya, aku hanya berusaha menolongnya, bagaimana kalau aku di penjara, " kata Arresha histeris dia benar-benar tak bisa mengendalikan dirinya sekarang.


" Arresha.... " kata Jofan berusaha menenangkan, dia harus bisa berfikir jernih sekarang.


" Arresha kau tenanglah. Biar aku lihat " kata Jofan dia melepaskan pelukannya kali ini dan berjalan mendekati pria itu.


Dia melihat wajah pria itu tapi tidak terlalu jelas karena cahaya lampu tidak menerangi tempat itu dengan baik. Tangannya terulur ke arah hidung pria itu, dia tidak merasakan adanya nafas, atau ada tapi sangat tipis, dia tidak yakin. Akhirnya Jofan meraih tangan pria itu, mengecek nadinya apakah masih ada atau tidak.


" Dia masih hidup Arresha " kata Jofan, dia merasakan denyut nadinya walaupun sangat lemah.


" Dia hidup?! " tanya Arresha memastikan sekali lagi.


" Ya dia masih hidup, kita harus membawanya ke rumah sakit! "


Arresha tak menjawab dan langsung membantu Jofan yang berusaha memapah pria itu, otaknya benar-benar tak berfungsi sekarang, jadi dia hanya menurut saja.


Jofan dan Arresha membawa pria itu kedalam mobil, Arresha duduk di jok belakang, menjaga pria itu. Jofan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, dia harus segera sampai di rumah sakit agar pria itu bisa cepat mendapatkan pertolongan, kalau pria itu sampai mati Arresha bisa dalam masalah besar.


Mobil Jofan memasuki lobi sebuah rumah sakit, dengan cepat ia membelokkan kemudinya menuju lobi depan rumah sakit, langsung berlari setelah keluar dari mobil membuka pintu belakang dan berteriak meminta pertolongan.


Beberapa perawat terlihat berlarian menuju mobilnya dengan menyeret ranjang dorong khas rumah sakit, dengan cepat mereka merebahkan tubuh pria itu ke atas ranjang dorong, salah seorang dokter langsung naik ke atas ranjang dorong untuk melakukan pemeriksaan awal dengan mengecek ABC ( Airway, Breathing, and Circulation ).


Ranjang dorong itu dengan cepat melaju menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang ICU, Jofan dan Arresha pun ikut mengejar ranjang dorong itu berusaha mensejajarkan langkahnya agar tak tertinggal jauh.


Akhirnya mereka sampai di depan ruang ICU, salah seorang perawat menghentikan langkah Jofan dan Arresha yang secara tak sadar akan masuk kedalam ruangan ICU.


" Tuan Nona. Mohon tunggu disini biar dokter yang menanganinya " kata perawat itu sopan membuat Jofan dan Arresha diam dan mengikuti instruksinya.


Jofan dan Arresha masih berdiri di depan ICU, penampilan Arresha tampak begitu kacau, bajunya penuh dengan darah sekarang, mungkin itu karena tadi dia berusaha memapah pria itu hingga tanpa sengaja darahnya mengenai tubuh Arresha, di tambah lagi Arresha mengenakan kaos berwarna putih malah membuat darah itu semakin jelas terlihat.


Arresha benar-benar takut sekarang, ini adalah pengalaman pertamanya menghadapi hal seperti ini, tentu akan membuatnya shock.


" Arresha tak apa, kau tenanglah, semua akan baik-baik saja, ada aku disini, " ujar Jofan berusaha menenangkan dan menarik Arresha yang masih terpaku di depan pintu ruang ICU.


" Aku takut dia mati, bukan aku pelakunya, bagaimana kalau mereka menuduhku?! " kata Arresha tatapan matanya penuh kecemasan.


" Dia tak akan mati, kau tenang saja Arresha " jawab Jofan lagi, mengelus kepala Arresha dan masih membenamkan tubuh mungil Arresha ke dalam kungkungannya. Jofan pun sebearnya tak yakin apakah pria itu akan selamat atau tidak, yang pasti dia akan selalu berdoa agar pria itu bisa selamat.


Seorang perawat keluar dari ruang ICU itu menghampiri Jofan dan Arresha, membuat Jofan melepaskan pelukannya dan mengalihkan pandangannya pada sang perawat.


" Pasien kritis, dia membutuhkan darah golongan B rhesus negatif. Tapi di rumah sakit ini sedang kosong " kata sang perawat langsung bahkan tanpa menunggu Jofan dan Arresha bertanya.


" Golongan darah saya B, kalian bisa ambil darah saya, tolong selamatkan nyawanya " kata Arresha langsung.


" Baiklah mari ikuti saya " kata perawat itu langsung kembali masuk ke dalam ruangan ICU.


Arresha melangkahkan kakinya memasuki ruang ICU, dinginnya AC dan juga bau desinfektan yang begitu menyeruak langsung menyambut Arresha. Perawat menuntunnya untuk mensterilkan tubuh dan juga memakai baju khusus ruang ICU.


Setelah selesai perawat tadi mengarahkannya untuk berbaring di ranjang tepat di sebelah ranjang pria yang tadi dia tolong. Dokter menginstruksikan untuk pendonoran darah secara langsung karena mereka diburu waktu dan juga nyawa seseorang yang harus segera mereka selamatkan.


Arresha baru bisa melihat dengan jelas wajah pria itu, mungkin dari tadi dia terlalu panik dan juga takut. Dari wajahnya terlihat jika dia memang sudah cukup berumur, mungkin umurnya tak jauh dengan mendiang ayah Arresha, papa Harry, jika beliau masih hidup. Matanya masih saja terpejam sedari tadi, wajahnya terlihat sangat pucat.


Arresha masih saja mengamati pria itu, dia merasa sungguh penasaran siapa sebenarnya pria itu, mengapa tadi orang-orang itu ingin membunuhnya. Arresha meringis nyeri ketika jarum menembus kulitnya yang mulus, darahnya mulai mengalir melalui selang kecil dan langsung masuk ke dalam tubuh pria itu.


Pria itu akhirnya membuka sedikit matanya, pandangannya buram jadi dia tidak bisa melihat dengan jelas, wajahnya berpaling menoleh pada Arresha, dia menatapnya dan memperhatikan gadis yang terbaring di sebelah ranjangnya itu, namun karena matanya yang buram jadi dia tidak bisa melihatnya dengan jelas, hanya terlihat seperti sebuah siluet, kepalanya terasa sangat pusing seperti di hantam sangat keras, dan sesaat akhirnya dia benar-benar pingsan lagi.


.................................


Jam menunjukkan pukul 3 pagi ketika Arresha membuka matanya, setelah mendonorkan darahnya tadi dia tiba-tiba merasa begitu pusing, mungkin karena shock dan lagi pula itu adalah pengalaman pertamanya.


Dia menatap sekeliling, dia berada di sebuah ruang rawat sekarang. Tenggorokannya terasa begitu kering jadi Arresha memutuskan untuk mengambil minum yang ada di nakas samping tempat tidurnya, tapi tangannya terasa berat seperti tertindih sesuatu.


" Jofan " ucap Arresha lirih tak ingin membuatnya terbangun.


Mungkin karena Jofan tidak benar-benar tidur, dia langsung terbangun ketika merasakan ada gerakan dari tubuh Arresha.


" Arresha kau sudah sadar, bagaimana keadaanmu? Apa yang kau rasakan? " tanya Jofan cemas.


" Aku haus " kata Arresha lirih dan Jofan langsung mengambil air yang tersedia di atas nakas, lalu dengan telaten membantu Arresha untuk minum dengan menggunakan sedotan yang tersedia di samping gelas tadi.


" Terimakasih " ucap Arresha yang hanya di jawab dengan anggukan oleh Jofan.


" Bagaimana keadaanmu? "


" Aku baik, dia bagaimana? " tanya Arresha yang teringat pria itu.


" Dia sudah melewati masa kritisnya, dokter akan melakukan observasi selama 24 jam, setelah di pastikan keadaanya stabil dia akan di pindahkan ke ruang rawat " kata Jofan menjelaskan.


" Syukurlah " kata Arresha yang merasa benar-benar lega sekarang.


Jofan lalu memencet sebuah tombol yang ada di samping ranjang Arresha, membuat Arresha sedikit bisa menegakkan tubuhnya.


" Kau makan ya, kau tadi pingsan dan belum makan atau pun minum susunya, perawat bilang itu akan mengembalikan energimu " kata Jofan lembut kemudian meraih nampan yang tersedia di meja sofa ruang rawat Arresha.


" Tapi aku tidak ingin makan "


" Makanlah sedikit saja, aku akan menyuapimu. Ayo buka mulutmu, aaa... " kata Jofan yang benar-benar lembut membuat Arresha tersenyum dan menurut ketika Jofan memaksanya makan tadi.


" Kau kenapa tidak pulang? "


" Ssttttt...jangan banyak bicara dulu, kau kan sedang makan "


" Hmmmm " jawab Arresha dan melanjutkan makannya yang masih tetap di suapi oleh Jofan.


" Bagaimana aku bisa pulang? Aku mengkhawatirkan dirimu " kata Jofan menatap mata indah Arresha.


" Terimakasih sudah menolongku "


" Tidak ada kata terimakasih Arresha, asal kau baik-baik saja " kata Jofan lembut membuat Arresha tersenyum.


Akhirnya Arresha menyelesaikan makanannya sampai tandas tak bersisa, awalnya memang dia tidak ingin makan tadi, tapi dia merasa tidak enak jika menolak niat baik Jofan jadi dia menurut saja ketika Jofan menyuapinya.